Dosenku Istriku

Dosenku Istriku
Bab 69 memutar balikkan fakta


__ADS_3

"Ini rumah kamu?" Luna berdiri di teras rumah Rangga.


"ya, mau kan sementara tinggal di sini?" Rangga memasang senyum ramah.


Luna masih ragu. Dia bahkan memegang kopernya dengan erat. Apakah keputusannya ini tepat? Mengingat dirinya baru mengenal Rangga.


"Kenapa tak masuk? Kau takut ya? Tenang saja aku tidak akan macam-macam. Masuklah." akhirnya dengan langkah pelan Luna memasuki rumah tersebut.


Luna duduk di ruang tamu. Menatapi interior rumah yang tampak tertata rapi.


"Kamu tinggal sendiri?" tanya Luna.


Rangga tak menjawab. Dia hanya sibuk mengambil minuman untuk Luna.


"Kau mau tau ceritaku?" Rangga mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Cerita tentang kamu dan Syifa?" Luna menebak.


"Ya, dulu pernikahanku sangat bahagia. Aku sangat mencintai Syifa dan rumah tangga kami baik-baik saja. Tapi setelah sekian lama aku mulai sadar ada perubahan pada Syifa." Rangga memasang wajah memelas.


"Syifa yang notabenenya memiliki pendidikan tinggi mulai semena-mena padaku. Bahkan dia sering menghinaku karena tidak selevel dengannya. Sampai akhirnya dia hamil dan awalnya aku berharap dia sadar. Tapi justru setelah melahirkan dia malah mengajak cerai."


"Apa? Syifa begitu tega kepadamu?" Luna terkejut dengan pengakuan Rangga.


"Ya, apalagi setelah aku tahu dia menikah lagi dengan mahasiswanya sendiri. Aku sangat terkejut tapi dia sungguh pandai berkamuflase. Aku tahu Syifa menikah karena keluarga Dion adalah orang kaya. Bahkan aku tak diijinkan menemui anakku sendiri." Rangga memasang air mata buaya seolah dirinyalah yang paling tersakiti.


"kurang ajar. Wanita itu ternyata benar-benar ular." gerutu Luna.


Sementara Rangga diam-diam menyunggingkan senyumnya. Sangat mudah membodohi gadis seperti Luna.


"Jadi kau mau bekerja sama denganku? Aku dapatkan kembali anakku dan kau dapatkan calon suamimu." ujar Rangga.


"Baiklah aku setuju." keduanya pun kini saling berjabat tangan untuk meresmikan rencana mereka.


Sementara di dalam kamar Mona mencoba untuk menguping pembicaraan mereka. Sejak Luna datang ke rumah itu Rangga mengunci Mona di dalam kamar.


"Dasar pria licik. Aku harus segera mengambil tindakan. Jangan sampai Rangga kembali menghancurkan Syifa." gumam Mona.


...****************...


"Sayang geli, udah dong cukuran sana." Dion terus menjahili Syifa dengan mengusal ke ceruk lehernya sementara jenggot dan kumisnya mulai tumbuh dan belum dia cukur.

__ADS_1


"Kalau aku nggak usah cukuran gimana? Biar kek aktor Turki yang sering kamu tonton."


"enggak.. Kamu nggak cocok sayang. Nggak baby face ntar aku nggak suka."


"Habisnya kamu nontonin drama Turki mulu. Mana muji-muji aktornya terus lagi." Dion memasang wajah cemberut membuat Syifa semakin gemas.


"Enggak.. Mulai sekarang nggak akan muji mereka. Cukup suamiku aja yang selalu ganteng tak tertandingi." bujuk Syifa.


"Hmm.. Gombal. Aku mau cukuran kalau kamu yang melakukannya." Dion mengedipkan matanya.


"iya iya.. Yaudah ayo." Syifa menggandeng tangan Dion menuju kamar mandi.


Dion duduk di atas closet sementara Syifa mulai mengoleskan foam ke area dagu dan bawah Hidungnya.


Saat Syifa hendak menempelkan pisau cukur tiba-tiba Dion menarik pinggang Syifa dan mengecup bibirnya.


"Aah.. Kan kena foam. Dasar usil." Syifa tampak memanyunkan bibirnya. Terlihat begitu mirip dengan Bella. Hal itu pula yang membuat Dion semakin gemas.


Sementara Syifa mulai mencukur kumis dan jenggot Dion. Pekerjaan paling ringan namun Dion begitu malas melakukannya semenjak menikah dengan Syifa.


Seindah dan sebahagia ini ternyata dimanjakan oleh istri. Dion rasanya tak pernah sekalipun menyesal menikah dengan Syifa.


"Anak kita nanti bakal mirip kamu lagi apa mirip aku ya?" Dion menatapi wajah Syifa.


"Kalaupun mirip kamu lagi aku sangat bersyukur. Biar kecantikan istriku terus terpancar di setiap generasi." Dion mengusap lembut pipi Syifa hingga membuat wanita itu tersipu malu.


"emang aku cantik?"


"Banget pake banget.. Pokoknya kamu wanita paling cantik yang pernah aku kenal." ingin mengatai gombal tapi Syifa dapat melihat ketulusan dari sorot mata Dion.


"Makasih sayang." Saking senangnya membuat Syifa sulit mengatakan apapun. Hanya kata terimakasih bertubi-tubi yang terus dia ucapkan.


Tiba-tiba ponsel Dion berbunyi. Dia melihat pesan masuk dari Wira, papanya.


"Pap minta aku ke ruangan kerjanya." ucap Dion.


Untung saja Syifa sudah selesai mencukur kumis dan brewok Dion. Dia pun bergegas membersihkan wajahnya dan turun menemui papanya.


Wira memang tak pernah repot-repot mencari Dion. Meski berada dalam satu rumah pria itu pasti mengirim pesan singkat atau telepon saat menyuruh Dion. Mengingat kediaman mereka memang cukup besar dan luas.


"Ada apa Papa mencari ku?" Dion menghampiri Wira di ruang kerjanya.

__ADS_1


"Duduk Dion." ucap Wira dengan wajah serius.


Dion duduk di kursi ruangan kerja papanya. Kemudian Wira menyodorkan sebuah map.


"Apa ini pa?"


"Baca sendiri." ucap Wira ketus.


Dion membuka map tersebut dan melihat setiap berkas yang ternyata sebuah laporan aset yang dimiliki oleh Dion.


"Jelaskan kepada Papa. Sejak kapan kamu mempunyai semua ini?" Tatapan Wira tampak serius. Sejak Shaka memberitahunya untuk mencari tahu tentang Dion membuat Wira tercengang.


"Sejak SMA Pa," Dion tampak menunduk.


"Kamu dapat yang dari mana dan bagaimana bisa kamu mengelola usaha sebanyak ini. Dan bahkan kamu diam-diam memiliki saham di perusahaan Papa." Wira hanya bisa geleng-geleng kepala.


Tak disangka sang anak yang dianggap begitu 'tak becus dan tak bisa diandalkan' justru secara mandiri bisa memiliki dua puluh unit kost an, cafe, salon kecantikan hingga saham di beberapa perusahaan.


"Awalnya Dion memakai uang tabungan warisan dari Mama untuk investasi di perusahaan Om Darwin, papanya Nico. Lalu aku belajar sedikit-sedikit memutar uangku agar tidak berhenti begitu saja. Akhirnya aku wujudkan dengan beberapa aset berupa tanah dan bangunan." ujar Dion.


"Jadi ini alasan kamu malas-malasan kuliah dan jarang di rumah?" Wira kembali menelisik.


Sementara Dion hanya mengangguk.


"Kenapa kamu nggak pernah cerita? Setengah mati Papa pusing mikirin masa depan kamu." Wira tampak memijat keningnya.


"Papa nggak pernah tanya. Lagian ngapain papa sibuk mikirin masa depanku?"


CLETAK..


"Aww.. Kok aku dijitak sih pa."


"Kamu itu ngomong ngawur. Mana ada orang tua yang nggak mikir masa depan anaknya. Apalagi kamu sudah berumah tangga tentu wajar buat Papa khawatirkan kamu. Takut saja kalau anak istri kamu nggak sejahtera."


"iya-iya Pa.. Aku paham kok." jawab Dion enteng.


"Terus, Lisa Blackpink itu siapa?" tiba-tiba Wira menyeletuk.


"Papa nggak tau dia?" tanya Dion.


"Hmm.. Siapa wanita itu? Jangan macam-macam kamu Dion. Bisa-bisanya kamu namai saham kamu dengan wanita lain. Syifa itu perempuan baik-baik. Jangan sampai kamu menyakiti hatinya." ujar Wira.

__ADS_1


Sementara Dion hanya bisa menahan tawa. Bisa-bisanya sang Papa mengira dirinya berselingkuh dengan Lisa Blackpink."


...****************...


__ADS_2