Dosenku Istriku

Dosenku Istriku
Bab 118 tindakan tak terduga


__ADS_3

Acara pemakaman berlangsung dengan suasana duka. Syifa yang sedari tadi terus menggenggam erat tangan Dion sementara suaminya itu turut menggendong Bella. Tak ada ekspresi berarti, dalam hati Syifa memang masih terkejut memang apalagi sebelumnya tadi dia sempat melihat bagaimana keadaan Rangga. Sungguh sangat prihatin dan mengenaskan. Namun apakah itu mungkin balasan atas perbuatannya selama ini? entahlah Syifa tak berani menyimpulkan. Biar itu menjadi urusannya dengan sang Kuasa.


Selesai dimakamkan kini Syifa dan Dion berjalan untuk kembali menuju mobil. Bella yang bosan digendong memilih untuk berjalan sendiri sambil tangan kecilnya menggandeng Syifa.


Namun tiba-tiba saja seseorang dengan cepat meraih tubuh Bella. Jelas tindakan tiba-tiba itu langsung membuat Bella menjerit terkejut. Apalagi Syifa dan Dion juga ikut terkejut.


"Ini cucuku, anaknya Rangga kan? biar dia bersamaku." Seorang wanita paruh baya yang tiba-tiba meraih Bella tampak mendekapnya dengan erat.


"Papaaaa.... Mommyy..." Tentu saja Bella yang merasa diraih oleh orang asing langsung memekik.


"Buu.. " Syifa tak terima dengan sikap mantan mertuanya itu yang asal ambil putrinya. Syifa langsung berusaha mengambil alih Bella.


"Dia cucuku Syifa, biar dia bersamaku. Aku berhak atas anak ini." wanita itu terus bersikeras.


Sementara Bella sudah meronta sekuat tenaga dengan tangisnya yang penuh ketakutan.


"BUU.. TOLONG HENTIKAN." Dion yang tak terima langsung berteriak tegas.


Syifa yang tak mau terjadi sesuatu dengan Bella sekuat tenaga mendekati mantan mertuanya untuk mengambil alih Bella. Namun dengan sekuat tenaga ibu Rangga justru menendang Syifa hingga dia terjengkang. Beruntung dengan sigap Dion langsung menangkapnya.


"Sayang kamu nggak apa-apa?" tanya Dion panik.


"Mas.. Bella.." Syifa seolah tak peduli dengan dirinya sendiri. Yang ada di pikirannya hanya Bella.


Sementara wanita paruh baya itu berusaha membawa pergi Bella langsung terhenti saat seseorang menghadangnya.


"Mona, mau apa kamu?" ibu Rangga melotot menatap Mona yang mencekal dirinya.


"Bu, tolong lepaskan anak ini. Dia ketakutan." cegah Mona.


"Diam kamu nggak usah ikut campur." ucap Ibu Rangga sengit.


Para pelayat yang melihat kehebohan itu langsung berkumpul menyaksikan keributan tersebut. Namun ibu Rangga yang seolah tak peduli dengan pandangan orang-orang terus berusaha kabur membawa Bella.

__ADS_1


"Papaaa.. akuttt.. paapaa.. akuuutt..." Bella terus meronta sambil berteriak histeris.


Dengan cepat Dion menghampiri wanita paruh baya tersebut dan dengan sekali tarikan langsung meraih tubuh Bella dari gendongannya.


"Papaa.. Ella akut.. Hiks.." Bella langsung memeluk leher Dion dengan erat sambil menyembunyikan wajahnya.


Dion bahkan merasakan gemetar tubuh putrinya yang tampak ketakutan. Isak tangisnya terdengar sangat pilu membuat Dion benar-benar teriris hatinya.


"Jangan takut sayang. Ada Papa.. sudah ya jangan takut ini sama papa kok." Dion berusaha menenangkan Bella agar bidadari kecilnya tersebut tak lagi ketakutan.


Saat mantan mertuanya itu hendak mendekat kembali cepat-cepat Syifa menghadangnya. Tak peduli bahwa perutnya sekarang terasa kram. Baginya tindakan wanita paruh baya itu terlalu berlebihan.


"Cukup Bu.. bukan seperti itu caranya membawa anak kecil. Dia ketakutan apa ibu tidak lihat?" Syifa dengan tatapan nyalangnya memperingati sang mantan mertua.


"Tapi dia cucuku, dia anak Rangga dan aku berhak atas anak itu." ucap Ibu Rangga.


"Hah, cucu ibu bilang? setelah sekian lama baru ibu mengakui bahwa dia cucu anda? Bu.. kemana saja anda selama ini? dimana anda saat saya kesusahan hamill besar? dimana anda saat saya melewati rasa sakit sendirian melahirkan sementara anak ibu sibuk berc umbu dengan wanita lain? dimana anda saat saya harus banting tulang sendiri membesarkannya. Anak ini ibu bilang? dia punya nama Bu.. tapi sungguh jika anda neneknya memang anda tahu siapa nama cucu anda? tidak kan?" Syifa yang sudah tak tahan dengan sikap mantan mertuanya pun langsung meluapkan semua rasa sakit yang selama ini dia tahan sendirian.


Rasanya ribuan caci maki yang bersarang di dalam hatinya tak akan habis untuk dia lontarkan kepada mantan mertuanya itu. Namun rasa kencang dan mencengkeram yang semakin terasa di perutnya tak dapat dia tahan.


"Akh.." Syifa memegangi perutnya dengan keringat dingin mengucur di pelipisnya.


"Sayang." Cepat-cepat Dion menghampiri istrinya namun gerakannya terbatas karena harus menggendong Bella. Apalagi Bella yang masih menangis memeluk erat leher Dion membuatnya semakin sulit bergerak. Beruntung ada seorang wanita menolong Syifa.


"Syifa kamu nggak apa-apa?" Wanita itu menahan tubuh Syifa.


"Clarisa..". Syifa masih bisa mengenali sosok yang membantunya. Meski dengan menahan sakit dia tahu bahwa wanita itu merupakan sepupu Rangga. Satu-satunya anggota keluarga Rangga yang bersikap baik padanya.


"Kita bawa ke rumah sakit ya." Wanita bernama Clarisa itu menatap Dion sekilas untuk meminta ijin. Dion hanya mengangguk. Kemudian tak berselang lama seorang laki-laki turut membantu Clarisa.


Sampai di mobil Syifa dibantu Clarissa duduk di kursi belakang sementara Dion yang menggendong Bella duduk di samping Syifa. Masih sedikit bingung dengan dua orang asing yang tiba-tiba menolongnya.


"Maaf Mas saya sepupunya kak Rangga. Ijinkan kami membantu Syifa ya. Dan ini suami saya." Clarisa langsung berucap karena melihat ekspresi kebingungan Dion.

__ADS_1


Dion hanya mengangguk. Fokusnya kini kepada istri dan anaknya. Dion mengusap lembut kepala Syifa yang tengah merintih memegangi perutnya sementara Bella yang tampaknya sudah tertidur di pelukan Dion berkali-kali masih sesenggukan. Sungguh situasi yang membuat Dion sangat kacau.


Tak sampai tiga puluh menit mereka sampai di rumah akit terdekat. Clarissa dengan cepat menghampiri perawat agar segera membantu Syifa.


Perawat tersebut membantu Syifa dn membawanya ke IGD untuk mendapatkan perawatan. Di luar Dion yang masih setia mendekap erat putrinya terus menunjukkan raut gelisah. Berulang kali dia mengusap serta menciumi wajah sendu putrinya. Mengingat kejadian tadi membuatnya benar-benar tak habis pikir.


Sementara Clarisa dan suaminya tampak kagum melihat bagaimana sayangnya Dion kepada Bella. Dia tahu betul bagaimana masa lalu Syifa yang tak pernah diperlakukan baik oleh Rangga. Ada rasa lega juga bersyukur akhirnya Syifa mendapatkan sosok pria yang tepat menyayanginya juga anaknya.


"Mas yang sabar ya, pasti istri Mas akan baik-baik saja." Beni, suami dari Clarisa berusaha memulai pembicaraan.


"Terimakasih, maaf sudah merepotkan kalian." ucap Dion akhirnya.


"Sama sekali tidak merasa di repotkan Mas, justru kami minta maaf karena ulah budhe membuat Syifa dan Bella jadi begini." Sesal Clarissa.


Dion terdiam. Jujur saja dia sangat kesal karena ulah mantan mertua istrinya tersebut. Jika tak mengingat dia seorang wanita mungkin dion sudah menghajarnya sampai babak belur. Diam-diam Dion menahan emosinya dengan mengepalkan tangannya.


Clarisa dan Beni tampak semakin merasa bersalah, namun dokter tiba-tiba datang memecah ketegangan mereka.


"Wali dari pasien ibu Syifa?" ucap dokter


"Saya suaminya dokter." Dion langsung berdiri menghampiri dokter.


"Keadaan pasien baik-baik saja. Hanya kram pada perutnya disebabkan karena peningkatan aliran darah pada rahim. Diusahakan ibu hamil untuk tidak melakukan aktifitas spontan juga jangan stres." ujar Dokter sembari memberikan resep obat.


"Terimakasih dokter." ucap Dion.


Clarisa pun memberi kesempatan Dion untuk bertemu dengan istrinya. Dia meminta ijin menggendong BElla agar tak mengganggu aktivitasnya.


Di dalam ruangan IGD Syifa yang masih berbaring di atas brankar langsung berhambur memeluk Dion. Dia menangis terisak dalam pelukan suaminya, tak peduli lagi dengan adanya perawat yang sedang berjaga.


"Jangan takut, ada aku. Semua akan baik-baik saja. Aku akan selalu menjaga kalian." Dion terus mengecup dan memeluk istrinya dengan erat.


Teman-teman pembaca terkasih. Mohon maaf sebesar-besarnya atas ketidaknyamanan. Atas keteledoran author dalam memposting Bab. Author hanya manusia biasa tak luput dari kesalahan dan kekeliruan. semoga dimaafkan ya... 😁😁

__ADS_1


__ADS_2