
Gadis itu terus merangsek ke dalam dada bidang Dion. Meskipun Dion sudah meronta namun gadis itu tetap bersikeras memeluknya lagi.
"Biarkan aku memelukmu kak, sebentar lagi kita akan jarang bertemu." ucap Gadis itu.
Syifa yang tak tahan langsung mencekal tangan gadis itu dengan tatapan nyalang.
"Adek cantik, bisakah kamu tidak menyentuh suami saya." ucap Syifa dengan senyum manis yang dibuat-buat.
"Hah? suami?" gadis itu nampak bingung.
Kemudian Dion mengangat tangannya menunjukkan jemarinya yang terdapat cincin pernikahan.
"A-apa? Bu Syifa dan Kak Dion suami istri? ku pikir kakak adik karena setiap hari berangkat bersama." gadis itu benar-benar dibuat telak dengan kenyataan. Tanpa mengucap sepatah kata pun langsung kabur berlari menghindari mereka.
"Kamu nggak marah sayang?" Dion pun terkejut dengan reaksi Syifa.
"Kesel iya, tapi aku nggak mau marah-marah. Kan ada dedek yang harus terus happy didalam sini." Syifa menunjuk perutnya sendiri.
"Istriku keren deh, i love you." puji Dion sebelum Syifa melenggang pergi meninggalkannya. Dion tahu istrinya masih dalam mood buruk namun dia juga tahu bagaimana caranya membuat mood sang istri kembali baik nanti malam.
Dion berjalan dengan perasaan lega sekaligus menahan tawa sejak tadi. Mengingat bagaimana Syifa memperingatai mahasiswinya agar tak mendekati Dion lagi.
Untung saja Dion dan Syifa tak pernah melepas cincin pernikahannya sehingga mahasiswi tersebut langsung percaya dan sangat malu. Bagaimana tidak malu karena Syifa terang terangan mengatakan bahawa Dion adalah suaminya.
Kini dengan langkah santainya Dion berjalan menemui teman-temannya di cafe depan kampus.
"Buset nemuin istri aja lama bener, minta jatah tuh di rumah ono kita-kita nungguin dari tadi juga." protes Tyo.
"Sorry, ada kendala dikit tadi. Tapi udah beres kok. Eh, kalian mau makan pesen sepuasnya deh gue habis ada rejeki soalnya." ujar Dion.
"Wih, bau-baunya juragan kontrakan makin berjaya nih." puji Evan.
"Alhamdulillah, rejeki jabang bayi." ujar Dion.
"Loh, kakak ipar udah hamil Bro?" Nico langsung tanggap.
"Alhamdulillah iya." Dion ingin berbagi kebahagiaannya kepada sahabat-sahabatnya.
__ADS_1
"Selamat Bro, akhirnya tok cer juga otong lo." sahut Tyo.
"Gimana gak tokcer orang tiap malam diasah terus." ujar Nico kemudian.
"Hmm.. enak ya punya pasangan halal, dasar nasib pasangan gue cuma sabun mulu. Itu kecebong kegelincir terus di lantai kamar mandi. keras, ngenes bro." celetukan Evan tentu saja langsung mengundang gelak tawa.
Mereka bercanda tawa melepas penat setelah berbulan-bulan bergelut dengan skripsi dan sidang pada puncaknya. Hasil baik yang didapatkannya membuat mereka begitu lega. Namun diantara keceriaan itu tampak Nico yang sedari tadi sedikit murung.
Hingga akhirnya Evan dan Tyo berpamitan lebih dulu kini tinggal Nico yang masih betah menemani Dion menunggu Syifa.
"Setelah wisuda lo mau ngapain?" tanya Nico.
"Udah jelas jadi bapak rumah tangga bro, momong anak sambil mantau usaha. Apalagi nanti anak gue juga nambah jadi mau fokus ngurus mereka aja." jawab Dion.
"Gue pikir lo bakal terjun di perusahaan bareng Kak Shaka, nggak sayang gitu perusahaan lo tinggalin."
"Gue udah mutusin buat nggak ikut-ikut di perusahaan. Gue trauma sejak kecil nggak pernah dapet kasih sayang dari papa. Dia sibuk terus sama pekerjaan. Sampai gede pun Papa juga kolot dan doktrin gue terus, sampai hampir gila kan gue ngadepi kakak dan Papa. Akhir-akhir ini aja mereka mulai berubah baik setelah ada Syifa." Dion menghela nafas kasar.
"Bener, istri lo emang luar biasa." Nico menimpali.
Nico tampak terdiam sejenak tak langsung mengatakannya.
"Gue mau nikah, Bro." jawab Nico kemudian.
"Hah, nikah? sama siapa?" Dion sangat terkejut pasalnya sahabatnya itu tak pernah terlihat dekat dengan wanita selain Bianca.
"Sama Diana." Nico berusaha mengulas senyumnya meski tampak terpaksa.
"Bentar-bentar, jangan bilang lo mau nikahin Diana adiknya kak Shaka?" Dion jadi semakin penasaran.
"Iya, dan kedua belah pihak udah nentuin tanggal pernikahannya." ujar Nico kemudian.
"Kak Shaka tau tentang ini? terus gimana sama Diana?"
"Kak Shaka tau kok, dia juga udah diskusi sama orang tua gue. Sementara Diana juga nurut aja, tau sendiri kan di itu polos banget." Nico terkekeh sendiri membayangkan polosnya gadis itu.
"Tapi lo sendiri gimana?" ini yang paling penting menurut Dion, kesiapan Nico sendiri.
__ADS_1
"Jujur sebenarnya gue masih ragu, terlebih Diana juga masih sangat muda, bahkan usianya masih 19 tahun. Dan semua ini kehendak orang tua, mereka mungkin khawatir gue terjebak perasaan sama Bianca terus." Nico akhirnya memilih jujur. Baginya tempat berbagi keluh kesah paling tepat adalah dengan Dion.
"Gue paham sama lo yang mungkin masih sulit melepaskan perasaan lo. Tapi orang tua lo ada benernya juga apalagi lo anak satu-satunya pasti mereka sudah menaruh harapan besar. Soal cinta semua bisa berjalan seiring waktu." Nico pun manggut-manggut dengan penuturan Dion.
"Lo sih enak, ada persiapan dan omongan dari kedua belah pihak, sedangkan gue dulu harus mutusin saat itu juga. Mana pake diarak sama warga lagi." Jika mengingat kisahnya dengan Syifa dulu Dion masih tak habis pikir.
"Elo nya aja yang nyosor mulu sama janda kembang." ledek Nico.
"Habis gemesin gitu sih, gimana ya? sayang banget kalo dianggurin." Dion terkekeh.
"Intinya lo jangan terlalu gusar. Mending dipakai sholat istikharah bro, siapa tahu lo dapat petunjuknya." saran Dion.
"Hmmm, sohib gue jadi makin alim nih." puji Nico.
"Ya meskipun gue gak pinter-pinter banget soal agama tapi gue berusaha lebih baik, belajar dikit-dikit buat bimbing anak istri gue."
Nico yang salut dengan perubahan sahabatnya yang lebih baik pun ikut merasa senang.
"Semoga gue kelak juga gitu." gumam Nico.
"Hidup gak ada yang tahu kita bakal jadi gimana, yang penting dijalanin aja dan terus berusaha, kalo emang jodoh lo adalah Diana maka jangan disia-siain dia, lagian dia juga cantik kok cocok sama lo."
"Hmm.. kalo cantik emang bener, cantik banget kek boneka hidup dia." Nico senyum-senyum sendiri membayangkan Diana meski perasaannya belum menentu.
Obrolan mereka terus berlanjut hingga Syifa selesai dengan pekerjaannya. Kini keduanya memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing.
"Ini semua dari fans kamu?" Syifa terkejut saat mendapati berbagai hadiah dan buket bunga yang memenuhi jok belakang mobilnya.
"Iya, itu sebagian udah diambil anak-anak." Dion yang merasa sungkan hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
Sementara Syifa hanya bisa tertunduk lesu. Entah kenapa kini dia menjadi begitu sensitif.
"Maaf, aku istrimu tapi justru tak menyiapkan hadiah. Aku terlalu sibuk dengan pekerjaanku sendiri sampai tak memperhatikan kamu, Mas." Syifa merasa bersalah dengan dirinya sendiri.
"Hey sayang, kenapa kamu berpikir seperti itu? justru aku yang harusnya berterima kasih banyak dan memberimu hadiah, bagaimana perjuangan kamu sejak awal membantuku sampai di titik ini. Dan dengan bantuan kamu menjadi dosen pembimbing khususku kini aku juga mendapatkan cintamu. Dan kini bahagiaku terasa semakin lengkap dengan adanya buah cinta kita." Dion menunduk untuk mengecup perut Syifa yang masih rata.
...****************...
__ADS_1