Dosenku Istriku

Dosenku Istriku
Bab 61 ketahuan biang keroknya


__ADS_3

Dion terus melajukan motornya dengan kecepatan tinggi. Di kepalanya terus terngiang bahwa istri yang begitu disayanginya ternyata tak mau mengandung benihnya.


Harapannya yang begitu besar memiliki seorang anak kini harus terbanting oleh kenyataan.


"Aarrghhh...." Dion terus mengumpat sepanjang jalan.


Sementara di rumah Syifa masih menangis meratapi kepergian Dion. Dia duduk bersimpuh di teras.


Luna yang menyaksikan hal itu sembunyi-sembunyi merasa begitu bahagia. Tak sia-sia usaha dia sampai mengikuti ke rumah sakit.


Mama Rina mendengar kegaduhan di luar lekas keluar. Dia langsung menghampiri Syifa. Sementara disaat bersamaan tampak Shaka dan Papa Wira yang baru datang.


"Syifa, kenapa sayang?" Mama Rina langsung memeluk Syifa.


"Ada apa ini?" Papa Wira bingung melihat keadaan Syifa begitu pula Shaka.


"Biar Mama yang temani ya. Ayo sayang kita ke dalam." mama Rina menuntun Syifa menuju kamarnya.


Sebagai orang tua tentu tak tega melihat menantu kesayangannya sedih namun terlalu ikut campur urusan rumah tangga anak juga tidak baik. Sehingga Mama Rina tak bertanya apapun menunggu Syifa bercerita sendiri.


"Sayang setiap rumah tangga pasti ada saja cobaannya. Tapi kamu harus kuat ya. Semua pasti bisa dilewati. Sabar." Mama Rina mencoba menenangkan Syifa.


Syifa langsung memeluk erat Mama Rina. Ibu mertua yang sangat perhatian disaat dia jauh dari kedua orang tuanya.


"Ma, maafin Syifa sudah salah. Syifa menyakiti perasaan mas Dion." Syifa akhirnya berbicara.


Setelah sedikit mereda Syifa pun menceritakan masalahnya. Hanya dengan Mama Rina dia merasa nyaman bercerita. Setelah itu Mama Rina meminta Syifa untuk beristirahat.


"Sayang, kamu istirahat saja ya. Mumpung Bella juga masih tidur." Mama Rina mengusap lembut puncak kepala Syifa.


Setelah Mama Rina keluar dari kamar Syifa rupanya Papa Wira dan Shaka langsung menghampiri dan bertanya.


"Syifa kenapa Ma? Apa Dion melakukan sesuatu?" tanya Papa Wira.


"Hanya salah paham." Mama Rina pun menceritakan apa yang telah dikatakan Syifa agar keduanya tidak penasaran.


Shaka sebenarnya tak ingin ikut campur. Namun saat dia berjalan menuju kamarnya tak sengaja mendengar Luna berbicara di telepon.


"Iya rencanaku kali ini berhasil. Pokoknya seneng banget aku udah bikin Kak Dion berantem sama istrinya. Sekarang tinggal langkah selanjutnya buat pepet dia." entah bicara dengan siapa namun Shaka terus memperhatikan obrolan Luna.


"Iya lah, nggak rela pokoknya aku harus dapetin Kak Dion apapun caranya. Kalau bisa aku segera singkirin wanita sialan itu bersama anaknya. Padahal niat awal aku mau jebak wanita itu sama kakak iparnya. Eh malah nemu ide baru." ucap Luna dengan cekikikan.

__ADS_1


Shaka kini mulai paham dengan arah pembicaraan Luna bahwa titik permasalahan ini berawal dari gadis itu.


BBRAKKK


Tanpa permisi Shaka langsung membuka pintu kamar yang ditempati Luna dengan kasar. Amarahnya sudah di ubun-ubun.


"Oh jadi kamu biang keroknya. Kamu yang membuat masalah hingga Dion dan istrinya berantem." Shaka menatap nyalang Luna.


Seketika Luna terkejut sekaligus ketakutan. Selama ini Shaka terlihat sangat dingin dan acuh. Tak disangka dia justru ikut marah atas hal ini.


"emm.. K-kak Shaka. A-aku bisa jelaskan.. " Luna langsung tergagap.


Shaka mendekati Luna dengan tatapan tajamnya. Pria jangkung itu berdiri tepat di depan Luna yang tingginya hanya sampai sebahu Shaka.


"Kau gadis licik. Berani-beraninya kau membuat masalah dengan keluargaku." geram Shaka.


"K-kak Shaka.. Itu.. Justru aku juga ingin membantu kakak. Aku tau Kak Shaka suka dengan Kak Syifa kan. Dan kita bisa bekerja sama untuk mendapatkan orang yang kita sukai." mati-matian Luna berusaha merayu Shaka dengan harapan keinginannya ini diterima Shaka.


Shaka tampak tersenyum smirk. Kemudian menundukkan wajahnya hingga tepat lurus dengan wajah Luna.


"Idemu bagus juga Luna. Aku suka itu." ucap Shaka.


Mendengar jawaban Shaka membuat Luna merasa sangat lega dan bahagia. Kini dia memiliki seseorang yang akan membantu melancarkan aksinya.


Setelah puas menggertak Luna kini Shaka bergegas mencari Dion. Bagaimanapun dia merasa tergerak hatinya. Dia memang masih mencintai Syifa namun dia sadar kebahagiaan Syifa terletak pada Dion. Dan dia ingin wanita yang dicintainya kembali bahagia.


Syifa yang berada di kamarnya terus gelisah apalagi Dion sama sekali tak mengangkat teleponnya. Bahkan sudah malam pria itu belum juga pulang. Istri mana yang tak resah menunggu kedatangan suaminya.


Sementara Dion kini tengah berada di salon kecantikan miliknya. Dengan wajah yang kacau dia berjalan memasuki ruangan pribadinya di tempat itu. Bahkan sapaan karyawan pun tak dia gubris.


Hana yang sedang melakukan beberapa pekerjaan sempat terkejut dengan tingkah bosnya itu.


"Mas Dion kenapa ya? Sepertinya sedang ada masalah?" ucap salah satu karyawan.


"Ya namanya manusia tak luput dari masalah. Tapi kita jangan ikut campur urusan bos. Nggak baik." titah Hana.


Didalam ruangan Dion menatap ponselnya yang sejak tadi berdering. Beberapa panggilan dari Syifa, dan lagi panggilan dari Shaka juga.


Setelah itu dia menatap layar ponselnya dengan wallpaper foto cantik Syifa. Rasanya semakin sakit daja hatinya. Akhirnya Dion mematikan daya ponselnya dan meletakkan begitu saja di atas meja.


"Mas Dion masih lama disini ya? Saya mau pulang ini. Apa kuncinya saya taruh sini saja?" ucap Hana yang hendak pulang.

__ADS_1


"Hmm. Taruh situ saja." ucap Dion dingin.


Saat Hana baru saja keluar salon tiba-tiba ponselnya berbunyi. Dia melihat nomor Shaka yang menghubunginya.


"Halo Assalamualaikum Kak Shaka" ucap Hana dengan semangat.


"Waalaikumsallam. Hana kamu sudah pulang?" tanya Shaka.


"Ini baru saja keluar salon. Mau nyari ojol Kak." ujar Hana.


"Disitu saja. Aku jemput kebetulan dekat sebentar lagi sampai." Shaka pun segera melajukan mobilnya menuju tempat Hana.


Hana langsung tersenyum bahagia. Sudah beberapa hari ini Shaka terlihat perhatian kepadanya bahkan sering mengantarkan pulang dirinya.


Tak berselang lama mobil Shaka sampai. Pria itu langsung menyuruh Hana masuk ke dalam mobilnya.


"Kamu capek nggak? Mau temani aku ngobrol sebentar?" tanya Shaka.


"Enggak kok Kak. Oke aku temani." akhirnya Hana dan Shaka menuju sebuh cafe.


"Kenapa Kak Shaka terlihat cemberut begitu? Ada masalah?" tanya Hana.


Shaka pun menceritakan kejadian di rumahnya termasuk saat memergoki kelakuan Luna. Hanya kepada Hana lah Shaka berani bercerita panjang lebar.


"Jadi Bos Dion sedang bertengkar dengan Syifa? Pantesan tadi mukanya kusut banget kek kanebo kering. Bahkan dia masih di salon belum ada tanda-tanda pulang." ujar Hana.


"Jadi Dion kabur ke salon? Dasar bocah." geram Shaka.


"Mungkin lagi nenangin pikiran kali Kak. Tapi heran kok ke salon nggak ke cafe aja. Kan lebih gampang banyak cemilan. Kalau di salon emang mau nyemilin cat rambut?" seketika emosi Shaka langsung mereda mendengar celotehan Hana.


Sementara Shaka pun sebenarnya sudah tahu bahwa Dion memiliki beberapa usaha dan asetnya secara mandiri. Sehingga Shaka dan Hana menjadi semakin terbuka.


"Sepertinya aku harus turun tangan Hana. Jika dibiarkan maka mereka akan mudah dihasut lagi dan aku takut masalah ini semakin kacau." Hana pun hanya bisa tertegun dengan sikap Shaka.


Tak disangka pria yang awalnya sangat menentang hubungan adiknya itu kini justru bertekad ingin membantu memperbaiki hubungan itu.


"Yaudah mending habis ini Kak Shaka susulin aja Bos Dion ke salon. Kasian juga kalau lama-lama ngambek. Ntar cat rambutnya keburu habis dicemilin. Bisa warna-warni ntar ususnya." ujar Hana.


"Hahaha kamu ini malah mikir cat rambut. Dasar Hana." Shaka hanya bisa geleng kepala mendengar celotehan absurd Hana.


Hanya Hana yang bisa membuat pria kulkas itu tertawa lepas.

__ADS_1


...****************...


Jangan lupa like dan komen teman-teman biar Author semangat double up 🥰


__ADS_2