
Ada keheningan sejenak yang sejatinya Syifa sedang memproses otaknya. Tenaga yang terkuras akibat mual muntah seharian ditambah lagi banyaknya pikiran dan penyesalan karena tak bisa membantu merawat Mama Rina.
Padahal dia sudah berniat jika sang mama mertua pulang dia bisa fokus merawatnya. Selama ini mamanya itu sudah sangat baik menerima dirinya dan juga sudah mengorbankan banyak waktunya merawat Bella yang sama sekali bukan siapa-siapanya.
Tentu Syifa memiliki hutang budi banyak sekali karena merawat anak kecil jelas tak mudah apalagi Bella yang mulai aktif-aktifnya.
Dan perkataan Hana itu, walau memang benar adanya namun membuat Syifa begitu sedih. Seolah itu adalah tamparan keras untuknya menunjukkan betapa tidak becusnya dirinya berada di rumah ini.
Dengan menahan tangis yang sejatinya ingin sekali meraung keluar Syifa mencoba tetap menguatkan diri apalagi di depan Mama Rina yang kondisinya masih belum stabil.
"M-Maaf, Hana.. kamu benar juga. Aku nggak bisa ngurus mama dengan benar. Jadi ku serahkan ini padamu saja, kalau begitu aku mau ke bawah dulu nengok Bella." pamit Syifa yanag langsung bergegas keluar kamar.
Dengan langkahnya yang terasa begitu berat Syifa harus pergi. Dia tahu Bella sedang tidur saat ini jadi dia langsung pergi ke kamarnya. Menutup rapat pintu kamarnya dan menghambur di atas ranjang.
Beruntung saat ini Dion sedang berada di luar untuk memantau cafe nya. Tangisnya pecah seketika. Mengutuki dirinya sendiri yang begitu lemah dan tak berguna. Tetes demi tetes air mata yang keluar terasa begitu menyakitkan. Apakah ini murni tangisan karena kesedihannya atau hanya perasaan sensitif seorang ibu hamil Syifa atak peduli.
Nyatanya perasaan ini sudah dia tahan-tahan sejak melihat Mama Rina tergolek pingsan di sampingnya. Saat itu Syifa yang panik langsung memanggil Dion dan Papa Wira. Ingin sekali dia ikut ke rumah sakit namun Dion melarangnya dengan alasan kesehatannya.
Rasa penyesalan itu terus bergulir hingga puncaknya hari ini. Syifa tahu betul kekesalan di wajah Hana, sahabat sekaligus kakak iparnya.
"Aku memang tidak berguna, aku hanya menyusahkan semua orang." gumam Syifa dalam tangisnya.
Sementara itu di kamar mama Rina tampak Hana menyuapi ibu mertuanya. Tampak sekali Mama Rina memakan masakan yang dibuat oleh syifa dengan begitu lahap.
Hana menghela nafasnya kasar, mungkin bukan saja karena perhatian karena hamil. Nyatanya Syifa memang sosok menantu ideal yang pandai mengambil hati orang tua. Hana jadi merasa bersalah sendiri.
"Mama sudah selesai makan, sekarang minum obat dan istirahat ya. Nanti kalau butuh apa-apa panggil saja Hana." ucap Hana kepada mertuanya.
Stelah itu Hana keluar kamar dan mendapati seisi rumah nampak sepi. Hana melirik ke arah kamar Syifa. Ingin sekali dia meminta maaf atas perkataan kasarnya tapi dia belum berani.
Alhasil dia pergi menuju kamar suaminya yang juga kamarnya. Rasa dilema mulai menghantuinya dan membuatnya semakin tidak nyaman.
"Andaikan kak Shaka ada di sini mungkin aku akan minta saran padanya.'' ujar Hana resah.
***
Syifa yang lelah menangis tak sadar akhirnya tertidur. Meski sebentar-sebentar dia masih terisak. Dion yang baru pulang pun merasa begitu kasihan terhadap istrinya.
Selama kehamilan ini rasanya sangat berat dijalani Syifa. Tapi tak ada yang bisa diperbuat olehnya. Dion hanya bisa berdoa semoga dirinya saja yang mengalami semua kesusahan itu.
Dia sering mendengar dan mencari tahu tentang kehamilan simpatik dimana rasa mual dan muntah itu dirasakan oleh sang suami, bahkan mengidam juga.
Dia pun akan siap jika hal itu yang mengalami dirinya sebagai bentuk tanggung jawab sebagai seorang suami. Tapi kembali lagi hal itu merupakan kuasa Tuhan.
__ADS_1
Hanya pelukan dan usapan lembut yang bisa Dion berikan sembari mengucapkan doa-doa dalam hati demi keselamatan dan kesehatan istri dan calon anaknya.
"Sayang, sudah pulang?"suara lirih itu bisa didengar Dion.
"Hmm.. bagaimana keadaanmu?" Dion mengecup lembut kening istrinya.
Syifa menatap suaminya sejenak. Tak mungkin dia menceritakan apa yang diucapkan Hana kepadanya. Yang ada nanti Dion akan marah dan hubungan keluarga itu menjadi tidak harmonis.
"Em, masih sedikit mual, tapi kalau dielus-elus begini mulanya sedikit hilang. Dedek lagi pengen manja sama Papanya mungkin." Syifa memegangi tangan Dion yang mengusap-usap perutnya
"Baiklah, aku akan mengusapnya setiap saat. Apapun yang kamu mau sayang." Sungguh perhatian yang diberikan Dion benar-benar membuatnya nyaman dan bahagia.
Syifa tak berhenti menatap sang suami yang begitu menyayanginya. Laki-laki yang tak pernah dia sangka menjadi pasangan hidupnya. Ternyata dengan segala sikap dan perhatiannya justru selalu membuatnya bahagia.
"Sayang, terimakasih." ucap Syifa.
"hmm.. sama-sama." jawab Dion.
"Terimakasih sudah mau jadi bagian hidupku." setetes air mata kembali keluar membasahi pipinya.
"Aku juga terimakasih, kamu sudah mewarnai hari-hariku, bu dosenku." Dion mengusap air mata Syifa.
Sebuah ciuman lembut mendarat di bibir Dion, begitu manis dan seolah tak ingin dia akhiri. Semua sentuhan tentang mereka nyatanya terasa begitu indah dan memabukkan. Tak peduli seberapa lama dirinya bersama nyatanya kedua insan itu begitu gila akan saling mencinta.
***
Hana yang sejatinya menyesali ucapannya pun ingin meminta maaf kepada syifa. Bagaimanpun dia tak boleh egois dan tentu saja dia sadar posisinya di rumah itu. Shaka hanya anak tiri Papa Wira.
"Syifa mana Dion?" tanya Papa Wira yang menunggu seluruh anggota keluarganya.
"Lagi di kamar Pa, Nggak mau turun mungkin masih nggak enk badan. Dion ijin temani Syifa makan di atas aja ya Pa." pamit Dion.
"Ya sudah, kamu temani istrimu biar bibi siapkan makan buat kalian." Kini tinggal Hana dan Papa Wira saja yang tinggal di meja makan karena Mama Rina juga belum diperbolehkan banyak bergerak.
Keduanya makan dalam keheningan, Namun Papa Wira bisa menangkap raut kesedihan di wajah Hana. Apa lagi saat tadi Dion mengatakan bahwa Syifa tak ingin keluar kamar.
"Hana makan yang banyak ya, jangan sungkan ini rumah kamu juga." Papa Wira mencoba mencairkan suasana.
"i-iya pa.." jawab Hana canggung.
" Kalau kamu capek istirahat saja, biar Papa yang urus mamamu. Sudah berhari-hari kamu sibuk bolak balik rumah sakit." ujar Papa Wira lagi.
"Iya pa.." Hana yang diliputi perasaan bersalah hanya bisa menjawab seadanya.
__ADS_1
Dia semakin bersalah telah menaruh rasa iri kepada Syifa padahal kedua mertuanya itu nyatanya juga begitu perhatian kepadanya.
Sampai akhirnya selesai makan malam Hana langsung bergegas ke kamarnya. Dia begitu sedih dan menyesali perbuatannya.
"Kenapa denganku? kenapa aku jadi egois begini? sudah jelas-jelas Syifa sedang dalam kondisi kurang baik justru aku menyakiti perasaannya. Diterima di keluarga ini saja aku harusnya sudah bersyukur tapi kenapa tiba-tiba aku jadi serakah? aku harus minta maaf pada Syifa, tapi bagaimana kalau dia tak mau memaafkan aku? Bagaimana kalau Dion juga membenciku? Ya Tuhan aku benar-benar bingung.." Hana bermonolog sendiri.
Sementara di tempat lain tampak Papa Wira sedang menyuapi mama Rina. Namun perhatiannya tak teralihkan pada kedua menantunya. Penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi.
"Ma, Papa boleh tanya?"
"Iya ada apa Pa?"
"Apa kedua menantu kita habis ribut?" Papa Wira yang memang selalu memiliki kepekaan lebih pun langsung menanyakan maksudnya.
Mama Rina tampak berpikir sejenak kemudian mengingat kejadian siang tadi.
"Bukan ribut, hanya sedikit ada pembicaraan kurang baik." Akhirnya Mama Rina menceritakan kejadian siang tadi kepada Papa Wira.
"Ma, Papa nggak menyalahkan Mama. Papa tahu Mama sayang mereka, tapi akhir-akhir ini mama memang lebih perhatian kepada Syifa karena dia sedang hamil. Mama juga sebentar-sebentar selalu menanyakan keadaan Syifa padahal ada Hana yang selalu mengurusi mama di rumah sakit. Mungkin dengan sikap Mama itu Hana jadi berkecil hati. Apa lagi Hana yang belum hamil mungkin membuatnya semakin minder. Boleh mama mengkhawatirkan Syifa tapi mama juga ingat ada Hana yang sudah merawat mama. KIta sama-sama hargai perasaan mereka ya ma.." mendengar penuturan suaminya membuat Mama Rina sadar.
"Iya juga ya Pa, Mama hanya terbiasa sama Syifa jadi nggak sadar kalau sudah menyakiti Hana." sesal Mama Rina.
"Baiklah kalau begitu semoga mereka akur kembali." Ucap Papa Wira yang langsung diaminkan Mama Rina.
****
Keesokan harinya seperti biasa Hana yang menyiapkan sarapan dan menyuapi ibu mertuanya. Namun kali ini rasanya tak seperti biasanya. Hana masih diliputi rasa bersalah kepada syifa sedang dirinya belum bertemu dan minta maf kepada Syifa.
"Kamu kenapa sayang?" tanya Mama Rina saat melihat Hana tengah melamun.
"Nggak apa-apa ma." jawab Hana.
"Kalau ada apa-apa boleh kok cerita sama Mama." Mama Rina mengulas senyumnya.
"Ma.. apa ucapan Hana kemarin kepada Syifa terlalu jahat ya? Hana benar-benar menyesal." Hana kini mencoba jujur.
Mama Rina pun meraih tangan Hana dan menggenggamnya lembut.
"Sayang, setiap manusia itu pati pernah melakukan kesalahan maupun kekhilafan tapi selama kita cepat menyadari dan meminta maaf itu akan bagus. Sebenarnya sikap kamu juga karena mama. Maaf mama kurang perhatikan kamu padahal kamu yang sudah merawat mama selama sakit. Maafkan Mama ya nak, dan mama ucapkan terimakasih banyak sudah merawat mama. Baik kamu maupun Syifa sama-sama kesayangan mama. Jadi jangan pernah berkecil hati." penuturan Mama Rina langsung diangguki oleh Hana.
Dan kini dia harus yakin dan bertekad untuk meminta maaf dan memperbaiki hubungannya dengan Syifa.
...****************...
__ADS_1