Dosenku Istriku

Dosenku Istriku
Bab 72 Gagal


__ADS_3

"Pa..pa... Pa..pa..." suara itu terdengar semakin pilu saat Bella digendong paksa oleh Rangga.


Untuk pertama kalinya Rangga menyentuh secara langsung buah hatinya. Bocah mungil itu kelihatan sangat takut apalagi mereka semua orang asing untuknya.


Ada perasaan aneh ketika kedua netra itu saling beradu. Rangga menatapi wajah cantik Bella dengan bola mata hitam yang berbinar. Namun seketika berubah jadi berembun sebab Bella menyadari bahwa pria itu bukan papa yang dia maksud.


Dalam benak Bella papanya hanyalah Dion. Pria yang setiap hari mencurahkan kasih sayang dan perhatian untuknya.


Cepat-cepat Rangga memberikan Bella kepada Mona. Entah karena rasa bersalah ataupun karena egonya yang tinggi. Rasanya Rangga tak sanggup berlama-lama dengan Bella.


"Paa..paaa... Hiks.. Hiks..." air mata mengalir di kedua netra bulatnya. dengan kedua tangannya yang terus menjulur seolah hanya ingin Dion yang menggendongnya.


Bayi mungil itu terus meronta apalagi saat Rangga dan Luna membopong Dion menuju ranjang.


"Apa yang harus aku lakukan?" Mona sangat bingung harus menuruti hatinya atau menuruti perintah Rangga. Tapi melihat Bella yang terus menangis histeris membuatnya tak tega.


Mona melihat ponsel Dion yang jatuh tergeletak di lantai. Cepat-cepat dia mengambilnya. Mona tak tau harus berbuat apa tapi setidaknya dengan ponsel Dion ini dia bisa berpikir dengan cerdas.


Sementara Syifa yang kebingungan karena kehilangan ponsel pun kini terpaksa pulang naik taksi karena tak bisa menghubungi Dion.


Sampai di rumah dia mendapati kediamannya tampak sepi dan kosong. Hanya beberapa asisten rumah tangga.


"Mbak, Bella sama Mas Dion mana? Kok sepi?" Syifa menghampiri pengasuh Bella yang kebetulan sedang merapikan kamar Bella.


"Loh, bukannya tadi tuan Dion sama non Bella janjian dengan nyonya?" Syifa langsung mengernyitkan keningnya.


"janjian gimana mbak? Bahkan ponselku hilang nggak bisa hubungi dia." ujar Syifa.


"Tadi tuan muda bilang katanya mau dinner sama non Bella juga karena Nyonya yang mengajaknya. Tuan dapat pesan dari nyonya." ujar pengasuh Bella.


DEGG!!


Syifa langsung terjatuh lemas. Firasatnya langsung buruk.


"Nyonya.. Nyonyaa.. Anda kenapa?" pengasuh Bella tampak panik.


Namun tak berselang lama terdengar suara Shaka yang baru saja masuk ke dalam rumah. Tak ingin berlama-lama pengasuh Bella langsung berlari meminta bantuan Shaka.


"Tuan.. Tuan tolong.. Nyonya Syifa tuan.." wajah panik pengasuh Bella tentu saja membuat Shaka terkejut.


"Kenapa Syifa mbak?" Shaka langsung berlari mengikuti pengasuh Bella.


Tampak Syifa yang terkulai lemas di lantai dengan derai air mata di wajahnya.


"Syifa kamu kenapa?" Shaka langsung menghampiri Syifa dan membantunya duduk di sofa.


"Mas Dion dan Bella.. Dia dalam bahaya.. hiks.."

__ADS_1


Shaka menjadi semakin bingung. "Kenapa dengan mereka? Apa yang terjadi?"


Akhirnya Syifa dan pengasuh Bella menceritakan kronologi kejadiannya.


"Tunggu, kamu jangan panik dulu. Aku akan membantu kalian tapi tenanglah dulu." ujar Shaka mencoba menenangkan Syifa.


Shaka mencoba mengecek GPS di ponsel Syifa dan Dion namun sayangnya tak ketemu.


"Sial, mereka mematikan GPS di ponselmu." Akhirnya Shaka mencoba menghubungi ponsel Dion. Berharap Dion mengangkatnya.


Dua panggilan sudah Shaka lakukan namun tak ada hasil. Dia masih tak menyerah dan panggilan ketiga akhirnya diangkat.


"Halo.. Kau dimana Dion?" Shaka langsung bertanya.


"H-halo.." terdengar suara perempuan.


"K-kau.. Kau siapa? Dimana Dion?" bentak Shaka.


Syifa yang penasaran pun meminta Shaka untuk meloudspeaker panggilannya.


"M-maaf.. Anda siapanya Dion?" terdengar suara wanita itu tampak bergetar.


"Mona.. Kau Mona kan?" Syifa langsung mengenali suara itu.


"S-Syifa.."


"Syifa, Bella aman bersamaku tapi suamimu.. Rangga dan Luna merencanakan sesuatu yang buruk. Tolong segera kemari dan hentikan mereka." akhirnya Mona pun mengikuti kata hatinya. Dia memilih untuk membantu Syifa.


Mona pun memberitahu tempat dimana Dion berada. Tanpa berlama-lama Shaka langsung mengajak Syifa untuk berangkat.


Shaka juga menghubungi beberapa orang suruhannya untuk membantu.


"Syifa tenanglah kita pasti akan menemukan mereka dengan keadaan baik." ujar Shaka mencoba untuk menenangkan Syifa.


Syifa hanya menjawab dengan anggukan saja. Shaka pun paham dalam kondisi seperti ini Syifa pasti sangat khawatir.


Akhirnya mereka sampai pada hotel yang dimaksud. Kemudian Shaka dan Syifa bergegas menuju kamar yang dimaksud.


Rupanya Mona sudah menunggunya di ujung lorong. Dia tampak gugup dan gelisah.


"Mona.." panggil Syifa.


"Syifa, ini cardlock kamar tersebut. Kamu cepat kesana tapi jangan sendiri. Rangga dan gadis itu ada di dalam.


"Anakku mana?" Syifa mencari keberadaan Bella.


"Tenanglah, Bella aman bersamaku. Aku janji kali ini akan berpihak padamu." ujar Mona.

__ADS_1


"Tolong kamu dan Bella segera menuju basemen. Disana ada orangku yang akan mengamankan kalian." titah Shaka.


Mona pun segera menurutinya. Keputusannya sudah bulat. Dia ingin menebus kesalahannya pada Syifa kali ini.


Sementara Syifa dan Shaka mulai memasuki kamar tersebut. Syifa terbelalak ketika mendapati Dion yang terkulai lemas dengan kedua tangannya diikat. Luna yang hampir tel anjang berada di atasnya.


Sementara Rangga tengah memegang ponsel untuk merekam aksi bejat mereka.


Baik Luna maupun Rangga sangat terkejut melihat kedatangan Syifa dan Shaka.


"DASAR WANITA BANGSAATT ..." Syifa yang sudah emosi tingkat tinggi langsung menjambak rambut Luna dan menyeretnya hingga menyingkir dari tubuh Dion.


Tak peduli dengan teriakan kesakitan Luna. Baginya wanita ular sepertinya harus diberi pelajaran. Syifa terus menampar Luna dengan membabi buta hingga akhirnya Shaka pun mencoba melerainya.


"Syifa.. Syifa tenangkan dirimu."


"Aku harus menghabisi wanita ini. Dia terus mencari gara-gara denganku. Aku muak melihatnya." Dengan darah mendidih Syifa masih berusaha menyerang Luna.


Rangga segera memanfaatkan momen ini dengan kabur. Namun sayang saat baru keluar ruangan tersebut dua orang berbadan besar langsung mencengkeram Rangga. Mereka adalah orang-orang suruhan Shaka.


"Mau kemana kau hah?" ucap Salah satu pria berkepala plontos dengan tatto di separuh wajahnya.


Luna yang terduduk lemas di lantai pun segera Shaka cengkeram lengannya sementara Syifa langsung menghampiri Dion dan melepas tali yang mengikat tangan dan kakinya.


Wajahnya yang setengah sadar tampak memerah serta tubuhnya berkali-kali menggeliat seperti cacing kepanasan.


Shaka menyadari ada sesuatu yang aneh. Apalagi dia melihat sebuah botol kecil di atas nakas.


"Sepertinya mereka memberikan obat per angsang pada suamimu. Syifa kau tangani Dion dan aku akan bereskan mereka." ujar Shaka.


Shaka pun menarik lengan Luna agar bangun dari lantai. Gadis itu sebenarnya sangat malu kepergok dalam keadaan seperti ini.


Shaka mendengus sebal lalu melepaskan jasnya kemudian melemparkannya pada Luna.


"Pakai ini dan cepat ikuti aku." ucap Shaka dengan dingin.


Shaka membawa luna keluar kamar kemudian Syifa menghampiri Dion kembali.


"Sayang, kau baik-baik saja?" Syifa menyeka wajah Dion yang sudah bercucuran keringat.


"Syifa.. Syifa tolong aku. Tolong bebaskan aku dari rasa menyiksa ini." Tatapan Dion sudah berkabut. Efek obat bius yang membuatnya lemas namun hasratnya yang memuncak membuatnya ingin meronta dan mencari tempat peraduan.


Syifa pun paham akan apa yang harus dia lakukan. Dia menatap botol obat laknat itu yang masih tersisa setengah. Diraihnya botol itu dan dia minum cairannya hingga tandas.


"Sayang kenapa kamu minum itu?" Dion tampak bingung.


"Aku harus bisa mengimbangimu. Ayo kita selesaikan bersama."

__ADS_1


...****************...


__ADS_2