Dosenku Istriku

Dosenku Istriku
Bab 66 pengakuan Shaka


__ADS_3

Dion masih memacu tubuhnya di atas Syifa. Keringat bercucuran mengalir di tubuh keduanya. Bahkan AC di ruangan tersebut rasanya tak ada fungsinya lagi.


Sesekali Syifa melirik Bella yang tengah tertidur di atas kasur king size dengan lelap.


Dion benar-benar tak membiarkannya beristirahat. Sudah satu jam lebih mereka beradu di atas sofa.


"Mas... Udah.. Aku capek.." rengek Syifa.


"Nggak bisa sayang, itu hukuman buat kamu." Dion seolah tak peduli dengan protesan Syifa.


"Tubuhmu begitu candu sayang. Rasanya aku tidak bisa berhenti. Enak sekali.." Dion menggeram dengan suara beratnya.


"Tapi aku capek, bisa-bisa besok nggak bisa jalan."


"Nggak apa-apa aku gendong."


Rasanya jika sudah begini Syifa tak bisa lagi menolak. Percuma saja berbicara dengan Dion jika sudah mode begini. Harapan Syifa sekarang hanyalah Bella yang terbangun dan menangis.


Ide pun pun muncul. Syifa berniat untuk berteriak agar Bella segera bangun namun belum sempat rencananya terlaksana tiba-tiba Dion menggendong Syifa dan membawa tubuhnya masuk ke dalam Kamar mandi.


"Kamu pikir aku nggak tahu niatan kamu?" Dion tersenyum smirk.


"A-ahh.. A-apa maksud kamu?" Syifa berusaha tak tau apa-apa.


"kamu ingin berteriak kan biar Bella bangun?"


"Ee.. Enggak kok." Syifa berusaha mengelak.


...****************...


"Huuaaa... Hhuuaaaa... Mommy igit ucing..." suara tangisan Bella langsung menggema di ruangan tersebut.


Syifa yang masih sangat mengantuk hanya bisa mengerjapkan kedua netranya. Sementara Dion yang tertidur pulas langsung bangun dengan panik.


"Ada apa? Ada apa Bella sayang?" Dion langsung bangun menghampiri Bella.


"Huuaaa... Papa igit ucing..." Bella pun kembali menangis sambil menunjuk leher Dion.


Sejenak Dion dan Syifa saling memandang dengan bingung.


"Cucu Mommy igit ucing.." Dengan berderai air mata serta hidungnya yang tampak merah. Bibir Bella melengkung ke bawah sambil menunjuk arah dada Syifa.


Barulah Syifa dan Dion paham. Tanda kepemilikan yang semalam mereka buat saat dalam peraduan panas. Apalagi tampak dada Syifa yang sedikit menyembul di balik gaun tidurnya.

__ADS_1


Keduanya langsung menahan tawa saat Bella mengira tubuh kedua orang tuanya itu dikira digigit kucing.


"Maksud Bella ini? Mommy digigit kucing?" tanya Syifa kepada Bella.


Bella pun mengangguk dengan sendu.


"Oh, iya semalam ada kucing garong nakal sayang. Nanti biar Mommy usir kucingnya ya. Kalau bisa tidur di luar sekalian biar nggak gigit mommy lagi." Syifa melirik ke arah Dion.


Dion pun mengernyitkan keningnya. Dia paham yang dimaksud Syifa.


"Kalau kucingnya tidur di luar kan kasian. Nanti kalau kedinginan peluk siapa?" Dion mencoba merayu Syifa.


"Noo.. Noo ucing pa.. Ucing akal.." Bella langsung melayangkan tangannya memukul Dion. Dia tak terima karena menganggap kucing tersebut nakal.


Syifa pun langsung menoleh ke arah Dion sambil tersenyum smirk.


"Syukuriiin...." Bisik Syifa dengan nada mengejek.


"Ih, kok Bella nggak di pihak papa sih? Papa kan juga digigit kucing. Kucing betina galak lagi." protes Dion tak terima.


Untuk pertama kalinya Bella tak memihak Dion. Hal itu membuat Dion senewen sendiri. Sementara Syifa dengan senyum kemenangan mengajak Bella keluar dari kamar. Syifa memakai sweater untuk menutupi bekas ****** di dada dan lehernya.


Setelah sarapan kini Syifa dan Dion bersiap untuk kembali pulang karena siang Syifa harus ke kampus begitu juga dengan Dion.


"Ada apa sayang?" Syifa bertanya saat Dion tampak membaca pesan tersebut dengan serius.


"Kak Shaka minta aku buat bertemu di rumah. Katanya ada hal penting yang ingin di sampaikan.


"Oh, yaudah ayo kita pulang." mereka pun bergegas untuk pulang.


Sampai di rumah Syifa langsung pergi ke kamar untuk menidurkan Bella sementara Dion menemui Shaka di ruang keluarga.


Disana sudah ada Shaka dan kedua orang tuanya. Sementara tak berselang lama Syifa menyusul ke bawah.


"Baguslah semuanya sudah berkumpul." ujar Shaka.


"Ada apa ini kak? Kenapa kami disuruh berkumpul?" tanya Dion.


Shaka nampak menghela nafas kasar. Ada keraguan di dalam hatinya namun dia sudah bertekad untuk jujur.


"Aku ingin mundur dari jabatan direktur di perusahaan Papa." ucap Shaka akhirnya.


Semua orang langsung terkejut dengan keputusan yang diambil Shaka. Terutama Dion dan Wira.

__ADS_1


"Kenapa Shaka? Apa kamu tidak betah? Ada masalah bisa kita bicarakan bersama." ujar Shaka.


"Iya Kak, bahkan semua orang sangat setuju kakak menjadi direktur. Kak Shaka sangat mampu bekerja di bidang tersebut kan?" timpal Dion.


Dengan bibir yang bergetar Shaka mencoba untuk memberanikan diri berbicara lagi.


"Karena yang berhak atas perusahaan itu adalah kamu Dion. Kamu anak kandung Papa. Tidak denganku. Aku bukan Anak kandung Papa."


Degg..


Semua orang kembali dibuat terkejut. Ucapan Shaka ini bahkan dipertegas dengan mengeluarkan sebuah kertas yang berisi hasil tes DNA dirinya dengan Wira.


"Aku tak sengaja menemukan kertas ini di rumah Mama. Awalnya aku tak mengerti tapi saat aku meminta bantuan temanku yang berprofesi sebagai dokter akhirnya aku tahu maksud surat ini. Aku bukanlah anak kandung dari Papa. Bahkan jarak kelahiranku dengan tanggal pernikahan Papa saja sudah selisih banyak." dengan suara parau Shaka menjabarkan semuanya.


"T-tidak Shaka, kau anakku sampai kapanpun anakku." tolak Wira.


Kini Shaka menoleh dan menghampiri Dion yang diam mematung karena syok.


"Dion, maafkan aku. Selama ini aku sudah jahat dan selalu berburuk sangka kepadamu. Ternyata akulah yang anak haram. Miris sekali bukan? Aku telah termakan ucapanku sendiri. Maafkan aku." Shaka tampak menunduk lesu.


Tanpa mengatakan apapun Dion langsung meraih tubuh Shaka dan mendekapnya dalam pelukan.


"Kau kakakku. Selamanya akan jadi kakakku. Tak peduli kita berasal dari darah yang sama atau tidak kita tetaplah saudara. Dan tentang masa lalu aku sudah melupakannya.


Air mata jatuh meluruh membasahi wajah Shaka. Tak disangka bahwa sosok 'adik' yang dulu sangat dia benci ternyata memiliki hati yang sungguh lapang.


"Aku pria jahat Dion, aku tidak pantas menjadi kakakmu. Mana ada kakak yang berusaha menghancurkan adiknya sendiri. Bahkan dengan bodohnya aku ingin merebut istrimu juga. Aku benar-benar pengecut." seorang Shaka yang terkenal dengan sikap tegas dan dingin kini benar-benar tampak berbeda. Pria itu dengan mudahnya menunjukkan sisi lemahnya.


Manusiawi, karena sekuat apapun seseorang pasti memiliki titik lemah. Syifa menatap Shaka dengan iba. Dia pun teringat betul bagaimana rasanya mengetahui fakta seperti itu.


Sementara Wira kini menghampiri kedua putranya dan ikut memeluknya. Mengusap lembut kepala Dion dan Shaka. Begitu senang melihat kedua putranya bisa akur begini.


"Kalian anak Papa. Baik Shaka dan Dion sama saja. Kalian sama-sama kebanggan papa. Jadi jangan pernah berkecil hati ya." dengan lapang dada Wira memberitahu kedua putranya.


Rasa sakit hati dan kecewa di masa lalu memang luntur sudah ketika melihat Shaka yang tumbuh dengan baik. Baginya masa lalu itu sudah dia kubur dalam-dalam.


Biarlah kesalahan orang tua merek adi masa lalu. Asalkan kini anak-anaknya harus kembali akur. Karena hal terbaik dalam hidup adalah hadirnya sebuah keluarga yang harmonis.


...****************...


Bonus visual Bella bangun tidur ya..


__ADS_1


__ADS_2