
Hamparan luas rerumputan yang menghijau dengan berbagai macam bunga-bunga liar tumbuh di antara ilalang. Hanya ada satu pohon yang berada di tengah padang rumput tersebut.
Dion merebahkan tubuhnya di atas rumput merasakan kesejukan juga ketenangan yang begitu nyaman. Hanya ada suara angin yang berhembus pelan serta suara kicauan burung yang menambah tenang suasana. Namun meski begitu ada sesuatu yang mengganjal didalam hatinya. Dia teramat merindukan seseorang, tapi siapa?
Hingga seorang wanita paruh baya berdiri tak jauh darinya. Wajahnya tampak begitu cantik dengan senyuman yang begitu khas dan Dion rindukan.
"Bunda Sarah.." panggil Dion lirih.
Itukah yang Dion rindukan? ya benar. Tapi entah kenapa masih saja ada hal yang masih mengganjal. Ternyata bukan.
Lalu tak lama kemudian datang seorang gadis kecil menggandeng dua bocah kembar yang begitu tampan. Dion memperhatikan gadis kecil itu dan dia seolah pernah bertemu. Wajahnya seperti tidak asing untuknya. sementara dua bocah laki-laki yang berada di antara gadis kecil itu memiliki wajah yang mirip dirinya. Seolah itu Dion versi kecil.
"Papaa..." panggil ketiga bocah itu secara bersamaan.
"Kalian siapa?" Dion tampak bingung.
"Kami anak Papa.. pa, aku Bella. Apa papa ingat aku putri Papa. Ini adik-adikku pa." gadis kecil itu tampak berkaca-kaca.
"B-bella?" rasanya Dion tak asing dengan nama itu. Bella.. Bella.. dan ya, Dion ingat tentang Bella.
"Bella.. kamu sudah besara sayang?" Dion tak menyangka Bella tumbuh lebih besar, seingatnya bElla masih kecil bahkan belum lancar berbicara.Dion bingung antara menghampiri Bunda Sarah atau ketiga bocah kecil itu.
Dion hendak maju mendekati bunda Sarah. "Bunda, Dion kangen bunda. Biar Dion temani bunda saja ya." ujar Dion.
Namun tiba-tiba salah seorang bocah laki-laki itu berlari menghampiri Bunda Sarah.
"Biar aku temani Oma, Pa. Papa temani saja kak Bella dan adik. Mereka butuh Papa, apalagi Mommy." ucap Bocah itu.
"Tapi, Bunda.." Dion masih bimbang.
"Dia benar Dion, kembalilah kepada anak dan istrimu. Bunda akan bersama salah satu putramu. ia akan menemani bunda agar tak sendirian." kemudian Bunda Sarah berjalan menaiki tangga berwarna emas sambil menggenggam tangan bocah laki-laki itu.
Dion masih terpaku. Tak mengerti sekaligus bingung dengan situasinya sekarang ini.
Kemudian sebuah tangan mungil terulur kepada Dion. "Pa, ayo kita pulang. Mommy sudah merindukan Papa. Kita akan bersama-sama lagi ya Pa." ucap Bella sembari menggenggam tangan Dion.
Sementara di kejauhan tampak seorang wanita cantik dengan perut yang membuncit tengah menangis di tepi danau.
"Itu Mommy pa." Ucap bocah laki-laki itu.
Kemudian Bella dan bocah itu melepas genggaman Dion dan berlari menghampiri wanita itu. Wanita cantik berwajah sendu. Dion terus mengingat siapa wanita itu.
"Syifa.." Ya, akhirnya Dion mengenali wanita cantik itu. Wanita yang sangat dia rindukan.
Syifa tampak tersenyum sembari mengulurkan tangannya. Dion hendak meraih tangan itu namun tiba-tiba seseorang menusukkan pisau di perut Dion hingga darah mengalir dengan begitu banyak.
"SYIFFAAAA..." Dion langsung berteriak kencang.
"Astaghfirullah, Mas Dion." terdengar suara wanita itu hingga membuat Dion membuka matanya.
__ADS_1
Saat Dion membuka matanya dia melihat pemandangan ruangan yang jelas sebuah rumah sakit. Dengan alat bantu pernafasan dan infus yang masih menempel di tangannya.
Dia mengedarkan pandangannya dan langsung menangkap sosok wanita yang sangat dia rindukan. Wanita yang hadir di mimpinya, wanita dengan perut yang membuncit dengan wajahnya yang begitu cantik.
"Syifa." Dion melihat wanita itu berurai air mata kemudian memeluknya dengan erat.
"Mas, ini benar kam kan? S-sebentar aku panggilkan dokter." Syifa memencet tombol pasien berulang kali hingga datang perawat dan dokter.
Dion masih tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Seingatnya terakhir kali dia sedang mengalami insiden dan dibawa Nico ke rumah sakit. Saat itu perut istrinya bahkan masih rata.
Tak lama kemudian Dokter dan perawat datang menghampirinya. Dia langsung mengecek kondisi Dion.
"Bagaimana dok?" Syifa tak sabar mendengar penjelasan dokter.
"Alhamdulillah sebuah mukjizat Allah memang begitu nyata. Ini jawaban doa ibu Syifa selama ini. Kondisi Bapak Dion stabil. Detak jantungnya pun normal. Ini adalah keajaiban yang luar biasa bu." ucap Dokter kepada Syifa.
Syifa yang mendengar hal itu langsung bersujud syukur sambil berurai air mata. Dia benar-benar tak menyangka hari yang di nantikan akhirnya tiba.
"Sungguh luar biasa Bapak Dion kembali pulih seperti ini bahkan tak ada kekurangan apapun. Ini semua berkat kegigihan doa dari ibu Syifa dan keluarga anda selama berbulan-bulan ini. Bahkan tiga minggu yang lalu saya mengatakan kepada Bu Syifa bahwa kemungkinan anda untuk hidup akan sangat kecil. Pihak rumah sakit bahkan sudah memberikan surat pernyataan untuk Ibu Syifa untuk menyetujui tim kami melepaskan seluruh alat medis yang terpasang di tubuh anda. Namun ibu Syifa bersikukuh menolak dan percaya hari ini tiba. Dia akan tetap menunggu hingga kapanpun selama anda masih bernafas meski tak bisa berbuat apa-apa. Kesetiaan istri anda begitu luar biasa." Dokter yang mengatakan hal itu sampai menitikkan air mata melihat perjuangan Syifa selama ini.
"Dokter, berapa lama memangnya saya tertidur di sini?" Dion masih bingung.
"Empat bulan anda mengalami koma, efek dari hipoksia membuat pasokan oksigen di otak anda menurun drastis dan anda mengalami hilang kesadaran."
DEGG..
Dion benar-benar terkejut dirinya bisa koma selama itu. Pantas saja perut Syifa sampai membuncit. Selama itu dia membiarkan wanita yang dicintainya berjuang sendiri. Air mata pun jatuh meluruh dari kedua netra Dion. Tak bisa membayangkan betapa kalutnya Syifa selama itu.
Dion kembali menatap perut Syifa kemudian mengusapnya dengan lembut.
"Pasti kamu kesusahan sendiri. Bagaiman bisa ini... ahhh." Dion rasanya sulit berkata-kata lagi. Terlalu banyak hal berkecamuk di dalam hatinya.
"Aku percaya.. aku percaya hari ini pasti tiba. Mas, aku rindu kamu." Berulang kali Syifa mengutarakan rasa rindunya yang sudah menumpuk.
"Aku juga rindu kamu sayang," Dion mengecupi seluruh wajah Syifa tak peduli bahwa di ruangannya masih ada dokter dan perawat. Empat bulan perjuangannya selama ini tak sia-sia. Akhirnya Tuhan memberikan lagi kesempatan untuk mereka kembali bersama.
Syifa langsung memberikan kabar bahagia ini kepada seluruh keluarganya. Dan tentu saja Semua orang tak percaya, namun Syifa menunjukkan foto dirinya bersama Dion. Dan hal itu langsung disambut bahagia oleh mereka.
Setelah menjalani beberapa tes dan observasi Dion dinyatakan benar-benar pulih dan akhirnya diperbolehkan pulang.
Syifa dibantu Mama Vera mengurusi kepulangan Dion sementara yang lain menunggu di rumah. Karena kondisi Papa Wira yang juga sakit-sakitan sejak Dion mengalami koma.
"Sayang mampir ke barbershop ya, masak ketemu semua orang gondrong gini. Mana dikuncir di atas kayak Bella lagi." ujar Dion memperhatikan rambutnya yang sengaja Syifa kuncir atasnya agar tak menutupi wajahnya. Syifa memang hanya sedikit memotong rambut Dion asal-asalan selama pria itu koma agar memudahkan untuk merawatnya.
"Iya-iya. Tapi gitu tetep ganteng kok. Katanya biar kek oppa-oppa korea" Ujar Syifa sambil mengacak-acak rambut suaminya.
"Tapi mau dirapikan sebentar yang.." Ah, rasanya Syifa sangat merindukan suara manja itu.
__ADS_1
Mereka pun mampir ke salah satu barbershop dan merapikan rambut Dion. kulitnya yang tampak lebih putih karena empat bulan tak terkena terik matahari membuatnya terlihat sangat tampan.
Dengan memakai kursi rodanya Dion sama skali tak mau melepaskan genggaman tangan Syifa. Dengan sabar Syifa menunggui Dion memotong rambutnya.
"Udah, ganteng." puji Syifa ketika kapster selesai merapikan rambut suaminya.
Syifa, Dion dan mama Vera kembali melanjutkan perjalanan pulang. Berulang kali Dion menghela nafas sambil memegang dadanya. Dia sangat merindukan keluarganya, dia juga penasaran dengan reaksi semua orang nantinya.
Sampai akhirnya mereka sampai di halaman kediaman rumah mewah bernuansa putih tersebut, Tempat yang masih sama seperti biasanya.
Supir hendak membantu Dion menaiki kursi roda namun langsung ditolak olehnya. "Aku mau jalan saja." ujar Dion.
"Yakin sudah bisa, Jangan dipaksa sayang kalau belum kuat." Syifa masih khawatir sebentar.
"Bisa sayang, asal kamu mau bantu aku." Dion pun mengulurkan tangannya kepada Syifa.
Dengan menggenggam erat tangan Syifa kini Dion mulai melangkahkan kakinya. Sedikit aneh memang setelah berbulan-bulan lamanya tak menapakkan kakinya. Tapi dengan tekadnya akhirnya Dion mulai berjalan dengan lancar.
Dion memasuki rumah besar itu. menatapi seisi ruangan yang tampak kedua orang tuanya berdiri menyambut dirinya.
Pelukan hangat dan derai air mata menyambut mereka. Baik mama rina maupun Papa Wira benar-benar bahagia bisa kembali memeluk putra kesayangannya.
Sementara itu di belakangnya tampak Hana yang menggandeng Bella. Bella mengetahui siapa yang datang langsung berlari menghampiri.
"Papaaaa..."
Dion langsung berjongkok sembari membuka lebar tangannya untuk menangkap gadis kecil kesayangannya.
"Bella, sayangnya papa." Dion tak kuasa menitikkan air mata begitu pula dengan keluarga yang lain.
Mereka sangat terharu dengan pertemuan ini. Mengingat Bella begitu dekat dengan Dion selama ini. Bocah kecil itu bahkan langsung memeluk Dion erat.
"Papa.. Ella lindu Papa.. kata onty, papa kelja jauh ya?" Dion sempat terkejut mendengar putrinya yang sudah pandai berceloteh.
Dion tak bisa berkata-kata lagi. Dia hanya bisa mengangguk sambil menciumi kedua pipi gembul bocah itu.
"Papa jangan pelgi lagi. Papa cini cama Ella cama Mommy ya." engan polosnya Bella terus berkeluh kesah.
"Tidak sayang, papa akan selalu bersama Bella dan Mommy. Papa nggak akan kemana-mana." ujar Dion.
"Pa, ayo main cama Ella cepelti kemalin." Dion pun mengernyit mendengar ucapan Bella pasalnya setelah sekian lama dirinya baru kali ini bertemu dengannya.
"Kemarin? memangnya kemarin kita main dimana sayang?" tanya Dion.
"Dicana... main lumput cama adik kecil." Bella menunjuk taman luar rumah yang terdapat rumput.
"Emm, Dion itu mungkin Bella bermimpi, pasalnya dia sering mengigau memanggil kamu." ucap Hana kemudian.
Dion pun jadi mengingat tentang mimpinya, rupanya Bella juga memimpikan itu.
__ADS_1
...****************...