Dosenku Istriku

Dosenku Istriku
Bab 37 perasaan terpendam


__ADS_3

Akibat skorsing Dion kini Nico menjadi sendirian di kampus. Pria usil itu meski selalu sok ramah kepada semua orang nyatanya cukup pilih-pilih teman.


Kejadian masa lalu dimana dia dikhianati teman sendiri menjadi alasan utama Nico menolak berteman dengan sembarang orang.


Dulu saat masih SMA Nico pernah hampir dijebak temannya sendiri dengan menyelipkan obat-obatan terlarang di dalam tasnya. Beruntung Dion yang mengetahui dan membantu mengenyahkan barang haram tersebut.


Hal itu dikarenakan persaingan mendapatkan seorang gadis. Jika hal itu tak terselamatkan mungkin saat itu Nico akan mendapatkan masalah besar.


"Ck, si oncom di skorsing pasti enak-enakan sama kakak ipar. Sedangkan gue mesti luntang-lantung sendirian di kampus." gumam Nico sembari berjalan menyusuri koridor kampus.


Nico pulang agak telat sehingga suasana kampus sudah mulai sepi. Ditambah langit senja yang mulai gelap. Saat berjalan di dekat taman sayup-sayup Nico mendengar suara seorang perempuan menangis. Entah kenapa bulu kuduknya terasa merinding sendiri. Pikiran-pikiran aneh mulai muncul di benaknya. Namun Nico juga penasaran mengingat suara itu sepertinya sangat nyata.


"Amit-amit kalau beneran kunti. Semoga aja kuntinya cantik." gumam Nico sembari berjalan mengendap-endap mendekati sumber suara.


Saat mencari beberapa saat dia pun menemukan seorang gadis tengah menangis tersedu-sedu di bangku taman yang cukup tersembunyi karena berada di balik pohon besar.


Nico sangat mengenali sosok itu. "Hah, untung saja kunti cantik." ujar Nico.


Gadis itu pun menoleh ke arah Nico dan cepat-cepat menghapus air matanya.


"lo ngapain di sini." ujar Bianca.


"Lah lo sendiri ngapain nangis di sini. Udah hampir magrib bukannya pulang." omel Nico sembari duduk di samping Bianca.


"Bukan urusan lo." jawab Bianca ketus.


"Hmm.. Ya Sorry. Cuma gue penasaran tadi lo nangis suaranya kenceng bener kek kunti." ujar Nico dengan santainya.


Seketika Bianca melotot ke arah Nico.


"Eh, kuntinya marah." celetuk Nico.


"Kunti-kunti pala lo." omel Bianca.


"Ya abisnya sendirian di bawah pohon gede gini. Awas lo kesambet." jawab Nico.


Bianca hanya diam. Dia tak menjawab ucapan Nico malah gadis itu sibuk dengan pikirannya sendiri.


"Lo ada masalah bilang aja. Sapa tau gue bisa bantu." ujar Nico.


Sebenarnya Nico tidak tega melihat Bianca yang tengah bersedih seperti itu. Namun lagi-lagi Bianca tak menjawab. Dia masih saja sibuk mengelap air matanya.


"Yaudah kalo lo nggak mau cerita. Gue tunggu lo disini sampe pengen pulang. Ntar pulang gue anter soalnya dah mau malem." ujar Nico.


Sejenak Bianca mulai menoleh ke arah Nico. Pria itu selalu perhatian kepadanya padahal Bianca tak pernah menggubrisnya. Bianca, Nico dan Dion sebenarnya adalah teman satu SMA. Hanya saja Dion tak terlalu merespon Bianca sejak dulu.


"Gue.. Gue masih nggak nyangka ternyata Dion udah nikah. Sama Bu Syifa lagi." ujar Bianca akhirnya.

__ADS_1


"Ya trus gimana lagi. Semua udah terjadi Bi. Udah gue bilang lupain Dion." ujar Nico.


"Tapi gue cinta sama Dion. Lo tahu sendiri gue ngejar-ngejar dia sejak SMA tapi gak pernah sedikitpun Dion menganggap gue." kini tangis Bianca kembali pecah.


"Lah itu lo tahu. Dion gak pernah merespon lo kenapa masih aja berharap sama Dia. Apalagi sekarang Dion sudah menikah otomatis dia sudah milik Bu syifa. Jadi lo harus terima kenyataan Bi." ujar Nico.


"Tapi lo nggak ngerti perasaan gue Nic." suara Bianca terdengar semakin parau.


"Justru itu. Jangan lo buang-buang waktu lo buat orang yang selama ini nggak nganggep lo. Lo berhak bahagia dengan orang yang bisa membalas perasaan cinta lo. Jangan hanya terpaku pada satu orang yang bahkan sulit buat lo gapai. Sayangi diri lo Bianca, jangan menyerah dan tetaplah jadi baik. Jangan lo rusak kebahagiaan orang lain demi keinginan lo semata." Nico akhirnya pun bersuara. Kali ini tatapan pria itu tampak serius bahkan Bianca seolah baru menemukan sisi lain Nico.


Tak ada jawaban. Yang ada hanyalah Bianca yang semakin menundukkan wajahnya. Namun tak berselang lama dia kembali menatap Nico.


"Lo bener. Sejak gue ngelakuin hal jahat ke Bu Syifa sebenarnya sejak itu gue terus merasa bersalah meski sudah minta maaf. Kemarahan Dion benar-benar bikin gue takut." ujar Bianca.


Sejak Bianca menjebak Syifa di gudang waktu itu Dion memang marah besar kepada Bianca. Meski tidak ada kekerasan fisik namun setiap kata yang diucapkan dengan kemarahan Dion sudah membuat hati Bianca terasa remuk.


Bahkan setelah meminta maaf kepada Syifa secara langsung rasanya Bianca masih terngiang-ngiang oleh kemarahannya.


"Gue percaya lo bisa jadi gadis baik Bi, jangan sedih lagi masih banyak kok cowok yang sayang sama lo." Nico kini mengusap air mata yang jatuh di kedua pipi Bianca.


"maaf.." ucap Bianca lirih.


"Nggak apa-apa." Nico tampak mengulas senyum kepada Bianca. Sebuah senyuman yang entah kenapa terasa begitu berbeda. Bukan cengiran usil seperti biasanya.


Tanpa diduga Bianca tiba-tiba memeluk Nico. Membenamkan wajahnya di dada bidang pria itu.


"i-iya.." entah kenapa lidah Nico terasa kelu. Debaran jantungnya pun tak terkondisikan.


"Andai lo tahu Bianca bahwa akulah pria yang siap mencintai dan membahagiakanmu. Tapi kenapa lo gak pernah menyadari itu." batin Nico.


...****************...


Syifa masih tak menyangka bahwa keluarga Dion begitu menerima dan menyayangi dirinya juga Bella.


Rasanya masih seperti mimpi. Segala perhatian untuk Bella yang mungkin tak bisa dia berikan kini dengan mudahnya diwujudkan oleh Dion dan keluarganya.


Bahkan sekarang ini orang tua Dion membayar pengasuh khusus untuk Bella. Tak main-main mereka menyeleksi dengan sangat teliti seolah Bella adalah cucu kandungnya sendiri. Dengan penuh rasa haru Syifa terus memandangi sang putri yang tengah tidur nyenyak di kamar barunya.


"Hmm.. Kalau ngelamun bisa kesambet loh." Dion tiba-tiba saja memeluk Syifa dari belakang.


"Dion.. Ngagetin deh. Jangan berisik nanti Bella bangun." bisik Syifa.


"Bella nya nggak bangun tapi ini yang bangun." Dion menunjuk ke arah celananya.


"Ish.. Kebiasaan." Syifa menyikut pinggang Dion dan buru-buru menghindarinya.


Syifa bisa senewen sendiri lama-lama menghiraukan suami yang kelewat me sum itu.

__ADS_1


"Sayang keluar yuk. Bosen di rumah terus." ujar Dion.


"kemana? Emang tugasnya udah dikerjakan?" tanya Syifa.


"Udah tinggal setengah sisanya nanti lagi." ujar Dion.


"Please sayang, pengen riding bentar aja sama kamu." dengan wajah puppy face andalannya membuat Syifa tak bisa menolak lagi.


Akhirnya Syifa pun menyetujui permintaan Dion. Mereka bersiap untuk pergi. Sebelum itu mereka berpamitan kepada Mama Rina.


Dion mengendarai motornya dengan kecepatan sedang. Menyusuri jalanan malam dengan sesekali bercengkrama.


"sayang aku pengen makan jagung bakar di sana." Syifa menunjuk penjual jagung bakar di pinggir jalan.


"oke." Dion menepikan motornya dan memesan dua jagung bakar serta minuman hangat.


Disana banyak beberapa pasangan yang juga tengah menikmati kebersamaannya. Tak jarang juga beberapa gerombolan pria yang sedang asyik nongkrong.


Kedatangan Dion dan Syifa nyatanya langsung menjadi perhatian beberapa orang. Bagaimana tidak tampang rupawan keduanya jelas menunjukkan jika mereka bukan orang dari kalangan biasa. Meski Dion pun sering nongkrong di tempat seperti ini.


Beberapa pasang mata pria-pria itu sama sekali tak lepas dari Syifa. Hal itu membuat Dion resah sendiri. Direngkuhnya pinggang Syifa dengan posesif seolah ingin menunjukkan bahwa Syifa hanya miliknya seorang.


"Dion malu ih, banyak orang ini." gumam Syifa yang sedikit merasa risih dengan posesifnya Syifa.


"Biarin. Biar mereka tahu kalau kamu milikku. Itu mata nggak jelalatan lagi."


Kalau begini mau tidak mau Syifa harus pasrah.


"Yaudah dikarungin sekalian aja, biar nggak ada yang lihat." ujar Syifa sembari mencebikkan bibirnya.


"Dikarunginnya nanti aja kalau di kamar. Sekarung berdua." goda Dion.


Syifa pun hanya bisa memutar bola matanya mendengar jawaban Dion.


"Eh Dion, jadi ini ya istri lo yang katanya tante-tante itu." tiba-tiba saja seorang gadis mendatangi Dion dengan ucapannya yang membuat Syifa mengernyitkan dahinya.


...****************...


mau kasih visual Dion sama Syifa. Semoga suka ya.



Visual Syifa.



Visual Dion

__ADS_1


__ADS_2