Dosenku Istriku

Dosenku Istriku
Bab 87 pindah resort


__ADS_3

Acara resepsi itu akhirnya selesai juga. Para tamu sudah kembali ke penginapan masing-masing. Bahkan beberapa ada yang langsung pulang karena sudah dikejar waktu.


Sementara keluarga besar Shaka dan Dion kini juga mulai beranjak ke kamarnya masing-masing untuk istirahat.


"Sayang Bella mana?" Syifa mencari keberadaan Bella sejak tadi.


"Bella biar sama Mama. Kalian nikmati saja malam pengantin berdua." Mama Vera mengerlingkan netranya sambil menggendong Bella yang sudah terlelap.


Syifa pun tampak tersenyum malu-malu. Mereka akhirnya kembali ke dalam kamar untuk mengganti pakaian.


Syifa sedikit kesulitan melepas gaunnya karena berat dan memakan banyak tempat.


"Sini sayang aku bantuin." Dion melepas satu persatu kancing yang ada di pinggang belakang Syifa. Setelah terlepas Syifa merasa begitu lega.


"Andai saja dulu pernikahan kita langsung dirayakan mungkin rasanya akan semakin beda ya. ada deg deg serr gitu." gumam Dion sambil melepas mahkota yang dipakai Syifa serta beberapa aksesoris lain yang menancap Di kepalanya.


Setelah semuanya terlepas Dion langsung memeluk tubuh Syifa dari belakang. Tubuh jangkung Dion tentu saja membuat Syifa terlihat mungil apalagi dengan keadaan tanpa pakaian begini.


"Sayang, aku mau hapus make up dulu. Ini rambutku juga masih kayak singa." protes Syifa saat Dion mulai menciumi lehernya.


"Bentar sayang. Dari tadi gemes lihat leher jenjang kamu. Siapa sih yang milihin gaun kamu. Kenapa sexy banget. Sudah diduga Dion akan memprotes jika Syifa memakai gaun model begini.


"Yang milihin itu mama. Tiba-tiba aja beliau kasih gaun ini. Padahal aku nggak ngerti kalau bakal jadi dua pengantin malam ini." ujar Syifa.


"Hmm. Masak kamu nggak ngerti? Kan udah kelihatan dekorasi pelaminannya aja kursinya ada dua." ujar Dion.


Syifa pun akhirnya baru paham. "Iya ya. Kok aku nggak ngeh sih."


"Yaudah yang penting sekarang aku mau kamu sayang." Dion melanjutkan aksinya namun tiba-tiba dia mendengar sebuah ketukan.


"Siapa sih ganggu banget." gerutu Dion.


"Sayang jangan-jangan Bella nyariin." ucap Syifa.


Akhirnya Dion pun berjalan menuju pintu sementara Syifa segera memakai bathrobe yang tergeletak di atas kasur.


"Kak shaka?" Dion terkejut saat Shaka yang mencarinya.


"Ayo, ditungguin dari tadi juga." ujar Shaka.


"Lah emang mau kemana lagi? Bukannya acara udah selesai?"


"emangnya mama nggak bilang? Pengantin baru disiapin resort khusus. Jadi kita nggak nginep disini. Buruan aku tunggu di mobil." ujar Shaka.

__ADS_1


"Yaudah bentar." Dion pun langsung menghampiri Syifa dan memberitahunya.


Mereka pun langsung bersiap mengambil beberapa barang dan pakaian yang kebetulan masih rapi di koper.


"untung aja Perlengkapan Bella aku pisah." Syifa merasa lega karena tidak perlu repot-repot memilah barang-barangnya.


Setelah sampai di luar kini mereka berempat menumpangi mobil yang sudah disiapkan untuk menuju privat resort yang jaraknya tak jauh dari resort utama.


"Wah bagus banget tempatnya." Baik Hana maupun Syifa merasa takjub dengan interior resort tersebut. Dengan bangunan yang sebagian besar terbuat dari kayu dan bambu.


"Wah, akhirnya kita seperti pengantin beneran sayang. Malam pertama di resort nggak di mobil lagi." celetuk Dion tanpa dosa.


"Hah? Di mobil?" Shaka dan Hana kompak terbelalak.


"Eh, keceplosan. Sorry." Dion menggaruk kepalanya yang tidak gatal sementara Syifa pura-pura tak dengar.


"Udah nikah digrebek, malam pertama di mobil. Yaampun nggak modal banget sih kamu?" cibir Shaka.


"Bukannya nggak modal kak, cuman momennya lagi pas begitu. Mana lagi hujan deres trus macet." Dion menyengir.


"Berarti di jalan raya dong?" Shaka mendelik.


"Hehehe iya. Tapi seru tau memacu adrenalin. Kapan-kapan Kak Shaka cobain deh." Dion dengan tak bersalahnya mengaku.


"Gila... Gila.. Gilak. Udah sayang ayo jangan deket-deket mereka bisa sesat." Shaka langsung menarik Hana pergi menuju kamar mereka.


"Dasar gitu kok diomongin sih. Jadi malu kan." gerutu Syifa.


"Maaf, keceplosan tadi sayang." Dion pun mencoba merayu Syifa agar tak marah.


Namun Syifa yang membuka pintu kamarnya pun dibuat terkejut. Dia sangat takjub dengan kamar pengantin mereka.


Sebuah ranjang king size dengan sprei berwarna putih ditaburi kelopak mawar merah. Bahkan tak hanya sprei. Lantai juga bertabur kelopak bunga mawar.


Didepan kamarnya terdapat jendela kaca yang besar menghadap langsung ke laut. Sementara sisi kamar tersebut terdapat kolam privat yang tak kalah indahnya.


"Bagus banget." Saking takjubnya Syifa sampai lupa dengan rasa kesalnya kepada Dion.


"Gimana? Suka kan?" bisik Dion sembari merengkuh pinggang mungil Syifa.


"Suka banget." Syifa menoleh kearah Dion dengan wajah berbinar.


"Aku mau malam ini adalah malam yang terindah untuk kita sayang. Kita mengulang malam pertama kita yang sangat berantakan itu." Dion meraih dagu Syifa dan mengecup bibirnya lembut.

__ADS_1


"Baiklah, tapi aku mau mandi dulu. Gerah." ujar Syifa.


"Ayuk. Aku juga mau mandi sama kamu." ujar Dion Genit.


"Nggak nggak, aku nggak mau. Kita mandi sendiri-sendiri aja dulu." Syifa pun langsung melangkah pergi ke dalam kamar mandi sementara Dion terpaksa menunggu giliran selanjutnya.


Saat Syifa keluar gantian Dion yang mandi. Dia membersihkan dirinya dan memakai parfum agar malam ini terasa begitu manis.


Saat dia membuka pintu kamar mandi Dion langsung dibuat tercengang saat melihat Syifa.


Istrinya kini sedang memakai lingerie transparan berwarna merah duduk di atas ranjang dengan posisi menggoda.


Susah payah Dion meneguk salivanya melihat pemandangan seindah ini. Benarkah ini Syifa istrinya? tapi kenapa terlihat begitu mempesona.


Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan akhirnya Dion pun langsung mendekati Syifa.


"Apa kau sengaja menggodaku sayang?" bisik Dion sembari mengecupi wajah cantik istrinya.


"Kalau menggoda suami sendiri boleh kan?" tanpa diduga Syifa langsung mendorong tubuh Dion hingga terlentang. Kemudian Syifa duduk naik di atas tubuh Dion.


"Malam ini aku akan mewujudkan malam yang tak terlupakan itu sayang." ucap Syifa sembari tangannya membelai area sensitif di tubuh Dion.


Sementara di ruangan lain tampak Shaka dan Hana yang sedang duduk berdampingan dengan canggung.


Setelah membersihkan diri masing-masing kini Shaka dan Hana sama-sama masih mengenakan bathrobe dan.


Keduanya sama-sama masih canggung karena baik Shaka maupun Hana belum pernah melakukan itu.


"Sayang.." panggil Shaka akhirnya.


"i-iya.. S-sayang.." suara lembut Hana terdengar bergetar.


Kemudian Shaka meraih tangan Hana dan menggenggamnya.


"Apa kamu bahagia dengan pernikahan ini? Kamu nggak nyesel kan?" tanya Shaka hati-hati.


Hana hanya menggeleng tanpa melihat wajah suaminya. Sungguh entah kenapa malam ini berubah menjadi begitu canggung untuk mereka.


"Hana, apa aku boleh?" Tanya Shaka ragu-ragu.


"Boleh apa?" Mati-matian Hana mengatur nafasnya agar tak tersengal. Meski dia tahu apa maksud Shaka sebenarnya.


"Boleh menyentuhmu?" Shaka hanya bisa membatin kenapa ingin menyentuh istri sendiri saja dari tadi harus minta ijin dan secanggung ini.

__ADS_1


"Boleh kak," balas Hana malu-malu. Saat Shaka mulai mendekatinya Hana kini hanya bisa pasrah akan apa yang dilakukan oleh pria yang kini telah sah menjadi suaminya.


...****************...


__ADS_2