
Dengan langkah lebarnya Dion membawa Bella yang tengah tertidur pulas di dekapannya menuju kamar bocah kecil itu. Dengan perlahan Dion menurunkan Bella ke atas ranjang sambil mengusap lembut puncak kepalanya.
Bayi mungilnya kini telah tumbuh lebih besar sekarang. Bahkan Bella sudah sudah pandai melakukan banyak hal. Tentu saja hal itu menjadi kebanggan tersendiri untuk Dion.
Dion melepas sepatu dan kaus kaki dari kaki mungil putrinya tersebut. Lalu mengelapnya dengan tisu basah serta tak lupa mengelap ajah dan lehernya yang terkena keringat. Seharusnya itu bisa dilakukan oleh suster pengasuh Bella namun Dion ingin melakukannya sendiri dengan rasa cinta kepada putrinya.
Tak lupa dia menciumi kedua pipi gembul serta kening Bella hingga membuat bocah itu sedikit menggeliat namun tak sampai terbangun. tidurnya sangat pulas memang karena sepertinya dia teramat lelah.
Setelah selesai sekolah tadi Bella tak langsung pulang. Dia masih sibuk bermain dengan temannya yang bernama Sean di area bermain sekolah. Dengan sabar Dion dan Syifa menungguinya sampai selesai. Kebetulan Sean juga belum dijemput oleh orang tuanya.
Dion masih ingat tawa riang putri kecilnya saat bermain dengan teman-temannya. Dan benar saja mungkin apa yang dikatakan Hana memang benar. Bella butuh relasi dengan teman yang seumuran nya. Mengingat selama ini dia hanya menghabiskan waktu dengan keluarganya saja. Rupanya hal itu memicu tumbuh kembangnya menjadi semakin baik.
Puas dengan putrinya kini pandangan Dion beralih pada sosok cantik yang tengah berdiri tak jauh darinya. Syifa pun mendekati ranjang Bella sambi mengusap lembut pipi gembulnya kemudian mencium keningnya dengan perlahan.
Sebuah senyum indah terukir di wajah cantik Syifa. Memandangi Bella dengan penuh rasa bangga. Pelita hidupnya yang selama ini menguatkan dirinya.
"Bella udah tidur, sekarang gantian mommy nya istirahat." tanpa aba-aba Dion tiba-tiba saja mengangkat tubuh Syifa ala bridal hingga membuatnya hampir memekik.
Dion membawa istrinya untuk pergi menuju kamar pribadinya. Yang tentu saja pemandangan itu tak luput dari suster pengasuh Bella. Sudah jadi hal wajar jika Dion berlaku mesra terhadap Syifa di rumah ini.
Syifa membantu membuka handle pintu sementara Dion berjalan memasuki kamar sambil menutup pintu tersebut menggunakan kakinya.
"Sayang aku berat loh, kok masih saja kamu gendong." protes Syifa.
"Nggak kok. Mana mungkin kamu berat. Masih sama nambah dikit doang." ujar dion sambil meletakkan tubuh istrinya di atas ranjang dengan hati-hati.
Dengan perlakuan yang sama Dion melepas sepatu dan kaus kaki Syifa. Keadaan perutnya yang semakin membesar membuat Syifa lebih nyaman memakai sepatu kets.
"Mas udah aku aja yang lepas." tolak syifa karena merasa sungkan.
"Nggak apa-apa sayang, perut kamu pasti ganjel buat nunduk. Udah sini aku aja." Sungguh perhatian Dion ini yang selalu membuat Syifa semakin bangga menjadi bagian hidupnya.
Setelah selesai merawat istrinya kini Dion mengganti pakaiannya dengan celana pendek serta kaos oblong yang lebih nyaman. Dia beringsut naik ke atas ranjang memeluk istrinya dari samping.
Tangannya mengangkat dress Syifa hingga atas perut lalu mengusap lembut perut buncit istrinya dengan lembut. Sesekali menciuminya hingga membuat Syifa kegelian dibuatnya.
"Dedek pinter, sehat-sehat ya di dalam. Jangan nyusahin mommy oke?" Dion tampak bergumam sendiri sambil memeluk perut istrinya seperti sebuah bantal.
Tiba-tiba saja sebuah kedutan terasa begitu nyata dari perut Syifa hingga bisa dirasakan pula oleh Dion.
Dion terperanjat lalu dengan seksama kembali memandangi perut istrinya.
"Dia nendang-nendang loh sayang, itu artinya lagi merespon papanya." ucap Syifa.
__ADS_1
"Iya ya... aku juga rasain ada sesuatu yang berkedut di perut kamu, loh ini kelihatan." ujar Dion sambil mengusap perut Syifa dengan antusias.
"Jadi gak sabar pengen cepet ketemu. Sehat-sehat di sana ya sayang." Dion kembali mengecupi perut Syifa bertubi-tubi.
Setelah puas bermain dengan perut buncit istrinya kini Dion kembali memeluk istrinya dari belakang. Mengelus puncak kepala Syifa dengan senyaman mungkin.
"Sayang, tadi ngobrolin apa sama ibu-ibu?" pertanyaan Syifa sontak saja langsung menghentikan elusan di kepala Syifa.
"Eh, enggak apa-apa kok cuma tadi ada salah satu wali murid yang suaminya kerja di perusahaan Papa." ucap Dion berkilah. Sejujurnya dia tak ingin memperburuk suasana hati istrinya. Apalagi saat ini Syifa tengah hamil.
"Nggak apa-apa kok, mereka pasti ngomongin aku sama bella kan? udah biasa." Syifa tersenyum kecut.
Sungguh dalam hal ini Dion sama sekali tidak terima jika istri dan anaknya harus melulu disalah-salahkan atas hubungan mereka. Apa salahnya coba jika Dion harus menikahi perempuan dengan status yang berbeda darinya. Dan lagi Bella yang nyatanya bukan darah dagingnya selalu dijadikan kambing hitam yang padahal kehadirannya lah yang selalu membuatnya semangat. Dion benar-benar benci hal itu.
"Sayang... Maaf, udah jangan dipikirin lagi ya." Hanya kata itu yang bisa Dion ucapkan.
"Iya, yang penting kamu cinta aku kan?" pernyataan itulah yang selalu membuat Dion begitu gemas. Tanpa harus menegaskannya bahkan Dion sudah sangat-sangat jatuh cinta pada istrinya itu.
"Kalau aku nggak cinta mana mungkin kamu bisa hamil begini." ujar DionĀ dengan terkekeh.
Larut dalam obrolan berdua lama kelamaan membuatnya merasa mengantuk. Dengan usapan lembut tangan hangat Dion membuat Syifa semakin mengantuk, begitu juga dengan Dion ang perlahan ikut memejamkan matanya.
Satu jam berlalu keduanya tenggelam dalam alam mimpi hingga sebuah dering ponsel mengusik tidur mereka. Dengan malas Dion mengambil ponselnya. Dia sedikit menyipitkan matanya sambil mengamati siapa yang menelepon dirinya.
"Halo, dengan siapa ini?" tanya Dion dengan suara serak khas bangun tidur.
"Selamat siang, dengan pak Dion Wira Dinata?" tanya seorang pria dari seberang teleponnya.
"Iya, dengan saya sendiri." jawab Dion.
"Pak Dion saya dari pihak kepolisian. Ingin menyampaikan bahwa saudara Rangga yang pernah anda laporkan atas kasus dugaan penculikan dan penganiayaan kami temukan meninggal dunia di dalam sel." Dion yang sejatinya masih setengah sadar dari alam mimpinya mendadak terkejut.
"M-maaf, apa pak? bisa anda ulangi lagi?" tanya Dion.
"Saudara Rangga kami temukan meninggal dunia di dalam sel." ujar Polisi tersebut.
"Ah, iya-iya. Baiklah terimakasih informasinya pak." jawab Dion buru-buru.
Dion menyelesaikan panggilannya lalau menyandarkan kepalanya pada head board ranjangnya yang sesungguhnya masih agak pening karena terbangun tiba-tiba tadi.
"Ada apa sayang?" tiba-tiba suara Syifa langsung membuyarkan lamunannya.
"Emm.. aku tadi dapat telepon dari pihak kepolisian. Rangga meninggal dunia." ucap Dion sambil mengelus kepala Syifa.
__ADS_1
"A-apa? Rangga? M-maksudnya Mas Rangga mantan suami aku?" Syifa tampak terkejut.
"hmm.. Polisi menemukan dia meninggal di dalam sel. Belum tahu pasti dia meninggalnya kenapa." ujar Dion.
Syifa tampak terdiam. Sejujurnya dia masih bingung harus bersikap bagaimana? mau senang atau sedih sebab selama ini pria itu telah menorehkan luka yang begitu dalam untuknya.
"Sayang.. Are you ok?" tanya Dion.
"Eh, iya Mas.. " Syifa tersenyum menatap Dion.
"Yaudah kita siap-siap habis ini ya buat melayat. Ajak Bella sekalian." ujar Dion sambil memeluk Syifa.
"Kenapa harus ajak Bella?" Syifa sebetulnya sedikit enggan ketika harus melibatkan Bella juga. Mengingat bagaimana sikap keluarga Rangga terhadap dirinya dan Bella selama ini.
"Ya nggak apa-apa. Gini deh sayang, mungkin Bella nggak terlalu dekat dengan ayah kandungnya. Tapi bagaimanapun Rangga adalah ayahnya. Akan berdosa jika kita tidak menunjukkan kenyataan ini. Meskipun Bella juga gak bakal ngerti tapi setidaknya kita memberi kesempatan putri kita melihat ayahnya utuk yang terakhir kalinya." Syifa pun akhirnya menyetujui permintaan Dion.
"Yaudah, boleh. Tapi kayaknya Bella juga masih tidur."
"Ya tungguin Bella bangun sayang, yang penting kita hadir di sana biar nggak dikiranya kita sombong kan." ujar Dion.
Syifa pun hanya bisa mengangguk menuruti suaminya. Benar juga apa yang diucapkan dIon. Semarah atau sebenci apapun tak seharusnya Syifa menutup diri terhadap Rangga dan keluarganya. Biar semua perbuatan Rangga dan keluarganya Tuhan yang membalasnya.
Satu jam berlalu, setelah Bella sudah bangun dari tidurnya mereka pun bersiap menuju kediaman keluarga Rangga. Disepanjang perjalanan tampak wajah cemas Syifa sambil sesekali menatap putri kecilnya yang tengah memperhatikan jalanan sambil duduk anteng di car seat nya.
Dion paham dengan apa yang dirasakan istrinya sehingga dia mencoba menenangkan dengan menggenggam lembut tangannya.
"Ngak usah khawatir ada aku." ucapnya dengan senyum manis.
"Makasih, sayang." balas Syifa dengan senyuman.
Sampai di kediaman orang tua Rangga kini Dion dan Syifa turun dari mobil dengan Bella dalam gendongan Dion. Suasana tampak ramai para pelayat.
Dengan langkahnya yang tampak ragu Syifa mulai memasuki kediaman yang sudah bertahun-tahun lalu tak dia datangi. Memory tentang bagaimana sikap keluarga rangga yang seolah selalu menganggapnya remeh masih jelas teringat dalam kepalanya.
Lebih tepatnya kedua orang tua Rangga hanya akan bersikap baik ketika Syifa datang dengan membawa uang. Ah, rasanya tak habis pikir dirinya bertemu sosok matre seperti mereka.
Suara tangisan seketika menguar memenuhi telinga mereka. Yang tak lain merupakan ibu dari Rangga. Dia seperti tak rela melihat putra kesayangannya yang sudah terbujur kaku dengan luka lebam di hampir sekujur wajahnya.
Seperti dugaan Dion sebelumnya bahwa Rangga meninggal mungkin karena dikeroyok teman satu selnya.
Syifa menghela nafas ketika mendapati keluarga Rangga yang menatapnya sinis. Tapi dia tetap berusaha biasa saja. Tentu dengan genggaman tangan Dion sebagai penguatnya.
...***************...
__ADS_1