
Dion kini harus benar-benar bisa membagi waktu. Karena saat ini dia mulai kembali kuliah. Sementara dia juga harus belajar mengenai perusahaan. Dan pastinya tetap meluangkan waktunya untuk keluarga.
Papa Wira yang merupakan CEO sudah mantap untuk menjadikan Dion sebagai kandidat direktur utama di perusahaannya. Dia yakin bahwa dengan terus belajar Dion akan mampu menghandle perusahaan.
Tentu saja hal itu juga membuat Shaka semakin geram. Selama ini dialah kandidat tunggal di posisi itu. Bahkan semua dewan direksi di perusahaan tersebut sudah mendukung langkah Shaka yang dianggap mumpuni dalam memimpin perusahaan.
Dion pun sadar diri. Bersaing dengan Shaka adalah hal yang cukup berat. Kakaknya itu memang memiliki pengalaman besar di bidang ini. Bahkan pendidikannya yang tinggi tentu berbeda jauh dengan dirinya tang kuliah saja tak kunjung lulus.
Berkali-kali Dion menghela nafas memandangi berkas-berkas yang ada di hadapannya.
"Gimana? Susah ya?" suara lembut itu menyadarkan Dion.
"Nggak yakin aku sayang. Permintaan Papa ini agaknya sedikit berat. Skripsi saja aku nggak selesai-selesai. Ini malah diminta jadi kandidat direktur." terdengar helaan nafas Dion yang tampak berat.
"Dicoba dulu. Yang penting adalah keyakinan kamu sayang. Tapi kembali lagi dengan hatimu. Sekiranya itu membuatmu nyaman ya jalani. Jika tidak maka tak perlu dipaksakan." Syifa kini meraih kedua pipi Dion dan mengusapnya lembut.
"Hmm.. Aku tidak ingin mengecewakan Papa. Tapi di satu sisi aku tahu Kak Shaka sangat menginginkan posisi ini. Bersaing dengan saudara sendiri rasanya tidak enak." gumam Dion. Apalagi persaingannya bukan hanya posisi di perusahaan. Dion harus bersaing mempertahankan cinta Syifa.
"aku tahu, jika nanti keputusannya sudah di tentukan kamu harus menerimanya. Menang kalah sudah biasa yang penting sudah berusaha."
Dion memandang wajah istrinya yang tampaknya semakin hari semakin cantik. Kemudian dia menggenggam erat tangan Syifa.
"Sayang.." panggil Dion.
"Iya?" jawab Syifa pelan.
"Kalau aku gagal jadi direktur apa kamu akan kecewa? Apa kamu akan marah?" pertanyaan ini sebenarnya sudah mengganjal di hati Dion sejak beberapa hari ini tapi baru berani dia ungkapkan sekarang.
"Kenapa harus kecewa? Kenapa harus marah? Sayang ingat ya. Aku mencintaimu dengan adanya kamu seperti ini. Mau jadi apapun kamu tetap suamiku Mas" mendengar jawaban Syifa membuat Dion mengulas senyumnya. Kagum dengan ketulusan hati istrinya.
"Tapi aku tidak bisa memberimu uang belanja yang banyak. Dan juga aku tidak memiliki jabatan." gumam Dion.
Syifa yang semula bersandar di bahu Dion pun mengangkat wajahnya dan menatap lekat suaminya.
"Kamu pikir aku istri yang gila jabatan? Mau jadi direktur atau enggak itu nggak jadi masalah buat aku sayang. Bahkan uang belanja dari kamu selama ini udah cukup. Dan aku pikir penghasilan kamu ini sedikit tidak masuk akal jika hanya dari cafe." Syifa pun akhirnya mulai mencari tahu tentang Dion.
"Tidak masuk akal bagaimana sayang? Kamu merasa kurang?"
"Bukan kurang, tapi untuk uang belanja sebanyak itu rasanya tak mungkin penghasilan cafe sebanyak itu. Maaf bukannya aku meragukan usaha kamu. Tapi pemasukan Cafe kamu kan mestinya tetap harus membutuhkan biaya untuk menggaji karyawan, beli bahan baku, listrik, dan lain-lain. Atau..." ujar Syifa terpotong. Dia tampak ragu melanjutkan ucapannya.
"Atau apa?" tanya Dion penasaran.
"Kamu punya bisnis lain? Kamu nggak jual barang haram kan sayang? Nggak korupsi Atau ikut sindikat perdagangan ilegal? Maaf aku tidak bermaksud menuduh tapi aku hanya ingin memastikan." Syifa pun memberanikan diri untuk bertanya.
Melihat ekspresi juga mendengar kata-kata Syifa sontak membuat Dion terkekeh. Bisa-bisanya sang istri mencurigainya seperti itu.
"Sayang kok kamu nuduh aku yang nggak-nggak? Kamu takut ya aku kasih makan uang haram? Tenang itu semua halal kok." ujar Dion sembari mencubit hidung Syifa.
"Ya tapi kasih tahu alasannya. Kamu dapat uang ini semua darimana? Kan udah jelas-jelas kamu nolak uang dari papa untuk nafkahi aku." jelas Syifa.
"hmmm.. Kamu mau tahu? Yaudah deh kamu siap-siap aku akan kasih tahu. Aku manasin mesin motor dulu." Dion pun mengangkat Syifa dari atas pahanya.
"Emang mau kemana?" Syifa masih ingin tahu.
"Nanti kamu bakalan tahu sayang. Udah yuk siap-siap. Aku juga mau ganti baju. Sekalian riding berdua biar makin mesra." Dion mengecup bibir Syifa sekilas. Meski ekspresi istrinya itu masih tampak kebingungan.
Mau tak mau Syifa pun berganti pakaian. Kini di memakai skinny jeans biru muda dipadukan hoodie crop top berwarna putih. Penampilannya membuatnya tampak semakin muda.
"Udah Siap?" Dion memberikan helm untuk Syifa yang sudah naik ke boncengan motornya.
Syifa pun segera melingkarkan kedua tangannya di perut Dion. Pasrah akan dibawa kemana oleh suaminya. Karena dia sendiri pun juga penasaran.
Setelah mengendarai motornya selama kurang lebih dua puluh menit mereka pun sampai di sebuah bangunan dua lantai yang merupakan tempat kost.
"Kamu mau ngajakin aku ngekost?" Syifa langsung menebak.
"Mas Dion..." tiba-tiba seorang wanita muda yang nampak perutnya membuncit karena hamil besar melambaikan tangannya kepada Dion.
Kemudian wanita itu tampak berjalan menuruni anak tangga untuk menghampiri Dion.
Syifa yang melihat hal itu pun langsung terkejut dan pikirannya pun menjadi semakin tak karuan.
'siapa wanita itu? Apa mungkin suamiku menghamilinya? Atau jangan-jangan suamiku justru diam-diam menikah lagi? Tapi keluar dari tempat kost seperti itu apa jangan-jangan suamiku benar-benar sindikat perdagangan manusia? Ya Allah cobaan apa lagi ini?' batin Syifa.
"Mas Dion kemana aja? Lama banget nggak pernah kesini?" ucap wanita itu dengan nafas yang tampak ngos-ngosan karena menahan beban berat di perutnya.
"Maaf aku sibuk, lagi banyak kerjaan jadi jarang kesini." ujar Dion.
Deg!!
Mendengar jawaban Dion membuat Syifa semakin berdebar. jangan-jangan dugaannya benar.
"S-Siapa dia Mas?" tanya Syifa dengan suara yang tercekat. Bahkan Syifa berusaha menahan air matanya agar tak jatuh.
__ADS_1
"Oh, ini Mbak Yuni sayang. Mbak Yuni kenalin ini Syifa istri saya." ujar Dion mengenalkan Syifa.
"Oh istri kamu Mas, pantesan cantik banget. Kayak artis Korea." ujar Yuni.
"Mbak kenalin aku Yuni." Yuni tampak Menjulurkan tangannya kepada Syifa.
Ragu-ragu Syifa membalas jabatan tangan Yuni. Dia harus berusaha kuat menghadapi kenyataan.
"Yaampun lihat kalian sepasang benar-benar memanjakan mata. Padangan yang sama-sama cakep. Oh ya. Maaf mas sampai lupa." Kemudian tampak wanita bernama Yuni itu mengeluarkan beberapa lembar uang dan diberikan kepada Dion.
"Mas, ini uang buat bulan ini sama bulan depan ya. Sekalian tak dobel mumpung ada rejeki." ujar Yuni.
"Loh tapi bulan ini kan bayarnya masih ada setengah bulan lagi? Kok Mbak Yuni buru-buru kasihin? Kalau masih butuh nggak apa pakai aja dulu mbak." ucap Dion sembari menyodorkan uang itu kembali.
"nggak apa-apa mas. Mumpung ada rejeki. Soalnya biar nggak ada tanggungan habis ini tinggal fokus buat biaya lahiran." ujar Yuni.
"Emang rencana lahiran kapan mbak?" tanya Dion lagi.
"perkiraan sih bulan depan. Tapi bisa maju minggu-minggu ini." ujar Yuni.
"Yaudah deh, buat bulan depan aku diskon setengah. Itung-itung buat tambahan biaya lahirannya mbak Yuni." Dion mengembalikan beberapa lembar uang tersebut.
"Wah, beneran mas? Ya Allah makasih banyak Mas Dion emang paling top deh." ujar Yuni lagi.
"Tunggu, uang apa itu?" Syifa memberanikan bertanya.
"uang bayar kost mbak. Kan saya ngekos di kos-kosannya Mas Dion. Seneng banget dapet kost disini. Biayanya terjangkau dan Mas Dion peka banget mbak. Kalau ada keluhan dikit langsung diperbaiki." ujar Yuni.
"Mas? Jadi ini.. Kost an milik kamu?" tanya Syifa tak menyangka.
"Iya sayang. Semua unit kost itu milik aku." jawab Dion.
"hhuuuaaa... Hhuuaaaa...." tiba-tiba Syifa langsung menangis histeris.
"Sayang.. Sayang kenapa kok nangis?" Dion langsung panik seketika mendengar tangisan Syifa. Begitu juga mbak Yuni yang tampak ikut panik.
"A-aku pikir Mbak Yuni ini istri simpanan kamu Mas... Aku udah bayangin yang enggak-enggak ternyata kamu juragan kost-kost an. Hiks.. Hiks.. Aku udah mikir buruk-buruk tentang kamu" sambil terisak Syifa mengatakan hal itu.
Kontan saja baik Dion maupun Mbak Yuni langsung tertawa mendengar ucapan Syifa.
"Enggak lah sayang. Istri aku itu cuma satu yaitu kamu. Dan selamanya akan tetap kamu." ujar Dion sembari memeluk Syifa.
...****************...
Dion kini harus benar-benar bisa membagi waktu. Karena saat ini dia mulai kembali kuliah. Sementara dia juga harus belajar mengenai perusahaan. Dan pastinya tetap meluangkan waktunya untuk keluarga.
Papa Wira yang merupakan CEO sudah mantap untuk menjadikan Dion sebagai kandidat direktur utama di perusahaannya. Dia yakin bahwa dengan terus belajar Dion akan mampu menghandle perusahaan.
Tentu saja hal itu juga membuat Shaka semakin geram. Selama ini dialah kandidat tunggal di posisi itu. Bahkan semua dewan direksi di perusahaan tersebut sudah mendukung langkah Shaka yang dianggap mumpuni dalam memimpin perusahaan.
Dion pun sadar diri. Bersaing dengan Shaka adalah hal yang cukup berat. Kakaknya itu memang memiliki pengalaman besar di bidang ini. Bahkan pendidikannya yang tinggi tentu berbeda jauh dengan dirinya tang kuliah saja tak kunjung lulus.
Berkali-kali Dion menghela nafas memandangi berkas-berkas yang ada di hadapannya.
"Gimana? Susah ya?" suara lembut itu menyadarkan Dion.
"Nggak yakin aku sayang. Permintaan Papa ini agaknya sedikit berat. Skripsi saja aku nggak selesai-selesai. Ini malah diminta jadi kandidat direktur." terdengar helaan nafas Dion yang tampak berat.
"Dicoba dulu. Yang penting adalah keyakinan kamu sayang. Tapi kembali lagi dengan hatimu. Sekiranya itu membuatmu nyaman ya jalani. Jika tidak maka tak perlu dipaksakan." Syifa kini meraih kedua pipi Dion dan mengusapnya lembut.
"Hmm.. Aku tidak ingin mengecewakan Papa. Tapi di satu sisi aku tahu Kak Shaka sangat menginginkan posisi ini. Bersaing dengan saudara sendiri rasanya tidak enak." gumam Dion. Apalagi persaingannya bukan hanya posisi di perusahaan. Dion harus bersaing mempertahankan cinta Syifa.
"aku tahu, jika nanti keputusannya sudah di tentukan kamu harus menerimanya. Menang kalah sudah biasa yang penting sudah berusaha."
Dion memandang wajah istrinya yang tampaknya semakin hari semakin cantik. Kemudian dia menggenggam erat tangan Syifa.
"Sayang.." panggil Dion.
"Iya?" jawab Syifa pelan.
"Kalau aku gagal jadi direktur apa kamu akan kecewa? Apa kamu akan marah?" pertanyaan ini sebenarnya sudah mengganjal di hati Dion sejak beberapa hari ini tapi baru berani dia ungkapkan sekarang.
"Kenapa harus kecewa? Kenapa harus marah? Sayang ingat ya. Aku mencintaimu dengan adanya kamu seperti ini. Mau jadi apapun kamu tetap suamiku Mas" mendengar jawaban Syifa membuat Dion mengulas senyumnya. Kagum dengan ketulusan hati istrinya.
"Tapi aku tidak bisa memberimu uang belanja yang banyak. Dan juga aku tidak memiliki jabatan." gumam Dion.
Syifa yang semula bersandar di bahu Dion pun mengangkat wajahnya dan menatap lekat suaminya.
"Kamu pikir aku istri yang gila jabatan? Mau jadi direktur atau enggak itu nggak jadi masalah buat aku sayang. Bahkan uang belanja dari kamu selama ini udah cukup. Dan aku pikir penghasilan kamu ini sedikit tidak masuk akal jika hanya dari cafe." Syifa pun akhirnya mulai mencari tahu tentang Dion.
"Tidak masuk akal bagaimana sayang? Kamu merasa kurang?"
"Bukan kurang, tapi untuk uang belanja sebanyak itu rasanya tak mungkin penghasilan cafe sebanyak itu. Maaf bukannya aku meragukan usaha kamu. Tapi pemasukan Cafe kamu kan mestinya tetap harus membutuhkan biaya untuk menggaji karyawan, beli bahan baku, listrik, dan lain-lain. Atau..." ujar Syifa terpotong. Dia tampak ragu melanjutkan ucapannya.
__ADS_1
"Atau apa?" tanya Dion penasaran.
"Kamu punya bisnis lain? Kamu nggak jual barang haram kan sayang? Nggak korupsi Atau ikut sindikat perdagangan ilegal? Maaf aku tidak bermaksud menuduh tapi aku hanya ingin memastikan." Syifa pun memberanikan diri untuk bertanya.
Melihat ekspresi juga mendengar kata-kata Syifa sontak membuat Dion terkekeh. Bisa-bisanya sang istri mencurigainya seperti itu.
"Sayang kok kamu nuduh aku yang nggak-nggak? Kamu takut ya aku kasih makan uang haram? Tenang itu semua halal kok." ujar Dion sembari mencubit hidung Syifa.
"Ya tapi kasih tahu alasannya. Kamu dapat uang ini semua darimana? Kan udah jelas-jelas kamu nolak uang dari papa untuk nafkahi aku." jelas Syifa.
"hmmm.. Kamu mau tahu? Yaudah deh kamu siap-siap aku akan kasih tahu. Aku manasin mesin motor dulu." Dion pun mengangkat Syifa dari atas pahanya.
"Emang mau kemana?" Syifa masih ingin tahu.
"Nanti kamu bakalan tahu sayang. Udah yuk siap-siap. Aku juga mau ganti baju. Sekalian riding berdua biar makin mesra." Dion mengecup bibir Syifa sekilas. Meski ekspresi istrinya itu masih tampak kebingungan.
Mau tak mau Syifa pun berganti pakaian. Kini di memakai skinny jeans biru muda dipadukan hoodie crop top berwarna putih. Penampilannya membuatnya tampak semakin muda.
"Udah Siap?" Dion memberikan helm untuk Syifa yang sudah naik ke boncengan motornya.
Syifa pun segera melingkarkan kedua tangannya di perut Dion. Pasrah akan dibawa kemana oleh suaminya. Karena dia sendiri pun juga penasaran.
Setelah mengendarai motornya selama kurang lebih dua puluh menit mereka pun sampai di sebuah bangunan dua lantai yang merupakan tempat kost.
"Kamu mau ngajakin aku ngekost?" Syifa langsung menebak.
"Mas Dion..." tiba-tiba seorang wanita muda yang nampak perutnya membuncit karena hamil besar melambaikan tangannya kepada Dion.
Kemudian wanita itu tampak berjalan menuruni anak tangga untuk menghampiri Dion.
Syifa yang melihat hal itu pun langsung terkejut dan pikirannya pun menjadi semakin tak karuan.
'siapa wanita itu? Apa mungkin suamiku menghamilinya? Atau jangan-jangan suamiku justru diam-diam menikah lagi? Tapi keluar dari tempat kost seperti itu apa jangan-jangan suamiku benar-benar sindikat perdagangan manusia? Ya Allah cobaan apa lagi ini?' batin Syifa.
"Mas Dion kemana aja? Lama banget nggak pernah kesini?" ucap wanita itu dengan nafas yang tampak ngos-ngosan karena menahan beban berat di perutnya.
"Maaf aku sibuk, lagi banyak kerjaan jadi jarang kesini." ujar Dion.
Deg!!
Mendengar jawaban Dion membuat Syifa semakin berdebar. jangan-jangan dugaannya benar.
"S-Siapa dia Mas?" tanya Syifa dengan suara yang tercekat. Bahkan Syifa berusaha menahan air matanya agar tak jatuh.
"Oh, ini Mbak Yuni sayang. Mbak Yuni kenalin ini Syifa istri saya." ujar Dion mengenalkan Syifa.
"Oh istri kamu Mas, pantesan cantik banget. Kayak artis Korea." ujar Yuni.
"Mbak kenalin aku Yuni." Yuni tampak Menjulurkan tangannya kepada Syifa.
Ragu-ragu Syifa membalas jabatan tangan Yuni. Dia harus berusaha kuat menghadapi kenyataan.
"Yaampun lihat kalian sepasang benar-benar memanjakan mata. Padangan yang sama-sama cakep. Oh ya. Maaf mas sampai lupa." Kemudian tampak wanita bernama Yuni itu mengeluarkan beberapa lembar uang dan diberikan kepada Dion.
"Mas, ini uang buat bulan ini sama bulan depan ya. Sekalian tak dobel mumpung ada rejeki." ujar Yuni.
"Loh tapi bulan ini kan bayarnya masih ada setengah bulan lagi? Kok Mbak Yuni buru-buru kasihin? Kalau masih butuh nggak apa pakai aja dulu mbak." ucap Dion sembari menyodorkan uang itu kembali.
"nggak apa-apa mas. Mumpung ada rejeki. Soalnya biar nggak ada tanggungan habis ini tinggal fokus buat biaya lahiran." ujar Yuni.
"Emang rencana lahiran kapan mbak?" tanya Dion lagi.
"perkiraan sih bulan depan. Tapi bisa maju minggu-minggu ini." ujar Yuni.
"Yaudah deh, buat bulan depan aku diskon setengah. Itung-itung buat tambahan biaya lahirannya mbak Yuni." Dion mengembalikan beberapa lembar uang tersebut.
"Wah, beneran mas? Ya Allah makasih banyak Mas Dion emang paling top deh." ujar Yuni lagi.
"Tunggu, uang apa itu?" Syifa memberanikan bertanya.
"uang bayar kost mbak. Kan saya ngekos di kos-kosannya Mas Dion. Seneng banget dapet kost disini. Biayanya terjangkau dan Mas Dion peka banget mbak. Kalau ada keluhan dikit langsung diperbaiki." ujar Yuni.
"Mas? Jadi ini.. Kost an milik kamu?" tanya Syifa tak menyangka.
"Iya sayang. Semua unit kost itu milik aku." jawab Dion.
"hhuuuaaa... Hhuuaaaa...." tiba-tiba Syifa langsung menangis histeris.
"Sayang.. Sayang kenapa kok nangis?" Dion langsung panik seketika mendengar tangisan Syifa. Begitu juga mbak Yuni yang tampak ikut panik.
"A-aku pikir Mbak Yuni ini istri simpanan kamu Mas... Aku udah bayangin yang enggak-enggak ternyata kamu juragan kost-kost an. Hiks.. Hiks.. Aku udah mikir buruk-buruk tentang kamu" sambil terisak Syifa mengatakan hal itu.
Kontan saja baik Dion maupun Mbak Yuni langsung tertawa mendengar ucapan Syifa.
__ADS_1
"Enggak lah sayang. Istri aku itu cuma satu yaitu kamu. Dan selamanya akan tetap kamu." ujar Dion sembari memeluk Syifa.
...****************...