
Suasana pesta tampak begitu meriah meski cukup sederhana. Bella tampak begitu riang karena kedatangan para tamu yang begitu gemas kepadanya.
Apalagi beberapa teman arisan Rina sengaja mengajak anak dan cucunya yang masih kecil. Bertambah bahagia lah Bella memiliki banyak teman.
Dengan langkah kecilnya dia terus berlarian kesana kemari sementara Dion dan Syifa sibuk menjamu para tamu.
"Bella awas nanti jatuh." Shaka yang sejak tadi diam memperhatikan Bella langsung berlari saat kaki kecil itu tampak goyah dan hampir terjatuh. Dengan sigap Shaka langsung menggendong Bella.
"Hati-hati ya. Sudah gendong om saja nanti kamu capek." Shaka yang tak pernah sekalipun menggendong anak kecil rasanya cukup aneh. Tapi Bella yang begitu menggemaskannya membuatnya tak rela jika bocah kecil itu terluka.
Syifa yang melihatnya hendak menghampiri Bella. Namun langkahnya tiba-tiba terhenti saat melihat Dion dipeluk oleh seorang gadis cantik. Bahkan hal yang paling membuat terkejut adalah saat gadis itu dengan sengaja mencium pipi Dion.
Tak hanya Syifa, namun tampaknya semua orang yang berada di sana juga terkejut dengan kehadiran gadis itu.
"Kak Dion.. Aki rindu." ucap Gadis itu dengan manjanya.
"Luna? Bagaimana kau bisa kesini?" Dion tampak kebingungan.
"Aku kan sudah bilang kalau aku bakal kembali. Kak Dion lupa ya?" ujar Gadis itu dengan wajah berseri.
Rina dan Wira yang melihat hal itu langsung menghampiri Dion. Apalagi saat Rina melihat ekspresi Syifa dengan raut kebingungan.
"Luna? Kok kesini nggak bilang-bilang." Rina mencoba untuk mengalihkan Luna agar berhenti memeluk Dion.
"Tante, aku sengaja kesini nggak bilang-bilang karena ingin memberi kejutan untuk kalian. Tante apa kabar? Luna rindu tante. Om Wira juga." gadis itu tampak begitu akrab dengan kedua orang rua Dion dan membuat Syifa semakin gelisah.
"Kabar om dan tante baik kok Luna. Kamu sendiri apa kabar? Orang tua sehat?" tanya Wira.
"Kabarku baik om, Papa dan Mama juga sehat. Satu minggu lagi mungkin mereka akan kesini." ujar Luna.
Dion melihat Syifa pasti merasa bingung. Dia pun ingin segera menghampiri istrinya. Namun tiba-tiba tangan Luna yang menarik lengannya langsung menghentikan langkah Dion.
"Kak Dion mau kemana sih? Masih rindu juga." ujar Luna kembali bergelayut manja di lengan Dion.
Dion hanya bisa memandang istrinya dari jauh. Dan dari sorot matanya saja sudah terlihat ada kekecewaan di hati Syifa.
__ADS_1
"Ini acara apa tante? Ulang tahun anak-anak? Oh atau ini ulang tahun anaknya Kak Shaka itu ya? Wow nggak tahu nikahnya ternyata udah punya anak." Luna menunjuk Shaka yang kebetulan sedang menggendong Bella.
"Luna, kamu ikut tante ya. Pasti capek habis perjalanan jauh. Kamu istirahat di dalam ya." dengan cepat Rina menarik tangan Luna. Dia menatap Dion sekilas memberi isyarat untuk menjelaskan kepasa Syifa.
Setelah Luna berhasil dibawa pergi Dion pun hendak menghampiri Bella. Namun lagi-lagi langkahnya harus terhenti saat salah satu tamu menghampirinya dan mengajaknya berbicara.
Syifa yang sudah dilanda resah ditambah lagi dengan Bella yang tampak menangis langsung menghampiri Bella dan membawanya pergi ke dalam.
Saat baru saja menidurkan Bella tiba-tiba Syifa tak sengaja mendengar percakapan antara kedua mertuanya dan gadis yang sempat memeluk suaminya tadi.
"Tante aku sudah bilang ke Mama. Kalau pertunangan aku dan Kak Dion bisa dimajukan. Kuliahku akan selesai tahun depan. Kak Dion juga jadi apa salahnya kita tunangan dulu setelah itu baru memikirkan pernikahan." tentu saja ucapan gadis itu langsung membuat Syifa terkejut. Apa maksudnya akan bertunangan dengan Dion. Tapi Syifa tak ingin gegabah. Dia harus tahu kebenarannya.
"Luna, tante rasa kamu tidak perlu terburu-buru. Dan pertunangan ini sepertinya tidak akan terjadi lagi." ucap Rina dengan sedikit ragu.
"loh, kok nggak jadi gimana tante? Kan Om dan tante sudah sepakat dengan orang tuaku untuk menjodohkan kami."
"Luna, Dion sudah menikah. Dan yang berulang tahun hari ini adalah anak Dion." Wira langsung jujur dan tak ingin masalah ini bertambah panjang.
"A-Apa? Kak Dion sudah menikah? Bagaimana bisa? Tante.. Om.. Kalian pasti berbohong kan." terdengar suara isak tangis menggema di dalam ruangan itu. Sementara Syifa masih mematung didepan pintu.
"Maafkan Om. Ini semua diluar rencana kami. Ini pilihan Dion nak. Maaf Om tidak bisa menjalankan amanat perjodohan ini." suara Wira tampak merendah. Sudah bisa dipastikan bahwa pria itu tampak menahan rasa bersalah.
"Syifa dimana kamu sayang. Aku harap kamu tidak salah paham." ucap Dion lirih.
"Mas Dion. Syifa dimana?" Hana menghampiri Dion.
"Oh, Syifa sepertinya sedang menidurkan Bella tadi rewel." ujar Dion asal.
"Oh begitu. Yaudah saya mau pamit pulang dulu. Nitip salam buat Syifa ya." Hana pun bergegas pergi.
Hingga akhirnya semua tamu telah pulang. Meski banyak diantara mereka mencari keberadaan Syifa maupun kedua orang tuanya. Dion harus membuat alasan untuk menghandle semuanya.
Setelah dirasa rak ada orang Dion bergegas masuk ke dalam rumah. Dia ingin segera menemui istrinya.
"Kak Dion. Jelaskan dulu apa maksudnya ini. kenapa kak Dion menikah dengan wanita lain tanpa menungguku." suara bariton itu langsung membuat langkah Dion terhenti.
__ADS_1
Dia menatap Luna yang sedang menangis sesenggukan di belakangnya.
"Luna, maaf." entah kenapa lidah Dion terasa kelu saat berhadapan dengan gadis itu.
Mendengar jawaban singkat itu membuat tangis Luna menjadi semakin pilu. Harapannya menemui sang pujaan hati harus pupus.
Ya, Dion dan Luna tumbuh bersama sejak kecil. Kedua orang tuanya bertetangga serta menjalin hubungan sangat baik. Bahkan Wira dan kedua orang tua Luna telah sepakat ingin menjodohkan kedua anaknya jika sudah dewasa nanti.
Selama beberapa tahun Luna memang selalu mengisi hari-hari Dion. Namun kebersamaan mereka harus terpisah saat keluarga Luna pindah ke luar negeri.
Kesibukan masing-masing membuat keduanya sangat jarang berkomunikasi. Dan juga sejak awal sebenarnya Dion tak pernah memiliki perasaan apapun terhadap Luna selain menganggapnya seperti seorang adik perempuan.
"Kak Dion tega. Kenapa kamu mengkhianati ku? Perempuan mana yang sudah merebut hatimu kak? Sebaik apa sampai kakak berpaling dariku." Luna kembali memprotes Dion.
Mendengar ucapan Luna yang seolah menyinggung Syifa membuat Dion geram. Dengan mengepalkan kedua tangannya Dion berusaha menahan amarahnya.
"Aku tidak pernah mengkhianatimu atau siapapun. Karena aku tak pernah menganggap mu lebih dari adik perempuanku Luna. Aku sudah bilang berkali-kali bahwa kau dan aku hanya bisa bersaudara tak akan bisa jadi pasangan. Dan tentang istriku tolong hargai keputusanku. Dia adalah pilihanku. Perempuan yang yang akan menemani seumur hidupku." Setelah mengatakan hal itu kini Dion langsung beranjak pergi mencari keberadaan Syifa.
Tak peduli lagi dengan perasaan Luna yang tengah menangis pilu. Rasanya hati itu terasa hancur berkeping-keping.
Perlahan Dion membuka pintu kamarnya. Dia mengedarkan pandangannya dan langsung tertuju pada sosok istrinya yang tengah duduk di sisi ranjang membelakangi pintu.
Terdengar suara isakan dengan beberapa kali tangannya mengusap kedua pipinya. Dion tahu bahwa Syifa pasti telah mendengar sesuatu.
Perlahan Dion duduk menghampiri Syifa dan memeluknya dari belakang. Menenggelamkan wajahnya di tengkuk istrinya. Syifa sempat terkesiap dengan tindakan tiba-tiba Dion namun dia berusaha untuk tidak terpengaruh.
"Maafkan aku.." ucap Dion lirih.
Helaan nafas Syifa diiringi isakan tangis membuatnya semakin pilu. Rasanya begitu enggan berbicara apapun saat ini.
Baru saja Syifa mendapatkan kebahagiaan yang berlimpah dengan perayaan ulang tahun putrinya yang diselenggarakan dengan begitu baik. Harapannya mendapatkan keluarga yang perhatian dan menyayanginya akhirnya terwujud.
Namun lagi-lagi kenyataan yang menamparnya membuat Syifa kembali menelan pil pahit. Suami yang diidam-idamkannya ternyata menyimpan hal yang membuatnya begitu kecewa.
Sebagai seorang wanita apalagi Syifa yang memiliki banyak kekurangan di masa lalunya pastilah merasa minder jika dihadapkan dengan sosok wanita lain yang lebih muda dan berstatus single. Apalagi wanita tersebut tampaknya sudah sangat akrab dan berhubungan baik dengan suaminya.
__ADS_1
Entahlah. Hari ini rasanya Syifa tak ingin banyak bicara. Dia perlu mengistirahatkan otaknya yang terasa begitu lelah. Masalah di masa lalunya mulai dari Rangga hingga Shaka saja belum sepenuhnya selesai. Kini ditambah sosok masa lalu lagi yang muncul diantara mereka.
...****************...