
"Maafkan Papa sudah tidak jujur padamu selama ini. Tapi Papa tidak pernah sedikitpun menganggap mu orang lain. Kau yang menguatkan papa saat itu." kata itu yang terucap pertama kali dari bibir Wira.
Shaka dan Wira tampak duduk berdua menikmati secangkir kopi di masing-masing tangannya.
"Bukan Papa yang harus minta maaf. Justru aku pa, selama ini aku terlalu tidak tahu diri dengan sikapku. Bahkan karena perbuatanku sampai berefek besar kepada kesehatan mental Dion. Hah, manusia macam apa aku ini?" Shaka tersenyum miris. Meratapi segala kesalahannya di masa lalu.
"Papa pun juga salah, papa berusaha menutupi segala kekurangan anak-anak Papa dengan menunjukkan segala kelebihannya. Tapi tanpa sadar justru tindakan itu malah membuat anak-anak Papa merasa tertekan. Setelah Dion menikah kini Papa sadar. dan luar biasanya Dion sekarang jauh lebih baik keadaannya. Meski Papa masih khawatir akan masa depan bocah itu." ujar Wira.
"Apa yang papa khawatirkan?" Shaka menoleh menatapi sang Papa.
"Dia begitu malas jika disuruh mengurus perusahaan. Memangnya papa nggak tahu apa kalau kemarin dia sengaja memberitahu para dewan direksi agar tak memilihnya. Kuliah juga ogah-ogahan sampai sekarang belum ada tanda-tanda lulus." Wira mengusap wajahnya dengan kasar.
Shaka justru terkekeh melihat ekspresi gelisah papanya.
"Papa justru harusnya bangga dengan Dion. Di usia semuda itu dia sudah pandai mengelola bisnisnya sendiri bahkan omset perbulannya saja sudah bisa bersaing dengan gaji direktur." ucap Shaka.
"Maksudmu cafe yang dia kelola itu? Justru papa khawatir Dion malah merugi." ujar Wira remeh.
"Nah, itu pa. Makanya sesekali papa kesana biar tahu. Lagian usaha Dion itu banyak kok nggak cuma cafe aja."
Wira pun mengernyitkan keningnya. "Usaha? Usaha apa?"
"Papa cari tahu sendiri."
Tak berselang lama Dion pun datang dengan menggandeng tangan Dion. Sementara tangan lainnya memegang tali yang dikaitkan ke leher boneka kucing miliknya.
"Ngomongin apa nih kayaknya serius banget." celetuk Dion.
"Eh, Bella.. Sini sayang sama opa." Wira langsung beranjak untuk menghampiri Bella.
"ssttt... Ucing igit." Bella melarang Wira untuk mendekat. Dia memberitahu bahwa kucingnya suka menggigit.
"memang kucingnya mau gigit siapa?" tanya Wira.
"Ucing igit cucu Mommy. Cakit.." Dengan celoteh yang kurang jelas Bella mencoba untuk memberi tahu Wira.
Wira dan Shaka pun mengernyitkan keningnya. Lalu menatap Dion.
"Benar Syifa digigit kucing?" tanya Wira.
Dion hanya menyengir sambil menggaruk kepala belakangnya yang tak gatal.
"Dasar, awas aneh-aneh Bella masih kecil." gerutu Shaka.
"Opaa... Ucing.." Bella masih antusias dengan boneka kucing yang teronggok di lantai. Posisi tubuhnya miring serta warna putih tulang pada boneka tersebut sebagian sudah kotor.
"Sepertinya Bella pengen punya kucing deh." ujar Shaka.
"Justru itu aku nggak bolehin. Dia terlalu kecil belum ngerti merawat hewan. Yang ada hewannya teraniaya." ucap Dion.
Mereka pun hanya bisa tertawa melihat tingkah lucu Bella. Bocah kecil itu berhasil mengubah suasana rumah Wira jadi ceria.
Tak berselang lama Ponsel Shaka berdering. Dia melihat nama Hana tertera di layar ponselnya.
__ADS_1
"Tumben telfon duluan." gumam Shaka dengan wajah berseri.
"Halo_"
"Halo, maaf apa anda keluarga pemilik ponsel ini? Beliau kecelakaan sekarang berada di rumah sakit X"
DEGG!
Shaka sangat terkejut.
"I-iya saya kesana sekarang." Tanpa buang-buang waktu Shaka langsung berlari menuju mobilnya.
Bahkan pertanyaan Papa dan adiknya dia abaikan. Yang ada di pikirannya sekarang hanyalah Hana.
"Kakakmu kenapa Dion?" tanya Wira heran.
"Nggak tau Pa. Mungkin ada urusan mendadak. Coba nanti Dion cari tahu"
.
Shaka melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi hingga ke rumah sakit. Sesampainya disana dia langsung mencari keberadaan Hana.
"Nona Hana ada di ruang IGD. Dokter masih menanganinya." ucap Salah satu perawat.
Shaka pun menunggunya dan tak berselang lama dokter keluar dari ruangan tersebut.
"Dokter, bagaimana keadaan Hana?" tanya Shaka panik.
"Apa anda wali dari pasien?" tanya dokter.
"Nona Hana mengalami cidera di tangan dan kakinya. Dia mengalami patah tulang pada lengan kirinya. Dan saya sarankan untuk segera di operasi." ujar dokter.
"Baiklah lakukan apapun yang penting dia selamat dokter." ucap Shaka.
"Baik, kalau begitu mari ikut saya untuk mengurus administrasi dan beberapa berkas." Shaka pun mengikuti dokter mengurus semuanya. Termasuk membayar biaya operasi.
Setelah selesai Hana langsung mendapatkan tindakan operasi. Shaka begitu gelisah menunggu sementara itu ponselnya yang sejak tadi berbunyi baru sempat dia angkat.
[Halo Kak, kak Shaka dimana? Papa nyariin tuh.] ucap Dion.
[aku sedang di rumah sakit X]
[Loh, memangnya siapa yang sakit? Kak Shaka nggak kenapa-napa kan?]
[aku nggak apa-apa. Hana kecelakaan.]
[Hana? Siapa itu?]
[Hana manager salonmu.]
[Hah? Kok bisa? Tunggu-tunggu kak Shaka mengenal mbak Hana?]
[udah kapan-kapan aku ceritain. Aku tutup dulu telfonnya aku sibuk.]
__ADS_1
Tanpa menunggu jawaban dari Dion kini Shaka langsung mematikan sambungan teleponnya.
Persetan jika Dion saat ini diliputi banyak pertanyaan di benaknya. Yang penting dia harus fokus dulu dengan keadaan Hana.
Setelah menunggu kurang lebih satu jam kini lampu indikator tuang operasi telah berubah. Artinya operasi sudah selesai dilakukan. Tak berselang lama dokter pun keluar dari ruangan tersebut.
"Dokter. Bagaimana keadaan Hana?"
"Alhamdulillah, operasi berjalan dengan lancar. Pasien masih belum siuman. Setelah selesai observasi pasien akan dipindahkan ke ruang perawatan.
Shaka akhirnya bisa bernafas lega. Namun belum sepenuhnya lega sebenarnya. Karena belum melihat keadaan Hana secara langsung.
Hingga akhirnya Hana sudah dipindah ke ruang perawatan kini Shaka langsung menemuinya.
Wajah cantiknya terdapat beberapa luka goresan serta di beberapa anggota badan yang lain.
Shaka masih belum tahu bagaimana pastinya kecelakaan itu terjadi. Namun kini prioritasnya adalah pemulihan untuk Hana.
Cukup lama Hana dalam keadaan tak sadarkan diri. Shaka yang menemaninya pun mulai mengantuk. Tanpa sadar dia malah ketiduran di samping Hana.
Baru saja tertidur tiba-tiba Shaka mendengarkan suara seseorang menangis. Dia langsung bangun dan mendapati Hana sudah menangis histeris.
"Hana.. Hana kamu kenapa? Apa ada yang sakit?"
"Aku... Aku takut.. Aku takut ada banyak darah." Hana masih menangis dengan histeris.
Shaka langsung memeluk Hana. Mengusap lembut air matanya.
"Jangan takut, aku disini. Aku menemanimu." ucap Shaka. Sepertinya Hana mengalami trauma.
...****************...
Luna terus mondar mandir di pinggir jalan. Dia bingung ingin pergi kemana lagi. Setelah ibunya menelepon kini Luna semakin gelisah.
Awalnya Luna ingin membuat kejutan dengan menemui keluarga Dion. Namun karena masalah ini dia tidak mungkin memberitahu orang tuanya. Bisa-bisa dia akan habis dihajar oleh papanya.
"Ahh.. Sial. Aku harus bagaimana? Kalau kabur begini aku nggak punya tujuan." gumam Luna resah.
Tiba-tiba seseorang memegang pundak Luna dari belakang hingga membuat gadis itu terperanjat.
"Aaa.. Siapa kamu." Luna sedikit menjingkat.
"Gadis cantik kenapa kau mondar-mandir sendiri di sini?" tanya pria itu.
"Ku tanya siapa kamu?" tanya Luna ketus.
"tenang, aku tidak akan menyakitimu. Justru aku akan membantumu." ucap Pria itu.
"Nggak mau aku nggak kenal kamu." jawab Luna ketus.
"Baiklah, kita kenalan. Namaku Rangga." pria itu mengulurkan tangannya.
"Rangga?"
__ADS_1
...****************...