
"Du du du du du.. Du du.." dengan wajah sumringah Dion berjalan keluar dari kamarnya sambil bersenandung tak jelas setelah menyelimuti tubuh sang istri yang tertidur pulas tanpa pakaian.
Setelah pergulatan panas mereka di kamar mandi serta di atas ranjang Syifa pun kehabisan tenaganya dan langsung tertidur pulas.
Berbeda dengan Dion yang tampak lebih segar dan semangat. Setelah hasratnya terpuaskan jelas pria itu tampak bahagia. Tubuh Syifa bak heroin untuknya. Andai saja istrinya tak kelelahan mungkin permainan mereka bisa sampai tengah malam.
Dion langsung menghampiri Bella yang juga bangun tidur. Senyum merekah terpancar di wajah cantik itu. Begitu pula Dion yang langsung menggendong dan menciuminya dengan gemas.
"Anak Papa udah bangun? Bangun tidur masih wangi masih cantik. Gemesin." Bertubi-tubi Dion mengusal perut putri kecilnya hingga gelak tawa Bella terdengar semakin menggemaskan.
Setelah itu Dion menuju ruang makan dimana sudah ada kedua orang tuanya juga Luna.
"Syifa mana Dion? Nggak ikut makan malam?" tanya Mama Rina.
"Tidur ma, kecapean dia." ujar Dion dengan senyum yang tak berhenti memancar dari wajahnya. Baik mama Rina maupun Papa Wira tentu paham.
"Kok malah tidur sih? Bukannya harusnya melayani suami?" Luna mencoba untuk memprotes.
Sementara Dion yang sedang mendudukkan Bella di high chair pun hanya tersenyum.
"Justru dia kelelahan setelah melayaniku." ujar Dion dengan tatapan tak berdosanya.
Luna pun mengernyitkan keningnya. Namun saat menyadari keadaan Dion dengan rambut yang masih basah juga tampak tanda kemerahan di lehernya. Membuatnya langsung paham.
'ah, menyebalkan. Apa mereka habis berhubungan? Secantik apa sih Syifa itu sampai membuat Dion tergila-gila. Paling juga masih bagus tubuhku. Barang bekas aja sok cantik.' Luna terus mengumpat dalam hatinya. Rasanya begitu tidak rela melihat pria yang dicintainya berhubungan dengan wanita lain.
"Emm.. Kak Shaka mana ya?" Luna berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Shaka tinggal di rumah mamanya untuk sementara waktu karena mamanya sedang sakit." ujar Wira.
Sial dan sial. Rencana Luna lagi-lagi harus gagal. Niat hati ingin menjebak Shaka dan Syifa justru mereka saling berjauhan.
Sementara di dalam kamar Syifa mulai menggeliatkan tubuhnya yang masih terasa lemas. Perlahan dia mengerjapkan kedua netranya. Melihat langit yang sudah gelap dengan suara gemericik air hujan dari balik jendela kaca kamarnya.
Perlahan Syifa bangun dari tidurnya. Melihat tubuhnya yang masih polos tanpa sehelai kain. Hanya tertutupi oleh selimut tebal. Namun tubuhnya juga sudah tampak bersih.
"Hmm dasar suami mesum. Bilangnya cuma sekali tapi berkali-kali." gerutu Syifa hendak mencari pakaian.
Namun sebuah piyama kimono berwarna merah maroon sudah tertata rapi di sisi ranjang. Rupanya Dion juga sudah menyiapkan untuknya.
"Masak keluar pakai ini?" Syifa melihat set piyama tersebut yang sangat minim mengekspos pahanya namun outer kimono yang berwarna senada agak transparan sedikit lebih panjang. Sama saja dipakai juga diatas lutut.
Sejenak Syifa menatap jam di nakas menunjukkan pukul sembilan malam. Sepertinya sudah lumayan aman keluar kamar sebab biasanya kedua mertuanya pasti sudah berada di dalam kamarnya.
Perlahan Syifa keluar kamar langsung menuju kamar Bella. Seharian tak bertemu putri kecilnya membuat dirinya sangat rindu.
Di dalam kamar rupanya Bella masih terjaga sambil ditemani Dion. Bocah kecil itu tampak menggoyangkan badannya menirukan gerakan video Baby Shark yang ada di layar televisi.
Sementara Dion juga ikut menari di sebelahnya memberi contoh yang benar kepada Bella. Sungguh pemandangan yang sangat indah dan menggemaskan untuk dilihat.
"Mommy..." Bella yang sadar keberadaan Syifa langsung berlari menghampirinya.
__ADS_1
"Anak Mommy lagi nari ya? Diajarin sama Papa?" Syifa langsung menggendong Bella sambil menciumi pipinya dengan gemas
"Istriku cantik banget. Sexy lagi." puji Dion sembari mengecup lembut kening Syifa.
"Bukannya kamu yang nyiapin baju ini mas?" tanya Syifa malu-malu.
"Iya, kamu keliatan cocok banget sayang. Aku suka." ujar Dion sembari mengerlingkan matanya.
"Tapi malu mas, ini terawang terus pendek banget. Ini aja kalau nggak malem gini mana berani keluar." protes Syifa.
"Ya makanya di dalam aja. Baju kamu ini cocoknya buat ***-***." goda Dion.
"Itu sih mau kamu. Aku yang pegel." gerutu Syifa. Sementara Dion hanya menyengir kuda.
"Mau makan? Aku siapin ya?" Dion tahu kalau istrinya belum makan.
"Nanti aja sayang, pengen sama Bella dulu. Nanti kalau dia udah tidur baru aku makan." ujar Syifa.
Hampir satu jam kemudian Bella sudah tampak mengantuk. Berkali-kali dia menguap.
Syifa mengusap lembut punggung putri kecilnya yang semakin hari tumbuh besar. Penyemangat hidupnya selama ini. Tanpa terasa kedua netra Syifa tampak berembun. Mengingat perjuangannya ketika masih hamil hingga melahirkan seorang diri.
"Kenapa?" bisik Dion yang berada di sisi Bella.
"Nggak apa-apa. Terharu aja lihat Bella semakin besar. Rasanya kemarin masih didalam perut aku. Dia anak yang kuat." bulir air mata menetes di kedua pipi Syifa.
Cepat-cepat Dion menghapus air mata itu. Dia tahu apa yang dipikirkan istrinya. Menjadi seorang ibu tunggal yang berjuang sendirian ditengah badai rumah tangganya.
Setelah Bella tertidur barulah Syifa hendak makan malam. Mereka berjalan menuju dapur.
"Mau aku masakin sesuatu?" tanya Dion.
"Boleh, bisa request nggak?" tanya Syifa.
"Apa?"
"Mau pasta carbonara seperti yang kamu buat biasanya di cafe. Tapi pakai bumbu khusus." ujar Syifa.
"Bumbu khusus?" Dion pun mengernyitkan keningnya.
"Iya, bumbu cinta." seketika keduanya pun tersenyum.
"Kalau itu sudah pasti dong." Dion mengangkat tubuh Syifa dan mendudukkan di atas mini bar. Namun tangan jahilnya justru melepas ikatan kimono tersebut hingga terpampang baju tidur Syifa yang berbahan Satin dengan belahan dada rendah dan sedikit melorotkan lengannya hingga pundak mulus itu terekspos.
"Kasih pemandangan yang bagus dulu biar bumbu cintanya makin banyak." Dion mengecup singkat pundak Syifa.
Dion dengan cekatan mulai menyiapkan berbagai macam bahan dan mengeksekusinya. Dengan apron berwarna hitam yang menempel di tubuhnya membuat pria itu tampak semakin sexy.
"Pasta carbonara bumbu cinta siap untuk bidadariku tersayang." Dion menyajikan makanan tersebut dengan senyum manisnya.
"Terimakasih sayang." Syifa dengan antusias langsung menyantap makanan tersebut. Baginya makanan buatan sang suami tak pernah gagal.
__ADS_1
Tiba-tiba saja seorang datang ke dapur yang tak lain adalah Luna. Dion dan Syifa yang asyik bercengkrama pun tampak terkejut begitupun dengan Luna.
"O-oh, ada kak Dion dan Kak Syifa." Luna menyunggingkan senyum terpaksa.
"Hai Luna." sapa Syifa dengan manis.
Luna hanya membalasnya dengan senyuman dibuat-buat. Dia sempat tertegun melihat penampilan Syifa yang terlihat begitu sexy.
Tak dipungkiri gaun malam yang dipakai tampak begitu pas dan menampilkan lekuk tubuhnya yang tampak begitu sempurna. Kulit putih mulusnya tanpa cela. Juga kaki jenjang serta bulatan di dada yang sintal benar-benar menunjukkan body goals.
Insecure, itulah kata yang tepat untuk menggambarkan perasaan Luna saat ini. Apalagi melihat tangan Dion yang melingkar di pinggang Syifa serta kepalanya yang sejak tadi menyandar manja sesekali menciumi bahu istrinya.
"Em.. Aku mau ambil minum dulu." ujar Luna kikuk.
"Sayang sudah selesai. Aku mulai ngantuk ini." Dion sengaja ingin segera menghindari Luna.
"Yaudah kamu tidur duluan sayang. Aku mau beresin piring dulu. Makasih ya udah dimasakin menu spesial ini." ujar Syifa dengan manis.
Tanpa diduga Dion langsung membalasnya dengan sebuah kecupan di bibir Syifa.
"Yaudah, aku ke atas dulu. Jangan lama-lama ya sayang." ujar Dion meninggalkan Syifa.
Rasanya dada Luna menjadi semakin sesak. Apalagi saat ini Syifa tengah mencuci piring. Mereka hanya berdua di dapur tersebut.
"Enak banget ya jadi Kak Syifa. Dicintai dua pria sekaligus. Kakak beradik lagi." celetukan Luna seketika membuat Syifa menghentikan kegiatannya.
"Apa maksud kamu Luna?"
"Kau pikir aku nggak tahu? Kak Syifa diam-diam punya hubungan dengan Kak Shaka kan?" Luna tampak tersenyum sinis.
"Jangan asal bicara kalau kamu tidak tahu faktanya." Syifa merasa tak terima dengan ucapan Luna.
"Lebih baik lepasin Kak Dion. Masih banyak kok pria lain yang lebih kaya dan gampang buat dimanfaatin. Oh, atau kakak mau aku kenalin sama om-om kaya raya? Kenapa nggak sekalian saja om Wira digaet tuh biar sekalian jadi pelakor." Luna semakin berani mengatai Syifa.
"Luna, apa kamu sadar dengan ucapan kamu itu. Cerminan diri seseorang dinilai dari tutur katanya. Jika kamu sudah bisa menilai orang dengan buruk maka bisa jadi kamu sendiri lah yang seperti itu. Jika kamu tidak tahu fakta yang sebenarnya tolong jangan berbicara sembarangan." Syifa berusaha menahan emosinya.
"Dan asal kamu tahu bahwa perasaanku terhadap Mas Dion tak pernah main-main. Aku tulus mencintainya dan sampai kapanpun tak akan pernah berubah. Tak akan pernah ku biarkan ada celah sedikitpun bagi seseorang yang ingin menghancurkan kebahagian rumah tanggaku." dengan tegas Syifa memperingati Luna.
Mendengar penuturan Syifa membuat hati Luna semakin panas. Tak disangka bahwa Syifa tak terpancing emosinya.
Kemudian Syifa mendekat ke arah Luna dan membisikkan sesuatu.
"Kau pikir bisa menjebak ku dengan rencana kotormu itu? sebelum merencanakan sesuatu sebaiknya pikirkan dulu matang-matang." Syifa justru mengelus rambut Luna dengan gerakan penuh kasih sayang sebelum berjalan pergi meninggalkannya.
"Ah, Sial.." Luna kembali mengumpat.
Syifa hanya bisa berdecak. Dia tahu niatan Luna mengejeknya adalah untuk memancing emosinya. Luna berharap Syifa akan marah dan menamparnya. Karena diam-diam Luna meletakkan ponselnya dan menyalakan perekam video.
Rupanya Luna tetap kalah cerdik dengan Syifa. Tanpa dia sadari tindak-tanduknya sudah Syifa awasi sejak awal gadis itu memasuki dapur.
...****************...
__ADS_1