
Dion hendak pergi menggunakan motornya agar lebih cepat membelah kemacetan. Namun saat dia kembali mengambil kunci ke dalam rumah pandangannya terhenti pada sosok Syifa yang tengah berbicara dengan Shaka.
Memang sejak beberapa hari ini Dion merasa ada sesuatu diantara Shaka dan Syifa. Sebab pandangan Shaka yang selalu tak berkedip memandang istrinya.
Dion percaya kepada istrinya. Dia bahkan tak pernah menaruh curiga kepadanya karena Syifa selalu menjaga sikap dan menjaga pandangannya terhadap semua lawan jenis.
Akhirnya Dion pun memutuskan untuk mencari tahu apa yang sedang mereka bicarakan. Jujur saja melihat mereka duduk bersebelahan saja membuat hati Dion terasa tak nyaman.
Apalagi setelah mendengar pernyataan Shaka kepada Syifa. Suami mana yang tak marah jika istrinya diminta oleh pria lain. Apalagi pria itu adalah kakaknya sendiri.
Hampir saja Dion menghampiri Shaka dan meluapkan emosinya. Namun Mama Rina yang ternyata juga berada di dekat Dion langsung mencegahnya.
Bukan bermaksud untuk menghalanginya namun dalam situasi seperti ini haruslah diselesaikan dengan kepala dingin.
"jangan gegabah Dion. Dengarkan dulu jawaban istrimu. Mama tahu Syifa adalah wanita yang cerdas. Jadi lihatlah situasinya. Biarkan dia yang memutuskan. Jika keputusannya mengganjal di hatimu barulah selesaikan masalah kalian berdua." nasihat dari Mama Rina rupanya cukup membantu Dion.
Ya, nasihat orang tua sangat penting untuk seorang Dion yang masih banyak belajar dalam mengambil sikap dalam memimpin rumah tangganya. Bukan
"iya Ma, Dion akan tunggu jawaban Syifa. Terimakasih sudah mengingatkanku." ujar Dion.
"Bukannya Mama ikut campur dalam urusan kalian. Mama hanya tidak ingin ada kesalahpahaman diantara kalian. Tidak semua masalah harus disikapi dengan emosi. Apalagi kamu sekarang seorang kepala keluarga Dion. Jadikan rumah tanggamu selalu dalam keadaan harmonis." ujar Mama Rina sembari mengusap lembut bahu Dion.
Akhirnya mereka pun fokus dengan pembicaraan Syifa juga Shaka. Tampak sekali bahwa saat ini Syifa terkejut dan memandang Shaka dengan tatapan yang tajam.
"Kak Shaka, Kita memang pernah memiliki hubungan spesial di masa lalu. Dan tak dipungkiri bahwa aku pernah menaruh hati dan mencintai kakak. Kak Shaka sangat baik padaku dan juga aku sempat berharap hubungan kita akan terjalin selamanya.
Tapi kenyataannya hal itu tak berjalan lama. Kita memiliki kesibukan dan tujuan masing-masing.
Dan aku rasa hubungan kita cukup sampai di situ. Sekarang bukan saatnya lagi untuk mengungkit masa lalu.
Dan untuk ucapan Kak Shaka tadi bagaimana bisa kakak bicara seperti itu? Kak aku sekarang adalah istri dari adikmu. Meski Mas Dion adalah adik tirimu tapi apa pantas Kak Shaka mengatakan hal itu?" ucap Syifa berusaha membuat Shaka mengerti posisinya.
"Tapi Syifa. Jujur aku hanya ingin tahu bagaimana sebenarnya perasaanmu padaku. Apa kau masih memiliki perasaan itu? Jujur katakan keadaan hatimu." agaknya pertanyaan Shaka ini kembali membuat Dion ketar ketir. Ada perasaan takut jika Syifa masih memiliki perasaan kepada kakaknya.
"Jujur, aku sudah tak memiliki perasaan apapun kepadamu kak. Rasa itu telah hilang seiring waktu. Saat Kak Shaka memutuskan hubungan itu. Dan saat itu pula aku bertekad dalam hatiku tak akan mengulangi apapun yang telah menjadi masa lalu untukku." ujar Syifa tegas.
"Jika ditanya untuk siapa perasaanku? Rasa ini hanya untuk anak dan suamiku. Aku tahu Mas Dion tak sesempurna Kak Shaka jika orang lain menilainya. Tapi bagiku dia adalah laki-laki yang sangat tepat untukku. Aku merasa nyaman dan bahagia berada di sisinya. Jadi tak ada alasan lain untuk tidak mencintainya." Shaka hanya bisa terdiam lesu mendengar jawaban Syifa.
Sementara Dion yang merasa puas dengan jawaban Syifa pun tampak begitu bahagia.
"Ma, benar aku lega mendengar jawaban Syifa. Sekarang aku semakin yakin dengan istriku. Aku pamit dulu Ma." Dion pun akhirnya bisa meninggalkan rumah dalam keadaan lega.
Namun saat Dion pergi Mama Rina kembali mendengarkan perkataan Shaka yang sempat membuatnya merasa terganggu.
__ADS_1
"Baiklah Syifa. Jika itu keputusanmu. Tapi aku juga berhak mempertahankan keputusanku. Selama aku masih bertekad aku akan terus berusaha memenangkan hatimu. Aku akan mempertahankan perasaanku untukmu." ujar Shaka dengan tatapan kecewanya.
"Kak, Kak Shaka adalah orang baik. Jangan biarkan ambisi kakak merusak pikiranmu. Aku yakin suatu saat nanti kak Shaka akan menemukan seorang yang tepat daripada aku." Syifa yang tak ingin semakin berdebat pun segera menggendong Bella dan pergi meninggalkan Shaka.
...****************...
Dion memandang layar CCTV di cafenya. Mengamati pergerakan seseorang yang mengenakan pakaian serta helm serba hitam tengah melempari cafenya.
"Mas, tidak ada barang hilang sama sekali. Sepertinya orang itu sengaja ingin merusak cafe ini." ujar Alam yang ikut mengamati rekaman CCTV tersebut.
"iya, dan orang itu sepertinya orang yang sama ingin menabrak istriku." gumam Dion.
"Serius lo Bro. Orang ini yang kemarin nyerempet kakak ipar? terus kira-kira ada orang yang lo curigai nggak? Yang selama ini benci sama hubungan lo misalnya?" ujar Nico yang kebetulan membantu Dion.
Dion sempat berpikir sejenak. Selama ini memang taka ada yang mengusiknya kecuali Rangga. Mantan suami Syifa.
"Ada, tapi gue masih belum yakin soalnya belum ada bukti kuat. Gue bakal cari bukti lagi deh." ujar Dion
"Lo hati-hati Bro. Yang waspada aja. Apalagi kakak ipar mesti lo jaga baik-baik." Nico menepuk bahu Dion.
"Ya jelas. Apalagi hatinya. Mesti bener-bener gue jaga." semenjak kejadian di rumah tadi rasanya Dion masih merasa gundah. Meski Syifa mengatakan mencintainya tapi dia tetap harus waspada.
...****************...
Takut saja jika Dion akan salah paham kepadanya mengingat selama ini dia tak pernah mengatakan tentang hubungannya dengan Shaka di masa lalu.
Ingin sekali memberi tahu dan menjelaskan semuanya namun dia masih bingung bagaimana memulainya.
"Huft.. Kenapa jadi rumit begini." gumam Syifa lirih.
Tapi tiba-tiba sebuah tangan melingkar di perutnya. Aroma parfum woody yang khas serta sangat dia sukai pun membuatnya paham siapa yang sedang memeluknya. Siapa Lagi kalau bukan Dion suaminya.
"kok melamun sih. Ati-ati kesambet loh." bisik Dion di telinga Syifa.
"Kesambet siapa? memangnya ada hantu di rumah ini?" jawab Syifa sembari menoleh ke arah wajah suaminya.
"Ada, vampir yang senang menggigit leher sampai merah-merah." goda Dion.
"Hmm.. Kalau itu vampirnya aku. Eh, tapi ngomongin gigit-gigit jadi pengen gigit kamu lagi sayang. Lehernya udah putih lagi tuh. Waktunya kasih tanda lagi." Syifa pun kembali menggoda suaminya.
"hmm.. Mulai nih nyari mangsa." gumam Dion.
Namun tiba-tiba Syifa langsung mencium leher Dion hingga dirinya terkesiap dan melepas pelukannya.
__ADS_1
"Eh,"
"Bentar sayang. Cuman cium bentar kok. Janji nggak bikin merah." rengek Syifa sembari menjilat ujung telinga Dion.
Seketika Dion merasakan gelombang gairah yang tiba-tiba melonjak.
"jangan menggodaku sayang." gumam Dion.
"Cuma pengen main-main bentar sayang." pinta Syifa.
"Hmm tapi ada yang baper nih." gumam Dion dengan mata yang merem melek karena godaan Syifa.
"Apa? Ini?" Syifa meraba tonjolan yang mengeras di antara paha Dion.
"Sayaang..." Dion semakin panas dingin jika Syifa semakin menggodanya.
"Emang ini burung perkutut kamu suka baperan. Padahal semalam udah dikasih jatah lama." ujar Syifa.
Dion hanya bisa terkekeh mendengar sebutan burung perkutut yang diucapkan istrinya.
"Sayang, bagaimana dengan cafe kamu? Banyak barang yang hilang?" tanya Syifa yang ingin fokus kepada permasalahan suaminya.
"Nggak kok. Cuma orang iseng ngerusak kaca depan aja sayang. Alhamdulillah semuanya aman." ujar Dion.
"Alhamdulillah Mas, lega dengernya. Eh tapi juga was-was deh. Takutnya nanti ada yang iseng lagi." ujar Syifa.
Dion tak mengatakan bahwa pelakunya sama dengan seorang yang hampir mencelakainya. Dia hanya tidak ingin membuat Syifa khawatir.
"Sayang?" panggil Dion.
"Iya? Ada apa?" jawab Syifa yang menghadap wajah Dion.
"Apa kau mencintaiku?"
"hmm.. sangat. Cinta banget pokoknya." balas Syifa sembari merangkul leher Dion.
CUP..
Tanpa ragu Syifa langsung mencium bibir Dion dengan begitu lekat. Tak peduli bahwa saat ini mereka sedang berada di balkon ruang tengah yang bisa saja orang lain melihatnya.
Dan benar daja saat ini Shaka yang tak sengaja melintas langsung melihat keduanya. Semakin memanas saja hatinya.
...****************...
__ADS_1