
Lulus SMA di usia 16 tahun melalui jalur akselerasi. Menyelesaikan pendidikan S1 saat umur 20 tahun, menyelesaikan pendidikan S2 di usia 23 tahun serta menyelesaikan pendidikan S3 dengan gelar profesor di usia 25 tahun merupakan pencapaian luar biasa seorang Asyifa Nadira.
Meskipun sejak kecil dirinya sering kali ditinggal kedua orang tuanya namun tak membuat Syifa berkecil hati. Justru dengan rasa kesepiannya itu dia lampiaskan untuk belajar dan menuntut ilmu setinggi-tingginya.
Dengan prestasi luar biasa itu tentu saja membuat banyak orang tertarik kepadanya. Apalagi dengan wajah cantik serta sikapnya yang begitu anggun dan mandiri.
Hal itu pula yang membuat seorang Shaka Alfredo jatuh cinta kepadanya. Sama-sama menempuh pendidikan di Amerika saat itu Shaka menjadi kakak kelas satu tingkat diatas Syifa.
Namun kejeniusan Syifa akhirnya berhasil mengungguli Shaka yang hanya berhenti sampai S2.
Merajut cinta selama setahun dengan Shaka nyatanya tak membuat hubungan keduanya berhasil. Shaka begitu disibukkan dengan bisnisnya sementara Syifa masih fokus mengejar gelar profesor.
Namun begitu Shaka tak pernah sekalipun berkurang rasa cintanya. Meski pada akhirnya dia harus patah hati dengan berita pernikahan Syifa dengan seorang pria bernama Rangga.
Kini setelah sekian lama Shaka kembali mendengar kabar bahwa pernikahan Syifa dan Rangga telah berakhir sehingga dengan tekad yang kuat Shaka ingin kembali merajut cinta yang sempat terpisah itu.
...****************...
"Sayang kenapa itu dengan pipi kamu? Kok merah?" Dion mengusap lembut pipi Syifa.
"Ah, ini. Nggak apa-apa Mas cuma tadi nggak fokus jalan terus kebentur pintu." Syifa sengaja berbohong.
"beneran nggak bohong?" selidik Dion.
"Bener sayang, udah ah perkara gini aja nggak usah khawatir. Aku nggak apa-apa." Syifa berusaha mengelak.
"Huft, dasar pintu biadab. Bisa-bisanya bikin wajah cantik istriku sakit." Dion mengusap kemudian mengecup pipi Syifa dengan begitu pelan.
Meski tindakan Dion terkesan berlebihan namun justru hal ini yang paling disukai Syifa. Karena sedari dulu tak pernah merasa dimanjakan begini.
"hahaha mana ada pintu yang biadab. Akunya aja yang kurang hati-hati sayang." Syifa pun membalas kecupan Dion. Namun kali ini kecupannya bukan di pipi melainkan di bibir. Lama kelamaan kecupan itu berubah menjadi lum atan yang meng gairahkan.
"hmm.. Jangan mancing deh sayang. Kamu tega biarin suamimu ini menegang tanpa pelampiasan. Mana harus puasa enam hari lagi." gerutu Dion.
Syifa pun langsung terkekeh. Dia memang sangat senang menggoda suaminya itu.
"kan istrimu ini punya sejuta cara buat memuaskan suami. Jangan khawatir sayang." Syifa mengedipkan salah satu matanya kepada Dion.
"dasar ya kalau urusan menggoda paling bisa. Tapi memang istriku ini paling terbaik. Makanya aku pengen gemes-gemes terus." Dion mengapit dagu Syifa dan kembali mencium bibirnya.
__ADS_1
Dua pasangan yang sedang dimabuk asmara itu pun sibuk saling menc umbu meski sekarang mobil mereka masih berada di parkiran kampus. Untung saja kaca mobil Dion tak tembus pandang sehingga tak terlalu menimbulkan kecurigaan.
"udah ah, pulang yuk pasti Bella nungguin." ujar Dion setelah puas menc umbui Syifa.
"Ayuk Mas,"
Mobil pun kini melaju membelah jalanan ibukota. Untung saja kepulangan Syifa ini lebih awal sehingga tak terlalu terkena macet.
Sampai di kediamannya Syifa pun turun lebih dahulu sementara Dion memasukkan mobil ke dalam garasi.
Saat baru saja memasuki rumah langkahnya pun terhenti. Syifa sangat terkejut saat melihat sosok pria yang tengah berdiri di depannya.
"Syifa." ucap Pria itu.
"K-kak Shaka." Balas Syifa dengan sedikit gagap.
Selanjutnya tak ada sahutan apapun dari keduanya. Saling memandang wajah masing-masing seolah menyelami kenangan di masa lalu.
Shaka benar-benar tak menyangka melihat Syifa di depan matanya saat ini merasa dirinya seolah sedang bermimpi.
Dia begitu merindukan sosok wanita yang menjadi tujuannya pulang. Wanita yang terus ada di dalam hatinya. Seolah rasa haru dan bahagia berkumpul jadi satu.
"Syifa, sudah pulang kamu nak?" tanya Papa Wira.
"Iya Pa, Tadi selesai bimbingan skripsi Syifa langsung pulang." jawab Syifa.
Shaka sempat bertanya-tanya kenapa Syifa mengatakan pulang. Apa mungkin dia tinggal di rumah ini. Shaka yang sibuk berpikir pun langsung mendapatkan jawaban dari Papa Wira.
"Oh iya Syifa. Kenalkan ini Shaka kakaknya Dion. Dan Shaka, ini Syifa istrinya Dion. Adik ipar kamu."
DEEGGG..!!!!
Bak petir menyambar tepat di atas kepala Shaka. Perkataan Papanya tentang siapa Syifa tentu saja membuatnya sangat terkejut dan tak percaya.
"B-bagaimana bisa Syifa.." belum sempat Shaka melanjutkan ucapannya kini di depannya sudah ada Dion.
"Sayang, HP kamu ketinggalan di mobil." Dion datang-datang langsung merangkul Syifa.
"Kak Shaka, kakak pulang. Sejak kapan?" Dion berusaha menyapa Shaka dengan ramah. Meskipun ada keraguan di dalam hatinya.
__ADS_1
"Baru saja." jawab Shaka ketus.
"Oh ya Kak, kenalin ini istriku Syifa. Maaf waktu itu pernikahan kami mendadak jadi nggak sempat kabari Kakak." Dion tampak menyunggingkan senyum yang dipaksakan.
Shaka tampak cuek dan sesekali menatap Syifa. Sementara Syifa sejak tadi hanya bisa diam kikuk. Bingung harus bersikap bagaimana.
"Pak Adi. Bawain barang aku ke kamar." ucap Shaka kepada asistennya. Bahkan Shaka tampak mengabaikan Dion.
Sementara Dion hanya bisa diam namun sebenarnya kedua tangannya sudah mengepal dengan keras. Seolah menyembunyikan sebuah luka dalam hatinya.
Saat Shaka hendak menuju kamarnya tiba-tiba fokusnya teralihkan saat melihat anak kecil yang sedang bermain di ruang keluarga. Tampak juga Mama Rina yang langsung menyambut Shaka.
"Shaka, kamu sudah kembali sayang."mama Rina berusaha menghampiri Shaka namun pria itu justru malah berjalan pergi begitu saja. Seolah tak menganggap kehadiran Mama Rina.
Sementara Dion dan Syifa masih di ruang tamu. Papa Wira pun tampak menyadari perubahan suasana hati Dion. Dia segera mengambil tindakan sebelum Dion melakukan hal yang tak diinginkan.
"Syifa, Dion ayo masuk. Istirahatlah pasti kalian capek." ujar Papa Wira.
"Iya Pa." ujar Syifa.
"Ayo mas kita ke dalam." ujar Syifa langsung menggandeng tangan Dion.
Syifa dan Dion pun berjalan beriringan menuju kamar. Belum sempat mereka sampai kamar rupanya suara panggilan yang tak bisa mereka hindari pun datang.
"Paaa.... " Suara nyaring dari Bella ditambah bocah itu yang tiba-tiba berdiri sendiri dan berjalan menghampiri Dion dan Syifa.
"Loh, Bella. Kamu sudah bisa jalan sendiri sayang?" Dion dengan cepat langsung berjalan mendekati Bella dan merentangkan kedua tangannya. Hingga Bella akhirnya langsung berhambur ke pelukannya.
"Anak pinter, anak hebat sudah bisa jalan sendiri sayang?" Syifa pun ikut menghampiri mereka dan menciumi Bella.
Sebuah pemandangan yang begitu indah untuk dilewatkan. Bocah kecil itu nampak sangat antusias dengan kedua orang tuanya.
Terlebih kepada Dion yang meskipun bukan ayah kandungnya namun bocah itu malah menganggap bahwa Papanya itu adalah orang paling dekat dengannya setelah Syifa.
Tanpa disangka ada sepasang mata yang sejak tadi mengamati mereka dengan perasaan campur aduk di dalam hatinya.
Shaka yang berdiri di ujung tangga hanya bisa mengepalkan kedua tangannya dengan begitu erat sampai buku-buku jarinya memutih.
"Kau rebut perhatian Papa dariku. Kau rebut posisiku di rumah ini. Dan sekarang kau rebut pujaan hatiku. Benar-benar kau tak tahu diri Dion." Batin Shaka.
__ADS_1
...****************...