Dosenku Istriku

Dosenku Istriku
Bab 51 tak ada yang terlambat untuk jatuh cinta


__ADS_3

Di sebuah playground khusus bayi yang ada di salah satu mall terbesar di Jakarta tampak sepasang suami istri yang sudah lanjut usia sedang sibuk menemani sang cucu bermain.


Wira tampak begitu antusias saat menemani Bella bermain. Begitu pula Rina yang juga berada di sana ikut bahagia melihat canda tawa keduanya.


"Opa.. Ini minum dulu. Pasti capek yaampun sampai keringetan begini. Awas encoknya kumat ya.." Rina menghampiri sang suami yang sejak tadi menuntun Bella menaiki perusutan kecil.


"Nggak apa-apa kalau encoknya kumat kan ada kamu yang pijitin. Seneng sayang lihat Bella semangat gitu. Apalagi tambah pinter dia." mendengar panggilan sayang yang diucapkan Wira tentu saja membuat Rina tersipu malu.


Sungguh pemandangan seperti ini begitu langka untuk mereka berdua. Bahkan bisa dibilang ini adalah kali pertama mereka menghabiskan waktu berdua momong anak kecil.


Sejak menikah Rina bahkan tak pernah sekalipun menghabiskan waktu bersama suaminya. Masa kecil Dion pun tak pernah mendapatkan perlakuan sehangat ini.


Bayang-bayang kematian Sarah membuat Wira menjadi sosok yang dingin dan tak pernah memperhatikan kelurganya. Apalagi melihat Dion membuatnya terus bersedih dan mengingat kepergian istrinya.


Kini, setelah kedatangan Syifa dan Bella membuat Wira sadar. Bahwa meninggikan ego tak akan pernah membuat keadaan membaik. Justru hanya akan menghancurkan keluarganya sendiri.


Rina pun tak berhenti bersyukur. Doa yang selalu dia panjatkan selama ini akhirnya terkabul. Kerasnya hati Wira perlahan mulai menghangat.


Bahkan sekarang Wira menjadi lebih perhatian kepadanya. Meski baru sekarang tapi Rina tak pernah merasa kasih sayang suaminya itu terlambat. Setidaknya dia masih merasakan cinta meski di ujung usianya.


"Bella udahan yuk, Oma capek itu nungguin." Wira menatap sang istri yang tampak memandangnya sejak tadi.


"Oma.. " suara kecil itu memanggil Rina.


"Sudah sayang? Bella lapar? Mau makan?" Rina menghampiri Bella dan Suaminya.


"Mauu.." Dengan gemasnya Bella menjawab ucapan Rina.


"Lusa ulang tahunnya. Sekarang sudah pinter jawab ya Ma. Gemesin banget ternyata momong cucu seseru ini." ujar Wira sembari meletakkan Bella di stroller nya.

__ADS_1


Kali ini Rina dan Wira memang ingin pergi bertiga saja. Mereka sengaja tidak mengajak pengasuh Bella sebab ingin menikmati momen.


Saat sedang berjalan menuju restoran yang ada di mall tersebut tiba-tiba seseorang memanggil.


"Bu Rina.." seorang ibu-ibu beserta seorang gadis muda menghampiri mereka.


"Bu Yeni." ujar Rina. Bu Yeni merupakan salah satu istri kolega dari Wira.


"Bu Rina dari mana sama Pak Wira? Kok tumben itu bawa bayi segala." ujar Bu Yeni melirik Bella.


"Oh, kebetulan lagi senggang pengen momong cucu. Bu Yeni sendiri habis belanja ya? Ini Monica bukan? makin cantik aja." Rina melihat beberapa tas yang ditenteng oleh wanita itu.


"Iya Bu, biasa ini lagi shopping sama anak. Mumpung dia libur kuliahnya. Iya ini Monica. Temen Dion sejak SD. Niatnya pengen saya jodohin eh Dion udah nikah duluan. Eh ini bayi anak tirinya Dion ya?" tanya Bu Yeni.


Bukan rahasia lagi jika Dion menikah dengan Syifa yang sudah memiliki seorang anak. Tapi Mendengar kata anak tiri entah kenapa membuat Rina sedikit terganggu. Meski memang benar tapi dia tak pernah menganggap Bella demikian.


"Iya tapi kami sudah menganggapnya cucu kandung kok bu." tiba-tiba Wira menjawab.


"Ya mereka masih ada urusan Bu. Lagian saya juga udah lama nggak momong anak kecil. Rasanya seneng aja Bu." Rina berusaha membuat suasana tak canggung.


"iya juga sih bu ya. Itung-itung Bu Rina nggak bisa punya anak kandung jadi anak tiri pun sudah biasa ya." kata-kata yang keluar dari mulut Bu Yeni kali ini sedikit menyinggung. Hingga Monica yang sejak tadi terdiam pun ikut bereaksi.


"Mama apaan sih, jangan gitu ah nggak enak sama Bu Rina. Udah ayok pergi aja jangan bikin masalah." gerutu Monica.


"Tante Rina, maaf kami duluan ya. Selamat sore." gadis itu buru-buru menarik lengan ibunya menjauh.


Sementara Rina tampak terdiam setelah mendengarkan ucapan Bu Yeni tadi. Wira yang paham akan perasaan istrinya pun langsung merangkulnya dan berusaha menghiburnya. Dia tahu ini adalah kesalahannya juga di masa lalu.


"Ma, udah ya jangan diambil hati. Mama sabar ya. Yuk kita lanjut, Bella pasti sudah lapar." Wira menggenggam tangan Rina lalu melanjutkan jalannya.

__ADS_1


Rina hanya tersenyum meski tampak kedua netranya sudah berembun. Bagi Rina pembahasan anak memanglah sangat sensitif untuknya.


"Maafin Papa ya Ma. Seandainya Papa tidak melakukan kesalahan dulu pasti kita akan bahagia memiliki seorang anak." ujar Wira yang masih tampak merasa bersalah.


"Nggak apa-apa kok Pa. Semua sudah terjadi. Memang ini takdir Tuhan kita tidak bisa melawannya. Yang pasti sekarang Mama senang karena adanya anggota baru keluarga kita ini." Rina mengusap lembut pipi gembul bella yang berada pada pangkuan Wira.


Meski begitu Wira tetap merasa bersalah. Kecerobohannya dimasa lalu membuat Rina yang tengah hamil muda saat itu tak begitu diperhatikan olehnya.


Bahkan Wira yang gila kerja sampai membuat Rina cukup stres dan terjatuh di kamar mandi hingga keguguran. Apalagi saat Dokter memvonis bahwa Rina tak bisa lagi mengandung membuatnya menyesal.


"Ma, aku janji mulai sekarang Papa akan menuruti keinginan mama. Akan aku limpahkan semua kasih sayang dan cintaku hanya untuk mama. Setelah anak-anak menggantikan posisiku di perusahaan aku janji akan fokus buat istriku seorang." Wira mengusap lembut puncak kepala Rina.


Sungguh tak ada kebahagiaan lain selain hal ini. Rina merasa dirinya begitu beruntung. Perjuangannya menjadi seorang ibu sambung serta suami dari mendiang sahabatnya kini terbalas manis.


"Papa ih, kayak anak muda aja ngomongnya. Malu tahu dilihatin cucu." ujar Rina menyembunyikan wajah tersipu malunya.


"Biarin. Biar tua-tua begini Papa juga pengen kali mesra-mesraan. Emang Dion sama Syifa aja yang bisa? Papa juga bisa. Bagi papa tak ada kata terlambat untuk jatuh cinta." ujar Wira dengan tatapan tulusnya.


"Kalau bisa nanti tiap malam minggu kita dinner, kencan nonton film berdua. Pokoknya yang romantis-romantis lah kayak anak muda gitu." lagi-lagi Wira semakin menggoda istrinya.


Rina pun hanya bisa memukul lengan suaminya. Rasanya gemas bercampur senang. Sudah setua ini obrolan mereka justru seperti anak muda.


"omaa... Noo.. Ukul noo.." tiba-tiba Bella menyeletuk sambil tangannya terangkat seolah memberi tanda stop agar Rina tak memukul suaminya lagi.


"Oh Bella sayang, maaf ya. Oma kelepasan mukul Opa. Maaf ya sayang. Aduh sampai ditegur cucu begini." Baik Rina maupun Wira pun dibuat terkekeh dengan tingkah lucu Bella.


...****************...


Bonus Visual Bella

__ADS_1



__ADS_2