
Hana menatap dirinya sendiri didepan sebuah cermin besar. Mengamati tubuhnya yang mengenakan sebuah kebaya pengantin berwarna putih dengan riasan serta tatanan rambut yang bisa dibilang benar-benar luar biasa cantik untuknya.
Sekali lagi dia tak menyangka bahwa akhirnya dia akan menikah dan menjadi istri dari seorang Shaka. Pria yang mungkin belum lama dia kenal tapi begitu luar biasanya memberikan berjuta cinta untuknya.
"Ayah, ibu. Aku mau menikah. Andai ayah dan ibu disini pasti aku sangat bahagia. Lagi-lagi aku harus sendiri. Tapi nggak apa-apa. Aku sudah terbiasa sendirian." gumam Hana lirih. Tak kuasa ia menahan air matanya.
Selama ini dia cukup tangguh hidup mandiri dengan segala usahanya. Tak pernah muluk-muluk menginginkan sesuatu nyatanya bisa makan setiap hari dan bertahan hidup saja sudah merupakan pencapaian luar biasa untuknya.
Tapi hari ini, disaat momen penting dalam hidupnya barulah Hana merasa kesepian. Jika seharusnya seorang pengantin perempuan pasti didampingi oleh keluarganya. Tapi Hana hanya seorang diri.
Tiba-tiba lamunan itu buyar saat sebuah ketukan dan suara pintu terbuka.
"Hana, kamu sudah siap sayang. Ayo ijab qobul akan dilakukan sebentar lagi." suara anggun itu seminggu ini rajin Hana dengar.
Ya, siapa lagi kalau bukan Mama Rina. Wanita yang begitu keibuan dan menyayangi semua orang. Itulah gambaran sosok mama Rina bagi Hana.
Meski baru mengenalnya tapi dia merasa begitu nyaman dan merasakan kasih sayang seorang ibu darinya.
"Iya Ma, maaf ya." Ucap Hana lirih.
"Loh sayang kenapa nangis? Kamu baik-baik saja kan?" Mama Rina langsung mendekati Hana dan mengambil tisu untuk membersihkan lelehan air mata di wajah Hana.
"Hana hanya rindu ayah dan ibu. Disini Hana sendirian disaat hari pernikahanku." ungkap Hana pilu.
Mama Rina langsung memeluk Hana. Mengusap pelan punggung calon menantunya itu.
"Sayang, ada mama disini. Anggap saja mama ini mama kamu. Nanti mama dan papa yang akan selalu mendampingi kamu. Jangan sedih ya, ini hari bahagia kamu loh." mama Rina mencoba memberi semangat untuk Hana.
"Terimakasih Ma." keduanya kini keluar dari ruangan itu dan menuju area halaman resort dimana pernikahan tersebut dilangsungkan.
Shaka sudah begitu tampan mengenakan setelan jas putih. Dengan tatanan rambutnya yang rapi semakin menambah ketampanannya.
Hana dipersilahkan duduk disamping Shaka. Pria itu langsung menoleh takjub melihat sang mempelai begitu cantik mempesona.
Apalagi kebaya yang dikenakan Hana begitu pas ditubuhnya dan tampak sangat anggun.
"Sudah siap semuanya. Mari kita laksanakan prosesi ijab qobul ini." ucap penghulu.
Akhirnya dengan satu kali ketukan Shaka mengucapkan kalimat ijab qobul dengan begitu tegas dan benar. Rasa grogi yang semula benar-benar menggerogoti pikirannya akhirnya berhasil dia lawan.
Shaka Menatap Hana yang sejak tadi begitu tegang di sampingnya. Perlahan Shaka menghadap Hana. Hana langsung meraih tangan Shaka dan menciumnya. Sementara Shaka mengusap ubun-ubun Hana sembari melantunkan doa didalam hati. Berharap Hana menjadi sosok istri yang akan membawa kebahagiaan selalu untuknya.
Sementara semua keluarga tampak begitu lega. Mereka menyambut pernikahan ini dengan begitu antusias.
"Alhamdulillah, akhirnya Kak Shaka dan Hana sah juga sayang. Aku bahagia sekali." bisik Syifa tak kuasa menahan haru.
__ADS_1
Dion pun langsung melingkarkan lengannya ke pinggang Syifa. Merengkuh tubuh mungil sang istri yang sedang menggendong Bella kedalam pelukannya. Diciumnya kening itu dan Dion membisikkan sesuatu.
" aku juga sangat bahagia memiliki kamu dan juga Bella." Bisik Dion.
Seketika Syifa langsung melebarkan senyumnya. Wanita mana yang tak bahagia mendapat perlakuan manis begitu.
Setelah acara ijab qobul selesai kini pengantin menyambut para keluarga yang datang. Memang untuk acara ini hanya dihadiri oleh kerabat dekat saja. Tamu undangan hanya akan datang saat resepsi nanti malam.
"Selamat Kak, akhirnya kak Shaka menemukan tambatan hati kakak." Dion langsung menghampiri Shaka dan memeluknya erat.
Syifa pun langsung memeluk erat Hana sebagai tanda bahagia.
"Yaampun akhirnya kamu jadi kakak iparku Hana." ujar Syifa.
"Thanks ya Fa, sumpah grogi banget akutu." ujar Hana.
"Nggak apa-apa yang penting sekarang udah sah." ujar Syifa.
Shaka pun menghampiri keluarganya. Menghampiri papa Wira dan Mama Rina untuk berterimakasih atas semua bantuannya.
Serta menghampiri keluarga Herman untuk berbagi kebahagiaan.
"Selamat ya anakku. Bapak bangga sama kamu. Semoga pernikahan kalian langgeng selamanya." ucap Herman dengan netra yang sudah berembun.
"Kak selamat ya. Aku doakan kakak Shaka dan kak Hana selalu bahagia." kini Diana menghampiri Shaka sembari memeluknya erat.
Shaka begitu bahagia meski ada sesuatu yang kurang lengkap. Ya, kehadiran Vanya. Wanita itu rupanya benar-benar tak hadir di pernikahan putranya.
Tapi Shaka sedikit lega setidaknya mamanya itu tidak berulah.
Setelah sesi ramah tamah dengan keluarga dekat kini masih ada waktu hingga sore untuk beristirahat dan bersiap-siap sebelum resepsi nanti.
Syifa dan Dion hendak kembali ke kamarnya bersama Bella. Namun langkahnya terhenti saat melihat dua sosok yang begitu dia rindukan.
"Mama.. Papa..." Syifa langsung memekik bahagia saat melihat kedatangan Mama Vera dan Papa Arjuna.
"Syifa, Bella. Mama kangen kalian. Dion juga." ujar Mama Vera memeluk satu-satu mereka.
Sementara Papa Arjuna langsung menggendong Bella karena rindu.
"Ma, Pa. Syifa seneng banget kalian datang." ujar Syifa tak kuasa menahan haru.
"Maaf ya sayang. Papa dan mama begitu sibuk sampai nggak sempat jengukin kalian. Tapi kalian baik kan?"
"Baik pa, padahal rencananya kami mau mengunjungi mama dan papa eh malah sudah keduluan ketemu disini." ujar Dion.
__ADS_1
"Loh ayo kalau mau ke tempat papa. Nanti sekalian kalian honeymoon, y kan ma?" ucap Arjuna antusias.
"Iya, kalian bisa bulan madu biar kami jagain Bella." Mama Vera begitu bersemangat jika menyangkut kebahagiaan sang putri.
Rasanya hari ini begitu lengkap kebahagiaannya. Semua keluarga dan orang-orang yang disayangi berkumpul dengan penuh suka cita.
Namun sebenarnya di hati kecil Syifa tentu juga mendambakan pernikahan seperti ini. Dimana semua disiapkan dengan begitu baik, pesta dengan dekorasi yang indah.
Sayangnya pernikahannya dengan Dion dulu karena skandal sehingga terpaksa hanya sebuah pengesahan ijab qobul saja.
"Nggak apa-apa. Meskipun dulu nggak dirayain tapi aku memiliki suami yang begitu baik dan bertanggung jawab saja sudah anugrah terindah untukku." gumam Syifa lirih sembari menatapi dekorasi pelaminan yang begitu indah dengan pemandangan pantai.
Hingga sore hari tiba waktunya untuk mereka persiapan acara resepsi. Sejak tadi Syifa mondar mandir bingung karena gaun yang seharusnya dia pakai justru hilang entah kemana.
Bahkan saking paniknya Syifa hampir dibuat menangis. Bagaimana mungkin acara sepenting ini justru kemalangan menimpa dirinya.
"Syifa kamu kenapa sayang?" Mama Rina menghampiri Syifa.
"Ma, gaunku nggak ada. Padahal kemarin aku lihat masih ada." ucap Syifa dengan netra berembun.
"Memangnya udah dicari dengan benar?" tanya Mama Rina.
"Udah ma, bahkan di kamarku nggak ada. Gimana nanti aku hadir di resepsi tanpa gaun itu." Syifa begitu gelisah.
"Yaudah, tenang dulu. Sebenarnya Mama ada gaun cadangan buat kamu." ujar Mama Rina sambil mengusap air mata Syifa yang sudah terjatuh.
"Beneran ma? Bisa Syifa pakai?" Kini Syifa mulai sedikit lega.
"Iya, mama sudah simpan buat kamu. Yang penting sekarang kamu mending merias dulu. Udah ditunggu sama MUA nya tuh."
Akhirnya Syifa pun menuruti Mama Rina sementara dirinya di make up. Namun yang membuat Syifa heran kenapa riasan dan juga tatanan rambutnya sedikit berbeda.
"Mba, bener ini make up sama rambut aku apa nggak berlebihan. Ini sih kayak pengantin." protes Syifa.
"Benar mbak, ini permintaan Nyonya sendiri." ucap MUA tersebut.
Tak berselang lama Mama Rina datang bersama seorang asisten. Mereka membawakan sebuah gaun dengan ukuran besar yang masih tertutup plastik.
"Sayang pakai ini ya kamu." Mama Rina membuka plastik penutup gaun tersebut. Namun Syifa sangat terkejut karena gaun itu.
"Ma.. I-ini kan gaun pengantin?" Syifa menatap sebuah gaun pengantin berwarna putih yang sangat indah.
"Karena malam ini kamu juga akan menjadi pengantinnya sayang." Mama Rina rupanya sudah menyiapkan semua ini sejak awal. Dia ingin pernikahan Dion dan Syifa juga dirayakan bersama.
...****************...
__ADS_1