
"Katakan siapa yang menyuruhmu!" Sekali lagi Papa Wira kembali bertanya sekal lagi.
"T-tuan Antonio." gadis itu kembali mengucapkan nama itu.
Baik Shaka maupun Dion masih penasaran dengan nama itu. Namun air muka Papa Wira tampak berubah keruh dan tangannya menggenggam keras.
"Siapa Tuan Antonio itu Pa?" Dion yang penasaran langsung menanyakannya langsung.
"Dia Rival Papa." ucapnya datar.
"M-maafkan saya tuan, saya terpaksa melakukan ini karna membutuhkan uang untuk biaya pengobatan ibu saya. Saya siap mendapat hukuman asal jangan dipenjara karena saya harus merawat ibu saya. Maaf tuan." suara gadis itu terdengar pilu.
"Kau mengobatkan ibumu dengan uang hasil menipu, tapi kau tidak memikirkan bagaimana orang lain justru menjadi korbannya. Gara-gara kelakuanmu mamaku sekarang tak sadarkan diri di rumah sakit. Kau ingin maaf setelah semua kekacauan ini?" Diantara ketiga pria tersebut Shaka yang paling tersulut emosi.
Gadis itu hanya menangis saja sejak tadi. Rasanya kini dia pasrah akan apa yang nantinya dilakukan orang-orang itu.
"Maaf tuan.. maaf... aku bersedia melakukan apapun asalkan jangan dipenjara. Aku akan berusaha mempertanggungjawabkan semuanya." lirih gadis itu. Berusaha mengais belas kasih.
"Pa, dia memang salah namun ada alasan dirinya melakukan hal ini. Justru yang harus kita kalahkan saat ini adalah rival Papa yang bernama Antonio itu." ujar Dion.
Papa Wira tampak terdiam menelaah perkataan Dion. Ada benarnya juga dia bisa memanfaatkan gadis ini untuk mengungkap kebenarannya.
"Apa kau memiliki bukti bahwa kau memang benar-benar disuruh oleh Antonio?" Papa Wira mencoba mencari celah untuk membalas rivalnya.
"A-ada tuan, ada bukti transfer dan bukti pesan singkat dimana mereka menyuruh saya. Saya masih menyimpan semuanya." gadis itu tampak bersemangat. Semoga saja dengan ini sedikit mengurangi hukuman yang dia terima.
"T-tapi.. jujur saja tuan saya sangat takut. Pak Anton sangat kejam dan pasti setelah ini akan mengincar saya dan ibu saya. Saya hanya warga miskin pak." ujar Gadis itu.
"Siapa namamu?" tanya Papa Wira.
"T-Tiara, tuan." gadis itu sangat gugup.
"Tiara, kau mau mengungkap semuanya ke publik, aku akan membantumu. Setelah kau mengakui semuanya pergilah yang jauh." Meski dia sendiri masih kesal namun alasan gadis itu membuat Papa Wira sedikit luluh. Dia pernah berada di posisinya saat dulu ibunya sakit dan butuh uang.
"I-iya Tuan, terimakasih, saya sangat senang." gadis itu tak berhenti bersyukur dalam hatinya. Rupanya dia masih diberi kesempatan oleh Tuhan untuk merasakan kebebasan.
"Pa, apa tidak terlalu baik jika kita membiarkan dia bebas, dia sudah berbuat kejahatan dan harus diberi hukuman." Shaka masih tidak terima.
__ADS_1
"Hukuman, biar itu menjadi pertanggungjawaban dengan Tuhannya. yang penting sekarang kita mendapatkan titik temu bagaiamana akhirnya kita bisa memecahkan masalah ini." ujar Papa Wira.
"Nggak gitu dong Pa, gimana kalau dia cuma membual. Bisa saja kan akal-akalan dia hanya supaya bebas dari hukuman kita." Sebenarnya Shaka hanya tidak ingin kecolongan lagi. Dia harus ekstra waspada megingat masalah ini telah merebak dan merugikan keluarga dan perusahaan.
"Beegini saja, kita cari tahu dulu kebenarannya apa benar yang dikatakan gadis ini. Jika memang benar adanya biar Papa yang memutuskannya." Akhirnya Dion bertindak sebagai penengah.
"Baiklah. Tapi ingat, sekali saja kau membuat kesalahan dan berbohong maka urusanmu adalah denganku. Dan aku punya sesuatu yang lebih tajam dari ini." Ujar Shaka dengan mengacungkan cutter yang sejak tadi dia pegang.
Gadis itu langsung mengangguk ketakutan. Dia harus benar-benar bisa membuktikan bahwa dirinya tak sepenuhnya bersalah.
Ketiganya kini bergegas pulang. Di perjalanan Dion tak henti-hentinya bertanya kepada Shaka perihal aksinya yang terbilang begitu menyeramkan.
"Kak, bisa-bisanya kakak mau merobek mulut gadis itu dengan cutter, mana kak Shaka serem banget lagi." ujar Dion.
"Gimana? udah kelihatan menyeramkan ya?" Shaka hanya menyengir.
"Gak cuma serem, dari tatapan Kka Shaka yang begitu ssantai namun penuh intimidasi benar-penar seperti orang Psycho tau, hiii aku aja ngeri sendiri." Dion bergidik ngeri.
"Itu kakak udah latihan akting berhari-hari tau, biar lebih meyakinkan dan hasilnya gadis itu langsung ngaku kan. Kalau kamu yang melakukannya sih belum tentu. Soalnya muka mu itu kan seperti hello kitty." cibir Shaka.
"Gak tok cer gimana orang tiap hari gass terus." Shaka menyaut.
Sementara Papa Wira yang masih dirundung galau sejak tadi hanya diam saja. Tak sekalipun merespon sebab pikirannya sekarang sedang penuh oleh Mama Rina."
"Oh iya pa, Pak Antonio itu bukannya pemilik hotel Nevlous tempat papa dibikin skandal itu kan?" Akhirnya Shaka mencoba mengajak papanya berbicara.
"Iya, betul." jawab Papa Wira.
"Terus gimana bisa papa menjai rivalnya? setahuku papa nggak begitu dekat tuh dengannya." ujar Dion kemudian.
"Dia dulu adalah teman SMA papa. Saat itu dia cukup akrab dengan Papa. Tapi orang tua Antonio adalah seseorang yang perfeksionis dan terus menuntut anaknya untuk selalu sempurna dan nomor satu.
Sementara Papa dulu selalu menjadi juara kelas, dan orang tua Antonio tidak terima dan selalu membanding-bandingkan dengan papa. Sejak saat itu Antonio jadi membenci Papa. Bahkan..." Papa Wira menjeda ucapannya.
Kedua putranya pun langsung dibuat penasaran apalagi mimik muka Papa Wira tampak berubah.
"Ada apa pa?" Dion dan Shaka bertanya serentak.
__ADS_1
"Dia.. Dia yang berselingkuh dengan Vanya. Dan hubungan itu sengaja dia lakukan hanya untuk menghancurkan aku."
Shaka pun terbelalak mendengar penuturan Papa Wira. Baginya masa lalu papa Wira dan Mamanya terlalu pahit. Tapi semua itu sudah lama berlalu.
"Sudah-sudah, itu semua kan sudah belalu." Papa Wira tampak tersenyum. Entah apa arti senyuman itu namun jauh dalam hatinya dia sudah mengikhlaskan semua yang telah terjadi.
****
Keesokan harinya setelah menyelidiki siapa sosok Tiara juga mengumpulkan semua bukti-bukti yang ada kini Tiara sudah siap muncul di hadapan publik mengklarifikasi masalah yang sedang menimpa Papa Wira.
Dengan didampingi pengacaranya dia duduk di depan podium dengan disaksikan puluhan wartawan.
"S-selamat pagi, Saya Tiara Maharani. Disini saya akan mengatakan dengan jujur tentang masalah yang menimpa Pak Wira Dinata, memang benar saya adalah gadis yang berada di foto-foto yang beredar belakangan ini. Dan kejadian itu memang benar adanya. Tapi, semua itu sudah direkayasa dan saya sengaja melakukan hal itu karena saya disuruh dan dibayar oleh seseorang. Diantara saya dan Pak Wira tidak ada hubungan apapun bahkan kami sama sekali tidak saling mengenal. Orang yang telah menyuruh saya melakukannya tak lain adalah Pak Antonio Dirga. Direktur hotel Nevleous." penuturan Tiara tentu saja langsung mengundang kehebohan semua orang.
Semua wartawan langsung berlomba-lomba mengajukan pertanyaan kepada Tiara. Tanpa banyak berbicara pengacara langsung membeberkan semua bukti-bukti berupa isi pesan singkat, bukti transfer dan satu lagi yang paling kuat adalah Tiara diaam-diam merekam video amatir yang menunjukkan Antonio memberi arahan apa saja yang harus Tiara lakukan dan segala ancaman-ancamannya.
"Untuk uang yang dikirimkan saya sudah mengembalikan semuanya tanpa kekurangan." Tiara begitu beruntung selain diampuni oleh Papa Wira dia juga diberi keringanan dengan meminjami uang yang telah digunakan sebagai pengobatan ibunya. Tiara bejanji akan mencicilnya.
Sementara di tempat lain tampak Papa Wira sedang duduk di samping brankar dimana Mama Rina terbaring lemah. Alat-alat medis menancap di tubuh wanita paruh baya itu dengan wajahnya yang begitu putih pucat.
Papa Wira meraih jemari istrinya dengan perasaan yang begitu hancur. Ingin sekali dirinya menggantikan rasa sakit yang kini sedang di derita istrinya.
"Ma, sayang... aku kesepian tanpa kamu. Aku harus apa supaya kamu bangun? Aku bahkan sudah membuktikan bahwa aku tidak bersalah Ma, Aku hanya sayang kamu Rina.. Rinaku yang setiap hari menemani hari-hariku. Anak- anak sudah merindukannmu sayang. Ku mohon bangunlah aku merindukan suaramu." rasanya tak ada lagi yang bisa papa Wira lakukan selain berharap pada kesembuhan istrinya.
Air mata yang telah membanjiri wajahnya selama berhari-hari ini pun seolah tak bisa menebus rasa sedih dan bersalah yang dia rasakan.
"Maaf ma.. maafin papa..." hanya kata itu yang terus-terusan Papa Wira ucapkan sebagai bentuk penyesalan.
Dia menundukan kepalanya dan membiarkan untuk mengistirahatkan sejenak pikirannya. Namun sebuah usapan lembut di puncak kepalanya membuatnya semakin nyaman.
"Saking rindunya kamu sampai membayangkan sentuhanmu sayang." gumam apa Wira.
"Mas..."
Papa Wira langsung terkejut saat mendengar suara itu.
...****************...
__ADS_1