Dosenku Istriku

Dosenku Istriku
Bab 108 Firasat buruk


__ADS_3

Pagi ini tak seperti hari-hari biasanya. Jika di pagi hari drama mual morning sickness dialami oleh Syifa sekarang dirinya tak merasakannya sama sekali. Bahkan tidurnya terlihat begitu pulas dengan ditemani Bella dalam pelukannya. Syifa sengaja ingin tidur bersama Bella meski awalnya Bella sempat merengek karena lebih suka tidur sendiri.


Tapi hal lain justru dirasakan Dion, bolak-balik dirinya harus keluar masuk toilet. Perutnya sejak semalam terasa seperti diaduk-aduk bahkan rasa mual tak tertahankan itu terus menyerangnya.


"Jadi ini yang dirasakan Syifa. Pantesan dia sampai lemas." gumam Dion sambil menundukkan wajahnya di wastafel.


Tapi ada rasa lega yang Dion rasakan karena akhirnya sang istri tak mual lagi. Doa-doa nya akhirnya terjawab sudah. Setidaknya dengan begini Syifa tak lagi tersiksa.


Syifa yang sejak tadi merasakan suara berisik di toilet pun perlahan mulai terbangun.


"Sayang kamu kenapa?" Syifa menghampiri Dion yang wajahnya tampak pucat.


"Eh, kok bangun sayang? tidur lagi aja?" pinta Dion.


"Udah nggak ngantuk." Syifa yang manja langsung memeluk suaminya dari belakang namun tiba-tiba..


HUUEEKK... HHUUEEKKK...


"Sayang mual?" Syifa tampak panik.


"Iya nggak apa-apa sepertinya doaku terkabul sayang, mualnya pindah ke aku." Dion tampak begitu senang.


"hmmm.. tapi kamunya jadi lemes."


"Nggak apa-apa sayang, anggap aja kita sedang kerja sama. Kan bikinnya hasil kerja sama jadi prosesnya juga harus kerja sama juga." mendengar penuturan Dion tentu saja membuat Syifa merasa gemas.


"Bisaa aja.." Syifa mencubit kedua pipi Dion.


Setelah membersihkan badan kini mereka bersiap-siap untuk turun ke bawah. Bella yang masih tidur dibiarkan saja karena bocah itu pasti bangunnya kan lama. Dion tak lupa memasang bedrail agar tidak jatuh.


Di ruang makan ternyata sudah berkumpul semua keluarga termasuk mama Rina yang juga ikut bergabung.


"Mama sudah sehat?" tanya Syifa saat mereka bertemu.


"Alhamdulillah sudah lebih baik. Mama bosen di kamar terus." ujar Mama Rina.


Syifa tampak santai menyapa semua orang termasuk Hana meski sedikit canggung.


Acara sarapan pagi itu berlangsung nikmat hingga tiba-tiba Dion mendapatkan sebuah telepon. Dia meninggalkan meja makan dan berbicara dengan serius.


"Sayang maaf aku harus ke cafe cabang sekarang, ada sedikit masalah." ujar Dion yang langsung berlalu ke atas.


Syifa pun mengikuti suaminya. Di dalam Dion bersiap memakai jaketnya. Syifa yang melihatnya entah kenapa merasa berat ditinggalnya.


"Apa penting banget gak bisa ditunda nanti aja?" rengek Syifa.


"Nggak bisa sayang, nanti akau cerita kalau udah pulang ya. Kamu mau nitip dibawain apa?" Dion paham akan kemanjaan istrinya.


"Nggak mau apa-apa. Cuma mau sayang pulang cepet." ujar Syifa.


"Iya, nanti kalau udah selesai urusannya langsung pulang." Dion mengecup kening, pipi dan bibir syifa. Kemudian beranjak mengecup Bella yanag masih terlelap.


Syifa pun masih setia mengikuti suaminya ke depan sampai motor yang dikendarainya benar-benar pergi. Saat hendak berbalik Syifa mendapati Hana yang sudah ada di sampingnya.


"Fa, boleh kita bicara?" tanya Hana.


"hmm, oke." jawab Syifa singkat.


Mereka duduk di teras sambil menatap bunga-bunga yang tersusun rapi di halaman.


"Fa, aku mau minta maaf atas perkataanku kemarin. Gak seharusnya aku bentak kamu dan gak seharusnya aku bersikap begitu sama kamu. Maaf ya Fa." sesal Hana.

__ADS_1


"It's oke Han, aku paham kok kamu juga pasti lelah ngurus mama sendirian, akunya juga lagi sensian yang jelas kita sama-sama saling belajar ya Han." Syifa dan Hana kini tengah berpelukan dan sesederhana ini untuk saling memaafkan. Karena sejatinya manusia itu tak ada yang sempurna. Pasti ada saja kekhilafan yang mereka perbuat.


"Yaudah ke dalam yuk, bumil gak boleh capek-capek, aku buatin puding mangga loh. Mau?" ujar Hana.


"Maauu..." Syifa bersemangat seperti Bella.


Hana mengeluarkan puding mangga dari kulkas kemudian meletakkannya di mangkuk kaca. Saat menerimanya entah kenapa tiba-tiba tangan Syifa hilang fokus sehingga mangkuk tersebut jatuh.


Syifa yang panik langsung memunguti pecahan mangkuk tersebut.


"Awwhh.." tanpa sengaja tangan syifa tergores pecahan kaca.


"Yaampun Syifa, udah jangan dipegang belingnya ini malah kena tangan kan." Hana segera membawa Syifa ke kursi dan mengambil kotak P3K untuk mengobati tangan Syifa.


"Kok firasatku nggak enak ya Han?"


Dion yang berada di cafe cabangnya tampak sibuk memeriksa laporan keuangan.


"Jadi karyawan itu bawa kabur uangnya. Astaga... " Dion mengusap kasar wajahnya melihat laporan keuangan di cafe cabang miliknya.


Salah seorang karyawan di cafenya membawa kabur sejumlah uang pendapatan cafe tersebut. 50 Juta dibandingkan dengan pendapatan Dion dari semua usahanya Memang tak begitu besar tapi tetap saja namanya sebuah tanggung jawab harusnya dilakukan dengan benar dan jujur.


Cabang cafe yang baru di buka dua bulan itu memang kebanyakan juga karyawan baru. Hanya satu karyawan lama yang dia tarik dari cafe pusatnya. Sebetulnya Dion sendiri juga sudah menyeleksi berdasarkan kemampuan mereka. Namun yang namanya manusia tak luput dari keteledoran.


Dengan frustasi Dion pun menghubungi sahabatnya menceritakan masalahnya ini. Hanya Nico yang paling bisa diajak berbicara. Sementara Syifa, dia tak ingin melibatkan istrinya dulu karena tak ingin menambah beban pikirannya.


Tak berselang lama Nico pun datang. Dia langsung menghampiri Dion yang tengah menyesap rokoknya di area outdoor.


"Nyebat lagi lo, katanya udah berhenti." celoteh Nico.


"Pusing gue, sesekali yang penting nggak didepan anak istri gue." Sejak Syifa hamil Dion memang sudah tak lagi merokok di depan Syifa.


"Kenapa lagi? itu muka kucel banget kek cucian kusut." cibir Nico yang kemudian ikut duduk dan menyalakan rokok.


"HAH.. KOK BISA?" Nico langsung menoleh ke arah Dion sambil melotot.


"Biasa aja lagi itu mulut menganga kek aligator." Dion mendengus kesal.


"Gak, maksudnya kok lo bisa kecolongan sih. Secara insting lo tentang keuangan kan mirip kek tuan Crab bosnya spongebob."


"Mungkin karena akhir-akhir ini gue jarang ngecek langsung ke sini. Tau sendiri kemarin-kemarin keluarga gue kena musibah, mulai dari skandal papa, mama drop terus Syifa yang mual muntah terus. Bella juga baru sembuh demam. Terus si Iman karyawan lama yang gue tempatin disini kan juga habis kecelakaan.Mau nggak mau terpaksa gue suruh itu anak baru handle keuangan." ucap Dion lesu.


"Iya sih, gue juga prihatin sama lo. Tapi gue salut banget lihat perjuangan lo selama ini. Bener-bener hot daddy idaman. Tapi soal kasus ini gimana? mau lo laporkan ke polisi aja gimana?" tanya Nico selanjutnya.


"Gue masih bingung, kalo lapor polisi takutnya prosesnya lama. Sedangkan itu duit kan buat muter. Mana mesin grinder gue juga diembat satu lagi." Dion mengacak rambut frustasi.


"Gimana kalo kita selidiki ke rumahnya. Jelas dia pasti kasih alamat rumahnya ke lo kan waktu ngelamar kerja dulu." Nico akhirnya memberi solusi.


"Boleh juga, kebetulan karyawan gue ada yang salah satu juga tetangganya." ujar Dion.


"Eh, tapi bentar gue mau makan dulu, laper." Tanpa menghiraukan cibiran Dion pun Nico memesan pasta dan minuman.


"Tenang gue udah bayar sekalian kok, gue ngerti lo lagi jadi orang susah." Nico kembali ke tempat duduk bersama Dion.


"Anjir lo mentang-mentang udah megang perusahaan bokap, businessman muda ciee.. mau nikah lagi." cibir Dion.


"Eh iya ya, gue kan bentar lagi nikah. Lihat chat dedek gemes dulu ah." Nico mengeluarkan ponselnya kemudian mencari notifikasi chat dari Diana.


"Kok dedek gemes gue belum bales chat sih." Gerutu Nico.


"Noh, kan sekarang jadi bucin setelah kemarin ogah-ogahan." Dion sengaja mencibir.

__ADS_1


"Hehe.. ibarat pepatah tak kenal maka tak sayang, ternyata lama-lama dijalanin seru juga, Diana juga ternyata pemikirannya dewasa banget. Mana cantiknya gak ketulungan lagi, Pokoknya malam pertama ntar gue kekepin seharian di kamar." Nico menyengir sendiri.


Melihat Nico yang tengah dimabuk asmara Dion pun langsung menoyor kepala sahabatnya itu.


"Dasar mesum lo, belum apa-apa sok-sokan. Dibanting kenyataan kicep lo." ujar Dion bersungut-sungut.


Tak lama kemudian pesanan Nico pun datang, sepiring pasta carbonara dengan es americano.


"Mas Dion, maaf setelah tadi nyari info tentang rumahnya Ammar ternyata dia sudah pindah. Dia cuma orang kontrak di kampung saya." ucap salah satu karyawan yang kebetulan adalah tetangga si penipu.


"Waduh, gitu ya, yaudah kalau tahu infonya dia pindah kemana nanti kabarin ya Ar." ujar Dion.


"Siap Mas."


Setelah karyawan itu pergi Dion menatap nico yang makan dengan begitu lahap. Namun saat mencium aroma pasta tersebut perut Dion terasa seperti di aduk-aduk.


HUUUEEKK... HHUUEKKK...


Dion langsung kabur ke toilet.


"Lo kenapa Dion? mabok? apa efek jadi bapak hamil?" Nico terkekeh.


"Keknya syndrom Syifa beralih ke gue deh." ujar Dion.


"Yaudah pulang aja lo. Lagian itu karyawan juga pindah, diurus besok lagi aja." Ujar Nico.


"iya deh, tapi gue bawa motor tadi. Sekarang lemes." Dion tampak pucat.


"Yaudah itu motor biar disini aja. Gue anterin lo" Kebetulan Nico membawa mobil sehingga lebih aman untuk Dion.


Saat di perjalanan Dion tampak semakin pucat. Dia tidak tahan AC mobil sehingga mau tak mau Nico harus membuka semua jendela mobilnya.


"Dasar, anak konglomerat tapi mabok kendaraan." gerutu Nico.


"Nico STOP." ucap Dion tiba-tiba.


"ada apa?" Nico tampak panik.


"Gue mau beli rujak itu dulu." Dion menunjuk penjual rujak buah di pinggir jalan.


"Buruan anak gue ileran ntar." Mau tak mau Nico pun harus menuruti sahabatnya yang mengidam.


Saat keduanya hendak mengantri membeli rujak tiba-tiba Dion tak sengaja melihat sosok karyawannya yang membawa kabur uangnya.


"Bro.. bro.. itu Ammar, karyawan yang bawa kabur duit gue." Dion menunjuk pria yang tengah menenteng tas hitam.


Dion yang tak ingin kehilangan jejak pun langsung berlari mengejarnya. Nico yang tak ingin terjadi sesuatu pun ikut mengejar. Ammar berlari cukup kencang namun Dion masih bisa mengimbanginya. Sampai di sebuah gang buntu Dion berhasil menghadangnya.


"Mau lari kemana lo? balikin gak duit gue." bentak Dion.


Karena merasa terancam akhirnya pria itu mendekat dan menyodorkan tas yang dia bawa.


"i-iya, maaf Bang, ini gue balikin." Dion hendak meraih tas tersebut namun tiba-tiba.


BLESSS..


"Arrghh..."


Nico yang melihat sahabatnya mulai melemah itu langsung berlari mendekat apalagi saat terlihat pisau menancap di perutnya.


"DIOOONN..." Nico tak peduli lagi dengan pria yang telah kabur setelah menusuk sahabatnya. Yang ada di pikirannya saat ini hanyalah Dion.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2