
Dion merasakan sesuatu melesak ke dalam perutnya sebelah kiri. Awalnya dia tak menyadari itu. Namun sat Ammar berlari meninggalkannya barulah rasa nyeri dan perih dia rasakan.
Apalagi dengan adanya sebuah pisau menancap di perutnya serta darah yang mulai merembes membasahi pakaiannya. Rasanya seperti dejavu bagi Dion. Benarkah ini terjadi pada dirinya atau hanya sebuah mimpi?
"DIIOOONN...." lalu suara yang menggema dari mulut Nico baru menyadarkan Dion bahwa itu semua benar terjadi.
Tiba-tiba tubuhnya mulai melemah. Lambat laun Dion hampir limbung namun dengan cepat Nico menangkap tubuhnya.
"Dion, Ya Allah darahnya banyak sekali." Nico hendak mencabut pisau yang masih tertinggal di perut Dion.
"J-jangan dicabut, nanti darahnya keluar makin banyak." ujar Dion.
Nico langsung berteriak minta tolong dan beruntungnya ada beberapa orang yang mengetahui langsung berusaha menolong.
"Sebaiknya cepat dibawa ke rumah sakit." salah seorang memanggil taksi yang kebetulan lewat.
Sebenarnya Nico membawa mobil namun jaraknya terlalu jauh karena tadi mereka berlari cukup jauh. Tak mungkin membawa Dion selama itu.
Dengan susah payah Nico dibantu beberapa orang memapah Dion menuju taksi. Tubuh Dion yang tinggi dan gempal sedikit membuat mereka kewalahan apalagi postur tubuh Nico yang lebih kecil darinya.
Nico langsung memasuki taksi dan duduk memangku kepala Dion. Pikirannya sudah sangat kacau.
"Pak ke rumah sakit terdekat." ujar Nico.
Dion semakin memucat apalagi darah yang keluar di perutnya cukup banyak. Berkali-kali dia meringis menahan nyeri.
"G-gue ngantuk Nico.. G-gue pengen.. Tidur.." suara Dion lirih dan nafasnya mulai tersengal.
"Dion.. Dion.. tetep sadar jangan tidur, lo harus tahan. Bentar lagi sampai. Pak cepetan dong." Nico sudah begitu panik apalagi melihat sahabatnya yang semakin pucat dan melemah.
"Please, bertahan Dion, istri lo lagi hamil, anak lo masih kecil. Lo harus bisa kuat demi mereka." kali ini Nico sudah tak bisa lagi menahan air matanya. Dion sudah seperti saudara untuknya apalagi sejak kecil mereka tumbuh bersama.
Tiba-tiba Dion meraih tangan Nico dan meletakkan pada luka di perutnya.
"bantu gue.. darahnya biar gak habis, gue masih pengen hidup." ucap Dion lirih.
Nico langsung mengangguk sambil memeluk Dion. Ternyata sesedih ini melihat sahabat yang terluka. Dia benar-benar takut terjadi sesuatu dengan Dion. Ingin sekali merutuki tindakan Dion tadi andai saja tak nekad mengejar penipu itu. Tapi semua sudah terlanjur.
Tak berselang lama mereka sampai di sebuah rumah sakit. Sopir taki langsung berlari ke IGD dan memberitahu bahwa ada korban penusukan. Dengan segera para perawat dan dokter membantu membawa Dion agar cepat mendapat penanganan.
Nico yang kebingungan segera menghubungi Papanya karena dia tak sanggup jika harus memberitahu Syifa secara langsung.
"Halo pa, Papa bisa ke rumah sakit X sekarang? Nico butuh bantuan Papa. Dion ditusuk orang." Dengan suara gemetar Nico menjelaskan kepada Papanya. Beruntung saat ini Papanya Nico berada tak jauh dari rumah sakit tersebut sehingga dia cepat sampai.
Melihat keadaan putranya yang sangat berantakan dan penuh noda darah di baju dan tubuhnya membuat Nathan Alendra, ayah Nico begitu terkejut.
__ADS_1
"Pa.. Dion Pa.." Nico merengek bak anak kecil. Namun papanya tahu bahwa putranya sedang panik. Apalagi Nico yang sebenarnya sedang trauma melihat kejadian penusukan tadi didepan matanya.
"kamu yang sabar ya. Dokter pasti sedang berusaha menyelamatkannya. Kamu harus berdoa demi kesembuhan Dion." ujar Papa Nathan.
"Pa, aku belum mengabari keluarga Dion. Aku nggak sanggup bicara sama mereka." ujar Nico.
"Ya sudah biar Papa yang memberitahu Mas Wira." Nathan pun langsung menghubungi Wira.
Sementara di rumah Papa Wira,
Syifa, Hana dan Mama Rina tampak berkumpul di ruang keluarga sambil menemani Bella bermain. Sedangkan Papa Wira yang semula ikut bergabung dengan mereka tiba-tiba mendengar ponselnya berdering.
Dia melihat nama Nathan yang menghubungi. Dengan segera Papa Wira mengangkatnya.
"Ada apa Nathan?" tanya Wira.
"Mas Wira dimana?" tanya Nathan
"Di rumah ini momong cucu. Kenapa Nath?" Papa Wira sedikit curiga dengan nada bicara Nathan yang tampak gemetar.
"Begini, ada musibah Mas, Dion.. Dion ditusuk orang. Sekarang dia di rumah sakit X." sebenarnya Papa Nathan pun tak tega memberitahu keluarga Dion apalagi kondisi Mama Rina yang baru pulih, tapi mereka juga harus tahu.
"A-apa? anakku ditusuk orang?" Papa Wira langsung lemas mendengar kabar tersebut.
Setelah mereka mengakhiri panggilannya kini Papa Wira menghampiri keluarganya. Dengan tatapan nanar dia mendekati Syifa.
"Syifa.. ada kabar kurang baik, tapi tolong kamu jangan panik dulu ya nak." ujar Papa WIra. Namun perasaan Syifa sudah tak enak.
"Pa, ada apa?" tanya Syifa lirih.
"Dion.. dia ditusuk orang, sekarang dia berada di rumah sakit X."
DEGG..
Syifa menahan nafas untuk beberapa saat. Berusaha menelaah ucapan Papa mertuanya. Sementara Hana dan Mama Rina sudah histeris.
"Ya Allah.. Anakku.." pekik Mama Rina.
"Ma.. mama tenang dulu ya ma, jangan panik ingat kondisi Mama." ujar Hana.
"Paa... tolong antarkan aku kesana. Aku harus ketemu suamiku." pinta Syifa akhirnya.
"Iya nak.. ayo.." ucap papa Wira.
"Pa, Boleh Hana ikut?" Hana tak tega jika melihat Syifa sendirian. Apalagi kondisinya yang masih lemah karena hamil muda.
__ADS_1
"Ya sudah biar Mama di rumah jagain Bella, Syifa kamu yang kuat nak, Bismillah suami kamu nggak kenapa-napa." Mama Rina berusaha menyemangati Syifa meski hatinya sendiri terasa hancur.
Disepanjang perjalanan Syifa tak berhenti menitikkan air matanya. Firasatnya sudah buruk sejak tadi. Bahkan tadi pagi Syifa begitu enggan ditinggal Dion.
Hana dengan setia memeluk iparnya mencoba menguatkan dengan segala kemampuannya. Sementara Papa Wira yang duduk di samping supir sedari tadi hanya bisa mengusap kasar wajahnya.
Sampai akhirnya mereka sampai di rumah sakit. Syifa dengan tergopoh-gopoh berlari mencari keberadaan suaminya. Meski Hana melarangnya mengingat kondisi Syifa.
Namun saat melihat Nico yang masih bersimbah darah pandangannya langsung buram, membayangkan seberapa parah suaminya.
"Syifaa..." Hana langsung berlari memeluk tubuh Syifa yang limbung dan mendudukkannya di kursi tunggu.
"B-bagaimana keadaan anakku? bagaimana bisa terjadi?" Papa Wira langsung menghujani beberapa pertanyaan kepada Nico.
Nico yang sudah sedikit tenang akhirnya menceritakan kejadian yang ada. Meski berat Papa Wira harus berusaha tegar. Baru saja dia merasa lega setelah Mama Rina kembali sembuh namun lagi-lagi musibah menghampiri keluarganya.
"Mas, maaf tadi aku terpaksa menyetujui tindakan operasi Dion karena darurat." ujar Nathan.
Setelah hampir satu jam menunggu akhirnya seorang dokter keluar dari ruang operasi.
"Maaf apa ada keluarga pasien?" tanya Dokter.
"Saya istrinya dok." ucap Nizma langsung berdiri.
"Saya Papanya." ucap Papa Wira.
"Begini, kondisi pasien tadi sempat kritis karna kehabisan banyak darah. Beruntung saat ini sudah berhasil melewati masa kritis tersebut. Luka tusuk yang dialami cukup dalam dan sedikit mengenai organ dalam perut tepatnya pada usus besar sehingga kami harus mengobservasi lebih lanjut." ujar Dokter.
Mendengar hal itu syifa tak dapat berkata-kata lagi. Dia hanya bisa menangis terisak membayangkan betapa sakitnya sang suami menahan luka itu.
"L-lalu bagaimana keadaan Dion sekarang? apa kami bisa melihatnya sekarang?" tanya Papa Wira.
"Pasien saat ini masih dipindahkan ke ruang ICU namun karena masih dalam masa observasi dan kesadarannya belum pulih mohon untuk melihat dari luar saja." ujar Dokter.
Setelah dokter menjelaskan tak berselang lama dua orang polisi datang. Rupanya Papa Nathan langsung melaporkan kejadian ini ke polii.
"Selamat siang, dengan Pak Nico?" tanya polisi tersebut.
"Iya pak, bagaimana perkembangannya?" tanya NIco.
"Tadi kami sudah olah TKP dan kebetulan ada kamera CCTV yang menangkap kejadiannya. Dan identitas pelaku sudah berhasil diidentifikasi." polisi tersebut selanjutnya tampak berbicara dengan Nico dan Papa Wira. Syifa tak peduli hal itu yang ada di pikirannya hanyalah Dion.
Syifa yang diperbolehkan melihat suaminya dari luar pun hanya bisa pasrah. Apalagi saat melihat wajah pucat suaminya rasanya dunianya begitu hancur.
"Ku mohon kuatlah kamu sayang, aku tahu kamu pasti bisa. Aku dan anak-anak selalu bersamamu." batin Syifa.
__ADS_1
...****************...