Dosenku Istriku

Dosenku Istriku
Bab 105 kabar baik


__ADS_3

Papa Wira masih terkesiap saat mendengar suara memanggilnya. Di ruangan itu hanya ada dirinya dan istrinya saja. Jadi yang baru saja memanggilnya adalah...


"Rina.." Kedua netranya menangkap pemandangan tak terduga yang begitu dia rindukan. Bahkan Papa Wira masih mengira hal itu adalah sebuah mimpi.


Hingga akhirnya sebuah tangan mencubit ujung hidungnya barulah Papa Wira percaya bahwa itu nyata."S-sayang, kamu sudah bangun." Buru-buru Papa Wira memencet tombol untuk memanggil perawat.


Melihat binar dua netra insan terkasih membuatnya tak berhenti untuk bersyukur. Tiga hari yang terasa begitu kelam ini akhirnya telah terlewati.


Saking bahagianya Papa Wira sampai bingung mengatakan apa. Lidahnya terasa kelu yang dia inginkan hanya memandangi sang istri sambil terus menggenggam tangannya.


Tk berselang lama dokter dan perawat sudah datang untuk memeriksa keadaan Mama Rina.


Selama dokter memeriksa bahkan Papa Wira tak mau melepaskan genggaman tangannya. Sesekali mengusap lembut dan mencium kening Mama Rina.


"Pa, malu ih dilihati suster sama dokternya." bisik Mama Rina yang masih bisa didengar orang lain.


"Biarin, papa kangen sayang." Bak pasangan muda dimabuk asmara Papa Wira terus saja berlaku mesra terhadap istrinya.


Hingga akhirnya dokter selesai memeriksa keadaan Mama Rina kini sedang berbicara dengan Papa Wira mengenai kondisi kesehatan istrinya.


Sedangkan kini perawat sedang mengganti cairan infus yang kebetulan telah habis.


"Saya ikut senang ibu akhirnya siuman. Suami ibu begitu khawatir setiap hari menemani ibu dengan gelisah dan sedih. Sepertinya suami ibu sangat mencintai ibu." ucap perawat itu diiringi dengan senyuman.


Mama Rina hanya menanggapinya dengan senyuman. Sejenak dia mengingat kejadian sebelumnya dimana dia sedang marah pada Papa Wira.


"Suster, apa anak-anak saya juga datang menjenguk?" tanya Mama Rina.


"Bukan hanya menjenguk saja bu, kedua putra dan menantu ibu bahkan secara bergantian berjaga disini semalaman. Biasanya sebentar lagi putra ibu akan kesini." ujar Perawat tersebut.


Mama Rina tampak tersenyum bahagia. Ternyata anak-anaknya masih peduli dengannya. Dan benar saja tak berselang lama tampak Shaka dan Hana datang menjenguk.


"Mama..." Shaka yang melihat mama Rina sudah siuman segera meghampirinya.


"Ma, Alhamdulillah Mama sudah siuman." Hana tak kuasa menahan haru langsung memeluk Mama Rina.


"Sayang kok nangis?" Mama Rina menatap Hana yang menangis sesenggukan.


"Hana bahagia ma, kemarin-kemarin Hana begitu takut jika terjadi sesuatu dengan mama, Hana takut kehilangan Mama." Hana mencoba menjelaskan ditengah isakannya.


"Mama nggak akan kemana-mana, terimakasih ya sayang sudah merawat mama selama sakit." Mama Rina menatapi Shaka dan Hana secara bergantian.


Shaka yang sejatinya tak begitu akrab berbicara dengan Mama Rina pun ikut senang. Bahkan bisa dibilang kepeduliannya terhadap Mama Rina lebih besar dibanding kepada Ibu kandungnya sendiri.


"Ma, jangan begini lagi ya. Mama harus sehat." ucapnya kemudian mengecup tangan mamanya.


Sementara Papa Wira yang baru saja selesai berbicara dengan dokter pun kini kembali bergabung. Jujur saja dia masih merasa segan terhadap istrinya. Papa Wira bahkan masih menyalahkan dirinya sendiri karena Masalah yang dia buat hingga menyebabkan Mama Rina drop.


Paham akan kecanggungan yang dirasakan kedua orang tuanya kini Shaka dan Hana mencoba memberi ruang utnuk mereka berdua.

__ADS_1


"Ma, aku kabari Dion dulu ya, pasti dia senang." Shaka menarik tangan Hana untuk keluar ruangan.


"Kita kasih waktu buat papa dulu ya." bisik Shaka.


Sementara di dalam Papa Wira tampak menundukkan kepala sedari tadi sambil mengusap Jemari Mama Rina.


"Mas.." panggil Mama Rina.


"Ya sayang.."


"Kenapa diam saja?" tanya Mama Rina.


"Bingung mau ngomong apa. Saking bahagianya tapi juga Papa sangat menyesal." Papa Wira kini mengungkapkan perasaannya.


"Sebagai seorang suami dan seorang ayah aku telah gagal menjaga dan membahagiakan istri dan anak-anak. Maaf ya sayang." sesal Papa Wira.


"Aku juga minta maaf mas, seharusnya aku percaya kamu. Aku terlalu egois yang akhirnya menyakiti diriku sendiri." ucap Mama Rina sembari menghapus air mata yang menalir di pipi suaminya.


"Jangan tinggalin aku ya.. " rengek Papa Wira.


Mama Rina pun tersenyum geli melihat kelakuan suaminya yang padahal sudah tua namun sikapnya masih seperti anak kecil.


"Papa kalau begini jadi kelihatan kayak Bella tau, ah.. Mama kangen sekali sama Bella." Membicarakan cucunya membuat Mama Rina merindukan Bella.


"Sama, Papa jadi jarang ketemu sama Bella. Dia pasti kesepian di rumah." ujar Papa Wira.


"Bisa telepon Dion Pa? video call pengen lihat cucu Mama." pinta Mama Rina.


Sementara itu di rumah Dion tampak begitu kerepotan karena Syifa yang terus muntah-muntah hingga tubuhnya lemas sementara Bella juga sangat rewel karena demam.


Baru saja makan satu sendok Syifa langsung memuntahkannya.


Bella sendiri tak mau diajak susternya sehingga Dion harus menggendong Bella sembari mengurusi Syifa.


"Mas maaf aku ngrepoti kamu." Sesal Syifa. Sejujurnya dia tak ingin seperti ini namun bagaimana lagi kondisi tubuhnya tak bisa dia kendalikan.


"Sudah jangan bicara seperti itu. Sudah tugasku menjaga dan mengurusi kalian." ujar Dion.


Setelah Syifa sedikit mereda kini Bella yang masih meraung-raung didalam gendongan Dion.


"Cup..cup anak papa nggak boleh nangis ini kan sudah digendong papa. Makan dulu habis ini minum obat ya sayang." Dengan telaten Dion menyuapi Bella meski terjadi banyak Drama karena Bella yang susah makan.


Setelah itu Dion memberi obat kepada putri kecilnya. Meski terasa lelah dan menguras kesabaran namun Dion paham dan ikhlas menjalaninya karena ini memang tugas dan tanggung jawabnya.


"Huft..." Dion menghela nafasnya setelah berhasil menidurkan Bella dan Syifa.


Kemudian Dion baru mengecek ponselnya yang ternyata banyak panggilan dari Shaka dan papanya. Dion terkejut dan takut terjadi sesuatu. Dengan segera dia menelepon papanya.


"Halo, Assalamulaikum, pa. Maaf Dion baru pegang HP. ada masalah sedikit di rumah." ujar Dion.

__ADS_1


"Waalaikumsallam, ada masalah apa Dion? apa terjadi sesuatu?"


"Syifa muntah-muntah terus pa, terus Bella sakit demam jadi rewel banget. Tapi untungnya mereka sekarang sudah tidur." terdengar nafas berat Dion yang bisa didengar Papa Wira.


"Maaf ya, Papa belum bisa bantu kamu." Papa Wira bisa merasakan bagaimana repotnya Dion mengurus anak istrinya yang sakit bersamaan."


"Nggak apa-apa pa, Dion sudah bisa menghandle kok. oh iya gimana keadaan Mama?" Dion begitu penasaran dengan keadaan Mamanya.


"Mama kamu sudah siuman Dion, kata dokter kondisinya sudah mulai membaik. Mungkin dua hari lagi jika tak ada masalah sudah boleh pulang." ucap Papa Wira.


"Alhamdulillah, Dion seneng banget dengernya Pa, tapi maaf Dion belum bisa kesana. Nggak tega ninggal yang dirumah." sesal Dion.


"Nggak apa-apa Dion, sudah ada Shaka dan Hana disini. Kamu fokus saja sama Syifa dan Bella." ujar Papa Wira yang akhirnya mereka mengakhiri panggilan tersebut.


"Gimana Bella Pa?" tanya mama Rina kemudian.


"Bella masih tidur Ma, Syifa juga. Keduanya sedang kurang enak badan jadi Dion harus mengurus mereka di rumah." Sebenarnya Papa Wira tak tega mengatakan ini tapi dia tak ingin istrinya salah paham.


"Ya ampun pasti Dion kewalahan. Andai saja mama sehat pasti mama akan bantu jagain mereka." Di keadaannya yang masih sakit saja Mama Rina masih memikirkan orang lain.


"Ma, mama fokus sama kesehatan Mama dulu ya." Papa Wira coba menenangkan.


***


"Alhamdulillah sayang kalau mama sudah siuman. Sayang banget sejak mama sakit aku sama sekali nggak bisa jenguk. Padahal udah kangen banget, pasti Mama kecewa sama aku." Sesal Syifa.


"Mama nggak akan kecewa sayang, mama pasti paham kondisi kamu, yang penting jaga kesehatan dulu ya, Maaf sudah membuatmu seperti ini." Sejujurnya Dion merasa begitu bersalah kepada Syifa. Gara-gara megandung anaknya kini Syifa harus menghadapi rasa tersiksa ini.


"Hey, kok minta maaf segala. Memangnya kamu berbuat apa sayang?"


"Gara-gara kamu mengandung anakku jadi keadaan kamu seperti ini sayang. Andai saja aku bisa menggantikan rasa sakitmu mungkin sudah aku lakukan." sesal Dion.


"Aku nggak merasa keberatan kok sayang, justru aku bersyukur disaat begini suamiku begitu tanggap dan sigap dalam merawatku." Syifa mendekatkan wajahnya kepada Dion dan mulai mengecupnya dengan lembut.


Dion pun dengan senang hati membalasnya.


Namun ciuman Syifa lama kelamaan menjadi semakin dalam dan menuntut. Dion yang hampir terbuai dengan segera melepaskannya.


"Sayang, kok di lepas sih." gerutu Syifa.


"Aku nggak mau kebablasan. Takut menyakiti kamu sayang." sergah Dion.


Syifa tampak kecewa, padhal saat ini begitu menginginkan sentuhan suaminya.


"Tapi kata dokter boleh kok. Sayaang.. please aku pengen.." dengan wajah memelas Syifa mencoba memancing Dion dengan mnyentuh pangkal pahanya. Mengelus benda pusaka yang sudah tampak mengeras.


"Tapi sayang."


"Pelan-pelan aja.." Ah, Dion semakin dibuat pusing kalau begini. Semenjak hamil Syifa menjadi sangat agresif menyangkut urusan ranjang.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2