Dosenku Istriku

Dosenku Istriku
Bab 91 jangan ganggu istriku


__ADS_3

Setelah munculnya berita tentang Dion kini banyak mahasiswa yang semakin menaruh perhatian kepadanya.


Diam-diam Dion sering sekali mendapat pesan ataupun telepon dari beberapa mahasiswi yang sengaja menggodanya.


Rasanya begitu menyebalkan ketika Dion merasa setiap gerak geriknya selalu diperhatikan.


Sementara Syifa yang sejatinya juga mendapatkan imbas dari berita itu pun harus tetap bersabar.


Berbagai macam gunjingan dan sindiran mengarah kepadanya. Tapi Syifa masih berusaha tegar.


Saat dirinya sedang berjalan melalui koridor kampus sambil membawa banyak barang semua mahasiswa menatap sinis padanya.


Namun tiba-tiba seseorang menjegal kakinya hingga jatuh dan barang-barangnya berantakan.


"Eits, sorry Bu Syifa. Mau nolongin tapi gue kurang tajir, ups." ucap seorang mahasiswa yang ditimpali tawa mengejek yang lainnya.


Syifa hanya bisa diam tanpa menjawab cemoohan mereka. Dia berusaha sabar sambil terus memunguti buku-buku yang berserakan.


"Eh, lo apa-apaan sih, nggak sopan banget gangguin Bu Syifa." suara seorang mahasiswi terdengar mendekati Syifa.


"Bu Syifa nggak apa-apa? Sini aku bantu bawain barang-barangnya." gadis itu membantu Syifa berdiri dan membawakan barangnya.


"Makasih, Bianca." ucap Syifa lirih.


Mereka berjalan menuju ruangan dosen. Sepanjang perjalanan Syifa tak banyak bicara sebab suasana hatinya sedang tidak baik. Sementara Bianca terus memperhatikan Syifa dengan penuh rasa cinta.


"Makasih ya Bianca udah bantu saya." ucap Syifa setelah mereka sampai di ruang dosen.


"Sama-sama, Bu Syifa nggak usah mikirin omongan mereka semua ya. Aku tahu Bu Syifa nggak kayak gitu kok." Bianca nampak tersenyum dengan mengusap lembut lengan Syifa.


Sedikit lega saat Bianca mengatakan hal itu. Setidaknya masih ada orang yang tidak membencinya.


Syifa pun melanjutkan aktivitasnya dengan mengisi materi di kelas. Namun respon yang dia dapatkan tak seperti biasanya. Syifa bisa maklum dengan kehebohan yang terjadi.


"Baiklah, sampai di sini pembahasan kita. Sebelum saya mengakhiri materi ini apa ada tang ditanyakan?" seperti biasa Syifa selalu memberi kesempatan mahasiswa untuk bertanya tentang pembahasan materi yang kurang jelas.


"Bu saya mau tanya." ucap salah seorang mahasiswi.


"Silahkan, Renita." jawab Syifa.

__ADS_1


"Bu Syifa gimana sih caranya merayu Dion sampai mau nikah sama Bu Syifa?" pertanyaan itu lagi-lagi terlontar dari mulut mereka.


"Saya juga mau tanya bu, pasti enak banget ya dapet brondong tajir, mertuanya kan juga kaya raya. Kalau nggak dapet anaknya bisa dong dapet bokapnya. Ucap mahasiswa lainnya.


"hahaha.. Modal cantik janda kembang udah berapa banyak sih korbannya?."


"Rasanya enak mana Bu? Suami pertama atau suami kedua. Pasti enak yang kedua dong. Masih brondong, ganteng dan tajir lagi."


"Dosen jiwa-jiwa pelakor ya gini. Huuuu...."


"Huuuu...." suasana kelas semakin ricuh ketika para mahasiswa melempari Syifa dengan gulungan kertas.


"Dasar P * l* cur...." berbagai caci maki terus keluar dari mulut mereka hingga membuat Syifa rak kuasa menahan dirinya.


Syifa seketika mengalami serangan panik yang sudah lama tidak pernah kambuh. Dia hanya bisa menangis sambil meringkuk. Nelangsa dan sakit hati teramat dalam diperlakukan seperti ini. Harga diri Syifa benar-benar diinjak-injak.


Hingga semua mahasiswa itu puas mereka membubarkan diri masing-masing. Syifa masih meringkuk terdiam. Dia terlalu takut menghadapi semua orang sekarang.


"Bu Syifa... Bu Syifa kenapa?" Bianca langsung datang menghampiri Syifa. Tahu keadaan Syifa yang sedang kacau Bianca langsung memeluk Syifa dan berusaha menenangkannya.


Namun tak berselang lama tampak Dion dan Nico datang mendobrak pintu kelas.


"Sayang, apa yang terjadi?" Dion langsung berlari menghampiri Syifa. Namun saat melihat Bianca cepat-cepat Dion mendorong gadis itu menjauh dari istrinya.


"Aku bukan p*l*cur.. Aku bukan p*l* cur.." Syifa terus menangis histeris sambil meracau.


Dion memeluk Syifa dengan erat, mengusap lembut punggung istrinya untuk memberikan kenyamanan.


"Aku... Aku mau pulang.. Aku takut.." suara Syifa terdengar begitu pilu membuat Dion seperti tersayat hatinya.


"Iya, kita pulang ya. Sayang jangan takut ada aku disini." Dion berucap lirih sembari menghapus air mata Syifa. Dikecupnya kening wanita kesayangannya itu dengan lembut.


Bianca yang melihat perlakuan mesra Dion kepada Syifa membuatnya begitu iri. Tapi dia sedikit senang setidaknya dia sempat mengambil kesempatan dengan memeluk dan mencium pipi Syifa.


"Nic, gue minta tolong anterin kita pulang ya. Nih kuncinya." Dion menyerahkan kunci mobilnya kepada Nico.


"Oke"


Setelah itu mereka keluar kelas dan berjalan menuju parkiran. Dion merangkul tubuh Syifa dengan posesif. Hatinya benar-benar kesal ketika melihat sang istri mendapat perlakuan seperti ini.

__ADS_1


"Eh, itu Bu Syifa nangis-nangis dipeluk Dion. Emang pinter banget ya nyari perhatian. Dasarnya aja udah kegatelan." ucap salah seorang mahasiswi.


Dion yang mendengar hal itu seketika menghentikan langkahnya.


BBRRAAAKKKKKK.....


Tanpa diduga Dion langsung mengambil bangku dan membantingnya tepat dihadapan gadis yang mencibir Syifa hingga bangku itu hancur.


"LO NGOMONG APA HAH?" dengan tatapan tajamnya Dion langsung membentak gadis itu.


"A-aku.. Enggak.."


"LO PIKIR GUE GAK DENGER UCAPAN DARI MULUT BUSUK LO? BERANI LO NGATAIN ISTRI GUE?" netra hitam legam Dion menatap nyalang ke arah gadis itu.


"Lo pikir gue nggak denger lo bilang apa tadi? Lo tau nggak kalau istri gue adalah wanita paling berharga didalam hidup gue. Gue tulus sayang dia melebihi diri gue sendiri dan sekarang lo berani ngatain dia?" gadis itu dibuat gemetar hebat saat Dion meraih kerah baju wanita itu.


"Bro.. Bro.. Tenang jangan emosi. Ini di kampus dan jangan kotori tangan lo buat manusia kek gini." Nico langsung berlari melerai Dion agar tak semakin mengamuk.


"IBLIS LO, BERANINYA NGATAIN SESAMA PEREMPUAN. GIMANA KALO ORANG TUA BAHKAN KELUARGA LO DIKATAIN DAN DIHINA SEPERTI ITU HAH? Dion dengan nyalangnya masih membentak gadis itu hingga menangis sesenggukan.


"Udah Dion, please. Kasian istri lo dia ketakutan." Nico memegangi tangan Dion agar tak semakin berbuat anarkis.


Sementara Syifa yang semakin ketakutan hanya bisa berjongkok sambil menangis dan kedua tangannya menutup kedua telinga. Rasa traumanya saat masih hidup bersama Rangga dulu seolah terkorek kembali.


"SEMUANYA, SAMPAI GUE DENGER KALIAN NGATAIN ISTRI GUE. GUE GAK BAKALAN TINGGAL DIAM. SEKALI SAJA KALIAN NYENTUH DAN NGUSIK DIA BAKAL GUE PATAHIN TANGAN DAN MULUT KALIAN SEPERTI BANGKU INI."


Dion dengan terpaksa meninggalkan gadis yang ingin sekali dia hajar itu. Dia kini segera menghampiri Syifa. Meraih tubuhnya dan menggendongnya menuju parkiran mobil.


"maafkan aku.. Maafkan aku tak bisa menjadi suami yang baik. Aku sudah membuatmu menangis." Dion segera memeluk Syifa dengan erat.


Rasa bersalah Dion kian terasa besar saat melihat keadaan Syifa. Begitu kacau dan ketakutan. Padahal dia sudah berjanji untuk selalu membuatnya tak menangis lagi.


Perasaan cintanya yang begitu besar membuat Dion begitu takut kehilangan Syifa. Tanpa sadar Dion pun ikut menangis meratapi kesedihan Syifa.


Sementara Nico hanya mampu terdiam. Ikut sedih merasakan kekacauan sang sahabat.


"Gue salut punya sahabat elo Dion. Rasa cinta lo begitu besar. Gue hanya berharap yang terbaik buat kalian. Batin Nico.


Sampai di kediaman Dion kini Nico beranjak pergi dan menemui seseorang.

__ADS_1


"Lo mending jujur sama gue. Lo kan yang nyebarin berita tentang siapa Dion?"


...****************...


__ADS_2