
Semua orang sudah berkumpul di meja makan untuk melakukan sarapan bersama. Syifa dan Dion tampak sudah rapi dan bersiap untuk ke kampus.
Sementara kedua orang tua mereka juga selalu siap berada di tempatnya. Luna datang seperti biasa dengan gaya centilnya. Namun senyumnya seketika terhenti saat melihat Dion yang bertukar kursi dengan Syifa.
Biasanya Dion berada di tengah-tengah maka sekarang Syifa yang berada di tengah. Dion berada di antara Wira dan Syifa.
Mau tak mau Luna duduk di sebelah Syifa meski dengan hati yang sebal. Namun dia sudah berencana membuat kejutan di pagi ini.
"Kak Shaka dimana tante? Kok tumben belum datang." Luna mencari keberadaan Shaka dan berniat memancing hubungan Syifa dan Shaka.
"Tadi mama lihat dia pagi-pagi sekali keluar dengan pakaian olah raga. Mungkin sedang Jogging." jawab Mama Rina sembari menyiapkan makanan untuk suaminya.
Lagi-lagi Luna harus menahan kesal karena niatannya tak bisa terlaksana.
"Hmm.. Kak Dion aku boleh ikut ke kampus? Aku bosan berada di rumah." celetuk Luna.
Dion hendak menjawabnya namun Syifa langsung menyela.
"Sayang apa nanti bisa pakai motor saja? Aku ada rapat dengan rektor. Kamu juga ada kuis pagi dari Pak Diar kan. Pakai mobil akan lama karena macet."
"Iya kita pakai motor saja lebih cepat. Maaf Luna sepertinya kamu tidak bisa ikut ke kampus. Kami sibuk pagi ini." Dion tampak tersenyum melihat kecerdikan istrinya.
Luna hanya bisa berdecak kesal. Sepertinya Syifa sudah merencanakan ini semua. Benar-benar menyebalkan, batin Luna.
"Luna, daripada kamu bosan mending ikut tante arisan saja. Mau ya." ujar Mama Rina.
Syifa dan Dion langsung menatap Mama Rina. Rupanya ibu mertuanya itu sudah memiliki rencana sendiri. Membayangkan Luna nimbrung bersama ibu-ibu arisan yang begitu random sepertinya akan seru.
Setelah selesai sarapan Syifa dan Dion pun berangkat menggunakan motornya. Disepanjang jalan Dion tak berhenti tersenyum.
"Kenapa senyum-senyum?" Syifa menatap Dion dari pantulan kaca spionnya.
"inget tadi jadi lucu aja. Kamu gercep banget bales omongannya Luna." ujar Dion.
"Oow. Jadi kamu sebenarnya mau ajakin dia ke kampus?" jawaban Syifa justru membuat Dion serba salah.
"Nggak gitu sayang. Aku cuma kagum sama kamu aja. Cemburunya elegan." Hati-hati Dion berbicara agar istrinya tidak meradang.
__ADS_1
"Ya kali mau nunggu jawaban kamu. Kalau kamu bilang iya kan bisa gawat." ujar Syifa ketus.
"Emangnya kalau aku jawab iya gawat gimana?" goda Dion.
"Kamu yakin mau bilang iya? Mau tidur di luar selama seminggu? Atau mau nambah makin lama, sebulan hmm.." Syifa mengeratkan pelukannya di perut Dion sampai terasa sesak.
"i-iya enggak sayang. Duh bisa-bisa karatan jadi fossil senjataku." membayangkan saja sudah ngeri sendiri.
"Makanya jangan macam-macam." Syifa mencubit pinggang Dion hingga mengaduh.
"Aww.. Jangan sayang ampun lagi nyetir ini." protes Dion.
...****************...
"Aduh jeng, gimana sih ponakan kamu ini ngupas mangga aja nggak bisa. apalagi ngupas nanas bisa-bisa habis itu dagingnya." Luna benar-benar sebal kali ini. Niat hati ikut Mama Rina arisan sebagai pencitraan malah mendapat cibiran dari ibu-ibu lainnya.
"Lagian orang-orang kaya pake acara ngerujak segala. Beli aja nggak bikin repot." gerutu Luna.
"Anak jaman sekarang emang gitu ya. Males-malesan, untung aja jeng kamu milih mantu mommy nya Bella. Udah pinter, karir bagus di rumah juga rajin. Biar dikata janda tapi kalau modelan begitu sih siapa yang bisa nolak." ucap salah satu ibu-ibu.
"Bener, jarang loh ada perempuan mandiri gitu. Mana anaknya sopan dan berkelas sekali. Andai ada seperti Syifa satu lagi udah aku nikahin langsung sama anakku." ujar ibu yang lainnya.
Sementara Luna semakin meradang mendengarkan ocehan para ibu-ibu yang seolah mengagung-agungkan sosok Syifa.
"Lihat aja bakal gue buktiin kalau Syifa nggak sebaik yang mereka kira."
.
Sore menyambut kini Syifa dan Dion sudah waktunya pulang. Meski hubungan mereka sudah terpublikasi namun keduanya tetap profesional. Hanya bersama saat berangkat dan pulang saja.
Selama di kampus bahkan keduanya tak lebih sekedar mahasiswa dan dosen. Dion juga memanggil Syifa tetap dengan sebutan 'Bu Syifa'.
"Gilak sih bisa-bisanya istri lo ngomel gegara tugas lo keliru. Bener-bener gue acungi hubungan profesional kalian." ujar Nico kepada Dion.
"Ya itu sih karena salah gue. Dari kemarin lusa udh diingetin di rumah malah gue yang bandel." Dion pun menyadari kesalahannya.
"Udah ah, gue mau pulang nganterin cewek gue.Bye." Nico pun langsung ngibrit
__ADS_1
"Heh, tunggu. Gue mau tau cerita lo bisa jadian ma Bianca woey." Nico Tak peduli dengan panggilan Dion.
"Sorry Bro. Gue terpaksa nggak bisa cerita. Sebenarnya hubungan gue dan Bianca juga masih rumit banget." ujar Nico lirih.
Dion hanya bisa geleng kepala melihat tingkah aneh sahabatnya itu. Namun bagaimanapun juga Dion ikut senang jika Sahabatnya bisa bahagia.
"Sayang, pulang yuk aku capek." Syifa menghampiri Dion.
"Eh ayo sayang, buruan udah mendung aku lupa nggak bawa jas hujan." Dion dan Syifa pun bergegas pulang. Namun sialnya saat di tengah jalan tiba-tiba hujan turun dengan derasnya.
"Yah, padahal kurang dikit nyampe rumah. Cari tempat teduh dulu sayang?" Dion hendak menepi mencari tempat berteduh namun sialnya tak ada tempat kosong untuk berteduh.
"pulang aja Mas, nanggung tinggal dikit. Lagian kita juga udah basah kuyup kan?" akhirnya Dion pun menuruti Syifa. Mereka sampai rumah dalam keadaan basah.
"Yaampun kak Dion basah begini. Cepetan masuk aku siapin baju ganti." tiba-tiba Luna datang menyambut Dion.
"Nggak perlu itu biar disiapkan istriku. Ayo sayang kamu buruan ganti baju." Dion pun langsung menggandeng tangan Syifa yang terlihat menggigil.
Sementara Luna hanya bisa berdecak sebal. Lagi-lagi sikap Dion begitu dingin kepadanya.
Syifa sempat melihat Bella saat melintasi kamar putrinya. Bocah kecil itu nampak sedang tertidur pulas sehingga membuatnya lega.
"Ayo sayang ke kamar mandi lepas pakaian kamu." Dion langsung menarik tangan Syifa menuju kamar mandi.
Tanpa diminta tiba-tiba Dion sudah melucuti semua pakaian Syifa. Dan juga dirinya. Setelah itu menyalakan shower mengaliri tubuh mereka dengan air hangat.
"Masih dingin? Maaf ya." Dion memeluk tubuh Syifa. Menatap manik kecoklatan wanitanya itu selalu membuat dirinya seolah terhipnotis.
Melihat bibir istrinya yang masih bergetar membuat Dion berinisiatif untuk melakukan sesuatu.
"Aku akan menghangatkan tubuhmu." Suara serak Dion sudah menandakan bahwa pria itu akan mendominasi tubuh Syifa.
Sebuah kecupan mendarat di bibir Syifa. Terasa hangat dan lembab apalagi Dion melakukannya dengan begitu lembut. Sementara tangan pria itu tak mau kalah membelai titik-titik sensitif di tubuh Syifa.
Bagaimana tidak terbuai jika setiap sentuhan Dion nyatanya mampu membuat Syifa serasa terbang ke awang-awang. Tubuh yang semula menggigil kedinginan kini perlahan mulai meningkat suhunya menjadi semakin memanas.
Decapan demi decapan serta suara des ahan yang saling bersahutan membuat suasana kamar mandi itu kian memanas.
__ADS_1
...****************...