Dosenku Istriku

Dosenku Istriku
Bab 54 Harus tinggal seatap


__ADS_3

Syifa masih saja diam tak bergeming. Membiarkan Dion melakukan apapun kepadanya. Bahkan pelukan yang biasanya terasa begitu nyaman kini jadi menyesakkan.


Syifa terus mengingat bagaimana gadis itu memeluk laki-laki yang sudah menjadi suaminya. Apalagi kedatangannya bertujuan untuk meminta hubungan dengan Dion. Ah, semakin menyesakkan saja rasanya.


"Sayang, apa kamu marah? Aku bisa jelaskan semuanya." ucap Dion lirih. Dia tahu bahwa istrinya teramat sedih.


"Aku tak sengaja mendengar percakapan antara Mama dan papa dengan gadis itu. Apa benar kalian sedang dijodohkan?" Syifa berusaha menguatkan dirinya meski berbicara dengan gemetar.


"iya. Aku memang dijodohkan dengannya sejak masih kami sama-sama masih kecil." jawaban Dion semakin membuat Syifa terisak.


"Tapi.. Tapi itu dulu sayang. Sekarang beda. Aku sudah memilikimu." imbuh Dion.


"Tapi kenapa kamu tidak jujur sejak awal? Kenapa kamu harus menikahiku waktu itu kalau memang sudah dijodohkan? Seharusnya kamu biarkan saja aku diadili warga saat itu daripada harus menikahiku karena terpaksa. Aku sudah menghancurkan masa depanmu hiks.. Hiks.." semakin deras air mata yang keluar dari kedua netra Syifa.


"Hey, kenapa bicara seperti itu sayang? Aku menikahimu karena memang aku menginginkanmu. Aku mencintaimu sejak awal." Dion kini membalikkan tubuh Syifa agar menghadap dirinya.


Syifa masih terisak dan enggan menatap Dion. Namun pria itu memegang kedua pipi Syifa dan mengarahkan wajahnya agar menatap Dion. Hingga kedua netra itu saling bertemu.


"Syifa, apapun yang orang katakan tentang kita aku tidak peduli. Aku mencintaimu dan hanya kamu pilihanku. Bagaimanapun keadaan kita, meski hubungan ini terus diterjang masalah, meski kita kacau tapi cinta ini tidak pernah berubah." Dion menatap lurus kedua irish kecoklatan milik Syifa yang sejak tadi tak berhenti mengalirkan air mata.


"T-tapi aku hanya tidak ingin mengacaukan hidupmu Mas. Aku jadi merasa bersalah telah hadir diantara kalian. A-aku takut mem.." belum sempat Syifa meneruskan ucapannya tiba-tiba Dion langsung membungkam dengan bibirnya.


Dion mencium Syifa dengan begitu lembut namun menuntut. Mel umat seluruh permukaan bibirnya yang selalu lembab dan kenyal hingga Syifa tak mampu untuk bicara.


Cukup lama Dion menciumnya hingga Syifa hampir kehabisan nafas barulah dia melepas ciumannya. Tampak Syifa sudah terengah untuk mengambil nafas sebanyak-banyaknya.


"Jangan pernah merasa bersalah ataupun menyesal menikah denganku. Aku sudah memberikan seluruh cintaku untukmu apa belum cukup? Luna hanya masa laluku dan aku hanya menganggapnya sebagai adik perempuanku tidak lebih." entah kenapa rasa emosi tiba-tiba menguasai Dion saat mendengar ucapan Syifa yang seolah menyalahkan dirinya.


"Percayalah padaku Syifa. Kamu adalah satu-satunya wanita dalam hidupku. Jangan pernah berpikir untuk berpaling ataupun pergi dari hidupku. Karena jujur saja aku sangat bergantung padamu. Hidupku tak akan lengkap tanpamu. Tentang Kak Shaka saja sudah membuatku pusing dan sangat takut kehilanganmu." terlihat dari tatapan Dion yang begitu khawatir.


"Kamu tau tentang hubunganku dengan Kak Shaka dulu?" Syifa jadi terkejut.


"Hmm.. Aku mendengar obrolan kalian tapi aku percaya padamu. Kamu pasti akan tetap bersamaku kan?" ujar Dion.


Tanpa banyak bicara Syifa langsung memeluk Dion. Menangis dengan keras meluapkan semua kegundahan di hatinya. Entah perasaan bahagia atau justru sedih. Rasanya sulit digambarkan olehnya.


Dion memahami apa yang dirasakan oleh Syifa akhirnya membiarkan wanitanya menangis di dalam pelukannya. Semoga setelah ini dia akan merasa lebih lega.


...****************...


Luna hanya bisa terus menangis meratapi kisahnya dengan Dion yang ternyata harus berakhir seperti ini. Harapannya untuk hidup bersama pria yang dicintainya sejak kecil. Bahkan bisa dibilang cinta pertamanya kini harus kandas


Dan hal yang paling membuatnya sakit hati adalah kenyataan bahwa Dion lebih memilih seorang wanita yang berstatus janda beranak satu dengan usia yang jauh lebih tua darinya.


Meski Luna belum pernah bertemu dengan Syifa namun rasanya semakin tidak rela. Seolah tidak ada wanita lain di dunia ini yang lebih baik untuk dinikahi.

__ADS_1


"Apa kurangnya aku sampai kamu memilih wanita bekas orang lain. Bahkan aku menjaga diriku selama ini agar kamu saja yang dapat menyentuhku Dion." Luna terus memandangi foto Dion yang terpampang sebagai wallpaper di layar ponselnya.


Tapi setelah terus berpikir akhirnya Luna menyadari sesuatu hal. Dia harus mencari tahu tentang Syifa. Dia yakin ada hal yang disembunyikan olehnya.


"Atau mungkin wanita itu hanya memanfaatkan Dionku. Jika memang benar aku tidak akan diam. Aku akan merebut pria ku kembali." akhirnya dengan segala tekad Luna pun berniat untuk mempertahankan dirinya.


Hingga akhirnya sebuah ide muncul dari pikirannya. Cepat-cepat Luna keluar kamar dan mencari Rina dan Wira.


"Om, tante. Boleh Luna meminta tolong?" ucap Luna saat menemui Rina yang Wira yang sedang bersantai di ruang keluarga.


"Iya, ada apa Luna?" ucap Wira.


"Begini om, orang tuaku akan datang sekitar seminggu lagi. Sementara aku di sini tidak memiliki siapa-siapa. Jadi apa boleh aku menginap di rumah ini sampai orang tuaku datang?" ucap Luna dengan mimik muka memelas.


Rina tampak memandang Wira dengan tatapan yang bingung. Begitu pula dengan Wira. Serba salah sebab orang tua Luna merupakan sahabat dekatnya.


"Oh, begitu. Boleh kok, kamu boleh menginap disini kapan saja. Ada kamar tamu di bawah bisa kamu pakai." ujar Wira akhirnya.


"Wah, beneran om. Makasih banyak ya." Luna begitu senang. Dengan begini rencananya untuk mencari celah kepada hubungan Dion pun bisa berjalan mulus.


Setelah kepergian Luna kini Rina menatap suaminya dengan serius. Bahkan tatapan itu tampaknya cukup mengerikan bagi Wira.


"Pa, bagaimana bisa Luna tinggal selama itu. Apa Papa nggak memikirkan perasaan Syifa nantinya. Bahkan Papa nggak bilang dulu dengan Dion. Bagaimana kalau dia nanti tidak setuju?" gumam Rina.


Rina hanya bisa menghela nafas kasar. Dia tahu betul bagaimana perasaan seorang wanita yang harus tinggal satu atap dengan wanita lain yang pernah memiliki hubungan dengan suaminya. Karena Rina pernah mengalami itu.


"Pernah satu atap dengan Vanya secara tidak sengaja saja membuatku merasa was-was. Bagaimana nanti Syifa harus tinggal seminggu bersama Luna di sini?" gumam Rina dalam hati.


...****************...


Hari yang dijalani Syifa hari ini begitu tidak semangat. Segala pikiran yang berputar di dalam otaknya membuatnya begitu lelah. Lelah hati dan pikiran.


Bahkan seharian ini dia sama sekali tak keluar kamar. Bella pun dia bawa kedalam kamarnya dan menghabiskan waktu bersamanya.


Sementara Dion yang masih merasa bersalah pun turut menemani Syifa. Meski beberapa kali sikap istrinya tampak dingin kepadanya. Namun hal itu bisa Dion maklumi.


Suasana rumah yang biasanya ramai oleh celoteh Bella kini tampak sepi. Hingga petang barulah Syifa dan Bella keluar dari kamarnya. Dion pun ikut menemani anak dan istrinya.


"Sayang, ayo kita makan malam dulu. Bella biar mbak yang mengajaknya. Kamu dan Dion pasti lapar kan." Mama Rina dengan hangatnya selalu menyambut Syifa. Apalagi melihat wajah sembab menantunya membuatnya langsung paham.


"Iya Ma, terimakasih." Syifa pun duduk ditempat biasa. Sementara Dion berada di sampingnya.


"Selamat sore semuanya." Tiba-tiba Luna pun turut datang dengan santainya duduk di kursi kosong sebelah Dion.


Syifa tampak menoleh memandang Luna. Untuk pertama kalinya mereka bertatap muka secara langsung.

__ADS_1


"Kak Dion seharian kemana aja kok nggak lihat." tanya Luna seolah tak peduli akan adanya Syifa.


"Menemani istri. Oh ya Luna. perkenalkan ini Syifa istriku." Dion mengenalkan Luna kepada Syifa.


Syifa pun menatap Luna dengan senyum manisnya. Meski dalam hati menahan dongkol.


"Syifa." Syifa mengulurkan tangannya kepada Luna.


"Luna." Luna terpaksa menyambut uluran tangan Syifa.


Sejenak Luna memandang syifa. Tak dipungkiri bahwa Syifa memang tampak begitu cantik meski tak memakai riasan di wajahnya. Bahkan wajahnya bisa dibilang lebih muda dari usianya. Tetap saja Luna menjadi sebal apalagi dengan statusnya sebelum menikah dengan Dion. Bisa-bisanya dia terkalahkan oleh janda beranak satu.


Semua orang pun sudah berkumpul semua di meja makan. Termasuk Shaka yang juga bergabung. Pria itu tampak cuek seperti biasanya namun tetap saja pandangannya selalu tertuju kepada Syifa.


Dan tatapan Shaka itu disadari oleh Luna. Dia pun langsung berpikir bahwa Shaka dan Syifa ada sesuatu.


'Melihat dari cara pandang kak Shaka kepada Syifa sepertinya dia memiliki perasaan khusus. Aku harus menyelidikinya. Semoga dugaanku benar.' Batin Luna.


"Ah, senang sekali ya. Semuanya berkumpul. Rasanya aku sangat merindukan hal ini sejak dulu. Apalagi masakan tang disiapkan tante selalu enak-enak." ujar Luna.


Rina hanya menanggapi dengan senyuman. Kemudian mempersilahkan untuk segera makan.


Saat Syifa hendak mengambilkan nasi untuk Dion tiba-tiba Luna langsung mendahuluinya.


"Kak Dion makan yang banyak ya. Ini aku siapkan buat kak Dion." ujar Luna sembari meletakkan nasi di atas piring Dion.


Syifa hanya bisa terdiam melihat tingkah Luna. Sementara Dion tampak merasa serba salah melihat Syifa.


"Kak Dion mau lauk yang mana? Aku ambilkan." ujar Luna sembari melihat-lihat lauk di depannaya.


"Sayang bisa ambilkan aku telur balado di samping kamu?" ucap Dion dengan lembut.


Kebetulan telur tersebut berada di dekat Syifa. Tentu saja Luna tak dapat menjangkaunya dan hanya bisa berdecak kesal saat Syifa mengambilkan lauk tersebut untuk Dion.


"Terimakasih sayang." ucap Dion yang dibalas senyuman oleh Syifa.


Makan malam itu pun berlangsung. Sesekali Luna mengoceh seolah menunjukkan bahwa dirinya begitu dekat dengan keluarga Dion.


"Oh ya Kak Dion. Aku sudah memutuskan kalau aku akan tinggal di sini sampai Papa Dan Mama menjemput ku. Mungkin satu atau dua minggu lagi. Om Wira juga sudah setuju kok." ujar Luna setelah selesai menyantap makanannya.


"Uhhukk.." Sementara Syifa yang sedang minum langsung tersedak mendengar ucapan Luna.


'Bagaimana bisa dia akan tinggal disini sedangkan beberapa menit bertemu dengannya saja sudah membuatku muak. Ya Tuhan ujian apalagi ini?' gumam Syifa dalam hati sembari menatap Shaka dan Luna yang membuatnya sesak sendiri.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2