
Malam itu tepat tiga hari Luna tinggal di kediaman Rangga. Pria itu tak pernah menunjukkan gelagat aneh namun saat Luna selesai makan malam Rangga memberinya sebuah orang juice.
Tanpa curiga Luna langsung meminumnya. Tak berselang lama Luna merasakan tubuhnya mulai panas dan terasa sensasi aneh. Luna tidak mengerti jika ternyata Rangga mencampur obat per angsang ke dalam minuman tersebut.
Jebakan pertama Rangga berhasil. Pria itu tengah meminum alkohol di ruang kerjanya tiba-tiba dihampiri Luna.
"Rangga. Tolong aku.. Aku merasa tidak enak badan." Luna berusaha minta bantuan Rangga.
Tentu saja Rangga merasa senang dengan rencananya yang berhasil. Rangga membawa Luna ke sebuah kamar yang berada tepat di samping kamar Mona.
Dengan segala bujuk rayu akhirnya Luna jatuh ke dalam perangkap biadab pria itu. Bahkan Gara-gara obat itu Luna terpaksa melepas mahkota keperawanannya untuk Rangga.
Suara-suara des ahan dan Len guhan terus terdengar oleh telinga Mona. Hati wanita mana yang tak hancur mendengar suaminya yang berkhianat dengan wanita lain.
Namun Mona tak bisa berbuat banyak. Rangga masih menyekapnya didalam kamar. Dan hal itu pula membuatnya teringat akan masa lalu.
Dulu Syifa juga merasakan hal yang sama. Dia di sekap didalam kamar oleh Rangga sementara suaminya sedang asyik bercumbu dengan dirinya.
Sepertinya Karma kini telah menghampirinya. Hanya tangis pilu dan penyesalan yang dia rasakan.
Luna yang sadar dijebak oleh Rangga pun begitu marah dan kecewa. Tapi saat dia hendak kabur rupanya Rangga mengancam akan menyebarkan video perbuatan tak senonoh mereka.
"Kau tau aku mengeluarkan benihku di dalam rahimmu. Selain kau akan malu karena video tersebut maka kemungkinan kau juga akan hamil." ucap Rangga dengan seringainya.
"Kau pria brengsek Rangga. Atau jangan-jangan selama ini kaulah yang kurang ajar bukan Syifa?" Luna baru sadar.
"Terserah apa penilaianmu. Satu hal yang pasti jika kau tak menuruti rencanaku maka kau akan rugi sendiri." ujar Rangga.
"Tapi kau harus tanggung jawab. Kau harus menikahiku." Luna mengotot.
"Menikah? Maafkan aku tapi aku sudah punya istri." tolak Rangga.
"Apa? Kau pasti bohong. Itu alasanmu saja kan?"
Akhirnya mau tak mau Rangga mengeluarkan Mona dari kamarnya. Sebelum itu Rangga memaksa Mona untuk berpenampilan semenarik mungkin dan tak terlihat jika barus aja disekap.
Luna begitu hancur ketika mengetahui Rangga sudah memiliki seorang istri. Hanya tangis penyesalan yang bisa dilakukannya.
Sementara Mona kini bisa bebas dari sekapan Rangga namun dengan syarat dirinya dilarang berbicara ataupun menemui Luna. Dan juga Mona harus mau ikut andil dalam kerja sama tersebut. Meski sebagai sesama wanita Mona tentu merasa kasihan terhadap Luna. Tapi Mona terlalu naif dan takut akan perintah Rangga.
__ADS_1
"Lalu aku harus apa? Kau mau menjalankan rencana bagaimana?" ucap Luna frustasi.
"Kau menginginkan Dion bukan? Maka ambillah pria itu dan aku hanya butuh putriku Bella." ucap Rangga.
Luna sedikit bingung dengan rencana Rangga. Namun pria itu mulai menjelaskan dengan detail.
"Kau paham kan?" tanya Rangga.
"hmm.. Tapi sulit mengambil ponsel Syifa. Aku tak yakin bisa melakukannya." ujar Luna.
"Aku tidak mau tau. Kau harus bisa melakukannya." bentak Rangga.
"Kamu yakin mau menjebak mereka dengan cara ini? Rangga aku takut. Bagaimana kalau ini gagal dan benih di rahim aku benar-benar jadi anak?"
Akhirnya Luna pun memiliki ide. Dia menyamar sebagai OB di kampus tempat Syifa bekerja.
Luna diam-diam masuk ke dalam ruangan dosen dimana meja Syifa berada. Dia pura-pura meletakkan barang salah satu meja dosen kemudian dengan gerakan cepat Luna mengambil ponsel Syifa yang kebetulan berada di atas meja.
"Demi masa depanku. Maafkan aku Syifa tapi aku mau Dion menjadi milikku." sesal Luna dalam hati.
...****************...
"Mama sama papa kemana? Kok rapi bener?"
"Papa ada acara di Bandung. Mungkin menginap dan pulang besok sore. Nggak apa-apa kan kamu dirumah jaga Bella dulu?" ucap Papa Wira.
"Iya lah Pa, pasti aku jagain Bella." setelah itu kedua orang tua Dion berpamitan. Tinggal mereka bertiga di rumah.
Dion hendak menghubungi Syifa namun rupanya Syifa lebih dulu mengiriminya pesan.
"Sayang, aku ingin kita makan malam di luar bersamamu dan juga Bella. Aku sudah menyiapkan semuanya. Kita bertemu di hotel Z nomor 115 ya. Love you"
Selain pesan singkat Syifa juga mengirim foto sebuah kamar hotel yang berhiaskan hamparan kelopak mawar.
"Hah, istri nakalku benar-benar..." Dion tak melanjutkan ucapannya namun dia langsung bersiap dan mengganti pakaian Bella.
"Mbak, aku ajak Bella pergi ya. Syifa mengajakku dinner di luar dan mungkin kami akan menginap." ujar Dion dengan semangat.
Setelah bersiap kini Dion mengajak Bella menuju tempat dimana pesan itu menyebutkan.
__ADS_1
Tak ada keraguan sebab Syifa sendiri yang mengirimi pesan. Meski agak heran karena Syifa memilih lokasi hotel yang berada di pinggiran kota.
Sampai didepan kamar hotel tersebut Dion hendak mengetuk pintu namun sebuah pesan dari Syifa masuk dan menyuruhnya langsung membuka pintu karena tidak terkunci.
Tentu saja dengan semangat Dion langsung membuka pintu itu.
"Sayang, aku sudah datang bersama Bella. Kau benar-benar pandai membuat kejutan. Jadi nggak sabar buat gemas-gemas kamu." ujar Dion dengan penuh semangat.
Dion melihat sebuah ranjang bertabur kelopak mawar begitu indah. Seorang wanita memakai pakaian minim duduk di tepi ranjang membelakangi pintu.
"Sayang, sejak kapan rambut kamu makin panjang?" Dion sedikit heran sebab rambut Syifa tak sepanjang itu.
Wanita itu menoleh dan Dion sangat terkejut.
"Luna?" Dion terbelalak melihat Luna bukan istrinya.
"Hai Kak Dion.. Lama kita nggak ketemu." sapa Luna dengan senyum manisnya.
"Dimana istriku. Kenapa kau yang ada di sini?" Dion langsung panik takut terjadi sesuatu dengan Syifa.
"Hmm.. Dia nggak ada. Tapi ponselnya ada padaku." Luna menunjukkan ponsel milik Syifa.
"Kau.. Kau jangan macam-macam Luna." Emosi Dion langsung meningkat. Apalagi saat ini dia sedang mengajak Bella.
Saat Dion hendak mendekati Luna tiba-tiba seseorang membekap mulut dan hidung Dion hingga membuatnya perlahan mulai kehilangan kesadaran.
Sementara Luna langsung meraih Bella dari gendongan Dion.
"Ini kau urus Bella. Sekarang aku akan membantu Luna melakukan aksinya. Pastikan kau melakukannya dengan benar jika kau ingin memiliki Dion seutuhnya."Ujar Rangga.
Bella diserahkan kepada Mona. Sementara Rangga dan Luna membawa Dion ke aras ranjang. Sebelum kesadaran Dion benar-benar menghilang Rangga langsung mencekokan sebuah cairan ke mulut Dion.
"kau beri apa itu?" Luna terkejut dan hendak melarang Rangga.
"Tenang saja. Ini akan memudahkan mu melakukannya. Kau pun sepertinya juga sudah pernah meminum ini." ujar Rangga sambil menyeringai.
Luna meraih botol tersebut dan membaca keterangannya.
"Apa? Obat per angsang?"
__ADS_1
...****************...