Dosenku Istriku

Dosenku Istriku
Bab 76 sulit memaafkan


__ADS_3

"Are you ok? Mau ditemani aja nggak?"


Isi pesan yang dikirim Dion kepada Syifa saat melihat istrinya tengah duduk termenung di salah satu sudut cafe. Hanya terhalang dinding kaca sebab Dion yang memintanya agar dia bisa mengawasi dirinya dari mobil.


Syifa tampak tersenyum membaca pesan dari suaminya tersebut. Kemudian menatap ke arah jalan sambil menjentikkan jarinya membentuk isyarat oke.


Tak lama kemudian seorang wanita datang menemui Syifa. Tampak sekali wajah tegang diantara keduanya. Rasanya ini adalah pertemuan pertama kali yang disengaja setelah sekian lama mereka saling menghindar. Hanya beberapa saat tak sengaja bertemu.


"Maaf menunggu lama ya?"


Syifa hanya mengangguk pelan. Bahkan ekspresinya masih sama datar. Tak tahu saja harus berbuat apa karena hatinya bahkan masih terasa membeku.


Tak disangka dia akhirnya mau menemui Mona, mantan sahabatnya.


Ada keterdiaman cukup lama hingga seorang waiters mengantarkan minuman ke mejanya. Syifa tampak menatap lurus ke depan sementara Mona masih menunduk saja.


"Katakan. Apa tujuanmu menemuiku?" akhirnya Syifa lebih dulu berbicara.


"Syifa.. M-maaf.. Aku ingin minta maaf kepadamu. Atas semua kesalahanku." Mona tampak menahan air matanya.


Syifa tak segera menjawab. Namun mendengar kata-kata Mona itu membuat emosi Syifa makin memuncak saja.


Dia berusaha sekuat tenaga untuk tidak marah. Dengan rahang yang mengetat serta kedua tangannya yang menggenggam erat.


"Kenapa harus minta maaf? Bukankah itu menyenangkan untukmu? Kau dapatkan pria idamanmu." ujar Syifa akhirnya.


"Syifa.. Aku khilaf. Aku benar-benar ceroboh sampai menyakitimu padahal kau sangat baik padaku." kini Mona tak mampu lagi menahan air matanya.


"Kau tau itu kan? Apa saja yang sudah kuberikan padamu tapi kau masih saja tega mengkhianatiku. Oh, apa karena Rangga sekarang dipenjara dan kamu mau memanfaatkanku lagi?" Syifa kini kembali berbicara sarkas.


"T-tidak.. Tidak begitu maksudku. Aku benar-benar minta maaf Syifa. Aku sadar akan kesalahanku. Aku bahkan yang telah menggagalkan rencana Rangga dan Luna waktu itu."

__ADS_1


Syifa hanya tersenyum getir mendengar ucapan Mona.


"Oh, jadi kau ingin pamrih dari usahamu itu agar aku memaafkanmu begitu?" Syifa agaknya masih tersulut emosi.


"Syifa, aku hanya ingin hidupku tenang sebelum aku meninggalkan tempat ini. Aku benar-benar ingin berubah dan memperbaiki semuanya. Aku mohon maafkan aku." Sepertinya kata-kata apapun daei Mona tak sedikitpun meluluhkan hati Syifa.


"Baiklah, kalau hanya itu tujuanmu. Sayang sekali aku tak bisa memaafkanmu." Syifa lantas berdiri dan mengambil tasnya. Dia beranjak dari tempat itu bahkan minuman yang dipesannya pun belum tersentuh sama sekali.


Mona hanya bisa menundukkan Wajahnya dan menangis pilu. Kesalahan fatal yang dia perbuat telah merenggut hati Syifa. Dan dia sadar tak semudah itu memaafkan manusia yang hina dan kotor seperti dirinya.


Saat menatap jalan Mona melihat Syifa yang tengah ditemani Dion. Pria itu dengan perhatiannya membukakan pintu mobil untuk Syifa. Bahkan tangan kanannya menahan kepala Syifa agar tak terantuk atap mobil. Begitu manis sikapnya.


"Setidaknya sekarang aku senang kamu hidup bahagia Syifa, meskipun kamu tidak mau memaafkanku. Aku cukup tau diri." ujar Mona dalam hati.


Di dalam mobil Syifa tampak murung. Dia tak bicara sama sekali dan hanya menyandarkan kepalanya sambil menatap jalanan.


Dion mengusap lembut puncak kepala Syifa hingga membuat wanita itu menoleh kepadanya.


"i love you too.." kata-kata dari Dion itu tentu saja membuat Syifa langsung tersenyum meski senyumannya tak seceria biasanya.


Setidaknya ada sedikit kebahagiaan yang dia dapatkan. Dan suaminya adalah tempat paling tepat mendapatkan moodbooster.


Sampai di rumah tampak sepi. Dion dan Syifa pun membersihkan diri dan berganti pakaian untuk segera menemui putri kesayangannya.


"Bella nya baru aja tidur. Siang tadi nggak mau tidur sama sekali." ucap Mama Rina.


"Loh emangnya kenapa kok tumben nggak mau tidur Ma?" tanya Syifa.


"Tadi dibeliin om Shaka mainan baru. Keasyikan main malah nggak mau tidur. Sekarang habis dimandikan langsung tidur."


"Maaf ya Ma, Syifa selalu ngerepotin mama." Syifa tampak tertunduk sendu.

__ADS_1


"Halah kamu ini kok masih saja minta maaf. Justru Mama makasih banget sejak ada Bella jadi makin rame rumah makin ceria." Mama Rina mengusap puncak kepala Syifa. Tapi dia melihat ekspresi berbeda. Sepertinya menantunya itu sedang kurang bersemangat.


"Sayang kalau capek istirahat saja ya." Mama Rina penuh pengertian.


"Iya Ma." Syifa pun akhirnya pergi ke kamarnya.


Entah kenapa setelah bertemu Mona membuat Syifa menjadi sama sekali tak bersemangat. Hatinya seolah kembali tersayat ketika mengingat dirinya yang sedang berjuang melahirkan Bella justru Rangga dan Mona asyik berlibur ke luar negeri.


Dan Parahnya uang yang harusnya digunakan untuk keperluan kelahiran Bella dan segala keperluannya justru telah habis karena mereka.


Jika Syifa dengan mudah memaafkan Luna lain halnya dengan Mona. Luka yang teramat dalam sebab sebelumnya Syifa dan Mona adalah sahabat sejak kecil. Bahkan Syifa menganggap Mona seperti saudaranya sendiri.


Egois tak mau memaafkan Mona? Itulah yang ingin Syifa lakukan. Padahal sebelumnya Syifa tak pernah seperti ini. Karena Dendam bukanlah sifatnya. Hanya sesak didalam hatinya yang kini dia rasakan.


"Nangis aja kalau itu bisa membuatmu lega." Tiba-tiba Dion duduk di samping Syifa sambil mengusap lembut puncak kepalanya.


Dan, luruhlah air mata Syifa. Jatuh begitu saja tanpa suara karena bibirnya masih tertutup rapat. Kepalan tangan Syifa mulai terasa kebas, sekuat tenaga ingin menahan tangis itu. Menolak dengan keras kepala untuk tidak terlihat lemah tapi menyadari dirinya yang tak pernah sekali pun merasakan hangatnya sebuah pelukan begini, langsung menghancurkan dinding pertahannya. Syifa mulai terisak kecil lalu lama kelamaan berubah menjadi tangis yang terlalu besar. Bak gelombang tsunami yang datang bertubi-tubi tanpa henti.


Dion sama sekali tak mengucapkan apapun. Pandangannya lurus ke depan. Elusan di kepala belakang Syifa tidak berhenti ia lakukan.


Dion sengaja ingin membiarkan Syifa menangis sepuas-puasnya yang ia mau. Tapi Dion, baru pertama kali mendengar tangis yang terdengar semenyakitkan ini.


"Boleh nggak sih aku egois kali ini saja. Tapi kenapa sulit sekali menjadi pembenci. Apakah aku terlalu serakah jika tak ingin memaafkan Mona?" akhirnya setelah sekian lama Syifa menangis baru kali ini dia mengeluarkan kata-kata.


"Itu semua adalah hakmu sayang, mau memaafkan atau tidak itu tergantung dari hatimu. Tapi aku hanya mengingatkan. Meyimpan dendam dan amarah hanya akan menyakiti hatimu." Dion masih mengelus kepala Syifa.


Syifa pun perlahan mulai menyadari. Sepertinya kejadian Mona dan Rangga ada hikmahnya juga. Jika dia tidak berpisah dengan Rangga maka Syifa tak akan pernah menemukan pria sebaik Dion. Pria yang selalu mencintai dengan sejuta kemampuannya. Menerima dirinya dan juga Bella tanpa syarat.


"Haruskah aku memaafkan Mona?"


...****************...

__ADS_1


__ADS_2