Dosenku Istriku

Dosenku Istriku
Bab 94 akhirnya terbongkar sudah


__ADS_3

Dion begitu kesal setelah mengetahui penyebar beritanya adalah Bianca. Kekesalannya karena gadis itu mencintai istrinya bertambah besar setelah mengetahui fakta baru ini.


Dion menemui Bianca di kampus dengan amarah yang memuncak. Saat itu kelas baru saja usai. Menyisakan beberapa mahasiswa saja.


Saat Bianca hendak pergi Dion langsung mencengkeram tangan Bianca dengan erat. Sempat dicegah oleh Nico namun Dion yang sudah terlanjur marah hanya bisa diam di tempat.


"Jangan pergi lo. Gue punya urusan penting sama lo." ucap Dion tajam.


Bianca tampak kelimpungan tapi inilah yang harus dia hadapi. Pada akhirnya Dion akan mengetahui semuanya.


Saat semua kelas sudah kosong dan hanya menyisakan mereka bertiga kini Dion langsung menarik kerah baju Bianca dengan kasar.


"Dion, tenangkan diri lo jangan marah." pekik Nico.


"Diam lo Nico. Urusan gue sama Bianca." sarkas Dion.


"Dan lo, hal gila apa lagi yang mau lo rencanain buat ngusik rumah tangga gue. Sudah gue bilang JANGAN GANGGU ISTRI GUE." bentak Dion dengan nyalang.


Sementara Bianca hanya bisa terdiam sambil menahan air matanya. Dia tahu cinta Dion kepada Syifa begitu besar. Berulang kali pria itu memperingati Bianca. Dan puncaknya sekarang ini Dion benar-benar marah kepadanya.


"Dion.. Dia cewek. Lo jangan lepas kendali." Nico yang berada di belakang Dion mencoba untuk mengingatkannya.


"Gue nggak peduli mau cowok atau cewek. Mereka yang sudah mengusik hidup gue harus menerima akibatnya." kini Dion berganti menatap Nico dengan nyalang.


"lo pergi aja daripada halang-halangi gue." bentak Dion kepada Nico.


"Tapi Bianca lakuin itu semua karena ada alasan Dion. Lo dengerin dulu penjelasannya." Nico yang tak terima dibentak Dion gantian membentaknya.


Kedua sahabat itu kini bersitegang. Padahal tak pernah sebelumnya mereka seperti ini.


"m-maaf Dion..." akhirnya Bianca memberanikan diri untuk bicara.


Dion langsung menoleh kepada Bianca. Dengan tatapan yang begitu menghunus nya.


"Lo bilang maaf? Setelah semua ini. Lo makin dibiarin makin ngelunjak Bianca. Dan lo hampir bikin celaka istri gue," Dion meraih leher Bianca hingga gadis itu meringis kesakitan.

__ADS_1


"Mas Dion..." tiba-tiba suara itu langsung mengejutkan semua orang.


"Syifa.."


"B-bu Syifa." lirih Bianca.


"Mas lepas, apa yang kamu lakukan pada Bianca." Syifa langsung meraih tangan Dion.


"Dia yang sudah menyebar berita itu Syifa. Dia juga yang sudah merencanakan semua ini."


"Ya tapi jangan pakai kekerasan Mas, aku tahu mungkin Bianca salah tapi ingat dia perempuan Mas. Please," Syifa mencoba untuk menyadarkan Dion.


Syifa menatap Bianca kemudian mendekatinya. Meski rasanya begitu kesal tapi Syifa mencoba untuk tetap tenang.


"Bianca, kenapa kamu lakukan ini? Aku tahu kamu menyukai suamiku tapi sadarlah kami sudah menikah." Syifa belum tahu jika Bianca menyukainya.


"A-apa maksud Bu Syifa. Aku.. Aku tidak menyukai Dion." ujar Bianca penuh keheranan.


"Lalu.. Lalu kenapa kamu lakukan itu?" Syifa menjadi bingung.


DEGG!


"A-apa? nggak mungkin." Syifa begitu terkejut apalagi saat melihat Bianca yang tertunduk lesu tak mengelak.


"Itu sebabnya aku marah. Dia menyukaimu dan dia terus terobsesi padamu sayang. Mana mungkin aku bisa diam saja sementara ada orang yang ingin merebut istriku." Dion meraih tubuh Syifa dan memeluknya.


Sebuah pemandangan yang begitu menyakitkan untuk Bianca. Melihat wanita yang dicintainya dipeluk oleh orang lain.


"Bianca katakan bahwa itu tidak benar." Syifa ingin tahu jawaban dari Bianca secara langsung.


Tangis Bianca pecah saat itu juga. Nico yang melihatnya ingin sekali menggenggam tangan gadis itu namun jika dia melakukannya akan menimbulkan masalah baru bagi Dion.


"I-itu semua benar Bu, aku cinta Bu Syifa. Aku sudah lama jatuh cinta sejak Bu Syifa menyelamatkan aku dan memelukku di jembatan saat itu. Bu Syifa adalah alasanku bertahan hidup hingga sekarang ini. Apa aku salah jika aku melakukan apa yang ibu minta." dengan tatapan pilu Bianca mencoba untuk mencari jawaban dari Syifa.


"A-apa kamu.. Kamu gadis itu." Syifa kini mulai teringat tentang kejadian beberapa tahun silam saat tak sengaja menolong seorang gadis remaja yang ingin mengakhiri hidupnya. Tak disangka gadis itu adalah Bianca yang justru memendam rasa cinta terhadap dirinya.

__ADS_1


"Ya, aku gadis itu Bu. Aku terus menunggu bu Syifa. Tapi aku tidak menyangka bahwa Bu Syifa justru memilih orang lain bukannya aku."


Bingung, Syifa benar-benar tidak tahu apa yang harus dia lakukan saat ini. Dia ingin merespon ucapan Bianca namun dengan kenyataan seperti itu Syifa takut menimbulkan salah paham.


"Bianca, saya tahu kamu begitu terpuruk dengan masalah kamu. Tapi tujuan saya menolong mu semata hanya ingin kamu tetap menjalani hidup dengan baik. Jika semua itu kamu artikan sebagai perasaan cinta maka kamu salah. Hatiku sudah memiliki tempat khusus hanya untuk satu orang, yaitu Mas Dion suamiku. Jadi maaf, jangan lanjutkan perasaanmu Bianca. Ini semua salah dan jangan dilanjutkan." dengan hati-hati Syifa mencoba untuk menjelaskan kepada Bianca.


Sakit memang, secara terang-terangan Syifa menolak Bianca didepan matanya. Tapi ini lah yang terbaik. Syifa ingin mempertahankan keluarga kecilnya demi keutuhan rumah tangganya.


Kemudian Syifa menatap Nico yang sejak tadi terdiam menyaksikan kehebohan ini. Tampak sekali sorot kesedihan di kedua netranya. Dan kini Syifa paham alasan hubungan mereka berakhir.


Sementara itu ada beberapa mahasiswa yang sengaja diam-diam menguping dan merekam pembicaraan mereka di dalam kelas.


Tentu saja hal itu menimbulkan kehebohan baru. Berita begitu cepat tersebar hingga membuat semua orang sangat Syok.


"Hah, nggak nyangka gue ternyata Bianca penyuka sesama jenis."


"Bisa-bisanya Bianca naksir Bu Syifa yang jelas-jelas sudah memiliki suami."


"Secantik itu Bu Syifa emang. Sampai perempuan aja ikutan naksir."


Segala macam gunjingan terus mengalir hingga membuat semua orang menatap Bianca dengan pandangan tak suka.


Lagi-lagi ujian berat itu harus Bianca alami. Seumur hidup nasibnya tak pernah mujur bahkan secuil kebahagiaan pun rasanya tak pernah menghampirinya.


Padahal tanpa sadar ada seorang pria dengan suka rela nya selalu memberikan bahunya untuk bersandar, mengusap air matanya saat menangis serta berusaha menghibur dirinya saat terpuruk. Bianca tak pernah menyadari itu.


Rasa cinta yang begitu dalam kepada Syifa telah menutup seluruh hatinya untuk orang lain.


Sedangkan Nico sendiri masih bingung kemana arah tujuannya berlabuh. Rasanya sangat sulit melupakan sosok Bianca yang sudah lama menempati tempat khusus di hatinya.


Berulang kali dirinya mencoba untuk membuka hati kepada gadis lain namun hasilnya masih tetap sama. Belum ada yang berhasil menggantikan posisi Bianca dihatinya itu.


Hal itu pula yang akhirnya membuat kedua orang tua Nico menjadi semakin khawatir. Nico adalah anak satu-satunya dan harapan kedua orang tuanya begitu besar untuk dirinya.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2