
Dengan langkah yang begitu anggun dua ratu di malam ini berjalan menuju pelaminan. Syifa dengan gaun pengantinnya yang menjuntai lebar dengan model sleeveless hanya sebuah tali kecil berbentuk untaian mutiara melingkar di kedua pundaknya. Bagian punggungnya yang terbuka menampilkan kulit mulusnya yang tanpa cela. Rambutnya disanggul dengan cantik dengan mahkota berlian bertengger di kepalanya membuatnya tampak memukau dan sexy.
Sementara Hana kini memakai gaun yang juga berwarna putih dengan lengan sabrina menampakkan bahunya membuatnya tampak anggun serta rambutnya yang tergerai bergelombang membuat penampilannya bak seorang putri dari negeri dongeng.
Dion dan Shaka yang sudah berdiri di pelaminan menunggu kedatangan sang ratunya masing-masing.
Syifa melangkah bergandengan dengan Papa Arjuna sementara Hana berjalan didampingi oleh Papa Wira.
"Aku persembahkan putriku-putriku ini untuk kalian. Jaga dan sayangi mereka jangan membuatnya terluka ataupun bersedih." ucap Papa Wira kepada Dion dan Shaka.
"Iya pa, pasti aku pasti akan menyayangi istriku." ucap Shaka.
"Papa jangan khawatir, sebentar lagi akan kami cetakkan cucu lagi untuk papa supaya hari tua papa tak menganggur saja." jawaban frontal Dion seketika membuat semua orang tergelak.
Lalu Syifa dan Hana menghampiri suaminya masing-masing. Mereka menyambut dengan begitu romantis. Keduanya kompak membungkuk lalu mencium punggung tangan istrinya.
Tatapan berbinar terus terpancar dari netra Dion saat melihat kecantikan Syifa. Tak dipungkiri bahwa penampilan Syifa malam ini bak seorang bidadari.
"Apa ini istriku atau bidadari yang turun dari langit?" bisik Dion sontak saja membuat Syifa tersipu malu.
Tiba acara inti mereka pun berdansa dengan pasangannya masing-masing. Dengan diiringi musik instrumental.
Dion dan Syifa seperti pengantin baru yang tengah dimabuk cinta. Mereka tak malu menunjukkan kemesraan didepan para tamu undangan. Berkali-kali Dion bahkan menciumi bibir Syifa.
Sementara Shaka dan Hana mereka saling memandang dan melempar senyum. Keduanya masih tampak malu-malu. Cukup berbeda dengan Dion yang sedikit frontal.
"Istriku, cantik sekali. Aku tidak sabar melewati malam pertama bersamamu." namun bisikan Hana sukses membuat Hana langsung merona.
"Acaranya masih lama k-kok sudah bahas itu?" balas Hana malu-malu susah payah dia menelan salivanya.
Shaka pun langsung terkekeh kecil melihat sikap malu-malu Hana. Tak disangka hatinya berlabuh pada gadis sederhana yang tak sengaja hadir disaat dirinya tengah patah hati.
Nyatanya dengan sikap hangat dan ceria dari Hana membuat Shaka perlahan mengikhlaskan Syifa dan merubah perasaan itu kepada Hana.
Jodoh memang tak ada yang pernah bisa tahu pada akhirnya berlabuh kepada siapa. Namun skenario yang telah digariskan oleh Sang Kuasa kini begitu manis untuk mereka.
__ADS_1
Saat sedang menikmati acara dansa tersebut tiba-tiba lampu menjadi redup. Shaka dan Dion justru melepaskan pelukan mereka dan pergi entah kemana.
Baik Hana maupun Syifa sempat dibuat bingung. Namun tak berselang lama mereka melihat sebuah lampu menyorot dua orang pria berjalan dari ujung altar.
Sebuah musik mengalun. Dion dan Shaka tanpa diduga justru menyanyikan lagu Bruno Mars berjudul Marry you.
Dengan suara merdu mereka begitu piawai bernyanyi sambil berjalan memegangi mikrofon bak seorang penyanyi profesional.
Bahkan Dion dan Shaka tampak mengajak para tamu untuk ikut bernyanyi.
Hana hanya bisa dibuat melongo saat melihat Shaka bernyanyi. Biasanya pria itu selalu bersikap dingin. Tak pernah sedikitpun terbayangkan melihat sosok Shaka yang ceria dan eksis begini. Dimana tatapan mengintimidasi serta sorot dinginnya.
Syifa begitu menikmati nyanyian sang suami karena dia memang sudah sering melihat Dion bernyanyi untuknya.
Dengan bangganya Syifa langsung merentangkan kedua tangannya untuk menyambut Dion dengan sebuah pelukan.
Sementara Shaka yang mendekati Hana sadar akan keterkejutan istrinya. Dia pun mendekat dan langsung mengecup bibir Hana.
Hana langsung terkesiap namun secepatnya menormalkan diri. Dia tahu saat ini mereka menjadi pusat perhatian seseorang.
Dia mengajaknya naik ke atas pelaminan. Bella terlihat cantik dengan balutan gaun berwarna putih yang mengembang serta bandana berbentuk bunga-bunga bertengger cantik di atas kepalanya.
Saking senangnya bahkan Bella tampak melambai-lambaikan tangannya menyapa semua orang. Bagi Syifa tak ada hal yang paling membahagiakan selain melihat orang-orang tercinta seperti ini.
Sementara tak jauh dari mereka ada sosok pria yang sejak tadi pandangannya tak berpaling. Siapa lagi kalau bukan Nico.
Tatapannya selalu tertuju pada Diana. Gadis itu tampak cantik mengenakan dress berwarna peach.
Ingin sekali mendekatinya namun sejak tadi Diana selalu berada diantara kedua orang tuanya.
"Apa gue samperi aja ya sekalian pendekatan sama orang tuanya?" gumam Nico.
Akhirnya Nico pun memberanikan diri untuk menghampiri Diana.
"Selamat malam Diana, Om, tante." sapa Nico dengan sopan.
__ADS_1
Diana sedikit terkejut namun dia tetap membalas sapaan Nico dengan sopan.
"Bapak pasti ayahnya Kak Shaka ya. Perkenalkan saya Nico, sahabat Dion sekaligus rekan bisnis keluarga Pak Wira." Dengan sopan Nico mengenalkan dirinya kepada Herman.
"Benar, saya bapaknya Nak Shaka. Nak Nico sepertinya masih sangat muda." ujar Herman.
"Iya, saya masih kuliah Pak, satu jurusan dan satu kelas dengan Dion. Hanya saja usia saya dua tahun lebih muda dari Dion." Jika dulu dia merasa jengkel selalu kena mental karena lebih muda dari Dion kini Dengan bangganya Nico mengenalkan dirinya. Sebab melihat usia Diana yang masih dibawahnya membuatnya senang.
"Ngomong-ngomong Diana jadi kuliah di kampus tempat Bu Syifa mengajar ya?" tanya Nico.
"Belum tau Kak, inginnya Kak Shaka sih di sana tapi aku menurut saja." ucap Diana dengan polosnya.
"Semoga ya, supaya kita satu kampus." ujar Nico penuh harap.
"memangnya kenapa kalau satu kampus?" tanya Diana.
"Ya kan setidaknya banyak yang jagain kamu. Ada aku, Dion dan juga Bu Syifa. Apalagi kamu baru di Jakarta." ujar Nico selanjutnya. Tak mungkin jika langsung mengutarakan niatannya untuk mendekatinya.
"Alhamdulillah, ibu lega sih dengarnya. Sebenarnya ibu agak khawatir juga melepas Diana jauh. Apalagi di tempat baru tentu saja harus beradaptasi. Terimakasih ya Nak Nico mau menjaga Diana." ujar Bu Wati.
"Iya bu, sudah seharusnya saya menjaga Diana." ujar Nico keceplosan.
"memangnya kenapa harus?" tanya Diana menyelidik.
"Maksudnya kan kamu adalah adik dari Kak Shaka. Aku dan Kak Shaka juga sudah seperti saudara sendiri. Jadi bukankah sebaiknya kita saling menjaga satu sama lain. Apalagi kamu seorang gadis. Pasti Bapak dan ibu cemas jauh dari kamu." Nico menjelaskan dengan hati-hati karena sepertinya Diana ini sosok yang gampang sensitif seperti Shaka.
Mendengar penjelasan itu Diana pun tampak tersenyum.
"Makasih Kak Nico." ucapnya dengan suara lambut.
Ah, begini saja jantung Nico rasanya sudah berdegup tak karu-karuan. Jika saja tak ada siapapun saat ini mungkin Nico sudah salto-salto kegirangan.
"Tenang Nico, tetap selow jangan buru-buru. Mendapatkan sebuah berlian harus bersabar menggali tanah yang dalam. Diana masih sangat muda dan pastinya dia harus didekati dengan baik-baik." Nico menyemangati dirinya dalam hati.
Entah sejak pertama kali melihat Diana rasanya Nico telah jatuh hati. Hal itu yang membuat Nico berani mengambil keputusan meski harus menunggu lama untuk mendapatkannya.
__ADS_1
...****************...