Dosenku Istriku

Dosenku Istriku
Bab 95 suasana rumah


__ADS_3

Berulang kali Syifa menghela nafasnya kasar. Masih tidak percaya bahwa Bianca senekat itu ingin menjalin hubungan dengannya.


Padahal selama ini Syifa yang cemburu melihat Bianca dekat dengan Dion. Malahan dirinya lah yang sebenarnya menjadi incarannya.


"mommy.... Mommy.. Telbaaannggg..." suara cempreng itu seketika menyadarkan Syifa dari lamunannya.


Mood nya langsung meningkat saat melihat Bella yang tengah Asyik bermain dengan Dion.


Bocah kecil itu tengah memakai helm yang ujungnya memiliki baling-baling dan kacamata besar seolah menjadi seorang pilot sementara Dion menggendongnya dengan posisi tengkurap. Tak lupa sebuah sarung melilit leher Dion persis seperti superman.


Syifa tak kuasa menahan tawa saat baling-baling helm Bella berputar saat tubuhnya diayunkan oleh Dion.


"itu helmnya bagus banget siapa yang belikan?" kekeh Syifa.


"Dibelikan mbak Hana. Tau tuh ada-ada aja." ujar Dion.


"Dasar, seleranya tetep aja yang aneh-aneh." Syifa hanya bisa menggeleng kepala gemas sendiri memikirkan sahabat yang kini menjadi kakak iparnya.


"Eh, Bella sendiri ya yang milih. Aku kan nurut aja sama selera Bocil." tau-tau Hana sudah datang menghampiri mereka.


"Hana... Eh, kakak ipar." Syifa langsung menghampiri Hana dan memeluknya. Bertukar rindu karena sudah beberapa minggu mereka tidak bertemu.


"Biasa aja kali. Manggil nama kek biasanya. Berasa tua banget kalo kamu manggilnya gitu." protes Hana.


"Emang gitu kan kenyataannya." Stifa menjulurkan lidahnya menggoda Hana.


"Eh, ini kenapa pada cosplay jadi tukang villa sama tukang ojek?" Shaka yang baru menyusul langsung mengomentari penampilan Dion dan Bella.


"Enak aja dibilang tukang villa sama tukang ojek. Ini tuh superman lagi nolongin pilot yang terbang. Tau nih om Shaka nggak punya selera imajinasi tinggi." protes Dion tak terima.


"kurang totalitas. Harusnya superman itu pake celana d alam diluar baru sama." goda Shaka.


"Om.. Om.. Telbaaanggg.." Bella menunjukkan dirinya yang seolah sedang terbang dengan kedua tangannya dia rentangkan seperti pesawat.


"Waah.. Ponakan Om bisa terbang. Sini-sini gantian terbang sama om." Shaka meraih tubuh Bella dan gantian menggendongnya.


"Tapi om juga harus jadi superman. Nih gantian." Dion menyodorkan sarung tersebut dan hendak memakaikan kepada Shaka.


"Eh, apaan ogah ya kayak tukang Villa gitu." tolak Shaka mentah-mentah.


"HUUAAAAAAA....." tanpa diduga Bella langsung menangis saat Shaka menolak sarung yang diberikan Dion.

__ADS_1


"Loh, sayang kok nangis." Shaka jadi panik sendiri.


"tanggung jawab.. Salah sendiri disuruh jadi superman nggak mau." Dion menyengir kuda sambil menyodorkan sarungnya.


Mau tak mau akhirnya Shaka memakai sarung tersebut di leher demi Bella yang tak lagi menangis.


"iya deh iya ini om jadi superman kok, sayangnya om nggak boleh nangis lagi."


Semuanya hanya bisa terkikik melihat Shaka yang biasanya selalu tampak cool dan berwibawa. Kini penampilannya terbanting seketika oleh si kecil Bella.


"Sabar sayang, itung-itung latihan buat anak kita nanti. Semangat ya." Hana tersenyum menyemangati Shaka.


"Terimakasih sayang." mendapat semangat dari sang istri membuat Shaka semakin bahagia.


"Waahh.. Anak-anak mama sudah kumpul. Yuk sini yuk udah mama siapin menu spesial." ujar Mama Rina.


"Menu apa ma?" tanya Shaka.


"Udah ayuk." Mama Rina membawa semuanya ke halaman belakang.


Rupanya di belakang sudah ada berbagai macam bahan barbeque. Tampak Papa Wira sedang sibuk menyiapkan sisanya.


Semenjak anak-anaknya berumah tangga kini keluarga Papa Wira terasa begitu bahagia dan rukun. Tak ada lagi berselisih paham dan pertengkaran seperti dulu. Semua itu berkat Syifa yang perlahan mencairkan bongkahan es di masing-masing hati mereka.


"Sayang nanti nginep sini kan? Nginep ya soalnya besok pagi mama sama Syifa mau ke pasar. Hana ikut ya." Mama Rina begitu antusias saat bersama kedua menantunya.


"iya Ma, Hana mau nginep sini kok. Apalagi kalau mama ajak ke pasar ya jelas mau." ujar Hana dengan senyum bahagia.


Mama Rina begitu senang memiliki dua menantu yang se frekuensi dengannya. Syifa dan Hana merupakan perempuan yang sangat fleksibel dan menyukai hal-hal sederhana. Mereka bertiga bahkan sangat suka berbelanja ke pasar tradisional guna mencari bahan-bahan makanan yang masih segar langsung dari penjual. Sama sekali tak merasa jijik dan tak gila kemewahan.


"Besok kalo ke pasar nawarnya jangan julit-julit Han, inget kamu tuh udah jadi istri direktur." sambung Syifa.


"Hehehe maklum kebiasaan lama Fa masih kebawa-bawa. Dulu kan tahu sendiri makan nasi goreng sebungkus aja dijadiin dua kali." Hana tersenyum miris menceritakan masa-masa dirinya masih duduk di bangku sekolah dulu.


"Sayang, udah dong jangan diinget-inget sedihnya. Yang penting sekarang apa yang kamu mau insyaAllah akan aku turuti semua." Shaka menghampiri Hana sambil mencium puncak kepalanya.


"iya Hana, nggak apa-apa masa lalu jadi pengalaman. Yang penting sekarang mikirin yang bahagia-bahagia aja." imbuh Mama Rina.


Seperti sebuah mimpi, Hana mendapatkan berlimpah kasih sayang daei suami dan keluarga barunya. Rasanya tak ada hal paling indah selain berkumpul bersama seperti ini.


"Ibu-ibu sini dong. Udah mateng ini." teriak Dion yang sejak tadi sibuk memanggang daging bersama Papa Wira.

__ADS_1


"Eh iya. Ini minumannya juga sudah jadi. Sayang punyaku yang medium rare kan." Syifa langsung menghampiri suaminya.


"Spesial buat istriku. Wagyu beef yang dimasak medium rare pake bumbu cinta dari chef terganteng sepanjang masa." Dion mempersembahkan steak yang barus aja dia masak kepada Syifa.


"eehhhmmm.. emang mesti pake embel-embel begitu ya Dion?" cibir Papa Wira.


"iya lah, papa kan bisa buktikan sendiri gimana gantengnya anakmu ini." dengan penuh percaya diri Dion memuji dirinya.


"HHUUEEKKK... HHUUEEEKK..." perdebatan anak dan ayah itu langsung terhenti saat Syifa tiba-tiba mual.


"Sayang, sayang kenapa?" Dion langsung panik menghampiri istrinya.


"Steaknya kok bau. Aku nggak tahan HUUEEKK..." Syifa langsung menjauhkan steak yang dia pegang.


Dion pun mengendus steak buatannya. "Nggak kok, papa coba deh masak ini bau?" Dion meminta Papa Wira mencium steaknya.


"nggak tuh, seperti biasanya kok. Syifa kurang enak badan kali? Istirahat saja nak." ucap Papa Wira.


Mungkin benar apa yang dikatakan Papa Wira. Dion pun membawa Syifa untuk beristirahat.


...****************...


"Kita tidak bisa biarkan anak kita terjebak dalam hubungan itu pa. Bagaimanapun Nico harus segera dijauhkan dengan Bianca. Mama takut masa depannya jadi tidak jelas." ucap Vania dengan penuh kekhawatiran.


"iya Papa tahu, tapi tak mudah membuat Nico jauh dengan Bianca. Mama kan tau sendiri mereka sudah lama saling mengenal. Bahkan Nico sudah jatuh cinta sejak waktu itu." Nathan Alendra, ayah Nico menimpali.


Sejak merebaknya kabar tentang Bianca yang menyukai Syifa viral nama Nico pun ikut terseret.


Nico yang masih begitu perhatian dengan Bianca menjadi buah bibir sebab cintanya yang bertepuk sebelah tangan namun masih saja diharapkan.


Kedua orang tua Nico khawatir jika putra satu-satunya itu akan terus terjebak dalam masalah perasaannya yang tak jelas.


"Mama punya ide supaya Nico bisa terbebas dengan Bianca." ucap Vania akhirnya.


"Apa Ma?" Nathan tampak penasaran.


"kita nikahkan saja Nico dengan gadis lain. Lihatlah Dion, sejak menikah dia jadi lebih rajin dan tak banyak tingkah. Bahkan dia menjadi laki-laki yang begitu bertanggung jawab terhadap anak dan istrinya."


"tapi dengan siapa? bagaimana kalau nanti Nico menolak?" Nathan masih ragu dengan keputusan istrinya.


"Ada, dan Mama yakin dia adalah gadis baik untuk Nico." Vania tampak mengulas senyum. Membayangkan sang putra menikah dengan gadis pilihannya.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2