Dosenku Istriku

Dosenku Istriku
Bab 83 sambutan hangat


__ADS_3

Hana sangat terkejut dengan tindakan Shaka yang menurutnya ini tidak biasa. Shaka selama ini begitu lembut kepadanya dan selalu meminta ijin setiap ingin melakukan sesuatu kepadanya.


Namun kali ini Hana seperti melihat Shaka yang berbeda. Bahkan Shaka dengan beraninya menc umbu Hana dengan begitu beringas.


"K-kak.. Please jangan.. Ahh.." Hana mencoba untuk meronta dan mendorong tubuh Shaka.


Namun ukuran tubuh Shaka yang jauh lebih besar dibanding dirinya membuat Hana cukup kesulitan.


'padahal Kak Shaka baik-baik saja dan tidak mabuk. Tapi kenapa dia seperti ini?' Bahkan Hana hampir menangis dibuatnya.


Dia sangat takut melihat Shaka yang seperti ini. Padahal Hana berjanji kepada dirinya sendiri untuk selalu menjaga diri dan menyerahkan mahkotanya hanya kepada pria yang telah sah menjadi suaminya.


"Kak... Tolong hentikan. Please." Hana sudah merengek tapi Shaka sepertinya masih tetap menc umbunya.


PLAKK...


Hana yang terus meronta akhirnya tak sengaja justru menampar pipi Shaka cukup keras.


Shaka pun langsung terdiam begitu juga Hana. Dia tak menyangka tangannya akan melakukan ini.


"M-maaf.." Hana buru-buru minta maaf.


Sementara Shaka yang sadar akan kelakuannya juga langsung beranjak dari tubuh Hana.


"Maaf.. Maafkan aku Hana. Aku kelepasan." air muka Shaka tampak kacau sekali.


"Kak Shaka ada masalah?" Hana mencoba mendekati Shaka dengan mengusap lembut bahunya.


"Maafkan aku Hana. Aku terlalu emosional." ujar Shaka.


"Ada apa?" tanya Hana lirih.


"Aku baru bertemu Mama dan bertengkar lagi. Dia memaksaku untuk menikah dengan anak sahabatnya. Dan dia mengatakan kalau aku tidak akan bisa berhasil menikah denganmu." Shaka akhirnya mengatakan kekalutannya.


Lagi, mamanya Shaka kembali berulah. Hati Hana rasanya seperti diremas saja.


"Terus kamu bilang apa ke mama?"


"Aku akan tetap menikah denganmu. Hana, jika pernikahan kita dipercepat apa kamu mau? Aku nggak sanggup jika mama terus menekanku."


Kini Hana bisa melihat kekalutan yang dirasakan Shaka.


"Kak, kamu percaya padaku kan? Kita pasti bisa melewati semua ini. Setiap hubungan pasti ada saja masalah tapi dengan kita saling percaya semua akan baik-baik saja." Hana kini memeluk Shaka.

__ADS_1


"Terimakasih sayang, sekali lagi aku sangat percaya padamu. Kita berjuang bersama ya." kini Shaka kembali seperti semula. Pria yang selalu Hana sayangi yang selalu melindungi dan menyayanginya.


...****************...


Syifa tampak sedang merenung sendirian sambil melihat ikan-ikan yang sedang berada di kolam taman rumah Wira.


Rasanya Syifa masih saja sulit untuk melupakan mimpinya itu. Meski dia tahu Dion tentu tidak mungkin melakukan sesuatu yang seperti itu.


"Istriku kok melamun terus dari tadi?" sebuah pelukan didapatkan sifat dari belakang tubuhnya.


"Eh, udah pulang sayang. Gimana salonnya?" Syifa sudah hafal siapa yang memeluknya.


"Alhamdulillah, Mirna kayaknya sudah bisa gantiin mbak Hana. Jadi kerjaan udah enteng." jawab Dion.


"Alhamdulillah ya sayang. emm.. Mas boleh aku bicara sesuatu? Tapi jangan di sini." ucap Syifa.


" Yaudah ayo ke kamar." ujar Dion kemudian berjalan menuju kamar.


Kebetulan rumah sedang sepi karena Bella pergi jalan-jalan bersama opa dan omanya.


Sampai di kamar Syifa pun duduk di tepi ranjang diikuti Dion. Syifa nampak terdiam beberapa saat hingga akhirnya Dion mengusap punggungnya.


"Ada apa?" ucap Dion akhirnya.


"Kita program hamil?"


Dion mengernyit. Kemudian menatap Syifa dengan lekat.


"Apa kamu yakin?" ucap Dion


Syifa mengangguk. "Sudah waktunya aku memberi keturunan untuk kamu mas. Jika kamu sudah siap maka aku ingin segera program hamil lagi." ujar Syifa.


Mendengar penuturan Syifa kini Dion langsung memeluk erat tubuh istrinya. Dia begitu bahagia mendengar hal itu.


"Aku siap sayang, aku siap kalau kita memiliki anak lagi. Sebenarnya dari kemarin-kemarin sudah memikirkannya. Nanti kita ke dokter ya." ucap Dion.


Syifa merasa lega. Sebab selain karena mimpi itu Syifa juga memikirkan tentang kondisi tubuhnya. Dia takut jika terlalu lama bisa mempengaruhi kesuburannya.


Sementara itu Shaka kini sedang bersiap untuk mengajak Hana menemui keluarga Wira.


Sebenarnya Hana masih ragu sebab rasa traumanya bertemu Vanya yang berujung cekcok dan dimaki-maki.


"Sayang, sudah siap?" Shaka kini menunggu di ruang tamu.

__ADS_1


Hana datang dengan memakai dress berwarna soft blue. Penampilannya begitu cantik dan anggun. Bahkan Shaka sampai terbengong melihatnya.


"Apa aku terlihat jelek? Bajuku nggak cocok ya. Yaudah aku ganti dulu." Hana hendak pergi mengganti bajunya namun Shaka dengan cepat langsung mencegahnya.


"Tidak, kau sangat cantik Hana. Kamu terlihat sangat memukai dengan dress ini." Shaka mengusap lembut pipi Hana.


"Berangkat yuk." Shaka pun menggandeng tangan Hana menuju basemen.


Sepanjang perjalanan Hana tampak diam saja. Padahal gadis itu biasanya selalu ada saja hal yang dibicarakan. Tapi Shaka paham. Hana pasti sedang gelisah, tapi Shaka ingin menunjukkan sisi keluarga Wira yang selalu menyambut semua orang dengan baik.


Akhirnya sampai juga mereka di kediaman Wira. Shaka membukakan pintu mobil untuk Hana kemudian menggenggam tangan kekasihnya.


"Kak.. Ini beneran nggak apa-apa?" ucap Hana ragu.


Melihat rumah mewah nan megah itu saja sudah membuat Hana minder sendiri. Apalagi didalam ada Dion yang merupakan Bosnya di salon.


Meskipun Dion selalu baik kepada semua karyawannya tapi tetap saja Hana masih merasa canggung.


"Assalamualaikum." ucap Shaka.


"Waalaikumsallam." wajah pertama yang Hana lihat adalah sepasang suami istri paruh baya yang tampak tersenyum hangat kepadanya.


Dengan manisnya mama Rina langsung mendatangi Hana. "Jadi ini yang namanya Hana? Cantik sekali seperti namanya."


Hana langsung membalas senyuman Mama Rina kemudian mencium tangannya. Tanpa diduga Mama Rina justru langsung memeluk Hana dengan penuh kasih sayang.


"Yasudah ayo ke taman belakang. Mama sudah siapkan acara disana." Mama Rina dan Syifa memang sangat antusias saat Shaka mengatakan ingin membawa calon istrinya. Jadi mereka semua menyiapkan acara barbeque.


Shaka juga sudah menceritakan semuanya perihal penolakan Vanya hingga pertemuannya dengan Herman. Awalnya dia takut menyinggung Wira namun ternyata Herman justru tak ada kaitannya setelah Wira dan Vanya menikah.


"Hana..." Syifa dengan bahagianya langsung berteriak menghampiri sahabatnya.


Mereka saling berpelukan melepas rindu. Memang sudah satu bulan ini mereka tak bertemu karena kesibukan Syifa.


"Yaampun kangen banget gue, duh calon kakak ipar ya." Ucap Syifa dengan bahagianya.


"Jadi malu nih lo nyebut-nyebut gitu. Berasa tahta gue lebih tinggi. Kan gue jadi kakaknya." Hana pun membalas bercandaan Syifa.


"Yaudah yuk sini. itu dagingnya masih dibakar sama Mas Dion." Dion nampak sibuk membakar daging dan hanya menyapa Hana dengan lambaian tangan dengan senyum lebarnya.


Mereka semua kompak mengadakan acara barbeque di taman belakang untuk menyambut Hana. Tak disangka Hana bahwa keluarga Dion sebaik dan seramah ini.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2