
Syifa masih tertegun menatap unit bangunan kos-kosan dua lantai yang berjumlah dua puluh pintu. Bahkan semua unit tersebut telah terisi penuh.
"Ini beneran nggak bohong mas? Beneran punya kamu?" Syifa masih meyakinkan.
"iya sayang, bahkan tanahnya sudah bersertifikat atas nama aku. Nanti deh aku tunjukin waktu di rumah." ujar Dion.
Sebenarnya sejak tadi Dion sedang menahan tawa melihat ekspresi istrinya yang sejak tadi tampak bengong keheranan. Terlihat lucu saja dengan bibir mungilnya yang tampak membentuk huruf O.
"Nanti sebelah sana aku mau bikin lagi. Ada tanah kosong kan lumayan masih busa buat dua puluh unit lagi." Dion menunjuk tanah kosong yang berada di sebelah bangunan tersebut.
"Kok bisa punya ini semua sayang?" Syifa pun menatap Dion dengan lekat.
"Awalnya aku cuma iseng sayang. Ada tinggalan tabungan dari Mama. Trus aku coba buat investasikan tabungan mama itu ke perusahaan Om Randy, Papanya Nico. Aku memang cukup dekat dengan Om Randy, lebih dekat malahan ketimbang dengan Papa. Dan akhirnya berhasil. Aku dapat profit lumayan. Hasilnya aku puterin dan pengen punya aset yang berwujud. Jadilah bangunan kos-kosan ini." jawab Dion dengan entengnya.
Jika dilihat memang Dion tampak seperti remaja pada umumnya. Mulai dari tingkah dan penampilannya pun sama. Bahkan dia cenderung lebih santai dan orang mengira dia hanya bocah ingusan yang pandai menghabiskan uang orang tua.
Tapi siapa sangka dibalik kepolosannya sebenarnya Dion memiliki pemikiran cukup dewasa. Jika anak laki-laki seusianya mungkin akan berpikiran untuk membeli barang-barang yang diinginkannya. Namun berbeda dengan Dion.
Meski hidup dari keluarga bergelimang harta tak membuatnya merasa besar kepala. Buktinya dia tetap hidup sederhana dengan motor trail kesayangannya yang dibeli dari hasil tabungan sendiri.
"Nggak nyangka kamu bisa berpikiran sampai ke situ. kamu hebat Mas." puji Syifa.
Dion hanya tersenyum. Pujian dari Syifa rasanya menjadi penyemangat tersendiri untuknya. Apalagi selama ini Dion selalu dianggap anak yang tak memiliki keunggulan apapun di keluarganya.
"Ada lagi sih yang ingin aku tunjukin ke kamu." ujar Dion.
"Apa?" Saat Syifa hendak bertanya tiba-tiba dia mendengar ponselnya berdering.
"Mama Rina." Syifa menunjukkan panggilan di layar ponselnya kepada Dion.
"Halo Ma, Assalamualaikum." ucap Syifa.
"Waalaikumsallam sayang, Kamu dimana Syifa? Lagi sama Dion ya?" tanya Mama Rina.
"Iya Ma, ini sama Mas Dion? Ada apa Ma? Bella nyariin?" Syifa lupa tadi tidak pamitan saat pergi.
"Enggak sayang, cuma mau bilang kalau Mama sama Papa mau ngajak Bella jalan-jalan ke mall. Boleh kan?" ujar Mama Rina.
"Boleh ma,boleh banget kok. Tapi kalau Bella rewel tau butuh apa-apa bisa hubungi Syifa." ucap Syifa.
"Iya Sayang, yaudah ku lanjut lagi ini Papamu sama Bella sudah siap berangkat. Bye sayang."
Syifa tampak tersenyum setelah mengangkat telepon dari mertuanya. Ada rasa lega dan bahagia.
"Kenapa kok senyum-senyum?" tanya Dion.
"Enggak mas, cuma seneng aja. Mama sama Papa ngajakin Bella jalan-jalan ke Mall. Bella begitu dapat berlimpah kasih sayang dari keluarga kamu." Syifa memandang Dion dengan senyum bahagia.
__ADS_1
"Iya sayang, sejak dulu mama sama papa memang pengen banget punya cucu. Semenjak ada Bella mereka begitu senang dan terhibur. Yaudah ayo ikut aku." Dion pun menggandeng tangan Syifa meninggalkan area kos-kosan tersebut.
"Kemana pagi sayang?" Di jalan Syifa masih penasaran. Namun Dion tak menjawab dan hanya fokus menyetir motornya.
Sampai akhirnya mereka tiba di sebuah salon kecantikan. Syifa tahu tempat itu karena dia beberapa kali pernah melakukan treatment di sana.
Salon tersebut memang tergolong masih baru. Mungkin baru setahunan ini di buka namun pelanggannya sudah cukup banyak. Karena pelayanan serta hasilnya yang memuaskan serta tarif yang yang tergolong sangat bersahabat dengan kantong mahasiswa sehingga membuat tempat itu cukup ramai.
"Oh, kamu mau ajakin aku treatment?" Perempuan mana yang tidak senang jika sang suami ingin mengajaknya treatment.
"Ayo sayang." Dion menggandeng tangan Syifa untuk masuk ke dalam.
Namun saat masuk di dalam rupanya cukup ramai.
"Sayang, rame banget. Harusnya kita reservasi dulu biar nggak antri lama-lama?" ujar Syifa.
"Kamu mau treatment memangnya?" tanya Dion.
"Iya lah? Terus ngapain kita kesini kalau nggak mau treatment?" Syifa pun mengernyitkan dahinya. Mulai merasa aneh dengan sikap Dion.
"Selamat sore Mas Dion." sapa seorang perempuan di resepsionis.
"Sore Vi. Gimana? Semua aman?" ucap Dion.
"Aman Mas, cuma kita belum dapat penggantinya mbak Maya. Jadi stylish lain agak kerepotan apalagi disaat weekend begini." Ujar perempuan itu.
Syifa pun semakin bingung mendengar obrolan antara suaminya dengan pegawai salon tersebut. Apalagi saat semua karyawan tampak tunduk menyapa ketika Dion datang.
"Bentar ya sayang, nanti aku bilang ke anak-anak kalau kamu mau treatment." ujar Dion melanjutkan langkahnya menuju ruangan yang bertuliskan "Staf only".
"Eh, Mas mau ngapain? Jangan ngawur mas ini khusus staf. Bisa dimarahin yang punya nanti." omel Syifa.
"Mas Dion, nyari saya?" tiba-tiba seorang perempuan keluar dari ruangan itu.
"Hana?" Syifa pun terkejut melihat sosok itu.
"Syifa?" begitu pula dengan wanita itu.
"Kalian saling kenal?" Dion menengahi.
"Dia ini temen aku SMA mas. Hana kamu apa kabar?" Syifa langsung mendekat pada Hana.
"Baik, kamu sendiri? makin cantik aja Syifa. Apalagi sekarang udah sukses jadi dosen. Aku salut banget sama kamu. Tapi kok bisa kamu sama Bos aku? Kalian saudaraan?" Hana adalah tipikal wanita yang sedikit receh. Sehingga dia langsung banyak bertanya ketika bertemu Syifa.
"Bos?" Syifa pun menoleh pada Dion. Sedangkan Dion tampak mengalihkan pandangan seolah pura-pura tak dengar.
"Iya Syifa. Mas Dion ini bos aku. Owner salon ini." ujar Hana.
__ADS_1
"Mas? Bener?" Syifa kembali terkejut. Apalagi saat Dion mengangguk. Sungguh hari ini adalah hari yang penuh kejutan. Rasanya Syifa masih perlu mengenal lebih jauh siapa suaminya ini.
"Yaampun. Rahasia apalagi mas yang nggak aku ketahui? Rasa-rasanya aku seperti baru mengenal suamiku seminggu yang lalu." gerutu Syifa.
"Suami? Kalian suami istri?" tiba-tiba Hana menyeletuk.
"Iya Mbak, Syifa ini istri aku. Maaf ya baru bilang soalnya belum sempat. Hehe." Seperti biasa Dion tampak seperti remaja biasanya. Tengil dan cuek.
Sementara Dion mengecek laporan keuangan serta beberapa stok barang kini Syifa sibuk mengobrol dengan Hana.
"Eh kok bisa sih elo nikah sama Mas Dion. Setahuku dia kan masih kuliah. Atau jangan-jangan kalian cinlok." Bukan Hana namanya jika tidak kepo.
"Ya bisa aja. Kita saling cinta terus nikah deh. Tapi gue sungguh baru tahu kalo suami gue punya salon ini. Bahkan sebelumnya dia cuma bilang kalau punya cafe aja." ujar Syifa.
"Yaampun Syifa. Laki lo itu milyarder tau. Usahanya dimana-mana. Belum lagi asetnya. Denger-denger dia punya beberapa apartemen yang disewain. Gue juga heran masih muda gitu pinter banget nyari peluang. Padahal denger-denger dia nggak pernah minta modal ke papanya loh. Hebat banget kan." ujar Hana.
"Masak sih? Kok berasa ketipu gue." bisik Syifa.
"Ketipu karena laki lo ternyata kaya raya sih enak. Daripada ketipu karena banyak hutang hayo. Tapi gue salut sih selamat atas pernikahan lo ya. Beruntung banget dapetin Mas Dion. Dia orangnya gak pernah jelalatan dan baik banget." ujar Hana.
"Iya sih.." entah rasanya tak ada lagi yang bisa Syifa katakan selain kaget. Apalagi saat mengetahui fakta tentang kekayaan Dion yang dia raih dengan usahanya ini.
'Berasa nggak guna hidup gue. Sekolah tinggi-tinggi masih jadi karyawan. Lah laki gie masih bocah udah punya banyak karyawan. Bahkan asetnya udah sebanyak itu.' gumam Syifa dalam hati.
"Udah sayang? Capek ya. Ke cafe yuk kita sambil makan disana." Dion yang sudah selesai dengan pekerjaannya pun kini kembali mengajak Syifa ke cafe.
Setelah berpamitan dengan para karyawan di salon mereka pun langsung menuju cafe. Syifa langsung pergi menuju ruangan Dion. Rasanya hari ini terlalu banyak kejutan membuatnya pening sendiri.
"kenapa kok wajahnya kecut gitu?" Dion datang membawa nampan berisi pasta dan minuman.
"Masih kaget aja. Sebenarnya kamu ini siapa sih Mas? Rasanya banyak banget deh sesuatu yang aku nggak ngerti dari kamu." ujar Syifa setengah kesal.
"Maaf, sebenarnya aku nggak niat sembunyiin semua dari kamu. Aku nggak ingin dikira sombong. Yang penting aku bisa melaksanakan kewajiban aku menafkahi kamu." Dion duduk di samping Syifa kemudian mengusap lembut kepala istrinya.
"aku bahkan selama ini udah mikir macem-macem. Takut kamu melakukan hal-hal yang nggak baik. Ada perasaan lega sih setelah tahu ini semua. Bahkan aku salut banget mas di usia kamu bisa sesukses ini." Syifa menatap wajah suaminya.
"Kenapa kamu nggak bilang ke Papa kalau kamu punya ini semua? Kamu bisa membuktikan kepada mereka kalau kamu pun bisa sukses dengan cara kamu sendiri. Dengan begini papa bahkan Kak Shaka pasti nggak akan remehin kamu lagi." ujar Syifa lagi.
"Biar saja mereka menganggapku anak tak berguna. Aku melakukan ini karena aku memang beda dengan Kak Shaka. Dia pintar dan rajin. Makanya dia bisa mendapat gelar pendidikan tinggi. Sedangkan aku emang nggak sepintar dia. Kuliah S1 saja rasanya males banget. Apalagi aku tipe orang yang nggak suka terikat waktu. Aku mau terlihat seperti pengangguran sukses. Bebas kemana aja nggak dikekang peraturan." ujar Dion dengan santainya.
"Ya, pengangguran sukses yang asetnya dimana-mana. Dasar.." Syifa tampak tersenyum sembari mencubit lengan Dion.
"Jadi, nanti kalau aku lulus kuliah nggak kerja nggak apa-apa ya. Kamu aja yang kerja terus aku di rumah ngurusin anak-anak sambil mantau bisnis aku. Boleh?" tanya Dion.
Syifa pun mengernyitkan keningnya. "Jadi maksud kamu kita tukar peran gitu?"
"Ya, kan katanya kamu nyaman kerja jadi dosen. Kalau aku sih jujur ngikuti kamu yang harus sekolah tinggi-tinggi nggak nyampe otak aku." Dion terkekeh.
__ADS_1
"Hmm yaudah deh terserah kamu aja. Toh suamiku udah tajir melintir juga." keduanya pun tertawa menikmati obrolan mereka.
...****************...