Dosenku Istriku

Dosenku Istriku
Bab 62 nasehat Shaka untuk Dion


__ADS_3

Dion terus menyibukkan diri dengan merapikan segala perabot di salonnya berharap bisa melupakan segala kegundahan pikirannya.


Tak terasa hingga tengah malam Dion masih saja melanjutkan kegiatannya. Meskipun pada akhirnya tetap saja hatinya masih merasa gundah.


Tak dipungkiri beberapa jam saja tak bertemu Syifa rasanya sudah sangat rindu. Tapi rasa kecewa yang masih merasuki pikirannya membuat egonya meninggi.


Dipikiran Dion masih tak terima. Jika Syifa saja mau memberi keturunan untuk pria brengsek seperti Rangga. Tapi kenapa dia menolak dirinya yang begitu tulus mencintainya.


Perlahan Dion menghempaskan tubuhnya di atas sofa. Berharap lelahnya kali ini bisa mengantarkan dirinya untuk tidur.


Baru saja dia memejamkan matanya namun tiba-tiba terdengar suara pintu di ruangannya terbuka dengan keras.


Sontak saja Dion langsung mengangkat kepalanya dan melihat sosok pria yang tengah berdiri di ambang pintu dengan tatapan tajam.


"Kak Shaka.." Dion sangat terkejut dengan kedatangan Shaka.


"Apa-apaan kau Dion? Bagaimana bisa kau kabur seperti ini. Dasar pengecut." dengan emosi Shaka langsung mengatai Dion.


"Apa maksud Kak Shaka datang kesini langsung memarahiku." Dion yang tak terima langsung berdiri.


"Kau pikir aku tidak tahu masalahmu? Bagaimana bisa kau marah pada Syifa hanya karena hal sepele seperti itu."


"Hal sepele? Itu justru hal besar untukku karena dia telah berbohong padaku. Aku suaminya maka aku berhak tahu apapun tentang istriku. Tapi dia malah memutuskan semuanya sendiri." dengan kekeuhnya Dion masih merasa dirinya benar.


"Tapi kamu tahu alasan kenapa Syifa melakukannya? Hah?" Shaka kini mendekat pada Dion dengan tatapan yang tajam.


"Karena dia tak mau menjelaskan padaku." ujar Dion dengan tatapan tak kalah tajam.


"Tak mau atau kamu saja yang tak sabar menunggu penjelasannya?" seketika Dion terdiam mendengar ucapan Shaka.


Benar juga. Tadi saat emosi Dion sedang memuncak dia hanya terus memarahi dan membentak Syifa hingga wanita itu ketakutan. Apalagi Syifa memiliki gangguan panik yang parah.


"Harusnya kau mengerti Dion. Syifa bukan wanita bodoh yang egois dengan kemauannya sendiri. Kau harusnya paham akan istrimu. Dia memiliki trauma di masa lalu. Belum lagi usia Bella yang masih sangat kecil. Wajar jika dia masih takut dan ingin menunda kehamilan." ujar Shaka.


"Menunda bukan berarti tak ingin hamil sama sekali Dion. Kau ini sudah dewasa harusnya mengerti. Buang jauh-jauh pikiran bocahmu itu. Sadar tidak kalau Syifa sangat bahagia memiliki suami dirimu. Tapi baru saja kau patahkan hatinya dan sekarang apa kau tahu bagaimana keadaannya?" Dengan nafas memburu entah kenapa Shaka jadi ikut emosi sendiri.


"K-kak.. Aku.." Dion rasanya kelu untuk mengucapkan apapun. Semua perkataan Shaka itu memang benar adanya.

__ADS_1


"Harusnya kau beruntung memiliki istri sebaik Syifa. Banyak pria di luaran sana yang menginginkan dia. Termasuk aku juga. Tapi aku sadar bahwa hati Syifa hanya untukmu. Dan untuk itu aku mohon jagalah perasaannya Dion. Jangan sampai hubungan kalian hancur hanya karena sebuah kesalahpahaman." kini suara Shaka sedikit melunak.


"maafkan aku kak. Aku telah terpancing emosi dan tanpa sadar melukai perasaan Syifa. Harusnya aku mendengarkan penjelasan dia terlebih dahulu." Dion kini mulai menyesal.


"Tapi kenapa kamu sampai semarah ini? Apa yang membuatmu terpancing emosi begini?"


"Ada seseorang mengirimiku pesan. Dia juga menunjukkan sebuah surat keterangan dari rumah sakit. Orang tersebut mengatakan bahwa Syifa tak ingin mengandung anakku." ujar Dion.


"Argh, dasar gadis licik itu pasti yang sudah menghasut mu." umpat Shaka.


"Gadis licik? Apa maksudmu kak?" Dion semakin bingung.


Kemudian Shaka mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan sebuah video amatir. Tak jelas rekaman tersebut karena hanya menampilkan sebuah lantai yang bergerak-gerak tak stabil.


Namun setelah Shaka menambahkan volume maksimal Dion bisa mendengar dengan jelas suara Luna yang sedang berbicara dengan seseorang di telepon.


"Luna? Jadi Luna yang melakukan semua ini?" Dion sangat terkejut tak menyangka bahwa gadis polos itu yang tega menghasutnya.


"Sejak awal gadis itu datang aku sudah curiga dengan gelagatnya. Apalagi dia mengatakan berkali-kali bahwa sangat ingin menikah denganmu." ujar Shaka.


"Ini tak bisa dibiarkan. Aku harus membuatnya pergi dari rumah itu." ujar Dion dengan kemarahannya.


"Lebih baik sekarang kau pulang dan temui Syifa. Dia pasti sudah resah menunggumu." Shaka menepuk bahu Dion.


Tak pernah sebelumnya dia sedekat ini dengan adiknya itu. Adik, ah rasanya terlalu sakit untuk Shaka akui setelah fakta besar tentang dirinya terungkap.


"Terimakasih Kak Shaka. Kau kakak terbaikku." Dion langsung memeluk Shaka sebagai ucapan terima kasih.


"Pergilah.." setelah itu Dion langsung bergegas pergi menemui Syifa.


Shaka hanya bisa mematung di tempat. Dia hanya bisa tersenyum getir saat Dion mengucapkan bahwa dia adalah kakak terbaiknya.


"Justru aku seburuk-buruknya kakak. Dan lebih tepatnya aku tak pantas kau sebut kakak Dion." batin Shaka nelangsa.


...****************...


Dion terus memacu motornya hingga sampai di depan kediamannya. Komplek perumahan yang tampak begitu sepi karena memang sudah pukul satu dini hari.

__ADS_1


Pak Tarjo, petugas keamanan yang bekerja di rumah orang tua Dion segera membukakan pintu gerbang untuknya.


Dion bergegas menuju kamarnya untuk menemui istrinya. Saat membuka ruangan itu tampak sangat gelap.


Tak ada penerangan sama sekali bahkan lampu tidur ikut dimatikan. Hanya siluet cahaya dari luar yang memancar melalui pintu balkon yang tak ditutup.


Dion menyalakan lampu tidur di atas nakas dan melihat istrinya yang tengah tertidur dengan wajah sembab. Bulu mata lentiknya bahkan masih basah dan sesekali Syifa masih terisak. Sungguh membuat Dion semakin merasa bersalah.


Dion berjongkok memandang wajah istrinya sambil menyingkirkan helaian rambut yang menutupi wajah cantiknya.


"Maafkan aku." Dion mengusap lembut pipi Syifa.


Namun selembut apapun usapan itu nyatanya langsung membuat Syifa tersadar. Apalagi aroma parfum seseorang yang begitu dia rindukan.


Syifa mengerjapkan kedua netranya dan menatap Dion dengan pandangan lurus. Berulang kali dia mengucek kedua matanya berharap itu sungguh suaminya bukanlah mimpi semata.


"Sayang, maaf aku membuatmu bangun." ucap Dion lirih.


Seketika Syifa langsung memeluk erat tubuh Dion. Bahkan Dion bisa merasakan tubuh Syifa yang tampak gemetar.


"Mas, jangan pergi..." Syifa kembali terisak dan Dion langsung mendekap tubuh mungil istrinya itu.


Suara tangisan Syifa terdengar begitu pilu. Hati Dion semakin terasa perih. Begitu tega dirinya membuat wanita kesayangannya ini bersedih.


"Sayang, maafkan aku. Aku sudah keterlaluan. Aku sudah egois dan membuat hatimu terluka. Maaf..." hanya kata maaf dan maaf yang terus diucapkan Dion.


"Aku yang salah. Aku tidak jujur. Aku terlalu takut mengatakan ini. Aku janji aku tak akan lagi membohongimu. Tapi janji jangan tinggalkan aku lagi." Syifa terus memeluk Dion dengan erat seolah dia benar-benar tak ingin pria itu jauh darinya sedikitpun.


"Tidak sayang, aku janji tidak akan seperti ini lagi. Aku mencintaimu dan harusnya aku sadar dan mengerti keadaanmu." kini dinding keegoisan itu telah luruh oleh cinta mereka.


Senyum yang sejak siang telah hilang tergantikan oleh tangis kesedihan kini kembali terukir di wajah cantik Syifa. Begitu pula Dion yang emosinya telah menguap hilang begitu saja.


Memang dalam sebuah hubungan yang terpenting adalah sebuah komunikasi dan kejujuran. Hal ini menjadi pembelajaran untuk keduanya.


'aku tidak akan membiarkan seseorang mengganggu ketenangan kaluargaku. Lihatlah besok Luna kau akan mendapatkan balasannya.'


...****************...

__ADS_1


__ADS_2