
Tak terasa dua bulan berlalu dengan begitu cepat. Kini kandungan Syifa sudah memasuki usia tujuh bulan. Syifa yang memiliki postur tubuh mungil memang membuat kandungannya tampak lebih besar. Hal itu pula membuatnya sedikit kewalahan saat beraktifitas.
Untung saja Syifa sudah resign dari kampus. Hal ini dia lakukan karna ingin lebih fokus untuk keluarganya. Bella yang sudah semakin besar dan aktif tentu saja membutuhkan sosok mama yang harus ada setiap saat. Apalagi bocah itu selalu memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Syifa dan Dion juga harus siap menjawab berbagai pertanyaan dari Bella.
Bagi Syifa tak ada yang lebih penting selain kebahagiaan keluarganya. Dia rela melepas gelar profesornya demi keberlangsungan rumah tangganya.
Keadaan Dion juga sudah kembali pulih bahkan berat badannya kini telah kembali normal. Berkat kesungguhannya dalam menjaga pola makan dan olah raga. Dia benar-benar menjaga kesehatannya dengan baik dan meninggalkan berbagai macam kebiasaan buruknya seperti merokok dan makanan cepat saji. Alasannya adalah dirinya ingin selalu sehat dan panjang umur agar bisa menemani anak dan istrinya.
Pagi ini Syifa sudah bersiap untuk mengantarkan Bella pergi ke kelompok bermainnya. Jika dulu Hana yang lebih sering mengantar kini Syifa ingin mengembalikan masa-masa kebersamaan dengan putrinya yang selama ini telah terbagi dengan banyak hal.
"Sayang, kamu mau ikut apa tunggu sini sebentar? aku mau cek salon mungkin nggak sampai satu jam langsung kembali." ujar Dion saat mengantar keduanya ke sekolah.
"Tunggu sini aja sayang, sekalian ngawasin Bella." ujar Syifa.
"Ya sudah aku tinggal nggak apa-apa ya? cuma mau cek stok barang aja nggak lama kok." Dion keluar lebih dahulu dan membukakan pintu untuk Syifa. Kemudian membuka pintu belakang untuk mengambil Bella dari car seat nya.
Dengan tangan kanan menggendong Bella serta tangan kiri menggandeng Syifa kini Dion berjalan menuju ruang kelas.
Tentu saja pemandangan itu tak luput dari perhatian para wali murid lainnya. Apalagi cara Dion yang memperlakukan anak dan istrinya begitu baik dan menyayangi.
Dion menurunkan Bella tepat di depan ruang kelas untuk diserahkan kepada gurunya.
"Sayangnya Papa, yang pinter ya hari ini. Bella kalau butuh bantuan bilang sama Miss. Ada mommy juga tunggu di depan. Nanti Papa kesini lagi oke." Dion mengulurkan tangannya untuk toss dengan Bella.
"Oce Papa.." ucap Bella sambil mencium pipi Don kanan dan kiri.
Dion pun pergi sebentar untuk mengecek usahanya. Sementara Syifa yang lelah berjalan memilih untuk menunggu Bella di depan kelas tidak bergabung dengan ibu-ibu wali murid lain yang berada di taman.
Jujur saja ini adalah kali pertama Syifa menemani Bella kegiatan secara langsung. Selama ini dia disibukkan di rumah sakit dan mengurusi usaha suaminya.
Karena letaknya yang dekat jendela Syifa merasa senang bisa mengawasi putrinya secara langsung apalagi Bella tampak begitu antusias dan sangat menggemaskan. Syifa pun beberapa kali merekam dan mengabadikan foto putri kecilnya. Akan dia simpan sebagai kenang-kenangan saat Bella sudah besar nanti.
Sementara segerombol ibu-ibu di taman sedang sibuk bergosip kesana kemari.
__ADS_1
Hingga tak terasa satu jam sudah Dion tampak sudah datang kembali ke sekolah Bella. Namun saat berjalan melewati tangan dia tak sengaja menangkap obrolan ibu-ibu wali murid. Awalnya Dion cuek dan tak terlalu mempedulikannya namun setelah didengarkan dengan seksama rupanya mereka membicarakan tentang dirinya dan istrinya.
"Yaampun, ternyata papanya Bella udah ganteng, masih muda dan perhatian lagi. Papanya anak-anak mana mau begitu. Nganter ke sekolah aja ogah-ogahan." ucap salah satu wali murid.
"Iya ya, tapi denger-denger dia bukan papa kandungnya loh, Miss Syifa kan janda beranak satu dulu waktu nikah sama suami brondongnya itu." ucap ibu-ibu lain.
"Kok tau sih jeng, emang kenal mereka?"
"Suamiku kan karyawan di Wira corporation, dan suaminya miss Syifa itu anak CEO Wira corp. Dan miss Syifa itu dulu kan dosennya, denger-denger sih mereka terlibat skandal jadi nikah deh."
"Wah, pinter banget ya mainnya, tau mahasiswanya ganteng dan kaya langsung saja digass. Jangan-jangan Miss Syifa itu rela ninggalin suami pertamanya demi ngejar brondong kaya." para wali murid itu larut dalam sebuah gosip.
"Iya loh jeng, aji mumpung kan ya, dia masih cantik meskipun janda jadi dimanfaatin deh buat jual diri. Namanya laki-laki palingan itu anaknya lahir juga sayangnya ilang ke anak tiri." rupanya kalimat terakhir itu yang membuat Dion tidak terima.
"Permisi, maaf ibu-ibu yang terhormat. Tidak sengaja sejak tadi saya mendengar obrolan kalian. Membicarakan siapa? saya? istri saya?"dengan tatapannya yang tajam Dion menanyai ibu-ibu tersebut.
"E-eh.. Papanya Bella. emm, itu... anu...." ibu-ibu itu tampak salah tingkah sendiri.
"M-maaf.. Maksud saya.. " Perempuan berusia empat puluh tahunan itu tampak terdiam saat Dion menyetop dirinya berbicara.
Dion mengambil ponselnya dan tampak berbicara dengan seseorang.
"Halo, Kak kau ada di kantor kan? ya, aku akan kesana setelah Bella pulang sekolah. Ada hal penting yang ingin aku sampaikan menyangkut salah satu karyawan di perusahaan." Setelah berbicara beberapa hal Dion pun menutup teleponnya. Tatapannya kembali tertuju pada wanita tadi.
"Berdoa saja bu, semoga kakak saya berbaik hati dan suami anda masih bisa bekerja di perusahaan. Paling tidak minta maaflah kepada istri dn anak saya setelah kalian dengan tega membicarakan mereka dengan tidak baik." Dion melengos pergi sementara wanita yang sejak tadi diam membisu hanya bisa gemetar membayangkan suaminya kehilangan pekerjaan hanya karena ulah mulutnya yang tak terkondisikan.
Padahal sebelumnya tadi Dion hanya berpura-pura menelepon hanay untuk menakut-nakuti saja.
Ibu-ibu yang lain pun sama terdiamnya. Mereka tak berani berkomentar apapun daripada mendapatkan masalah.
Sementara Syifa yang sejak tadi memperhatikan putrinya di dalam kelas pun terkejut saat Dion tiba-tiba datang sambil menenteng kantong plastik berisi berbagai macam makanan ringan.
"Sayang ini ada salad buah juga susu kacang hijau baik untuk ibu hamil. Ada kacang almond juga kesukaan kamu." Dengan sigap Dion langsung membuka cup berisi salad buah dan menyuapi Syifa. Sebetulnya Syifa sedikit canggung jika Dion memperlakukannya terlalu manis di depan umum. Namun dia juga tak enak menolak effort suaminya yang begitu siaga dan perhatian padanya.
__ADS_1
"Makasih sayang. Kamu juga makan dong. Ini banyak banget loh aku nggak akan habis." ujar Syifa.
"Iya aku bantu habisin emang sengaja beli cup jumbo soalnya aku juga kepingin yang seger-seger." Dion tampak tersenyum manis menampilkan deret gigi putihnya.
"Hmm.. atau jangan-jangan sebenernya yang mau kamu kan Mas?"
"Tau aja sih, tapi nggak apa-apa kan ini juga sehat buat bumil. Biar dedeknya sini juga sehat sayang. Lahirnya juga gak ileran." Syifa pun hanya bisa tersenyum bahagia. Begitu bersyukur memiliki suami yang sangat perhatian.
Setelah dua jam berlalu kini Bella telah menyelesaikan kelasnya. Bocah kecil itu tampak keluar kelas dengan wajah yang berbinar apalagi ada papa dann mommy nya yang sejak tadi dengan setia menemaninya.
"Papaa... Mommyy..." Bella langsung berhambur memeluk Dion kemudian memeluk perut Syifa.
"Peyuk dedek mom..." Bella dengan gemas memeluk perut buncit Syifa. Bahkan dia juga menciuminya.
Syifa begitu senang melihat putrinya yang tampak antusias dengan calon adiknya. Tak sia-sia Syifa dan Dion terus memberi pengertian tentang sosok adik yang akan hadir diantara mereka. Baik Syifa dan Dion terus mengenalkannya arti persaudaraan dan saling menyayangi agar kelak saat mereka tumbuh bersama tak akan merasa ada perbedaan. Mereka akan saling menyayangi tanpa terkecuali.
"Sayang sini gendong papa." Dion mengulurkan tangannya hendak menggendong Bella namun bocah itu malah menolak.
"Gak mau, mau jalan cama kakak Cean. Kak Ceaaann.." Bella langsung berlari menghampiri bocah laki-laki yang baru saja keluar kelas.
Bocah laki-laki itu meski masih kecil memang terlihat tampan apalagi dengan style pakaiannya yang tampak modis untuk ukuran balita. Tiba-tiba ingatan Dion teringat akan ucapan Bella yang sering mengatakan tentang sosok kakak Cean atau Sean yang katanya ganteng dan begitu dikaguminya.
"Jangan-jangan ini yang namanya Sean?" batin Dion yang entah kenapa merasa tak terima apalagi saat Bella justru asyik berjalan sambil bergandengan tangan dengan Sean. Dion merasa seperti sosok kekasih yang tengah diduakan.
Tatapan penuh selidik itu pun rupanya tak lekang perhatian oleh Syifa. Lantas Syifa mendekati suaminya dan membisikkan sesuatu.
"Mereka itu masih kecil. Biar saja Bella berteman dengan siapapun asal masih dalam pengawasan kita." ujar Syifa.
"Tapi demi bocah ingusan itu Bella sampai nolak aku loh sayang." Dion tampak cemberut tak terima.
Syifa hanya bisa menghela nafasnya. Sungguh posesifnya Dion bertambah tinggi. Perkara Bella yang masih berusia dua tahun saja serasa seperti punya anak perawan.
...****************...
__ADS_1