Dosenku Istriku

Dosenku Istriku
Bab 96 hamil


__ADS_3

Langkah Syifa tampak tergesa menuju ke ruang kelas. Hari ini seharusnya dia tak datang telat, namun entah kenapa kondisi tubuhnya sedang tidak memungkinkan.


Pagi-pagi saat baru bangun tidur dirinya merasa mual, bawaan barbeque semalam masih terasa mengganggu Syifa. Bahkan hari ini saja dirinya hanya sarapan roti saja.


Di sela-sela kesibukannya menjelaskan materi untung saja kondisi Syifa sudah mulai membaik. Dion yang sejak tadi khaqatir pun tampak menunggunya di depan kelas.


"Sayang gimana baik-baik saja kan?" Dion tampak begitu khawatir.


"Alhamdulillah nggak apa-apa mas, udah mendingan ini nggak mual lagi." Syifa tak ingin membuat suaminya khawatir.


Kekhawatiran Dion memang wajar sebab tadi pagi saat bangun tidur Syifa memuntahkan segala isi perunya. Bahkan terpaksa dirinya membatalkan janji untuk ke pasar berrsama Mama Rina dan Hana.


"Kalau masih sakit kita ke dokter saja sayang, aku nggak mau kamu kenapa-napa."


"iya mas, beneran aku nggak apa-apa" Setelah mendengarkan jawaban Syifa, Dion masih saja berdiam diri didepannya.


"kenapa lagi?"tanya Syifa.


"nggak mau peluk?"goda Dion.


"Mas ih, ngawur aja banyak mahasiswa lain tau. Ini di kampus ya jangan macem-macem." Syifa langsung melototkan matanya.


"hmmm.. yaudah nanti kalau di rumah bebas ya aku apa-apain kamu." Dion menjawab dengan tatapan menggoda.


"AAWWW..." Dion langsung memekik saat Syifa mencubit pinggangnya.


"Dasar mesum." Syifa langsung berjalan pergi meninggalkan Dion. Dia sedikit mengendap. Karena keduanya yang berbicara di bawah loteng. Meski hampir semua orang tahu hubungan antara Syifa dan Dion namun mengumbar kemesraan di kampus terasa kurang pantas saja.


Sampai tiba waktunya makan siang Syifa pun pergi ke kantin. Baru saja Syifa mau memesan makanan tiba-tia perutnya terasa seperti diaduk saat tak sengaja mencium aroma kuah bakso.


Karena tak tahan Syifa pun langsung berlari menuju toilet, lagi-lagi dia memuntahkan semua isi perutnya.


Dengan wajah sedikit pucat Syifa membersihkan wajahnya di wastafel.


"Bu Syifa sakit? kok pucet gitu?" ucap salah seorang rekan dosen Syifa yang kebetulan juga sedang ke toilet.


"Bu Ratna, iya sepertinya perut saya sedanng sensitif bu. Sejak semalam dn pagi tadi terus mual-mual." ujar Syifa sembari mengoleskan lipstick agar tak terlihat pucat.


"Atau jangan-jangan ibu Syifa sedang hamil, kan tanda-tanda orang hamil mengalami morning sickness." ucapan Bu Ratna agaknya ada benarnya juga.

__ADS_1


Syifa pun mengeluarkan ponselnya melihat catatan terakhir kali dirinya datang bulan.


"Ya ampun, nggak nyadar telat satu bulan." Syifa terkejut saat melihat tanggal terakhir dirinya datang bulan.


"Bener kan bu? coba cek dulu deh, atau langsung ke dokter langsung aja." saran Bu Ratna.


"Saya aminkan Bu, karena memang saya dan suami sudah berniat untuk menambah momongan." Syifa hanya bisa berharap semoga harapannya jadi kenyataan.


"Saya ikut doakan ya Bu Syifa, semoga beneran hamil." ucap Bu Ratna yang ikut bahagia.


Sementara itu Dion yang tengah sibuk mengerjakan tugas-tugas kuliahnya di taman dihampiri oleh Nico. Sejak kejadian Bianca beberapa waktu lalu ion memang nampak kesal dengan Nico yang terus-terusan membela Bianca bahkan sempat sengaja menutupi kesalahan Bianca.


"Bro, boleh gue gabung?"


Dion yang sibuk dengan laptopnya pun hanya menjawabnya dengan anggukan.


Sementara Nico duduk di samping Dion keduanya kini tampak saling diam. Nico bingung memulai ucapannya sementara Dion memilih untuk diam, menunggu kata-kata dari Nico sebenarnya.


"Gue minta maaf Dion, gue salah." ucap Nico akhirnya.


"Harusnya gue bantuin lo, padahal gue udah janji sendiri." Nico mengakui kesalahhannya. Dia sadar ika salah tidak berada di pihak Dion, tapi saat itu dia pun juga tak bisa membiarkan Bianca sendirian.


"Lo nggak salah kok, keputusan kan ada di tangan lo, jadi bebas siapapun yang ingin lo bantu, dan gue gak maksa lo buat bantu gue." Masih dengan sikap dinginnya dion menjawab ucapan Nico.


Nico pun tampak tersenyum getir. Ingin sekali dirinya curhat dan bercerita kepada Dion perihal permasalahannya, namun melihat responnya yang sepertinya tampak kurang mendukung dia pun menjadi mengurungkannya.


"Oke deh, yaudah gue balik ke kelas dulu. Lo balik nggak ini mau mulai kelasnya Bu Syifa." Nico tak berharap banyak jika Dion akan pergi bersamanya. Namun tanpa didugga Dion justru mau pergi bersamanya.


Sepanjang pelajaran Nico tampak gelisah dan tak fokus. Sejak viralnya kasus tentang Bianca waku itu orang tua Bianca memilih untuk memindahkan putrinya ke luar negeri.


Sementara Nico harus dihadapkan dengan permitaan orang tuanya.


"Nico, bisa jelaskan apa yang saya tulis di depan?" tanya Syifa yang sedang memperhatikan dia melamun.


"M-maaf bu, saya tidak fokus." sesal Nico.


"Tahu kan saya tidak suka ada mahaiswa yang tidak memperhatikan materi saya? kamu keluar sekarang." bentak Syifa.


Semua mahasiswa di kelas itu pun tampak terkejut dengan Syifa, tak terkecuali Dion dsn Nico sendiri.

__ADS_1


"T-tapi Bu..." Nico tampak memelas.


"Saya bilang keluar." tegas Syifa.


Akhirnya mau tak mau Nico terpaksa keluar dai kelas tersebut.  Namun tak lama kemudian ponselnyatampak berbunyi, sebuah pesan dari Syifa masuk.


"Istirahatlah tenangkan diri kamu, maaf saya terpaksa mengusirmu dari kelas, saya tahu kamu sedang tidk baik-baik saja." Nico tampak tersenyum setelah membaca pesan dari Syifa.


Pantas saja Bianca begitu tergila-gila dngan Syifa, dia begitu peka dan perhatian kepada semua orang. Hatinya begitu baik.


Nico pun perginke ruang UKS untuk menenangkan dirinya. Sejak semalam dia terus memikirkna ucapan mamanya.


"Selama ini Mama tak pernah menuntutmu macam-macam, mama selalu mendukung langkahmu. Tapi sekali saja mama ingin kamu turuti permintaan seorang wanita tua yang sudah melahirkan kamu ini, menikahlah dengan gadis pilihan mama."


Jika sudah menyangkut tentang mamanya Nico bisa apa?


...*********...


Syifa terus mondar-mandir sembari memegang bungkusan benda kecil yang sempat dia beli siang tadi.


Dia ragu saat hendak mencoba memakai alat tes kehamilan tersebut sebab beberapa bulan sebelumnya sudah dua kali dia gagal dan hasilnya negatif.


Akhirnya dengan satu tarikan nafas Syifa kembali meyakinkan dirinya untuk mencoba sekali lagi mumpung saat ini Dion sedang bermain dengan Bella di luar.


Setelah menampung cairan urin ke suatu wadah kecil Syifa memasukkan benda kecil itu sesuai dengan aturan yang ada di dalam kemasan.


Beberapa menit menunggu kini Syifa bisa melihat hasilnya. Sebelumnya dia sempat menahan nafas beberrapa detik saat melihat indikator di dalam alat itu. Keduanya netranya langsung berembun saat melihat hasilnya.


"Sayang, kamu di dalam?" suara panggilan Dion langsung membuatnya tersadar sekettika.


"i-iya.. sebentar."


Setelah mengatur nafas dan ekspresinya kini Syifa berjalan keluar dan menghampiri Diion.


"Gimana masih sakit lagi perutnya?mual?" seperti biasa suaminya ini paling protektif soal istrinya.


Syifa hanya diam lalu mengeluarkan sebuah benda kecil di tangannya dan memberikan kepada Dion.


"Apa ini?" Dion tampak masih bingung. Tapi saat memperhatikan dengan seksama kedua netranya langsung membulat sekketika.

__ADS_1


"K-kamu.. Hamil?" ucap Dion setengah tak percaya.


__ADS_2