
"Kamu yakin buat tetap tinggal di sini? Nggak apa-apa kok kalau kita pindah saja. jangan dipaksa kalau tidak nyaman." Dion mengusap lembut pipi istrinya yang baru saja bangun dari tidurnya.
"Hmm.. Tidak apa-apa kita disini saja. Kan kamu bilang Papa nggak bisa jauh dari Bella." Syifa menggeliat menatap wajah suaminya.
Dengan mata yang masih menyipit serta rambut berantakannya benar-benar wajah bantal. Tapi sama sekali tak mengurangi ketampanan pria nya itu.
"Tapi aku khawatir dengan kamu sayang. Biar saja kita pindah toh Papa kalau rindu bisa mengunjungi kita atau kita yang berkunjung sesekali." Sebagai seorang suami Dion wajib menjaga hati dan perasaan istrinya. Meski dia tak pernah melakukan apapun terhadap Luna namun tetap saja dia tak ingin menimbulkan masalah lagi.
"Aku mau kita tetap di sini sayang. Aku tahu mungkin ini akan menyulitkan kita namun jika kita saling percaya maka semua akan baik-baik saja."
Bukan tanpa alasan Syifa bertahan di rumah itu. Baginya keluarga Dion adalah keluarganya juga. Dan Syifa tak ingin mengubah apapun. Keberadaan Luna Mungkin akan menimbulkan beberapa masalah namun Syifa harus tegas dan menunjukkan bahwa dia adalah satu-satunya wanita yang pantas bersanding dengan Dion. Bukan wanita lemah yang hanya akan menghindari masalah.
"Hmm.. Baiklah kalau itu mau kamu. Tapi jika ada apapun jangan lupa bicarakan padaku. Aku akan selalu bersamamu sayang." Dion mengecup kening Syifa.
"Iya sayang pasti. Udah yuk bangun udah adzan subuh juga." Syifa pun bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Quality time meski dengan obrolan ringan saat bangun tidur begini memang sangat perlu untuk sebuah pasangan. Dengan begini mereka akan memiliki waktu untuk saling mencurahkan segala isi hati.
Dengan segala persiapannya kini Dion sudah berdiri dengan tampan memakai sarung dan baju koko serta peci yang tersemat rapi menahan rambutnya yang mulai panjang.
Lantunan setiap ayat yang terucap tentu saja membuat siapa saja merasa damai hatinya. Dan inilah yang membuat Syifa semakin bangga akan suaminya. Diluar penampilannya yang kadang terkesan funky dan semaunya sendiri nyatanya Dion adalah sosok suami, ayah sekaligus imam yang baik untuk keluarganya.
Itu pula yang menekankan bahwa seseorang tak dapat dinilai dari luarnya saja.
'Jika kesempurnaan hanyalah milik-Mu. Maka jadikan aku manusia yang tangguh dan bisa melewati segala masalah dengan cara yang benar. Aku tidak ingin jadi pengecut dan aku hanya ingin menjadikan rumah tanggaku selalu berada dalam kebaikan.' untaian doa teralun dalam hati Syifa. Tak ada tempat mengadu selain kepadaNya.
Tanpa terasa bulir air mata mengalir membasahi kedua pipinya. Diantara tangis kesedihan juga tersemat kebahagiaan.
Tak dipungkiri rasa takut akan masalah selalu menghantui Syifa. Kegagalan di masa lalu telah membuatnya mengantisipasi dengan hubungannya yang sekarang.
Bagi Syifa, Dion merupakan paket komplit untuk seorang suami. Sehingga apapun yang terjadi dia harus bisa mempertahankan rumah tangganya.
Dion menatap istrinya yang terhanyut dalam do'anya. Setelah Syifa selesai berdoa Dion langsung mengusap lembut lelehan air mata di wajah istrinya sambil mengecup keningnya.
"Semua pasti akan baik-baik saja sayang. Terimakasih sudah mau bertahan untukku." Dengan penuh kasih sayang Dion memeluk tubuh istrinya.
...****************...
Semalaman Shaka berpikir tentang ucapan Syifa. Dan setelah direnungi ternyata ada benarnya. Shaka terlalu mengutamakan ego dan obsesinya.
Selama ini dia terlalu menginginkan Syifa. Padahal setelah dia lihat Syifa memang tampak begitu bahagia saat bersama Dion. Bahkan senyum ceria yang ditunjukkan Syifa tak pernah dia lihat saat dulu bersamanya.
__ADS_1
"Syifa benar. Harusnya aku bahagia saat melihat dia bahagia dengan pilihannya. Dion memang jauh lebih bisa membuatnya bahagia dibandingkan aku." Shaka bermonolog.
Tak ingin larut dalam kesedihan Shaka pun bangkit dari tempat tidurnya. Mengganti pakaian olah raga dan siap untuk jogging.
Tak lupa dia mengambil ponselnya untuk menghubungi seseorang.
Sementara di tempat lain tampak seorang gadis yang tengah bergelung di bawah selimutnya. Sedang menikmati tidur namun suara dering ponsel benar-benar mengganggunya.
"Siapa sih pagi-pagi nelfon. Nggak tau lagi ngantuk juga." Dengan malas dia mengambil ponselnya dengan malas.
Dilihatnya layar ponsel itu untuk mencari tahu siapa yang menghubunginya. Seketika kedua netranya terbelalak melihat nama yang ada di ponselnya.
KAK SHAKA GANTENG
"H-halo Kak.."
"Bersiaplah. Temani aku jogging di taman." suara pria itu begitu datar.
Tanpa ba bi bu gadis itu langsung meloncat kegirangan. Rasa kantuk yang melanda kini hilang begitu saja. Segera bersiap dengan penampilan sebaik mungkin karena untuk pertama kalinya seorang Shaka mengajaknya untuk bertemu.
Shaka melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangannya yang masih menunjukkan pukul 05.40. Masih terlalu pagi sebenarnya untuk melakukan jogging.
"Hana, ku kira kamu tidak akan datang?." ujar Shaka sembari menatap perempuan yang tengah mengatur nafasnya setelah berlari.
"Aku datang kok. Tapi kenapa harus sepagi ini?" protes Hana.
"Justru masih pagi begini masih sejuk belum banyak polusi. Ayo mulai." Shaka dengan santainya memulai berlari kecil sementara Hana yang masih mencoba mengatur nafas hanya bisa pasrah mengikutinya.
"Ku kira Kak Shaka tidak akan mau lagi bertemu denganku." Hana mencoba mengimbangi Shaka dengan berlari di sampingnya.
"Kan kamu bilang sendiri kalau kamu siap saat aku membutuhkanmu." ujar Shaka sembari menatap Hana.
"Tumben, kenapa tiba-tiba membutuhkanku?"
"Karena aku galau. Aku butuh teman yang bisa menghiburku." dengan senyum manisnya tiba-tiba Shaka meraih tangan Hana dan mengajaknya berlari.
Tak disangka pria yang selalu tampak dingin sedingin kulkas itu menunjukkan senyumnya serta bersikap hangat. Pertemuan kedua ini nyatanya membuat Hana cukup senang. Setidaknya ada kemajuan.
FLASHBACK ON:
Setelah berpamitan dari acara ulang tahun Bella kini Hana berniat langsung pulang. Saat hendak memesan ojek online ternyata HP nya mati. Ingin kembali meminta bantuan Syifa namun sepertinya sedang ada masalah di rumah sahabatnya itu.
__ADS_1
Akhirnya dengan berat hati Hana harus menunggu taksi atau kendaraan umum lainnya. Tapi didalam komplek perumahan elit begini mana ada kendaraan umum melintas.
Akhirnya dengan berat hati Hana harus berjalan menuju jalan besar demi mendapatkan kendaraan umum.
Saat sedang berjalan tiba-tiba sebuah mobil mewah berhenti tepat di sampingnya. Kaca mobil itu terbuka menunjukkan sosok Shaka yang menatapnya.
"Kamu teman Syifa bukan? Mau kemana?" tanya Shaka.
"Em, i-iya. Aku mau pulang Kak. Eh," tiba-tiba Hana jadi salah tingkah sendiri menjawab pertanyaan Shaka.
'Duh, kenapa mulut belibet gini sih ngomong sama orang ganteng. Dasar nggak elit.' batin Hana.
"Rumah kamu mana? Mau barengan?" tanya Shaka lagi.
"Di jalan Pattimura Kak, makasih tapi nggak perlu saya nanti ngrepoti." tolak Hana segan.
Namun tanpa diduga Shaka justru turun dari mobil dan langsung membuka pintu samping kemudi.
"Udah ayo aku antar. Jangan takut. Aku Shaka kakaknya Dion." mau tak mau Hana akhirnya masuk ke dalam mobil Shaka.
"Kamu beruntung bersahabat dengan Syifa. Dia kan sangat sulit berteman dengan seseorang." ucap Shaka sembari fokus menyetir mobilnya.
Sementara Hana hanya bisa tersenyum kikuk. "i-iya Kak."
"Santai aja pasti kamu sudah tahu siapa aku dari Syifa kan. Justru aku ingin minta pendapat kamu mengenai Syifa." Tanpa sungkan Shaka langsung mengutarakan niatnya kepada Hana.
Hana sempat terkejut mendengar pengakuan Shaka yang begitu jujur. Pria itu tak sungkan menutupi perasaannya.
"Aku hanya bisa menyarankan bahwa Kak Shaka lebih baik melepaskan Syifa. Dia sudah bahagia dengan hidupnya yang sekarang. Maaf jika aku menyinggung kakak tapi itu yang terbaik untuk kalian semua." ujar Hana.
"Tapi itu sulit Hana. Bagaimana mungkin aku bisa melepaskannya semudah itu?" Shaka tampak mengusap wajahnya dengan kasar. Bisa dibayangkan jika Shaka masih sangat mencintai Syifa.
"Kak Shaka pasti bisa. Atau jika Kak Shaka butuh bantuan aku siap. Aku bisa menghiburmu." ujar Hana dengan senyumnya.
Sejak saat itu Shaka dan Hana mulai saling mengenal. Tak jarang Hana memberi motivasi Shaka untuk berubah. Dia tahu mungkin sulit melepas Syifa yang masih ada dalam hatinya namun Hana yakin suatu saat nanti Shaka pasti bisa ikhlas.
FLASHBACK OFF:
"Hanya dengan kamu aku bisa berbicara bebas begini Hana. Entah kenapa begitu menyenangkan saat didekat kamu. Mungkin inilah yang membuat syifa mau bershabat denganmu." ujar Shaka yang membuat senyum Hana semakin membuncah.
...****************...
__ADS_1