Dosenku Istriku

Dosenku Istriku
Bab 68 sudah saling nyaman


__ADS_3

"Tinggal dikit lagi dihabiskan ya." Shaka masih saja menyendokkan bubur ke mulut Hana.


"udah kak, kenyang." ucap Hana lirih.


Akhirnya Shaka pun menghentikan suapannya. Dia meletakkan mangkuk dan kini mengambil botol air.


Memposisikan brankar Hana agar lebih tinggi supaya Shaka bisa memberi minum Hana dan tak tersedak.


Begitu piawai dan juga telaten Shaka merawat Hana. Entah kenapa Shaka begitu tak tega melihat Hana yang kesakitan begini. Terlebih tak ada satupun anggota keluarga yang dimiliki Hana.


Selesai memberikan minum Shaka mengambil tissue basah dan mengusap wajah gadis itu.


"Kak Shaka nggak kerja?" tanya Hana lirih.


"Aku kerja dari sini saja. Sekretarisku sudah mengirim file-file nya." Sejak Hana kecelakaan Shaka memang tak meninggalkan Hana sama sekali.


"Kak Shaka kenapa mau merawatku? Maaf aku sudah merepotkanmu. Secepatnya akan aku ganti uang untuk biaya operasinya." Hana merasa tak enak hati melihat Shaka begitu mempedulikannya.


"Bicara apa kamu? Jangan pernah berniat mengganti biaya operasinya. Yang penting kamu fokus dengan kesembuhanmu." Shaka mengusap lembut puncak kepala Hana. Senyum terpancar di wajah tegasnya membuat Hana merasa semakin terharu.


"Terimakasih." Hana tak kuasa meneteskan air matanya.


"Kenapa menangis? Jangan menangis. Apa ada yang sakit?"


"Tidak, aku hanya terharu. Biasanya aku akan melakukan semuanya sendiri jika sakit. Tak ada seorangpun yang peduli padaku. Tapi Kak Shaka begitu peduli bahkan mau merawatku." Air mata terus menetes semakin deras.


Shaka mendekat ke wajah Hana. Diusapnya air mata itu kemudian satu kecupan mendarat ke kening Hana.


Hana sempat terkejut tapi saat melihat wajah teduh Shaka membuatnya semakin terpana. Sebenarnya apa maksud pria itu memperlakukannya seperti itu. Apakah mungkin Shaka sudah mulai memiliki perasaan kepadanya.


"Jangan sedih lagi. Mulai sekarang aku akan selalu membantumu dan menemanimu." ucap Shaka.


"Apa maksud Kak Shaka? Apa Kak Shaka itu..." belum sempat Hana melanjutkan ucapannya tiba-tiba pintu ruangan terbuka.


Tampak Dion dan Syifa memasuki ruangan tersebut. Sementara Shaka yang sedang mengusap kepala Hana pun ikut terkejut.


"Mbak Hana bagaimana keadaannya? Maaf aku baru sempat menjenguk." Dion menghampiri Hana.


"Iya Hana. Aku khawatir banget ketika denger kamu kecelakaan." ujar Syifa.


Sementara Shaka keluar kamar untuk memberi ruang untuk mereka ngobrol. Tapi tak berselang lama Dion ikut keluar menghampiri Shaka.

__ADS_1


"Sudah mengobrol nya sama Hana?" tanya Shaka.


"Udah, tinggal Syifa tuh mengobrol. Omongan cewek aku nggak begitu faham. Oh ya kak, aku penasaran gimana bisa Kak Shaka dekat sama mbak Hana?" pertanyaan itu akhirnya keluar dari mulut Dion.


Mau tak mau Shaka pun akhirnya menceritakan bagaimana dirinya bertemu dengan Hana.


"Jadi sejak ulang tahun Bella itu Kak Shaka mulai dekat dengan Hana?" Dion memperjelas.


"Ya, awalnya aku ingin memanfaatkan Hana untuk mendekati Syifa. Tapi entah kenapa justru aku merasa nyaman bersamanya dan Hana juga membantuku untuk melupakan Syifa." Shaka berbicara jujur.


"Hmmm.. Syukurlah. Kalau Kak Shaka sudah melupakan istriku. Semoga saja Kak Shaka jadi betulan dengan mbak Hana." ujar Dion.


"Jadi gimana maksud kamu?"


"Jadi pasangan lah, emang Kak Shaka nggak ada niatan serius gitu sama dia? Atau jangan-jangan mau manfaatin mbak Hana aja?" Dion menatap tajam Shaka.


"Entahlah, aku masih bingung dengan perasaanku. Tapi aku juga sudah sangat nyaman bersama Hana apalagi saat dia dekat pria lain rasanya nggak rela." Shaka tampak menyunggingkan senyum. Tak biasanya seorang Shaka begitu peduli dengan orang lain.


"Berarti itu artinya Kak Shaka menyukai mbak Hana. Udahlah gas aja kak." Dion tampak lebih bersemangat.


"Gitu amat. Kalau Hana nggak mau gimana?"


Sementara di dalam ruang perawatan Syifa pun menanyakan pertanyaan yang sama dengan Dion.


"Pokoknya gue harus tahu cerita lo sama Kak Shaka. Gimana bisa se sweet ini sih." dengan gemasnya Syifa mentoel hidung Hana.


"Aduh kira-kira dong Fa. Mentang-mentang gue sakit lo seenaknya." Hana sedikit meringis karena luka di wajahnya.


"Eh, sorry-sorry. Habisnya gue gemes banget. Baru aja gue mau ngedeketin lo sama kak Shaka malahan lebih dulu lo nyuri start." Syifa tersenyum melihat kedekatan sahabatnya.


"Gue juga nggak nyangka sih. Awalnya juga gue iseng aja ngobrol sama dia. Eh ternyata kak Shaka bilang kalau nyaman. Mana dia care banget gini kan jadi baper tau." wajah Hana bersemu merah saat menyebut nama Shaka.


"Ciee ciee.. Sohib gue kasmaran. Gue doain yang terbaik deh. Semoga cepet jadi kakak ipar gue ya."


"Paan sih, malu gue. BTW thanks ya udah jengukin. Mana repot banget lagi bawa segala macem." Hana melirik segala bingkisan yang dibawa Syifa dan Dion.


"Sama-sama. Sorry nggak bisa lama ya soalnya janji sama Bella mau beliin boneka kelinci. Kemarin boneka kucingnya udah ancur kotor banget dibuat mainan di halaman."


"Eh, iya ya. Yaampun kangen banget sama si cantik Bella." ucap Hana.


"Makanya cepet sembuh biar bisa ketemu Bella."

__ADS_1


Akhirnya setelah mengobrol Syifa dan Dion berpamitan. Dia tak ingin mengganggu istirahat Hana juga tak ingin mengganggu kebersamaannya dengan Shaka.


...****************...


"Gue Rangga." Rangga mengulurkan tangannya kepada Luna. Namun Luna sama sekali tak menggubrisnya dan hendak pergi meninggalkan Rangga.


"Luna kamu kemari untuk menemui Dion kan? Tapi ternyata Dion sudah menikah dengan wanita lain." mendengar ucapan Rangga membuat Luna menghentikan langkahnya.


"K-kenapa kamu bisa tahu? Siapa kamu?" Luna terkejut dan penasaran dengan Rangga.


"Gue Rangga. Gue suami dari Syifa dan ayah dari Bella." dengan bangganya Rangga mengenalkan dirinya.


"Hah s-suami?" Luna menjadi semakin terkejut.


"Syifa dan gue sudah menikah. Tapi dia menceraikan gue dan memilih Dion. Gak habis pikir sih mungkin karena gue kurang tajir aja." Rangga tersenyum getir.


"Aku nggak percaya kamu. Mana buktinya kalau kamu menikah dengan Syifa." ujar Luna.


Rangga pun menunjukkan foto pernikahan dirinya dengan Syifa. Dia sudah mengatur semuanya untuk memanfaatkan gadis polos seperti Luna.


"Jadi.. Syifa ninggalin kamu demi Dion? Hah benar-benar wanita itu.." Luna berdecak sebal hingga tak mampu meneruskan kata-katanya.


"Lo mau kerja sama dengan gue? Kita bisa dapetin orang yang kita sayang. Lo dapet Dion gue dapet Syifa sama Bella."


Luna tampak terdiam. Namun mendengar tawaran Rangga membuatnya berambisi kembali mendapatkan Dion.


"Baiklah, aku mau terima tawaran kamu. Tapi sebelum itu aku butuh tempat tinggal. Aku kehabisan uang." ujar Luna.


"Oke, tinggal di rumahku saja." ujar Rangga santai.


"Hah? Di rumah kamu? Emang nggak ada tempat lain apa?" protes Luna.


"Lo mau rencana kita berhasil nggak?"


"Iya iya.. Yaudah aku ikut kamu."


Rangga pun menyeringai puas. Ternyata membuat Luna masuk ke dalam perangkapnya tidaklah susah.


"Mana mungkin aku membiarkan gadis cantik berkeliaran begitu. Mending aku jadiin koleksi wanitaku." gumam Rangga dalam hati.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2