Dosenku Istriku

Dosenku Istriku
Bab 42 mulai mengusik


__ADS_3

Shaka tak pernah menyangka bahwa kedatangannya untuk mencari Syifa harus berakhir seperti ini. Pujaan hatinya yang sejak lama dia nantikan justru telah menikah dengan adik tirinya sendiri.


Rasanya patah hati untuk kesekian kalinya harus dialami seorang Shaka. Tapi mau bagaimana lagi. Kenyataan tak pernah berpihak baik kepadanya.


Rasa kecewa, menyesal sekaligus marah kini terus menggerus didalam otaknya. Dan yang membuatnya tak terima adalah kenapa harus Dion yang menjadi suami Syifa.


Bahkan ketika Shaka melihat kedekatan diantara Syifa dan Dion tampaknya mereka cukup bahagia. Sungguh mereka sedang berbahagia di atas rasa sakit hatinya.


Hingga tiba waktunya makan malam pun akhirnya Shaka memutuskan untuk bergabung. Dia hanya ingin memastikan bahwa hubungan Dion dan Syifa apakah benar-benar nyata.


Sementara Syifa tak kalah syoknya setelah mengetahui bahwa Shaka yang pernah menjadi orang penting di masa lalunya ternyata adalah kakak tiri Dion.


Meskipun sudah tak memiliki perasaan apapun namun Syifa masih merasa canggung dan tak ingin menimbulkan masalah bagi rumah tangganya.


Apalagi hubungan Dion dan Shaka diketahui memang tak pernah akur. Entah apa yang menjadi penyebabnya yang pasti saat Syifa melihatnya tadi ada sorot kebencian yang mendalam dari tatapan Shaka terhadap Dion.


Terbukti dengan diamnya Dion saat ini. Meski pria itu berusaha tenang di depan Syifa namun dia merasa ada sesuatu yang disembunyikan oleh Dion.


"Sayang, ayo kita siap-siap makan malam. Pasti semua sudah menunggu di ruang makan." Syifa menghampiri Dion yang duduk termenung di balkon kamarnya.


"Eh, iya ayo sayang." ujar Dion.


Mereka pun keluar kamar dan hendak berjalan menuruni anak tangga menuju ruang makan. Tanpa diduga Shaka juga sedang berjalan ke arah yang sama.


Tampak Dion berusaha tersenyum ramah terhadap Shaka. Alih-alih dapat balasan justru hanya tatapan tajam yang didapatkan. Bahkan Syifa sempat tak menyangka bahwa sikap asli Shaka seperti ini saat berada di rumah.


Tampak gurat kesedihan di wajah Dion. Namun Syifa segera meraih lengan Dion dan menyentuhnya dengan manja.


"Mas, ayo.." bisik Syifa. Mereka pun melanjutkan berjalan menuju ruang makan.


"Papa senang akhirnya keluarga kita berkumpul dengan lengkap." sambut Papa Wira.


"Benar Pa, ini Mama sudah menyiapkan menu makan malam spesial untuk kita." balas Mama Rina yang antusias.


Dion dan Syifa mengambil tempat duduk bersebelahan sementara Shaka berada tepat di seberang Syifa. Rasanya agak risih sekaligus canggung berhadapan dengan pria itu.

__ADS_1


Apalagi sejak tadi pandangan Shaka seolah tak teralihkan dari Syifa sama sekali.


Syifa yang tak ingin membuat Dion curiga pun segera mengalihkan perhatian suaminya.


"Sayang mau makan sama apa?" Syifa mengambilkan nasi di piring Dion dengan cekatan. Hal itu membuat Shaka semakin geram.


"Emm.. Aku mau ayam kecap saja sayang." ujar Dion.


Syifa pun langsung mengambil piring berisi ayam kecap dan diberikan kepada Dion. Tanpa diduga Shaka pun juga mengangkat piringnya kepada Syifa.


"Aku juga mau, ayam kecap." ujar Shaka dengan pandangan lurus menatap Syifa.


Dengan sedikit canggung Syifa pun terpaksa meletakkan sepotong ayam kecap tersebut ke piring Shaka.


Sepanjang makan semuanya tampak hening menikmati makanan masing-masing hanya Shaka yang sejak tadi terus mencuri-curi pandang kepada Syifa.


Tak dipungkiri bahwa Syifa yang sekarang tampak lebih cantik dan dewasa. Bahkan sikap anggunnya masih saja membuat jantung Shaka terasa berdebar.


Hanya saja kini hatinya seolah teriris ketika melihat Syifa maupun Dion yang sedang berbalas kemesraan di depannya.


"kamu baik-baik saja Shaka?" tanya Papa Wira.


"Ah, iya. Tiba-tiba sendok ini tergelincir dari tanganku." kilah Shaka.


Meski sebenarnya dalam hati Syifa tahu perbuatan Shaka karena tidak suka melihat perlakuan Dion terhadap dirinya.


"Oh ya Syifa kamu masih muda dan karirmu bagus. Apalagi pendidikanmu yang tinggi bagaimana bisa kamu menikah dengan Dion. Melihat perbedaan usia kalian serta Dion juga belum selesai kuliah S1 jelas belum mapan apalagi masa depannya masih belum jelas." Tiba-tiba Shaka langsung menyeletuk.


Tampak sekali dari ucapannya bahwa Shaka sengaja mengucapkan kata-kata yang tampak merendahkan Dion.


Dion hanya bisa diam meski emosinya sudah mulai terpancing. Syifa yang menyadari hal itu diam-diam meraih tangan Dion dan menggenggamnya lembut di bawah meja.


"Kak Shaka sudah mengerti banyak tentangku ya?" jawab Syifa.


"Sebagai adik ipar tentu aku harus tahu seluk beluk dirimu Syifa." balas Shaka.

__ADS_1


"Baiklah, aku dan Mas Dion memang bertemu di kampus. Sejujurnya dia adalah mahasiswaku. Tapi beginilah takdir Tuhan begitu manis. Mas Dion dan aku menikah dan kami saling melengkapi. Dan rasanya tak ada hal paling indah selain cinta darinya. Benar kan sayang?" kini dengan berani Syifa mengangkat genggaman tangannya dengan Dion yang sejak tadi berada di bawah meja.


Mendengar pengakuan istrinya yang begitu menyentuh hati membuat Dion sangat bahagia.


"Tapi dengan keadaan Dion yang belum jelas masa depannya apa kamu tidak takut dengan kebutuhan finansial mu Syifa? Lagi pula ada anak kamu juga yang perlu banyak biaya." ujar Shaka lagi.


"Perkara itu Kak Shaka tak perlu khawatir. Insya Allah Mas Dion sudah menjalankan tugasnya sebagai seorang suami. Mas Dion memiliki cafe yang penghasilannya cukup untuk keluarga kecil kami. Ditambah gajiku mungkin juga tak jadi masalah. Karena sebuah keluarga mestinya saling mendukung bukan." jawaban Syifa tentu saja langsung membuat Shaka kalah telak.


Dengan berat Shaka harus menerima kekalahannya dari Dion. Syifa begitu membela Dion sehingga membuat Shaka semakin kesal.


Suasana di ruang makan itu tampak semakin tegang apalagi tatapan Shaka yang seolah sedang mengobarkan api kemarahan. Beruntung suara Bella yang baru bangun tidur langsung memecah suasana.


"Bu Syifa maaf. Non Bella merengek ingin ikut anda." ucap pengasuh Bella.


"oh, iya mbak sini. Saya sudah selesai makan kok. Sekarang mbak gantian makan dulu gih." ujar Syifa sembari meraih Bella untuk digendongnya.


"Papa.." Bella langsung merentangkan tangannya minta ikut Dion.


"Hai anak Papa udah bangun. Nyenyak tidurnya?" Meski tak begitu mengerti yang diucapkan Dion namun Bella begitu manja bergelayut di pelukan Dion.


Tak tahan melihat keharmonisan keluarga kecil Dion membuat Shaka ingin beranjak dari tempat duduknya.


Namun usahanya terhenti ketika tiba-tiba Papa Wira berbicara.


"oh ya Dion. Bagaimana kalau besok kamu mulai ikut papa ke perusahaan? Biar cepat kamu mengenal dan bergabung di perusahaan papa." ujar Papa Wira.


Seketika Shaka langsung mengernyitkan keningnya. "Apa? Dion mau gabung di perusahaan?"


"Iya Shaka. Bukankah lebih baik jika adikmu mengenal pekerjaan di perusahaan. Sambil kuliah sambil belajar bisnis pula." ujar Papa Wira.


Shaka tanpa diduga langsung bangkit dari kursinya.


"Apa-apaan Papa libatkan dia di perusaan. Aku tidak ingin anak haram itu ikut campur." sontak saja ucapan Shaka langsung membuat semua orang terkejut.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2