
Sebuah telapak tangan berukuran kecil terasa merayap di kedua pipi Syifa sementara dadanya terasa lebih berat tertindih sesuatu.
"Mommy.. Aunn.. Mommy.. Auunnn.." suara lengkingan kecil itu semakin memekakkan telinga Syifa.
Akhirnya dengan terpaksa Syifa membuka matanya. Sebuah wajah imut langsung terpampang begitu dekat di depan Syifa.
"Mommy..." suara itu semakin imut dengan senyum indah yang menunjukkan dua gigi depannya. Rambut kuncir dua dengan pita berbentuk bunga daisy berwarna putih menambah keimutan bocah itu. Jelas pemandangan di pagi hari ini adalah yang terbaik.
"Bella, sayang." Syifa langsung memeluk Bella yang sedang tengkurap di atas tubuhnya. Tak lupa menciumi pipi gemasnya itu.
Sementara Dion tampak tersenyum di samping mereka. Ya, Dion sengaja membawa Bella untuk membangunkan Syifa. Semalam setelah Syifa menangis dia kelelahan sampai ketiduran didalam pelukan Dion.
Bahkan pagi hari ini kedua matanya masih tampak bengkak. Beruntung saat ini hari Minggu sehingga Syifa tak khawatir soal berangkat kerja.
"Mommy udah bangun tuh.. Waktunya apa sayang?" Dion menanyai Bella.
"Maaamm maamm.." dengan semangat Bella mengajak Syifa untuk sarapan.
"Bentar ya sayang Mommy ke kamar mandi dulu." Syifa pun bergegas untuk pergi ke kamar mandi.
Saat berada di depan cermin wastafel Syifa menatap dirinya sendiri. Merenungi apa yang sudah terjadi selama ini.
Kehidupannya terasa berubah drastis saat pernikahannya dulu dengan yang sekarang. Berlimpah kasih sayang dan perhatian kini Syifa rasakan. Dan Dion adalah sosok suami yang begitu sempurna untuknya.
Dan ketika Syifa merenung kembali semua ini tak akan dia rasakan jika Mona tak menikah dengan Rangga. Bisa jadi kehidupan Syifa akan tetap tertekan dengan Rangga.
Dibalik semua musibah pasti selalu ada hikmah yang menyertainya.
"Harusnya aku bersyukur atas kejadian ini. Huft.. Harusnya aku juga memaafkan Mona. Bagaimanapun dia telah melepaskanku dari Rangga." Syifa bermonolog.
Setelah selesai Syifa kini bergabung di meja makan. Disana semuanya sudah berkumpul. Suasana pagi yang cerah ditambah keharmonisan keluarga rasanya tak ada yang lebih baik dari ini.
Selesai sarapan mereka berbincang-bincang. Dion dan Papanya tampak membicarakan tentang bisnis. Sementara Shaka sibuk berbalas pesan di ponselnya dengan wajah berseri-seri. Sepertinya hubungannya dengan Hana berlanjut baik.
"Oh ya Syifa, apa kamu sudah bertemu Mona? Ku dengar hari ini dia akan pergi ke Ambon untuk pindah ke sana" ujar Shaka kemudian.
"Pindah ke ambon? Ngapain?" Syifa pun terkejut. Pasalnya hari ini dia berniat untuk menemuinya lagi.
"Dia ingin mengabdikan diri di sebuah panti asuhan." ujar Shaka.
"A-apa? Dia mau berangkat sekarang?" Syifa pun tampak panik.
__ADS_1
"Iya, sepertinya pesawatnya berangkat satu jam lagi. Kebetulan sekretarisku yang mencarikan tiket untuknya." ini adalah salah satu bantuan yang ditawarkan Shaka kepada Mona karena jasanya telah membantu menyelamatkan Bella dan Dion.
Syifa langsung berdiri diikuti dengan Dion yang juga penasaran.
"Sayang antarkan aku menemui Mona."
Akhirnya mereka pun bergegas untuk pergi ke kediaman Mona berharap wanita itu belum pergi.
Namun saat dia sudah sampai rupanya tak ada seorangpun disana. Syifa yang panik terus menelepon Mona. Sudah beberapa panggilan akhirnya Mona mengangkatnya.
Mona : [H-halo Syifa.]
Syifa : [Mona kau dimana? Aku mencarimu di rumah nggak ada]
Mona : [maaf Syifa, aku di bandara. Pesawatku setengah jam lagi berangkat.]
Syifa : [tunggu disana jangan pergi kemana-mana karena aku akan menemuimu. Harus.] entah kenapa kini Syifa sungguh ingin sekali menemui Mona sebelum pergi.
Sementara Mona begitu senang akhirnya Syifa menghubunginya. Dia berharap Syifa masih mau membuka pintu maaf untuknya.
Tak sampai setengah jam akhirnya Syifa sampai di bandara. Untung saja Dion membawa motornya sehingga mereka bisa dengan cepat membelah kemacetan.
Syifa langsung berlari mencari keberadaan Mona. Dengan jantung yang berdebar dia melihat wanita itu tengah duduk termenung dengan sebuah koper dan tas besar di sampingnya.
Seketika Mona langsung menoleh ke sumber suara. Disana tampak Syifa berdiri dengan nafasnya yang naik turun.
Mona langsung berdiri sementara Syifa dengan cepat menghampiri. Dua sosok manusia itu kini telah berhadapan. Mereka tampak canggung sekali meski ada kerinduan yang teramat dalam. Mereka pernah melalui masa-masa indah sebelum badai menerpa.
"S-Syifa.." dengan netra yang sudah berembun Mona tampak tersenyum bahagia.
Syifa langsung berhambur memeluk Mona. Tentu saja hal itu sungguh di luar dugaan keduanya. Mona seolah membeku untuk beberapa saat saking terkejutnya menahan euphoria didalam hatinya.
Sementara Syifa sendiri entah kenapa jadi tergerak untuk mendekap tubuh Mona.
"Mona, maaf sikapku kemarin keterlaluan padamu. Aku seharusnya memaafkanmu saja. aku terlalu egois Mona." Syifa sudah tak mempu lagi menahan air matanya.
Sementara Mona begitu senang sekaligus terharu mendengar ucapan Syifa.
"makasih Syifa.. Aku benar-benar makasih banyak akhirnya kamu menerima maafku. Aku hanya wanita kotor dan rendahan tentu mendapatkan maaf darimu adalah hal yang luar biasa." Mona pun mengeratkan pelukannya kepada Syifa.
Kedua insan tersebut tampak saling mencurahkan segala isi hatinya. Dan benar saja apa yang diucapkan Dion. Dengan keikhlasan maka Syifa kini merasakan kelegaan yang luar biasa.
__ADS_1
Dion pun berjalan menghampiri keduanya. Menepuk-nepuk punggung Syifa hingga membuat wanita itu menoleh kearahnya.
Kini gantian Syifa yang memeluk Dion. Sementara pria itu mendaratkan kecupan di ujung kepalanya.
"Aku seneng banget lihat kamu dan suamimu Syifa. Kalian benar-benar pasangan yang sempurna." Mona menatapi keduanya.
"Makasih Mona, ini semua juga berkat kamu. Jika saja aku tidak bercerai mungkin aku tidak bertemu dengan suamiku ini." Syifa menatap manja kearah Dion.
"Baiklah, aku senang dan lega sekarang. Aku ingin berpamitan kepada kalian. Aku juga berharap keputusan ini aku ambil dengan matang. Mas Dion, tolong titip jaga Syifa dan Bella ya, mereka dua bidadari yang luar biasa." Akhirnya Mona pun pergi meninggalkan mereka.
Dengan suasana masih haru Dion merengkuh pundak Syifa dan mengecup lembut keningnya.
"Mas, aku cinta kamu." tiba-tiba Syifa menyeletuk.
"Hmm.. Aku juga. Cinta banget malahan." Syifa pun langsung tersenyum lebar. Begitu bahagianya hidup berlimpahan dengan kasih sayang dan cinta begini.
...****************...
"Bro, lo sibuk nggak malem ini? Temani nongkrong yuk sambil curhat. Galau berat gue." ujar Nico dari pesan singkatnya.
"ok, kagak sibuk kayaknya. Tapi agak maleman tunggu Bella tidur. Nongkrong dimana?" balas Dion.
"Di cafe lo aja ya, hehehe."
"Dasar ****** lu. Ngomong aja kalau minta traktiran." balas Dion dengan gerutuannya.
"Ya kali pelit banget. Lo kaya raya tapi perhitungan ma gue."
Kalau sudah begini Dion pun tak bisa berbuat banyak. Dia pun akhirnya menyetujuinya.
Sampai akhirnya malam setelah  menidurkan Bella kini Dion berpamitan kepada Syifa.
"Sayang boleh kan ketemu Nico sambil ngecek cafe?" tanya Dion.
"Iya, pulangnya jangan kemaleman ya. Terus hati-hati di jalan." Dion langsung menghadiahi kecupan di bibir Syifa kaena gemas sendiri.
Dion akhirnya berangkat dan kini telah sampai di cafe. Tampak Nico sedang melamun sambil memainkan sedotan di gelasnya.
"Gimana Bro? Galau kenapa lagi?" Dion menghampiri Nico.
"Ya, tentang putusnya hubungan gue sama Bianca. Ternyata..." Nico menggantung ucapannya karena merasa bingung bagaimana menjelaskannya kepada Dion.
__ADS_1
"Tentang orientasi seksual Bianca dan obsesinya sama Syifa, istri gue kan?"
...****************...