Dosenku Istriku

Dosenku Istriku
Bab 89 melindungi Diana


__ADS_3

Dengan wajah masam Shaka terus menyedot dan mengepulkan asap dari mulutnya. Ini sudah batang rokok ke dua yang dia habiskan.


Shaka yang sejatinya bukan perokok aktif pun kini tiba-tiba ingin sekali merokok untuk menghilangkan pening di kepalanya.


"Tumben amat kak Shaka, gimana rasanya udah manteb kan. Cie kakakku hilang perjaka." goda Dion tiba-tiba.


Shaka yang semakin kesal langsung menyemburkan asap tepat ke wajah Dion hingga pria itu terbatuk-batuk.


"Sial kakak sengaja banget ya." gerutu Dion.


"Boro-boro hilang perjaka. Baru mulai udah kena palang merah." gerutu Shaka kemudian.


Tak pelak hal itu langsung mengundang tawa bagi Dion. Jadi kegelisahan kakaknya sejak tadi terjawab sudah.


"Oh, jadi mbak Hana lagi kedatangan tamu bulanan ya?" ucap Dion.


"hmm.. Mana suruh nunggu seminggu lagi." ujar Shaka.


"Alah, sabar Kak. Dulu aku juga gitu. Malahan Syifa minta aku tidur di sofa. Mana sempit lagi. Makanya waktu ada kesempatan aku nggak mau sia-siakan. Gas lah meski di mobil." ujar Dion jujur.


"Semoga aku nggak kayak gitu deh. Sesat ngikutin jalanmu." cibir Shaka kemudian.


"Sepi amat semua orang kemana?" tanya Shaka.


"mereka lagi keliling tempat wisata. Mertua, mama, Bapak Herman CS. Ninggal papa aja tapi katanya mau nyusul." ucap Dion.


"Wah, enak tuh. Aku juga seneng akhirnya bisa bawa keluarga Bapak kesini. Itung-itung sambil liburan." Shaka tak mampu menyembunyikan kebahagiaannya saat menceritakan perihal keluarga barunya.


"iya, aku lihat Diana kelihatan seneng banget. Dia udah nggak sabar lihat patung GWK katanya." ucap Dion.


"Tapi yang nganter mereka siapa? Kan aku lupa nggak nyewa sopir." ujar Shaka kemudian.


"Nico, dia jadi tour guide mereka selama disini." Dion ingat jika Nico sendiri yang menawarkan diri.


"Nico? Bukannya ortunya udah balik ke Jakarta kemarin?" Shaka mengernyitkan keningnya.


"Hmm.. Keknya dia ada hati sama Diana deh kak." ujar Dion.


"Hmm.. Dasar itu bocah. Tau aja lihat yang bening." Shaka menggerutu.


"Tapi Nico anaknya kan baik Kak. Dia nggak pernah neko-neko apalagi sama perempuan." ujar Dion. Sebenarnya Dion sengaja mengatakan ini untuk membantu sahabatnya.


"Hmm.. Iya juga sih. Tapi Diana masih terlalu muda. Dia masih mau kuliah. Aku takut kalau dia nantinya jadi nggak fokus belajar." Shaka tampak khawatir.


"Justru itu kak. Kemarin aku sempat ngobrol sama Nico. Aku bilang juga seperti itu. Tapi dia bilang nggak akan memaksa Diana menjalani hubungan dengannya. Dia hanya ingin bersama dan menjaga Diana. Apalagi Diana mau tinggal di Jakarta. Ya lebih enaknya kakak ngobrol aja sama Nico." ujar Dion kemudian.

__ADS_1


"oke deh. Nanti aku bicara sama Nico." ujar Shaka.


Sementara itu para rombongan keluarga kini sedang berkumpul dan menikmati berbagai macam binatang di Bali Zoo. Nico sengaja membawa mereka kesini karena ingin mengenalkan Bella berbagai macam hewan. Juga Diana yang tampak begitu senang.


Setelah itu mereka pergi ke pantai Melasti untuk menikmati birunya pemandangan laut.


Berkali-kali Diana tampak mengernyitkan alisnya saat melihat para wisatawan asing yang hanya mengenakan bikini dengan santainya wara wiri kadang mereka juga menunjukkan kemesraan dengan saling berciuman di depan umum.


"Astaghfirulloh..." gumam Diana.


"Kenapa Diana?" Nico menghampiri Diana.


"Emm. Enggak kak. Mereka seperti itu emang nggak malu ya? Mana cuma pakai pakaian begituan. Nggak masuk angin apa?" dengan polosnya Diana terus menggerutu membuat Nico semakin gemas.


"Ya itu sudah budaya mereka Diana. Kita beda dengan mereka. Jadi mereka merasa biasa aja. Panas nih, mau neduh disana nggak?" Nico menunjukkan sebuah bar di pinggir pantai dengan banyak tempat duduk beratapkan payung besar.


"Boleh" Diana pun mengangguk.


Nico memesan minuman untuk mereka berdua. Diana memilih air kelapa karena dia memang sangat suka minuman itu.


"Kak aku mau ke toilet bentar ya." Diana tiba-tiba ingin sekali ke toilet.


"Yaudah, mau dianter nggak?"


"Nggak perlu kak." Diana cepat-cepat menuju ke toilet namun tanpa diduga tak sengaja dia menabrak seorang wanita yang membawa minuman hingga minuman itu tumpah mengenai baju wanita tersebut juga Diana.


Namun tanpa diduga saat keluar dari toilet seseorang menyiram wajahnya dengan minuman hingga basah kuyup.


Sontak saja Diana yang terkejut langsung memekik.


"Nggak tau diri ya lo. Udah salah malah kabur. Dasar bocah kecil ingusan." maki seorang wanita yang tak sengaja Diana tabrak tadi.


"M-maaf kak. Maafkan saya. Tadi buru-buru tidak tahan mau ke toilet." Diana mencoba meminta maaf kepada wanita tersebut.


"Heh dasar Bego lo. Tau nggak baju yang gue pake ini mahal. Lo mau emang ganti rugi." ucap wanita itu sinis.


Diana hanya bisa menunduk sambil meminta maaf.


"Maaf doang gak butuh gue. Dasar nggak tau diri ya. Jangan-jangan lo miskin sok-sok an disini." Wanita itu yang kesal dengan diamnya Diana pun langsung menarik rambut panjangnya hingga Diana memekik kesakitan.


Sementara Nico yang mendengar kegaduhan di dalam pun jadi penasaran. Apalagi Diana belum juga kembali.


Saat melihat kerumunan tersebut netra Nico membulat ketika melihat Diana sedang menangis sambil dijambak oleh seorang wanita.


"Diana.." Nico langsung maju menghampiri Diana.

__ADS_1


"Siapa lo berani-beraninya nyentuh Diana?" geram Nico melepaskan tangan wanita itu.


"Oh, jadi ini cewek lo. Sayang banget cakep-cakep punya cewek bego."


"Siapa lo dan apa masalah lo?" Nico menatap tajam wanita itu.


"Dia numpahin minuman ke baju mahal gue." wanita itu berucap sinis.


Nico menoleh menatap Diana yang menunduk sambil menangis.


"Maaf nggak sengaja." ucapnya lirih.


Melihat air mata yang mengalir di wajah cantik itu membuat Nico semakin geram.


"Panggilkan Pak Danu manager Bar ini." titah Nico sembari menggenggam erat tangan Diana yang bergetar.


"Pokoknya gue minta ganti rugi." oceh wanita tadi.


"Gue bakal ganti rugi sepuluh kali lipat kalau memang lo nggak salah. Tapi kalau lo yang salah maka gue yang minta lo minta maaf sama perempuan ini. Kalau perlu gue bawa kasus ini ke polisi." tak main-main Nico jika sudah diliputi emosi.


Tak berselang lama Manager bar tersebut menghampiri Nico.


"Tuan Nico, maaf ada apa ini?" ucap Danu.


"Cek CCTV sekarang. Apa benar gadis ini melakukan kesalahan?" ucap Nico.


Danu pun segera mengecek CCTV. Dengan sorot mata tajam Nico memperhatikan tayangan tersebut.


Terlihat wanita itu sedang berjalan sambil fokus dengan ponselnya tak memperhatikan adanya Diana yang berjalan. Padahal wanita itu yang justru oleng menabrak Diana.


Tak hanya itu Nico dibuat semakin emosi saat Diana tampak disiram minuman wajahnya oleh Wanita itu.


"Lo, jelas-jelas lo yang salah dan nabrak dia. Tapi lo malah koar-koar minta pertanggung jawaban. Dasar iblis lo." Nico yang sudah emosi tinggi tak peduli dengan sekitar dan terus memaki wanita itu.


"Sekarang lo minta maaf kepada Diana. Atau gue mau bawa kasus ini sebagai pencemaran nama baik dan tindakan tidak menyenangkan?"


"I-iya maaf.." Wanita itu mau tak mau meminta maaf kepada Diana dengan wajah yang sudah terbakar rasa malu.


"Satu lagi ini untuk lo yang udah numpahin minuman ke wajahnya." Nico mengambil sepiring pasta yang tak sengaja dibawa oleh waiters dan dia tumpahkan ke atas kepala wanita itu.


"Kak.. Apa yang.." Diana yang terkejut sampai tak mampu meneruskan kalimatnya karena Nico sudah meraih tangan gadis tersebut dan membawanya pergi.


"Siapa sih cowok itu. Kayaknya berani banget." ucap teman wanita yang disiram pasta oleh Nico.


"Dia adalah Nicholas Alendra. Putra Nathan Alendra pemilik resort dan club area di pantai ini." ucap Danu, manager bar tersebut.

__ADS_1


Seketika mereka dibuat kicep oleh kenyataan itu.


...****************...


__ADS_2