Dosenku Istriku

Dosenku Istriku
Bab 93 Masa lalu Bianca


__ADS_3

Nico masih menatap wajah Bianca dengan lamat. Memperhatikan wajah cantik gadis pujaannya sejak duduk di bangku SMA itu. Namun semakin lama Nico mengaguminya rasanya justru semakin sakit.


Ada rasa jengkel juga menyesal kenapa dirinya begitu jatuh pada pesona Bianca. Gadis yang jelas-jelas tak bisa dia gapai.


"Lo bilang apa Nic? Lo cinta gue? Please, jangan mulai lagi. Gue udah bilang kalau gue gak bisa sama lo." tatapan pilu yang ada pada netra Bianca seolah menunjukkan sesuatu hal terpendam dalam hatinya.


"Kenapa? Kenapa lo nggak bisa nerima gue Bi? Apa lo benar-benar nggak punya selera sama laki-laki sedikitpun?"


Bianca menggeleng dengan genangan air mata yang luruh membasahi pipinya.


"Gue.. Gue trauma sama laki-laki. Mereka sudah menghancurkan hidup gue. Dan gue benci makhluk bernama laki-laki." tangis Bianca pecah saat itu juga. Rasa sesak yang dipendam sendirian kini dia curahkan sudah.


"Kenapa? Apa ada yang sudah menyakiti lo? Katakan Bianca siapa orangnya." Nico benar-benar penasaran dengan sesuatu yang terjadi dengan Bianca.


"G-gue.. G-gue di p*rk*sa teman-teman Papa. S-saat gue masih umur 15 tahun. Mereka dendam sama papa karena diputusnya kontrak kerjasama sehingga gue jadi korbannya." Bianca akhirnya mengatakan semuanya kepada Nico.


Nico sangat syok mendengar hal itu. Hancur sudah hatinya mengetahui bahwa gadis pujannnya pernah mengalami hal sekeji itu. Apalagi di usianya yang masih belia.


Tanpa sadar air mata jatuh membasahi wajah tampan itu. Apalagi saat melihat Bianca yang menangis pilu.


Diraihnya tubuh mungil Bianca dan didekap erat oleh Nico. Tak ada kata-kata yang mampu dia ucapkan. Otaknya terasa beku seketika. Yang dia lakukan hanyalah mengusapnlembut puncak kepala gadis itu dengan sejuta keprihatinan yang meredam penuh di dadanya.


Bianca pasrah dengan apa yang dilakukan oleh Nico. Dia tahu pria itu sangatlah baik padanya. Dan Nico terang-terangan menyatakan perasaannya membuat Bianca semakin sakit hati.


"Maafin gue Nico. Lo terlalu baik buat gue tapi gue bahkan sudah hilang rasa terhadap laki-laki. Dan alasan gue jatuh cinta sama Bu Syifa karena dia adalah orang pertama yang mengulurkan tangannya saat gue hancur."


Bianca mengingat kejadian bertahun-tahun silam. Dimana dirinya yang begitu terpuruk oleh keadaan mencoba untuk mengakhiri hidupnya dan hendak melompat dari jembatan.


Kebetulan saat itu Syifa baru saja pulang dari Amerika berniat untuk mengunjungi kampung halamannya. Saat menaiki taksi tak sengaja dia melihat Bianca yang tengah menangis menaiki pagar jembatan.


Sontak saja Syifa menghentikan taksinya dan berlari menghampiri Bianca. Ditariknya tangan Bianca lalu Syifa memeluknya dengan erat.


"Jangan lakukan itu. Ku mohon bertahanlah apapun masalahmu. Kamu harus kuat." bisik Syifa sembari mengusap lembut kepala Bianca.


Tak ada kata-kata lain setelah itu karena kedua orang tua Bianca menemukan dirinya. Keduanya memang belum sempat berkenalan namun Bianca ingat betul sosok gadis yang menyelamatkannya.

__ADS_1


Senyum indah yang begitu menggetarkan hati Bianca. Sejak saat itu Bianca terus mengingat wajah Syifa dan lama kelamaan perasaan itu semakin dalam menjadi rasa cinta.


Bertahun-tahun setelahnya Bianca mencoba untuk membuka diri dengan dorongan keras orang tuanya agar memulai hubungan dengan seorang pria.


Awalnya Bianca mencoba menargetkan Dion untuk dia dekati namun saat kedatangan Syifa sebagai dosen baru di kampusnya membuat pertahanan Bianca roboh.


Perasaan yang terpendam jauh di lubuk hatinya kini seketika muncul dan merekah dengan sendirinya. Tapi kenyataan pahit bahwa Syifa telah dinikahi Dion membuatnya kembali hancur. Rasa sakit hatinya itu semakin membuat dirinya terobsesi dan ingin memiliki Syifa seutuhnya.


Sejak saat itu pula Bianca terus mencoba untuk mencari cara mendapatkan Syifa. Tak peduli bahwa dirinya harus menanggung resiko besar.


"Tapi Bu Syifa sudah bahagia dengan pernikahannya. Bu Syifa sudah menjadi milik Dion. Dan lo lihat sendiri kan bagaimana mereka saling mencintai satu sama lain." Nico mencoba untuk mengingatkan Bianca tentang keadaan Syifa saat ini.


"Tapi gue juga ingin bahagia Nico. gak ada yang bisa mengalahkan perasaan cinta gue kepada Bu Syifa. Bahkan gue bisa jamin gue akan bahagiakan Bu Syifa melebihi Dion."


Nico hanya bisa mengusap wajahnya kasar. Gadis itu sangat keras kepala dan dia pun mulai sedikit hilang kesabaran.


"Mungkin lo bisa berusaha bahagiain Bu Syifa tapi belum tentu apa yang lo lakuin buat dia juga bahagia. Gue tahu lo cinta dan butuh bahagia. Terserah lo mau jatuh cinta ke siapa daja tapi Please, jangan jadi perebut. Bu Syifa udah jadi milik Dion dan jangan lo lukai perasaan mereka." Nico menatap lurus wajah Bianca.


"Lo orang baik Bianca. Jangan lo jadikan obsesi lo buat merusak kebahagiaan orang lain. Jika lo benar-benar cinta sama Bu Syifa harusnya lo juga senang melihat dia bahagia meski bukan bersama lo." Bianca hanya bisa terdiam mendengar segala penuturan Nico.


"Terus.. Gue harus gimana?" Ucap Bianca pasrah.


"Thanks Nico, lo adalah orang yang selalu peduli sama gue. Sorry banget gue gak bisa membalas perasaan lo. Tapi kalau boleh ijinkan gue anggep lo seperti seorang kakak. Boleh kan?" ucap Bianca sambil memeluk Nico.


"i-iya.. Tentu." Nico hanya bisa terpaksa mengiyakannya. Meski hatinya terasa begitu sakit karena cintanya lagi-lagi tak terbalaskan. Tapi biarlah walaupun Bianca hanya menganggapnya seperti saudara. Setidaknya tak ada rasa benci yang dia dapatkan darinya.


...****************...


Dion terpaksa terus mengalihkan wajahnya dari Syifa. Penampilannya kali ini dia rasa begitu nggak banget. Apa-apaan coba, imagenya dikenal sebagai cowok paling mempesona dan keren se kampus kini malah menangis dihadapan sang istri.


"Sayang, kok ngadep situ terus sih? Sinian dong." Syifa mencoba untuk menarik lengan Dion agar menghadap dirinya.


"enggak, mau ngapain? Aku lagi jelek." gerutu Dion.


"Enggak, enggak jelek sayang sini. Aku mau cium." Syifa berusaha merayu Dion.

__ADS_1


"hidung aku lagi meler. Ntar kamu kena ingus." tolak Dion


"Nggak papa. Aku nggak jijik kok sama ingus kamu. Ayolah sayang. Aku mau peluk juga. Apa kamu tega nolak permintaan istri kamu." Akhirnya Syifa kini mengeluarkan jurus andalannya.


Mau tak mau Dion terpaksa menuruti Syifa. Dia memutar tubuhnya dan menghadap sang istri.


Tawa Syifa langsung pecah seketika saat melihat wajah Dion yang begitu aneh.


"Kenapa? Ngeledek kan? Udah jelas." cibir Dion dengan wajah masamnya.


Bagaimana tidak tertawa jika Syifa melihat wajah Dion dengan kedua matanya membengkak serta hidung mancungnya yang merah. Benar-benar seperti boneka panda.


"Enggak-enggak sayang..kamu kelihatan gemesin tahu. Gantengnya tetep kok nggak ilang." bujuk Syifa dengan menahan senyumannya.


"Gombal. Emangnya aku nggak tahu itu bibir kamu lagi nahan ketawa." Dion yang gemas pun langsung menggelitiki perut Syifa.


"Ah, sayang geli.. Mulai deh." Syifa yang tak mau kalah pun ikut menggelitik Dion. Keduanya saling membalas hingga tanpa sadar Dion sudah mengungkung tubuh Syifa.


Tatapan keduanya kini saling beradu. Dua insan yang selalu dimabuk asmara itu seolah mengisyaratkan sebuah sinyal khusus.


Perlahan Dion mulai mengecup lembut bibir Syifa. Kecupan yang semakin lama semakin dalam membuat Syifa mulai terbuai.


"Mas, ini kan di apartemen Nico." Syifa paham apa yang akan terjadi dengan mereka setelah ini.


"Nggak apa-apa. Dia sudah meminjamkannya untuk kita." Dion pun melanjutkan aksinya.


Sementara Nico yang baru saja kembali ke apartemen kini sedang mempersiapkan makanan untuk kedua sahabatnya. Sebelumnya dia mampir ke salah satu restoran untuk memesan makanan tersebut.


"untung mereka belum balik." Nico menatap lega dua pasang sepatu yang masih bertengger di rak.


Saat selesai menyiapkan Nico berjalan menuju kamar tamu untuk mengajak Dion dan Syifa makan. Dia ingat sejak siang tadi kedua sahabat itu belum makan.


"Mereka pasti ketiduran. Bangunin aja deh." gumam Nico.


Namun saat hendak mengetuk pintu Nico mendengar suara-suara dari dalam.

__ADS_1


"Haasss... Dasar. Nggak kasian apa sama jones gini malah enak-enak bikin anak di apartemen gue." Nico menghentakkan kakinya dengan gemas.


...****************...


__ADS_2