
"Selamat Pak Dion, Ibu Syifa usia kandungannya sudah memasuki enam minggu. Memang di usia ini sudah terbentuk wujud janin namun masih sangat kecil. Tapi sejauh ini semuanya tampak sehat dan berkembang dengan baik. Bahkan detak jantungnya juga sudah mulai terdeteksi."
Dokter pun memperbesar suara detak jantung yang terdengar sangat lembut. Baik Dion maupun Syifa keduanya begitu bahagia hingga tak bisa menyembunyikan rasa harunya.
Bahkan Dion sampai menitikkan air matanya. Dia benar-benar akan menjadi ayah dan memiliki keturunan. Tak henti-hentinya dia mengucapkan terima kasih pada Syifa.
"makasih sayang, makasih banyak." Seolah tak peduli danya dokter dan perawat yang ada di sampingnya Dion terus memeluk dan menciumi Syifa.
Dokter menjelaskan semua hal yang perlu dilakukan dan dilarang selama kehamilan ini. Dengan antusias Dion menyimak dengan seksama bahkan beberapa kali dia bertanya tentang banyak hal mengenai kehamilan Syifa.
"Maaf dokter, saya terlalu banyak bertanya. maklum ini adalah pengalaman pertama saya mendampingi istri hamil." Dion sadar terlalu banyak hal yang memuatnya seperti orang kepo.
"Tidak apa-apa Pak Dion, justru saya senang itu artinya anda begitu antusias dan siaga sebaai seorang calon ayah." jawab dokter tersebut.
Sementara itu segala perlakuan dan tingkah Dion tak luput dari perhatian salah seorang perawat di ruangan itu. Terbukti setelah Dion dan Syifa keluar ruangan perawat itu langsung membicarakannya.
"Wah, luar biasa ya suaminya itu. Masih muda tapi sayang banget sama istrinya. Begitu perhatian dan penuh kasih sayang, mau banget punya suami kayak gitu." puji perawat tersebut. Pesona Dion memang tak pernah luput dari perhatian semua orang.
"Sayang kamu mau nyari makan dulu? barangkali ada yang dipengen." Sepanjang jalan Dion menawari berbagai makanan untuk istrinya namun tak satupun ada yang diinginkan Syifa.
"nggak ada sayang, lagi nggak pengen apa-apa pengennya cuma kamu." goda Syifa.
"Hah, bukannya kalau aku sudah sesering mungkin? Eh tadi lupa lagi nggak tanya dokter masalah penting." Dion menepuk keningnya sendiri.
"Tanya apa?" Syifa penasaran.
"hmmm itu.. boleh nggak ya begituan. masak harus nunggu sampai lahiran." Dion tampak gelisah.
"Mau apa? nanti habis lahiran ada masa nifas empat puluh hari." Syifa sebenarnya tahu maksud suaminya namun dia sengaja ingin menggoda.
"Hah? apa? makin lama dong, bisa lumutan punyaku, mati rasa bisa-bisa." Dion mengacak rambutnya frustasi.
Syifa hanya bisa terkekeh melihat kekalutan suami mesumnya. Membayangkan saja sudah tak tega.
"Boleh kok sayang, tadi aku udah konsultasi asalkan melakukan dengan pelan-pelan dan jangan keseringan." Syifa mengusap lembut pipi Dion dengan gemas.
__ADS_1
"Alhamdulillah setidaknya pusakaku masih bisa digunakan." celetuk Dion dengan bangganya. Syifa hanya bisa geleng-geleng dengan kelakuan suaminya.
...****************...
Setelah selesai makan malam seperti biasa semua keluarga akan berkumpul di ruang tengah saling berbagi cerita sembari menemani Bella bermain
Semenjak pensiun dari kantornya kini Papa Wira begitu menikmati hari-harinya bersama keluarga. Tak ada lagi meeting luar kota juga lembur di kantor.
Sementara Dion dan Syifa sudah menyiapkan kejutan untuk kedua orang tuanya.
"Pa, Ma ada yang ingin Dion sampaikan ke kalian." ujar Dion.
"Ada apa? jangan bilang mau pindah rumah, nggak boleh papa bisa stres nggak ada Bella. Kalau kalian pindah setidaknya jangan bawa Bella, biar papa yang merawatnya." tolak Papa Wira seketika.
"Siapa yang mau pindah, papa sih prasangka buruk terus." Gerutu Dion.
" hmm terus apa?" Akhirnya Dion memberikan sebuah kotak yang sejak tadi dibawa oleh Syifa.
"Itu hadiah buat papa dan mama jadi bukanya harus bersama-sama." pinta Dion.
Papa Wira dan Mama Rina pun langsung terbelalak saat melihat isi dari kotak tersebut.
Sebuah test pack bergaris dua serta foto hasil USG. Tentu mereka langsung tahu maksudnya.
"Masya Allah, Syifa hamil?" pekik Mama Rina kemudian menatap menantunya.
"Iya ma, sudah enam minggu." balas Syifa dengan netra berembun.
Mama Rina langsung berhambur memeluk Syifa. Tak kuasa menahan haru bercampur bahagia.
Begitu juga Papa Wira yang langsung memeluk Dion.
"Terimakasih nak, terimakasih banyak kalian melengkapi kebahagiaan kami. Ini adalah kabar bahagia untuk kami." ucap Papa Wira penuh bangga.
"Dion juga makasih banyak pa, maaf selama ini Dion belum bisa menjadi anak yang membanggakan Papa." Sebuah pelukan dari papanya mampu menggetarkan hati Dion.
__ADS_1
Dua manusia yang sama-sama memiliki ego tinggi itu seolah telah melupakan rasa itu.
"Kamu adalah anak kebanggaan Papa, justru kamu mengajarkan banyak hal ke papa." Ujar Papa Wira dengan bangganya.
"Dion sayang papa." Dion mengeratkan pelukannya kepada Papa Wira.
"Papa juga sayang kamu, tapi tolong lepaskan nak papa bisa kecekek, engap nggak bisa nafas." ucap Papa Wira sedikit terengah.
"Eh, sorry pah, lagi seneng banget soalnya sampai lupa papa udah tuwir." cibir Dion.
"Mentang-mentang masih muda masih kekar aja sok gaya. Itu badan dan otot kamu makin lama makin besar aja." Papa Wira menyingkap lengan Dion.
"Ya iyalah pa, tiap hari olah raga biar perkasa. Tuh hasilnya kan jadi dedek, cucu buat papa lumayan buat tambahan kegiatan papa momong nantinya. Kalau masih kurang aku buatkan lagi." Goda Dion.
Pletak..!!
"Awwhh.. Kok dijitak sih." gerutu Dion.
"Lah kamu pikir papa ini tempat penitipan anak apa?" protes Papa Wira.
"Bukannya tempat penitipan anak pa, cuma papa itu kan makin lama makin tua, harus banyak-banyak kegiatan biar nggak pikun. Apalagi kalau tiap hari sama anak-anak. Pasti papa ketularan awet muda. Itu buktinya sampe mirip Bella lama-lama." Dion menatap geli papanya yang tanpa sadar memakai bandana dengan hiasan tanduk rusa karena sedang bermain peran dengan Bella.
Pria yang begitu berwibawa dan ditakuti di seisi perusahaan kini telah berubah wujud menjadi seorang kakek yang begitu humble dan penyayang anak kecil.
Papa Wira hanya cekikikan melihat penampilannya. Semua benar-benar alami namun dia sangat menikmati masa-masa ini.
Sebab dulu saat Dion masih kecil papa Wira hampir tak pernah ada waktu untuknya. Dan sekarang dia ingin menebus saat-saat itu dengan cucunya.
Dan hal positif lainnya adalah kedekatan Dion dan Papa Wira yang sebelumnya bahkan bak batu besar saling berjauhan kini berubah menjadi sosok yang begitu dekat dan sering bercanda tawa.
"Syifa sayang, mulai sekarang nggak boleh capek-capek, harus bahagia terus biar dedek yang ada di dalam juga ikut bahagia. Mama akan selalu memastikan hal itu." Mama Rina menangkup kedua pipi Syifa dan mengecup keningnya.
Sungguh tak ada yang paling membahagiakan dari kasih sayang seorang ibu untuk anaknya.
...****************...
__ADS_1
hari ini bonus double up 🤭☺️