
"morning sayang." senyum manis itu terpampang langsung didepan Syifa saat baru saja membuka mata.
Wajah tampan yang selalu menghiasi hari-harinya juga penyemangat di hidupnya setelah Bella.
"Morning. Mas Dion." Syifa mengusap lembut pipi suaminya.
"Jam berapa ini?" Syifa mengernyitkan keningnya melihat luar yang tampak terang.
"Masih jam tujuh sayang. Pesawatnya nanti jam setengah sembilan. Kalau ngantuk tidur lagi aja." ucap Dion mengelus puncak kepala Syifa.
"Bella mana?" sosok paling Syifa cari selain Dion yaitu Bella.
"Udah ikut mama tadi. Mama Vera juga mau balik ke Aussie." Mendengar hal itu membuat Syifa kembali murung.
Kebersamaan dengan Mama Vera rasanya terlalu singkat. Meski bukan mama kandungnya namun kasih sayang Vera begitu besar.
Syifa langsung beranjak dari kamar ranjang dan menuju kamar mandi.
"Sayang mau kemana?"
"Mau mandi terus ketemu mama."
Dion paham bagaimana Syifa masih ingin bersama sang mama.
Setelah selesai membersihkan diri Syifa langsung bergabung dengan semua keluarganya. Hari-hari menyenangkan berkumpul dengan semua orang-orang tercinta sebelum mereka kembali melakukan aktivitas masing-masing.
Bella tampak begitu riang bermain dengan Diana dan juga Nico. Seperti yang dilihat sepertinya usaha Nico memang menunjukkan kemajuan. Buktinya Diana tampak menempel terus dimanapun Nico berada.
Sementara Shaka tampak memperhatikan adiknya dengan posesif. Meski tahu Nico adalah anak yang baik tetap daja insting seorang kakak ingin sekali membuat sang adik aman adalah keutamaan.
"jadi sudah dipersiapkan semuanya ya. Nanti pesawat kita akan berangkat jam setengah sembilan. Masih ada waktu satu jam untuk bersantai." ujar Papa Wira.
Semua pun mengangguk paham. Sepuluh hari berada di pulau dewata ini rupanya cukup membuat mereka sedikit rehat dari sibuknya berbagai pekerjaan.
"Bapak sama ibu masih mau disini? Nggak apa-apa nanti Shaka bilang ke pihak resort kalau masih ingin liburan." ujar Shaka.
"Tidak nak, sudah cukup. Bapak juga sudah kepikiran tanaman di ladang nggak keurus nanti." ujar Herman.
"Yaudah pa, oh iya Diana mau langsung ikut kakak ke Jakarta? Kan sekalian mengurus pendaftaran kuliah kamu." ucap Shaka kepada Diana.
"Terserah kakak aja. Diana nurut." Gadis itu memang selalu penurut. Sementara Nico yang mendengar hal itu berbinar seketika.
"Kak, biar aku aja yang bantu Diana ngurus pendaftarannya di kampus. Kan Kaka Shaka masih masa pengantin baru jadi kakak santai aja dulu." ujar Nico bersemangat.
__ADS_1
"Maunya ya. Dasar," gerutu Shaka.
"Nggak niat aneh-aneh kak sumpah. Mau bantuin Diana doang kok." Nico berusaha membujuk Shaka.
"Ya iya, bilang bapak dulu. Janji nggak aneh-aneh." ucap Shaka.
Nico pun kini berusaha berbicara dengan Pak Herman. Namun Nico sebenarnya juga tak ingin berniat buruk terhadap Diana. Justru dia khawatir jika membiarkan Diana sendirian.
"Kak Nico kenapa sih mau-maunya anter Diana. Kan jadi ngrepotin kakak." ucap Diana yang merasa tidak enak dengan perlakuan Nico.
"Begini Diana. Maaf kalau kakak membuatmu merasa tidak nyaman. Kakak hanya ingin memastikan kamu baik-baik saja. Jakarta itu keras, beda jauh dengan Bogor. Apalagi kamu itu cantik dan siapa saja bisa memanfaatkan mu. Kakak hanya berpesan jangan terlalu dekat dengan orang yang baru di kenal." ujar Nico kemudian.
Memang benar adanya, Nico hanya khawatir terhadap Diana yang masih sangat muda dan polos. Apalagi kehidupan ibu kota yang sangat kontras dengan Diana.
Diana pun mengangguk paham. Dia cukup senang semenjak mengenal Shaka dia dikelilingi banyak orang-orang baik.
...****************...
Hari-hari dimana kenyataan mulai menanti. Setumpuk pekerjaan yang semula ditinggal kini harus dihadapi.
Semua orang kembali melakukan aktivitas dan pekerjaannya. Syifa sudah siap dengan setelan formalnya juga Dion tampak tampan dengan kemeja biru muda yang dilapisi jaket denim sebagai pelengkapnya. Jangan ditanya lagi bagaimana visual memukau mereka.
"Hari ini pembagian dosen pembimbing skripsi. Semoga saja istriku sendiri yang bimbing aku." ujar Dion penuh harap.
"Hmm iya deh sayang. Tapi tetep bantuin ya nanti." Dion mengecup lembut bibir istrinya sebelum melajukan mobilnya menuju kampus.
Sampai di kampus kini suasana ramai para mahasiswa melihat pengumuman pembagian dosen pembimbing yang ditempel di papan pengumuman.
"Bro, udah lihat siapa dospem lo?" tanya Nico.
"Belum, gue baru dateng ini." Dion dan Nico pun pergi menuju papan pengumuman. Disana tampak beberapa mahasiswa berkerumun.
Tampak juga Bianca yang sedang menyunggingkan senyumnya. Namun entah kenapa Dion merasa tidak suka dengan senyuman Bianca.
"Bro, gue dapet dospem kakak ipar." ucap Nico dengan bahagianya.
"Masak sih?" Dion langsung memeriksa nama di papan tersebut. Benar saja Nico mendapat dosen pembimbing Syifa. Setelah itu Dion mencari namanya justru tidak ditemukan.
"Eh, kok. Bianca dapet dospem bini lo." Nico mengernyit. Begitu juga dengan Dion.
"Wah, bisa gawat ini." gumam Dion. Sementara dirinya mendapatkan dosen pembimbing lain.
"Lo khawatir ya dengan Bu Syifa?" tanya Nico.
__ADS_1
"Iya lah pake nanya lagi. Biarpun istri gue normal tetep takut aja. Inget waktu dia disekap di gudang dulu." Dion memijat kepalanya.
"Hmmm.. Gue turut was-was juga. Yaudah gini aja. Kan gue satu dospem jadi tiap kali Bianca bimbingan gue bakal ikut." ujar Nico.
"Oke deh. Gue pengen kasih tau Syifa sebenernya cuman gue masih bingung aja ngomongnya." Dion tahu tabiat istrinya yang gampang panik. Dia takut jika Syifa malah memikirkan banyak hal.
"Coba dulu Bro. Daripada lo rugi sendiri nantinya. Dan gue lihat Bianca keknya juga punya obsesi tinggi sama istri lo."
Saat mereka mengobrol tiba-tiba seisi kampus dihebohkan dengan berita viral yang cukup menyita perhatian.
Bahkan di grup chat mahasiswa juga ramai diperbincangkan.
"DION WIRA DINATA. PEWARIS TUNGGAL DINATA CORP. MENOLAK JADI DIREKTUR KARENA SUDAH SUKSES DENGAN USAHANYA SENDIRI"
"DION WIRA DINATA MAHASISWA UNIVERSITAS TRIJAYA SUKSES MENJADI PENGUSAHA MUDA DENGAN HASIL JERIH PAYAHNYA SENDIRI. BERBAGAI BISNIS MULAI DARI CAFE, SALON KECANTIKAN HINGGA KONTRAKAN MENCAPAI 50 UNIT BERHASIL MELULUHKAN HATI SANG DOSEN."
Dion mengernyit seketika saat melihat berbagai artikel tentang dirinya tersebar di internet.
"Siapa yang sudah berani nyebar berita begini?" ujar Dion kesal.
Sementara itu beberapa mahasiswa mulai membicarakan tentang Dion dan juga Syifa.
Kebanyakan memuji Dion karena kesuksesannya. Bahkan banyak diantara mereka yang mulai menggandrungi Dion kembali.
"Wah, nggak nyangka Dion Udah keren hebat pula. Dia ternyata jadi pengusaha sukses tanpa bantuan orang tuanya."
"Dion emang nggak ada kurangnya. Makin cinta gue sama dia. Biarin deh bibit pelakor hinggap di jiwa gue kalo speknya Dion nggak main-main."
"Udah janda matre lagi, pantesan Bu Syifa ngebet banget deketin Dion. Ternyata ada maunya. Dih, pelet apa ya yang bikin Dion sampe kepincut."
"Kedoknya dosen eh ternyata j* l* ng. Mepet brondong kaya raya sok sok an suci."
"Pantesan Bu Syifa sampe digrebek nikah sama Dion. Ternyata sengaja dijebak kali ya biar dapet brondong tajir."
Sudah pasti Syifa akan terkena imbasnya. Bahkan sepanjang dirinya menyampaikan materi hari ini sudah banyak sekali pasang mata memandang rendah dirinya.
Sedih dan kecewa, itu tergambar jelas di wajah Syifa setelah mendengar beberapa cibiran serta sindiran mahasiswa terhadap dirinya.
Baru saja merasa bahagia atas perayaan pernikahannya kini harus kembali mendapatkan cobaan.
"Kuat, kuat aku harus kuat." Syifa mengepalkan tangannya sembari tetap mengulas senyum meski dalam hati terasa sakit.
...****************...
__ADS_1