
Mendung gelap terus menyelimuti langit kota pagi ini. Begitu pula dengan perasaan Syifa. Hatinya seolah telah tertutup oleh mendung tebal dan hujan air mata sudah terus membasahi kedua netranya.
Keadaan Dion yang belum juga menunjukkan tanda-tanda kesadaran sejak kemarin membuat Syifa dan semua keluarga diliputi rasa sedih.
"Sayang, makan dulu ya sejak kemarin kamu belum makan, ingat kondisi kamu sedang hamil." Mama Vera yang mendapat kabar tentang musibah yang dialami menantunya langsung terbang ke Indonesia, dia tahu saat ini Syifa sangat membutuhkan support dari semua keluarganya.
"Ma.. apa Mas Dion akan kembali sadar? aku rindu." dengan kembali terisak Syifa terus bergumam.
"Pasti sayang, yang penting jangan putus berdoa, bantu suami kamu dengan doa. Minta sama Allah supaya segera diberi kesembuhan."
Kondisi Dion yang semula menunjukkan keadaan yang baik tiba-tiba di tengah malam kembali kritis. Dia mengalami hipovolemia akibat tubuhnya yang kekurangan banyak darah.
Meski sudah mendapatkan transfusi dan penanganan ternyata Dion memiliki riwayat kelainan genetik turunan dari Mamanya. Tubuhnya mengalami hipoksia sehingga sulit menerima pasokan oksigen sehingga mengganggu beberapa sensor otaknya. Hal ini jika terus menerus dibiarkan bisa menjadikan koma.
Tentu saja hal itu membuat Syifa benar-benar syok. Dunianya seakan runtuh apalagi mereka sedang bahagia menanti buah cinta dalam kandungannya.
Shaka dan Papa Wira yang mendengar kondisi yang dialami Dion tak kalah terkejutnya apalagi mereka baru saja menyambut kesembuhan mama Rina.
"Aku tidak akan tinggal diam Pa, aku akan menemukan pelakunya dan akan menghukumnya." Geram Shaka.
"Tenangkan dirimu nak, Papa tahu kita sedang bersedih tapi untuk saat ini kita fokus pada Dion. Polisi sudah menangani semuanya." ujar Papa Wira yang hilang semangat.
Shaka benar-benar hancur ketika mendengar kabar ini dari Hana. Bahkan dia sampai membatalkan semua jadwalnya di Surabaya. Tak ada yang lebih penting daripada keluarganya.
Dan hal yang paling disesali Shaka adalah dirinya yang baru berhubungan baik dengan Dion. Andaikan waktu bisa diputar kembali dia ingin mengulang masa kecilnya dan mencurahkan semua perhatiannya kepada sang adik.
Shaka yang selalu kuat nyatanya tak mampu menyembunyikan sisi rapuhnya. Dia bahkan sampai menangis tergugu melihat kondisi Dion yang terbaring lemah dengan berbagai alat medis terpasang ditubuhnya.
"Siapapun yang telah membuat adikku menderita aku akan menghancurkan mu. Akan aku balas dengan lebih kejam dari ini." Batin Shaka penuh amarah.
Hal yang tak kalah membuat pilu adalah saat Bella menangis mencari keberadaan Dion. Bocah kecil itu seolah merasakan jika terjadi sesuatu dengan papanya. Tak biasanya dia begitu rewel begini.
Hana yang kini berada di rumah bersama Mama Rina sudah berusaha membujuknya. Bahkan Bella tak mau sekalipun bersama pengasuhnya. Saking lelahnya menangis dia sampai tertidur dalam gendongan Hana.
__ADS_1
"Kasian sekali Bella, biasanya dia tak pernah lepas dari Dion, sekarang dia pasti sangat rindu." gumam Hana sembari menitikkan air matanya.
Akhirnya Hana memiliki inisiatif dengan mengambil jaket yang biasa dipakai Dion dan menyelimuti tubuh mungil itu. Benara saja setelah mencium aroma khas tubuh papanya Bella tampak lebih tenang bahkan dia tampak tersenyum meski kedua matanya terpejam.
*****
Di tempat lain kini seorang lelaki paruh baya yang sedang duduk menghadap pemandangan kota dari balik dinding kaca besar yang membentang di hadapannya.
Dengan wajah penuh tawa bahagia dia merasa menang setelah rencana pertamanya gagal. Kini dia benar-benar berhasil menghancurkan rivalnya.
"Kau pasti hancur setelah melihat anak satu-satunya keturunanmu hampir meregang nyawa. Itulah balasannya karena kesombonganmu." Antonio benar-benar puas setelah melihat kehancuran Wira.
Obsesinya untuk membuat keluarga Wira berantakan terus menggebu ketika mengingat mendiang adiknya yang dulu begitu tergila-gila dengan Wira hingga rela mengorbankan nyawanya.
FLASHBACK ON:
Antonio memiliki saudara perempuan bernama Karina. Karina yang saat itu masih duduk di bangku SMP sering melihat Wira yang hampir setiap hari bersama dengan Antonio.
Wira memang memiliki pribadi yang cuek dan sedikit tertutup sehingga membuat Karina begitu penasaran. Rasa penasaran itu lambat laun berubah menjadi rasa cinta.
Hati Karina begitu hancur melihat laki-laki yang begitu dia cintai sejak lama telah bersanding dengan wanita lain. Antonio yang mengetahui hal itu akhirnya harus turun tangan. Terpaksa dia harus merusak rumah tangga Wira dengan merayu Vanya.
Rupanya tak sulit merayu wanita itu karena rupanya pernikahan mereka tak ubahnya hanya sebatas kepentingan bisnis.
Saat ada celah diantara hubungan Wira kini Karina berusaha mendekati Wira. Tanpa disangka ternyata Wira lebih dulu memilih Sarah dan mencintainya.
Dirinya yang ditolak mentah-mentah oleh Wira dan mengetahui bahwa Wira menikahi Sarah diam-diam dan mengandung buah cinta mereka membuat Karina kalap dan putus asa. Dia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan menceburkan mobilnya ke laut. Sejak saat itu Antonio begitu dendam dengan Wira karena telah menolak adiknya.
FLASHBACK OFF.
****
Dengan balutan mukena putih yang menutupi tubuhnya Syifa bersimpuh menghadap kiblat dengan segala untaian doa didalam hatinya. Kedua tangannya menengadah seolah memohon dengan sangat kepada sang pencipta untuk mengabulkan doa-doanya.
__ADS_1
Tak ada yang bisa dia lakukan selain berdoa dan berdoa. Tak pernah terputus menyebut nama Dion sang suami dengan tiap tetesan air matanya.
"Entah apapun kesalahanku di masa lalu baik yang disengaja atau tidak. Aku hanyalah makhluk yang tak luput dari dosa. Sekiranya Engkau memberi restu dan menerima maafku. Mungkin selama ini aku terlalu menggebu dalam mencintai suamiku, aku tahu semua ini hanyalah kepemilikan Mu. Tapi ku mohon berilah kuasamu, sembuhkanlah suamiku. Ada banyak orang yang masih sangat memerlukannya termasuk buah cinta kami yang masih terjaga didalam rahimku. Ku mohon Ya Allah berikan kewajiban dengan mengangkat penyakit dari tubuh suamiku. Jadikanlah dia sehat kembali seperti sedia kala. Tak akan lelah aku memohon jika itu harus aku lakukan. Aku tidak akan menyerah dan akan selalu meminta, karena hanya Kepada Mu aku berserah."
Syifa menutup doanya di sepertiga malam ini. Hatinya terus berdebar berharap keajaiban terjadi pada suaminya.
Ada hikmah di setiap kejadian. Mungkin dengan kejadian ini Syifa menjadi lebih dekat dengan Tuhannya. Dengan ini pula dirinya menjadi lebih tenang dan hatinya terus berharap ada keajaiban untuk sang suami.
Dengan langkah kecilnya Syifa menyusuri lorong rumah sakit yang tampak sepi. Memang saat ini sudah pukul tiga dini hari. Hanya ada beberapa perawat yang masih terjaga sementara yang lainnya tampak istirahat.
Di depan ada Shaka dan Mama Vera yang sedang tertidur. Syifa tahu bahwa mereka pasti kelelahan karena memang mereka tak beranjak sama sekali dari rumah sakit untuk menunggui Dion. Papa Wira dipaksa Shaka untuk pulang karena khawatir dengan kondisinya.
Entah kenapa Syifa sangat ingin bertemu dengan suaminya saat ini. Rasanya sangat rindu sentuhannya walaupun hanya sekedar genggaman tangannya.
Dengan mengenakan pakaian APD Syifa memasuki ruang ICU tempat Dion dirawat. Sebelumnya dia sudah meminta ijin kepada dokter yang sedang berjaga.
Syifa duduk di kusi kecil yang berada di pinggir brankar Dion. Menatapi wajah tampan suaminya yang sedang terpejam dengan selang oksigen melintang di bawah hidungnya. Bibirnya terlihat pucat dan kering karena tak ada aktivitas apapun selama dua hari ini.
Dimana Dion yang selalu ceria? yang selalu jahil dan humorisnya ketika bersama Bella, serta kegemarannya yang suka mencuri-curi ciuman untuk istrinya. Sekelumit kebiasaan itu terus mengusik pikiran Syifa apalagi ketika melihat sosok itu yang kini terbaring lemah tak berdaya.
Dengan perlahan Syifa mengecup kening Dion. membelai pipinya kemudian menyentuh jemari tangannya.
"Sudah dua hari, aku rindu suaramu sayang, aku rindu pelukanmu. Sungguh apa kamu tega membiarkan aku terlantung-lantung begini? Mas, kamu padahal sudah berjanji untuk selalu ada bersamaku, tapi melihatmu seperti ini rasanya hatiku hancur berkeping-keping. Apa kamu tidak merindukan anakmu? Bahkan Bella terus mencarimu sayang. Dia rindu papa gantengnya." Syifa menangis terisak.
"Harusnya kita sedang berbahagia, ada buah cinta di rahimku yang sedang menunggumu sayang. Sungguh... sungguh aku sangat takut sekarang, aku takut kehilanganmu.. aku tidak sanggup jika harus menjadi janda untuk kedua kalinya." Syifa meluapkan segala keluh kesahnya sambil menangis.
Rasanya lelah, sungguh lelah menanti kepastian ini. Tapi dia harus berusaha kuat demi anak-anaknya. Dia harus tetap percaya bahwa Dion akan kembali sembuh.
Tangis pilu yang menyesakkan itu membuat Syifa merasa pening. Dia menyandarkan kepalanya di sisi brankar. Namun netranya tiba-tiba menangkap sebuah pergerakan kecil pada jemari suaminya.
Perlahan namun pasti jemari itu terus menunjukkan respon lebih besar.
Syifa langsung mendongakkan kepalanya melihat wajah suaminya. Kedua netranya yang terpejam seolah mulai menunjukkan sebuah pergerakan.
__ADS_1
Syifa terus melantunkan doa dalam hati berharap apa yang dia lihat ini adalah sebuah jawaban atas segala doanya.
...****************...