Dosenku Istriku

Dosenku Istriku
Bab 106 iri hati


__ADS_3

Dengan nafas tersengal Syifa menyenderkan tubuhnya di dinding kamar mandi. Dengan wajahnya yang sangat pucat Syifa mencoba berdiri mengais sisa-sisa tenaga dalam tubuhnya.


Kehamilannya kali ini terasa cukup berat berbeda dengan saat hamil Bella dulu. Jika biasanya morning sickness hanya terjadi pagi hari namun Syifa bisa sepanjang hari mual-mual.


Rasanya obat dan suplemen yang diberikan dokter untuk mengurangi rasa mual tak ada pengaruhnya. Dion sendiri sampai dibuat panik dan sedih dengan kondisi istrinya.


"Apa kita ganti dokter kandungan saja sayang, lihat kamu seperti ini nggak sanggup aku." sesal Dion.


"Ini kita sudah ganti dokter tiga kali mas, mungkin bawaan bayi emang begini." Syifa paham kekhawatiran Dion namun dia juga tak bisa berbuat banyak jika memang ini sudah jadi kehendaknya.


Dion pun meengangkat tubuh Syifa dan membaringkannya di atas ranjang. Dia menyingkap kaos yang dikenakan istrinya hingga menunjukkan perut mulusnya yang tampak masih langsing.


Diusap dan dikecupnya berkali-kali sambil menatapnya dengan prihatin.


"Anak papa yang ada di dalam sana. Jadi anak yang baik dong, kasihan mama bisa sakit nanti." ucap Dion lirih.


entah kenapa mendengar penuturan suaminya yang begitu menyayanginya membuat Syifa terharu. Bahkan saat merasakan air mata Dion yang jatuh di atas perutnya membuat hati Syifa semakin teriris.


"Maafkan aku sayang.. kamu tersiksa gara-gara aku, aku benar-benar bodoh tidak berpikir sejauh ini." gumam Dion tanpa memandang wajah istrinya.


Cepat-cepat Syifa meraih wajah Dion dan mengusap air matanya. Dion tak mungkin sampai menangis jika tidak benar-benar bersedih.


"Sayang, kenapa harus minta maaf, ini bukan salah kamu. Sudah aku katakan berkali-kali aku masih kuat sayang, memang kehamilan efeknya seperti ini karena perubahan hormon pada tubuhku. Dan dokter bilang kan kalau aku baik-baik saja."


"Mas jangan pernah merasa menyesal. ini adalah rezeki yang sudah kita tunggu-tunggu. Aku bahkan bahagia menjalani semua ini. Karena sesuatu yang terbaik tidak akan mudah didapat. Dan kelak jika baby ini lahir ke dunia akan berlipat rasa syukurku karena perjuangan ini." mendengar penuturan dari Syifa akhirnya Dion menjadi lebih tenang.


"Sayang, yang aku butuhkan saat ini adalah kamu, cukup dampingi dan selalu ada buatku itu sudah lebih dari cukup." Syifa mengecup lembut bibir Dion.


"Aku akan selalu ada untuk kamu sayang. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu." Janji Dion kepada Syifa.


Disaat keduanya saling menyalurkan kasih sayang tiba-tiba ponsel Syifa berdering. Rupanya itu panggilan video dari Papa Wira yang tak lain pasti permintaan dari Mama Rina.


Benar saja saat Syifa meggulir ikon hijau di layar ponselnya langsung terpampang wajah mama Rina.


"Halo, Assalamualaikum Ma.." ucap Syifa.


"Waalaikumsallam, Syifa sayang." jawab Mama Rina.


"Mama apa kabar? maafin Syifa ya ma belum bisa ikut jagain mama." sesal Syifa.


"Alhamdulillah Mama sudah baikan sayang. Mungkin besok sudah boleh pulang. Kamu kok pucat sekali apa masih suka maual?" tanya Mama Rina.


"Iya ma, mualnya makin parah. Nggak hanya pagi, siang dan malam kadang juga mual."

__ADS_1


"Yaampun sayang, kamu pasti berat melaluinya. Sabar ya nak Mama belum bisa bantu kamu. Pasti kerepotan di rumah sendiri." ujar Mama Rina.


"Mamaa.. mama itu nggak usah mikirin Syifa, sudah ada Mas Dion yang siap 24 jam merawatku. Mama fokus sama kesembuhan mama saja ya." Sungguh memiliki ibu mertua sebaik Mama Rina adalah sebuah anugerah terindah bagi Syifa.


Sementara itu Dion yang baru datang sambil membawa Bella pun membuat Mama Rina begitu senang. Celotehan Bella menjadi hiburan tersendiri untuknya. Bahkan wajahnya langsung berseri saat melihat Bella.


"Besok oma pulang sayang, udah nggak sabar ketemu kamu." ujar Mama Rina.


Sementara itu Hana yang sejak tadi berada di depan pintu ruangan perawatan Mama Rina hanya bisa meremas ujung bajunya.


Rasanya Hana begitu iri melihat perhatian Mama Rina kepada Syifa dan Bella. Apalagi sejak berita kehamilan Syifa seeolah kedua mertuanya itu semakin menyayangi dan fokus terhadap Syifa.


"Mama kelihatan begitu bahagia saat mengobrol dengan Syifa, bahkan dia masih memikirkan keadaan Syifa padahal dia sendiri masih sakit." batin Hana berkecil hati.


"Hana kenapa disitu? sini masuk." panggil Papa Wira yang kebetulan melihat Hans.


"Eh, iya pa." Hana pun masuk mendekati brankar mertuanya.


"Ma, Hana bawakan bubur untuk mama." Hana memberikan bubur yang sudah dia siapkan di sebuah mangkuk.


"Iya sayang taruh di nakas saja Mama belum pengen makan." Mama Rina tampak masih fokus mengobrol dengan Syifa dan Bella.


Tentu saja Hana merasa sedih pasalnya selama ini dia yang selalu merawat dan menemani ibu mertuanya tapi perhatiannya tetap kalah oleh Syifa.


Hingga keesokan harinya Mama Rina sudah diperbolehkan untuk pulang. Tentu saja dia begitu bahagia akhirnya bisa pulang ke rumah.


Hana sibuk mengemasi barang-barang sementara Shaka sedang mengurus administrasi. Papa Wira menemani Mama Rina yang sedang di periksa dokter untuk memastikan keadaannya benar-benar sudah membaik.


Sementara di rumah Dion dan Syifa mempersiapkan sambutan untuk kepulangan mamanya. Dia menyiapkan berbagai makanan kesukaan Mamanya, meski tak bisa merawatnya selama sakit setidaknya Syifa ingin memberikan perhatian untuk mama mertuanya.


Suara deru knalpot mobil sudah terdengar di halaman rumah. Dengan semangat Dion, Syifa dan Bella sudah menunggu di teras.


Benar saja Mama Rina baru saja turun dari mobil dengan kursi rodanya sementara Papa Wira mendorongnya dari belakang. Shaka dan Hana mengikuti mereka.


"Mamaa..." Syifa langsung berhambur memeluk Mama Rina.


Tentu saja Mama Rina menyambut pelukan Syifa dengan senang hati.


"Ma, maafin Syifa nggak bisa jagain mama, Syifa kangen banget sama Mama." Syifa terisak didalam pelukan Mama Rina.


"Sayang, mama juga kangen banget sama kamu. Mama sudah banyak yang jagain kok yang penting kamu jaga kondisi kamu. Bumil harus sehat-sehat ya." Dengan penuh kasih sayang Mama Rina mengusap lembut puncak kepala Syifa.


Hana yang menyaksikan hal itu dibuat semakin iri. Dia berpikir apakah jika dirinya juga hamil mama mertuanya juga akan memperhatikannya.

__ADS_1


Sampai di dalam rumah Mama Rina langsung diminta istirahat di kamar. Dion pun tampak membawa Bella ke dalam kamar Mamanya dan membiarkan nenek dan cucu itu melepas rindu.


"Yaampun sayang Oma kangen banget sama cucu kesayangan ini." Mama Rina tak henti-hentinya mengecupi Bella.


Setelah lama bermain dengan Bella kini Dion meminta mamanya untuk beristirahat. Dia membawa Bella keluar.


Suasana hati Hana yang kurang begitu baik nyatanya harus ditambah dengan ungkapan Shaka bahwa dirinya harus melakukan perjalanan bisnis ke Surabaya selama tiga hari. Ah, semakin tidak bersemangat rasanya.


"Apa tidak bisa ditunda perginya?" rengek Hana yang tengah merajuk.


"Nggak bisa sayang. Udah berulang kali aku harus menunda ini gara-gara kasus kemarin. Aku janji akan cepat pulang kalau urusannya selesai. Kamu sementara disini dulu ya, mama pasti butuh kamu." Shaka memegang kedua pundak Hana kemudian memeluknya dengan hangat.


"Cepat pulang." gumam Hana.


"Aku usahakan. Cantikku maaf ya.." Shaka mengecup bibir istrinya berusaha menghiburnya.


Setelah mengantar kepergian Shaka kini Hana kembali memasuki rumah. Biasanya dia begitu bersemangat berada di kediaman mertuanya ini namun entah kenapa rasanya kali ini berbeda.


Apalagi saat melihat Syifa yang sedari tadi tampak dekat dengan mama mertuanya menjadi semakin sebal.


Syifa tampak sibuk menyiapkan makan siang untuk Mama Rina di dapur. Kebetulan saat ini keadaannya lebih baik dan tidak mual sehingga bisa melakkukan aktifitas dengan baik. Bella kebetulan juga sedag tidur.


"Kamu ngapain?" tanya Hana.


"Oh, ini lagi buatin sup jagung kesukaan Mama, Han. Orangnya kan nggak suka bubur jadi aku buatin ini saja." Hana jadi teringat saat Mamanya tak kunjung memakan bubur dari Hana. Lalu siapa yang memakan buburnya?


"Em.. aku ke kamar mama dulu ya." Syifa mengulas senyum kepada Hana sebelum akhirnya dia pergi.


Hana hanya bisa terdiam, bahkan dia tak tahu makanan apa yang disukai mertuanya. Pantas saja Mama Rina lebih menyayangi Syifa.


Kini Hana hanya bisa pesimis akan perhatian dari mertuanya. Mungkin sudah nasibnya tak mendapatkan kasih sayang seorang ibu. Sejak kecil ibunya telah meninggal, ibu kandung suaminya bahkan juga membencinya. Ah, nasib macam apa ini.


Saat dirinya berjalan melewati kamar Mama Rina tak sengaja Hana mendengar suara heboh dari dalam. Karena penasaran dia pun masuk ke dalam.


Tampak wajah khawatir Mama Rina sementara terdengar suara Syifa tengah mual-mual di kamar mandi.


"Maaf ma. Niatnya Syifa mau nyuapi mama eh malah mual-mual lagi." Syifa baru saja keluar kamar mandi dan hendak mengambil mangkuk berisi sup itu lagi.


Namun tanpa di sangka Hana langsung merebutnya.


"Udah deh Fa, kamu ngak perlu repot-repot ngurus mama, biar aku yang melakukannya. Keadaanmu seperti itu yang ada malah makin bikin repot." ucap Hana dengan nada sedikit meninggi.


tentu saja hati Syifa langsung terasa mencelos mendengarnya.

__ADS_1


__ADS_2