Dosenku Istriku

Dosenku Istriku
Bab 36 keluarga kecil


__ADS_3

Syifa sedikit menggeliatkan tubuhnya. Entah berapa lama dia tertidur. Tau-tau dirinya sudah berbaring dengan selimut menutup tubuhnya.


Terakhir kali Syifa mengingat bahwa Dion sibuk mencumbu dirinya setelah mandi. Tak biasanya juga dia sampai tertidur saat Dion melakukan 'itu'.


Segera Syifa menyingkap selimut yang menutup tubuhnya. Memeriksa dirinya yang ternyata masih mengenakan bathrobe bahkan tampak kembali rapi. Dia juga tidak merasa bahwa Dion sudah 'melakukannya'.


Mungkin Dion berpikir bahwa Syifa kelelahan sehingga dia hanya menc umbunya saja mengingat hal itu nyatanya masih membuat Syifa berdebar saja. Tanpa sadar sebuah senyuman tersungging di bibir cantiknya.


Ada sedikit kelegaan karena Syifa tak harus repot-repot membersihkan diri. Keramas berkali-kali sehari kadang membuat Syifa repot juga.


Dion memang memiliki nafsu yang tinggi namun dia juga selalu memperlakukan Syifa dengan baik. Tak pernah menuntut banyak hal dan yang pasti sangat menyayanginya.


Tak ingin terus larut dalam lamunannya akhirnya Syifa beranjak dari ranjang untuk berganti pakaian. Kemudian dia keluar kamar untuk mencari keberadaan Dion dan Bella.


Kebetulan sekali saat Syifa keluar dia berpapasan dengan Mama Rina. Wanita itu tampak membawa semangkuk puding.


"Syifa, kamu sudah bangun sayang?" tanya Mama Rina.


"Iya Ma, mama tahu dimana Dion sama Bella?" ucap Syifa.


"Ada tuh di kamar Bella. Mama juga mau kesana ini kasih puding buat Bella." ujar Mama Rina.


"Kamar Bella? Memangnya dia punya kamar ma? Terus itu kenapa pudingnya banyak sekali?" Syifa heran saat melihat puding itu semangkuk cukup besar.


"Yaudah ayok." Mama Rina hanya tersenyum kemudian menggandeng tangan Syifa.


Sampai juga akhirnya mereka di depan pintu salah satu ruangan yang jaraknya tak jauh dari kamarnya.


Mama Rina membuka pintu itu dan menampakkan Dion dan Bella sedang bermain.


Yang menjadi takjub Syifa adalah dekorasi di dalam ruangan itu. Sebuah kamar bayi yang sangat indah.


"Ma.. Ini?" Syifa sampai tak bisa berkata-kata karena saking takjubnya melihat ruangan itu.


"Iya, ini mama sudah siapkan sebenarnya setelah kamu dan Dion menikah. Melihat Bella rasanya Mama nggak sabar buat menyiapkan kamar buat cucu. Tapi mama bingung warna kesukaan kalian jadi pilih yang netral aja." ujar Mama Rina.


Syifa hanya bisa tersenyum bahagia sekaligus takjub. Ternyata dia memiliki mertua yang begitu perhatian terhadap dirinya juga sang anak.


Kamar tidur yang lengkap dengan keranjang serta printilan khas anak kecil bernuansa pastel begitu nyaman dan indah. Bahkan lebih bagus dari kamar Bella sebelumnya.


Saat memasuki walk in closet Syifa kembali dibuat takjub dengan semua pakaian serta sepatu dan lainnya.


"Mama menyiapkan semua ini untuk Bella?" tanya Syifa tak percaya.


__ADS_1



"Kamu suka?" tanya Mama Rina.


"Suka banget ma, makasih banyak ya. Sudah perhatian sama Bella." Syifa langsung memeluk Mama Rina saking senangnya.


"Maaa.. Maaa.. Aguss.." tiba-tiba celetukan Bella langsung membuat Syifa tertawa.


Rupanya Bella ingin mengatakan bahwa kamar miliknya itu bagus.


"Iya sayang, bagus.. Bella suka?" tanya Syifa.


Bella pun mengangguk dengan senyum ceria di wajahnya hingga menampakkan empat giginya yang terbagi dua atas dan bawah.


"Nanti Bella biar tidur sini sama mbak. Baby Sitter nya masih datang besok. Kamu nggak perlu khawatir dia berkompeten dan Mama Akan tetap mengawasi langsung selama Kamu kerja." ujar Mama Rina.


Syifa pun hanya bisa mengangguk. Menuruti semua ucapan ibu mertuanya sebab apapun yang dilakukan wanita itu pasti yang terbaik untuknya.


"Bella sini nenek suapi pudingnya." ujar Mama Rina sambil menyendokkan puding ke mulut Bella.


"Maa.." tiba-tiba Dion mendekati mama Rina sambil membuka mulutnya.


Mama Rina pun turut menyendokkan puding ke mulut Dion. Tentu saja Syifa langsung mengerutkan dahinya. Rupa-rupanya puding sebanyak itu untuk dimakan dua bayi.


"Ma, kok rasanya beda ya nggak kayak puding Mama biasanya." ucap Dion.


"Oh, pantesan rasanya mirip susunya Syifa." jawab Dion dengan entengnya.


Syifa langsung melotot seketika. Dasar suami satu ini mulutnya nggak bisa di rem.


"Itu mulut dijaga Dion. Malu sama Mama." Syifa langsung menjitak kepala Dion.


"Noo.. Maa.. Noo akit papa.." Bella langsung memarahi Syifa saat tahu Dion dijitak.


"Iya nih Bella. Papa di aniaya sama Mama." Dion mengeluh kepada Bella dengan wajah sok memelas.


"Kumat deh kumat. Kalian selalu bersekongkol kan." gerutu Syifa.


Mama Rina yang melihat tingkah mereka hanya bisa terkekeh sambil geleng-geleng kepala.


"Sudah-sudah. Ini dilanjut lagi makan pudingnya." ujar Mama Rina.


"Ini lama kelamaan kenapa tingkahnya jadi mirip Bella ya?" ujar Syifa melihat tingkah manja Dion.


"Kan kalau mode gini jadi kakaknya Bella." ujar Dion dengan cengiran.

__ADS_1


"Oh, gitu. Mama punya bayi dua ya. Yaudah sini adek bayi pake bedak dulu biar wangi. Uuhh cayang gemesin banget." dengan jahilnya Syifa mengambil bedak bayi milik Bella dan mengoleskan ke wajah Dion hingga putih.


Tanpa diduga melihat wajah Dion yang belepotan bedak membuat Bella tertawa hingga terpingkal-pingkal.


"Gitu ya, seneng kalau papa kayak badut." gerutu Dion.


Ada saja tingkah absurd yang mereka lakukan. Meski banyak jahilnya namun inilah momen yang begitu Syifa dambakan sejak dulu. Bercanda tawa dengan keluarga kecilnya.


Tapi perasaan gelisah dan was-was masih saja menyelimuti dirinya. Akankah semua ini bertahan lama atau tidak. Sebab bagaimanapun Syifa masih merasa trauma dengan masa lalunya.


Mengingat usia Dion yang masih sangat muda tentu saja akan banyak hal yang dilaluinya. Perjalanannya masih panjang dan dia akan menemui banyak orang.


Dan satu hal lagi yang cukup mengganggu pikirannya adalah, akankah Dion dan keluarganya masih menyayangi Bella seperti saat ini ketika Syifa memiliki anak lagi.


Syifa takut perhatian yang diberikan kepada Bella akan berubah. Mengingat Bella selama ini hanya memiliki dirinya seorang.


Berharap kasih sayang dari Rangga ayah kandung Bella tentu saja hal mustahil. Apalagi saat ini dia hanya mengincar Bella untuk mendapatkan warisan.


"Hei sayang. Kenapa melamun?" Syifa terkejut saat Dion yang tiba-tiba memeluk dirinya dengan tangan kiri menggendong Bella.


"Nggak apa-apa sayang. Eh Bella mau ikut mama? Sini." Syifa meraih Bella dan memangkunya.


"Maa.. Nen..," Bella menggelayut manja kepada Syifa.


"Mau nen? Sini? Udah bosen sama papa kan? Nen nya tetep sama mama. Papamu nggak bisa kasih nen sih." goda Syifa sambil melirik Dion.


Bella langsung menyedot milik Syifa sebelah kiri dengan rakus. Sepertinya bocah itu kehausan.


"kalau begini aku juga mau. Yang kanan ya, boleh ya berbagi sama Bella." goda Dion.


Syifa langsung menjitak kembali kening Dion


"Enak aja." pelotot Syifa.


"Aduh.. Bell.. Sakit Bell mama jahat." rengek Dion.


Bella yang masih sibuk nen langsung melototi Syifa seolah ingin memprotes Syifa agar tidak menganiaya Dion.


Tentu saja hal itu membuat Syifa gemas sendiri. Bahagianya melihat Bella kini mendapat kasih sayang seorang ayah.


Terbukti dengan perhatiannya yang luar biasa terhadap Dion.


.


.

__ADS_1


Dikasih yang manis-manis untuk keluarga Dion Syifa ya.


__ADS_2