
"Mas.. Mas Dion bangun sayang.." suara lembut Syifa mencoba untuk membangunkan suaminya.
"mas.. Bangun.." lagi-lagi Syifa harus kembali menepuk-nepuk bahu Dion. Pria itu hanya menggeliatkan tubuhnya tanpa membuka mata.
Syifa tertegun sejenak melihat tubuh Dion yang tanpa pakaian. Otot kekarnya serta perut kotak-kotak yang terpahat sempurna membuatnya menggigit bibir sendiri. Apalagi saat mengingat malam panas dirinya dengan sang suami. Diam-diam Syifa tersenyum sendiri.
"Jangan dilihatin aja. Sini peluk." meski dengan mata terpejam Dion merentangkan tangannya siap untuk memeluk Syifa.
"Eh, udah bangun. Mandi gih terus sarapan udah siang loh." ujar Syifa.
Dion hanya menggeliatkan tubuhnya. Meregangkan otot-otot yang kaku sebab telah dipaksa bekerja salaman. Kemudian pria itu mengedarkan pandangan yang langsung tertuju pada Syifa.
Wanita itu sudah tampak cantik dan segar. Meski hanya mengenakan make up tipis serta daster rumahan berwarna hitam dengan motif bunga daisy. Entah apapun yang dipakai wanitanya itu selalu tampak indah.
"Kok sayangku udah cantik sih?" tanya Dion yang masih mengumpulkan kesadarannya.
"udah dong. Mas Dion mandi gih. Biar wangi, seger." ujar Syifa.
Lagi-lagi Dion dibuat tersenyum dengan panggilan 'mas' yang baru-baru ini menghiasi telinganya. Syifa sama sekali tak lupa dengan kata itu saat memanggilnya.
"Mas... Ayo dong ini udah siang. Udah jam setengah sepuluh loh." ujar Syifa sambil menarik tangan Dion agar segera bangun.
"hmm.. Iya-iya mandiin tapi." ucap Dion dengan manjanya.
"Astaga, nanti yang ada gak jadi mandi. Udah Mas Dion sendiri aja. Aku mau siap-siap bawa Bella ko dokter." ujar Syifa.
"Bella ke dokter? Kenapa? Sakit?" bentar-bentar." Dion langsung bangkit dan pergi ke kamar mandi tanpa menunggu jawaban dari Syifa.
Tak sampai sepuluh menit Dion sudah selesai mandi. Padahal pria itu biasanya akan berlama-lama di kamar mandi.
Dion segera berganti pakaian dan sedikit menyisir rambutnya yang mulai panjang menutupi dagunya.
"Mana Bella? Di kamarnya ya?" Dion langsung menghampiri Bella yang kebetulan sedang bermain dengan susternya.
"Sayang, kamu kenapa?" Dion langsung menggendong Bella dan meletakkan telapak tangannya di kening bayi tersebut.
"Tapi kok nggak demam." gumam Dion.
"Mas, Bella itu nggak sakit. Dia waktunya imunisasi nanti janjian sama dokter jam sebelas." ujar Syifa yang ikut menghampiri Dion.
"oh, syukurlah aku kira sakit. Bella sehat-sehat terus ya sayang." Dion dengan gemas menciumi pipi gembul Bella yang merah seperti tomat.
__ADS_1
"Papa... Tium." Bella menyodorkan pipinya yang sebelah kiri kepada Dion.
"Oh, yang ini mau dicium juga?" Dion langsung mencium dengan gemas pipi Bella.
"Mas sarapan dulu yuk, kan kamu belum makan." Syifa pun akhirnya mengajak Dion sarapan. Meninggalkan Bella yang sedang asyik bermain dengan suster di kamarnya.
"Mama sama papa mana kok sepi?" tanya Dion.
"Papa ke kantor trus mama ada arisan sama teman-temannya. Tadinya aku mau diajak tapi kan udah janjian sama dokternya Bella nggak jadi deh." ujar Syifa.
"Hmm.. Aku antar ke dokter ya nanti." ucap Dion.
Dion selalu ikut andil dalam merawat Bella. Bahkan bisa dibilang dia selalu memprioritaskan Syifa dan Bella dibanding dirinya sendiri.
Hingga saatnya tiba mereka pun berangkat ke rumah sakit. Tidak tega sebenarnya saat melihat si kecil Bella yang harus menangis saat kulitnya bersentuhan dengan jarum suntik namun ini semua demi kebaikannya di masa depan.
"Bunda, setelah imunisasi ini biasanya si kecil mengalami demam. Untuk itu busa diberi obat penurun panas yang sudah saya resepkan ya." ujar dokter tersebut.
"Baik dok, terimakasih." Syifa pun pamit dari ruangan dokter tersebut.
Sementara Dion sudah meminta susternya menebus resep obat ke depan.
"Mas nanti biasanya sore dia demam setelah imunisasi dan juga agak rewel." ucap Syifa.
"Yah kasian dong. Anak papa harus kuat ya." ujar Dion.
Bella pun langsung mengangguk sambil memeluk leher Dion.
...****************...
Pertama kalinya ini Dion melihat Bella sakit. Sejak tadi bocah itu tak lepas sama sekali dari gendongan Syifa.
Dia terus merengek dan merintih sementara Syifa dengan telaten merawatnya. Bahkan suster yang biasa menemaninya tak sekalipun Bella mau bersamanya.
"Bella sama Papa yuk, mama biar mandi dulu. Yuk anak cantik." Dion mengulurkan tangan kepada Bella. Beruntungnya bocah kecil itu mau ikut Dion. Syifa pun akhirnya cepat-cepat mandi.
Setelah selesai Syifa langsung kembali ke kamar Bella. Namun dia sangat terkejut saat melihat Bella yang tanpa pakaian tengah tidur meringkuk di pelukan Dion yang tengah bertelanjang dada.
"loh, kalian kenapa nggak pakai baju. Masuk angin nanti." protes Syifa seketika.
"Bentar sayang, ini aku lagi praktekin apa yang ada di internet. Katanya skin to skin ayah dan anak kalo demam itu cepet ngredain. Trus kata mbak juga gitu. Nih anteng bangr Bella nya. Semoga aja beneran." ujar Dion.
__ADS_1
"Bener gitu mbak?" tanya Syifa kepada suster Bella yang kebetulan juga ada di kamar itu.
"Benar bu, menurut pengalaman saya dulu begitu. Dan hasilnya bagus, anak cepat reda demamnya." ujar suster.
Dan benar saja selang setengah jam demam Bella pun berangsur turun. Syifa pun hanya bisa tersenyum haru.
"loh kok mau nangis gitu." Dion melihat Syifa yang tengah mengusap air matanya sendiri.
"enggak, cuma terharu aja. Mas Dion perhatian banget sama Bella sampai seperti ini." ujar Syifa.
"Sini sayang, peluk mas." Dion merentangkan tangan tangan kirinya yang kebetulan tidak memegangi Bella.
Syifa pun langsung berhambur ke pelukan Dion. Tentu saja saat itu suster sedang tidak berada di kamar Bella.
"Aku akan lakukan apapun demi kebahagiaan kalian. Dan aku juga gak bisa bayangin gimana repot nya kamu rawat sendirian Bella yang sakit gini. " ujar Dion sembari mengecup kening Bella dan juga Syifa.
"Ya, dulu emang dibantu Bi Ida tapi tetep aja Bella nggak mau ditinggal sama sekali. makasih banyak ya Mas, kamu baik banget sama kita." ujar Syifa.
"Ya kan harus, itu sudah tugas seorang suami dan juga ayah sayang. Lagi pula kalau begini nggak cuman Bella yang kesenengan. Mamanya juga seneng kan." ujar Dion menggoda Syifa.
"eh, kok jadi aku ikut-ikutan." protes syifa.
"Masih ngelak? Nih buktinya. Pasti perbuatan kamu semalam ini. Ya kan?" Dion menunjuk dua tanda merah di lehernya yang tercetak dari bibir Syifa semalam.
"Eh, iya ya. Kelepasan. Tapi kamu juga bikinnya biasanya lebih banyak di tubuh aku." protes Syifa tak mau kalah.
"yaudah ntar malem aku bikinin yang banyak sesuai request mama Bella." goda Dion.
"nggak bisa, mulai sekarang sampai enam hari ke depan nggak bisa gitu-gituan." ujar Syifa.
"Loh kenapa?" tentu saja Dion langsung terkejut dengan ucapan Syifa.
"kan lagi datang bulan sayang." Syifa tersenyum sambil menjulurkan lidahnya.
"yah nggak seru dong." Dion langsung cemberut seketika.
"ya sabar dong, kan ini sudah takdirnya begitu. Awas jangan macem-macem di luar ya." Syifa menatap Dion dengan tajam.
"enggak-enggak. Nggak macem-macem di luar. Macem-macemnya di kamar mandi aja. Selingkuh sama sabun." jawab Dion yang langsung dibalas cubitan oleh Syifa.
...****************...
__ADS_1