
Dion sibuk mengoleskan concealer stick ke lehernya. Diam-diam dia mencomot milik Syifa dan membawanya. Hari ini dia akan bertemu banyak kolega ayahnya tidak mungkin penampilannya seperti ini.
Dengan telaten tangan kanan Dion mengolesi lehernya dengan tangan kiri memegangi cermin kecil berbentuk hati. Tentu saja juga milik istrinya.
Papa Wira hanya bisa tersenyum geli melihat tingkah puteranya. Meski begitu dia juga senang akhirnya Dion menjadi lebih bahagia sejak menikah.
"Apa sudah tidak terlihat pa?" Dion menunjukkan lehernya.
"Sudah lumayan. Kenapa harus ditutupi katanya itu mahakarya istrimu." ledek Papa Wira.
"Ya kali Pa, aku akan bertemu banyak orang dan keadaanku begini. Sebenarnya Syifa juga sengaja melakukan ini." gerutu Dion.
"kenapa sengaja? kamu buat kesalahan? Atau.." papa Wira tak melanjutkan ucapannya.
"Dia cemburu sama mbak Lulu resepsionis Papa. Kan biasa Mbak Lulu suka genit. Biasa perempuan lagi bulanan emosinya lagi nggak stabil." Dion pun menceritakan alasan Syifa melakukan hal itu.
Namun yang didapat Dion malah tawa renyah sang ayah. Sempat heran bisa-bisanya pria yang selalu tampak dingin itu malah tertawa.
"kamu mengingatkanku pada Mamamu Dion." celetuk Papa Wira.
Mendengar tentang 'mama' tentu saja membuat Dion selalu antusias. Bahkan pria itu langsung semangat ingin mendengarnya.
"memangnya kenapa dengan mama?"
"Mamamu dulu juga seperti itu. Dia sangat pencemburu. Bahkan selalu menanyakan setiap saat kegiatan papa. Dan jika ada pertemuan yang melibatkan salah satu kolega wanita dia pasti ikut. Entah duduk terpisah mengawasi dari jauh ataupun langsung menemani. Tapi percayalah Dion, justru istri cemburu itu tandanya mereka sangat mencintai pasangannya. Tak ingin membaginya dengan orang lain." Wajah Papa Wira tampak berseri-seri menceritakan mendiang istrinya.
"Apa Papa masih mencintai mama?" tanya Dion kemudian.
" tentu saja. Mamamu adalah cinta pertama Papa. Dan dia akan terus ada di hati Papa." meski suaranya tampak biasa nyatanya Wira tetap saja tak bisa menyembunyikan kesedihannya.
"Lalu, bagaimana perasaan Papa kepada Mama Rina?" tanya Dion lagi.
"Kehadiran Rina seperti pelipur lara bagi Papa. Dia begitu tulus mendampingi papa dan merawat kamu. Meski awalnya papa sama sekali tak memiliki perasaan padanya. Namun seiring berjalannya waktu papa sadar dan sayang kepadanya. Meski rasa itu tak sebesar seperti kepada mamamu. Dan papa lega melihatmu sekarang dekat dengan Rina." ujar Wira.
"Iya pa, Dion sadar selama ini Mama Rina sangat sayang kepadaku namun aku malah mengabaikannya. Jadi aku ingin di sisa waktuku yang diberikan Tuhan ini untuk keluargaku."
Wira menatap Dion. Putra yang awalnya selalu dia remehkan kini telah berubah menjadi pria yang begitu dewasa. Banyak penyesalan di benaknya saat dirinya terpuruk justru mengabaikan Dion.
__ADS_1
Wira berpikir ada benarnya saat itu Sarah meminta Rina untuk menggantikan posisinya. Nyatanya Rina lah yang justru dengan rela dan setia merawat Dion juga dirinya.
Ditambah kehadiran Syifa didalam keluarga itu pula mereka bisa bersatu. Selama ini belum pernah Wira berbicara dari hati ke hati kepada Dion seperti saat ini. Rasanya sangat lega dan bahagia saat anak sendiri berasa seperti teman untuknya.
"Dion, maafkan Papa. Dulu tak bisa mengerti perasaan kamu. Papa hanya mementingkan ego saja. Bahkan bodohnya Papa selalu meremehkan kamu." Ada nada kesedihan mendalam dalam ucapan Wira.
"Sudah lah pa, yang lalu biarlah berlalu. Kita sama-sama salah. Tidak ada manusia sempurna di dunia ini. Tapi kita bisa saling belajar dari pengalaman. Dan kini Dion sadar bahwa kebahagiaan utama itu berasal dari keluarga." Dion menatap pria paruh baya itu yang duduk di sampingnya dengan senyuman.
"Kamu benar. Dan untuk Shaka, kamu tak usah khawatir biar manti Papa bicara dengannya."
Tak terasa obrolan panjang lebar mereka terhenti ketika mobil sudah sampai di depan loby perusahaan.
Dion dan Wira pun turun dari mobil dan langsung memasuki gedung. Semua karyawan yang bertemu langsung menyapa dengan sopan.
Kedatangan Dion kali ini tentu saja menjadi perhatian khususnya para staf perempuan. Dion yang biasanya datang dengan pakaian santai sepulang kuliah pun kini tampak berbeda dengan setelan formalnya. Aura remajanya seolah berganti dengan sosoknya yang tampak dewasa.
'wah, itu kan Dion putranya Pak Wira. Makin ganteng dan cool aja ya. Duh.. Bikin makin gemes pengen kekepin.'
'udah ganteng, ramah, tapi sayang udah nikah. Padahal kalau senyum lesung pipitnya bikin pingsan.'
Andai saja Syifa berada di tempat ini sekarang pasti sangat kesal dan memanyunkan bibirnya hingga seperti cosplay menjadi bebek.
...****************...
Di kampus Syifa sibuk mengisi materi. Saat ini dia sedang mengajar di kelas Dion namun tak ada suaminya terasa begitu aneh.
Biasanya dia akan saling mencuri pandang dan berbalas pesan singkat. Tapi mau tak mau Syifa harus tetap fokus dan profesional. Toh nanti selesai mengajar Dion juga akan menjemputnya.
Saat istirahat siang Syifa pun menyempatkan dirinya untuk menelepon sang suami. Saat hendak memencet tombol panggilan rupanya lebih dulu Dion menghubunginya.
Dion: [Assalamualaikum, sayang.]
Syifa: [Waalaikumsallam Mas,"]
Dion: [Kamu lagi apa? Udah makan siang?"]
Syifa: [Belum mas, ini mau makan di kantin. Mas Dion udah makan siang?"]
__ADS_1
Dion: [Udah barusan makan sama Papa. Oh ya sayang nanti pulang jam berapa? Aku jemput ya.]
Syifa: [Jam tiga Mas, yaudah aku tunggu sayang. Gimana hari ini kerjaannya lancar?"]
Dion: [Lancar sayang. Ini baru aja selesai rapat dengan beberapa kolega Papa. Kamu sendiri gimana lancar kan kerjaannya.]
Syifa: [Lancar sayang ya cuma agak beda aja nggak ada kamu di kampus nggak ada yang dilihatin. Suami gantengku nggak ada."]
Dion: [Hahahaha.. Bisa aja kamu itu. Nanti deh pulang kita mampir ke mall sayang. Kita belanja kebutuhan Bella. Pengen beliin sepatu dia kan udah mulai aktif banget jalan. Jadi kita beliin sepatu yang lebih nyaman. Terus sama persiapan beli perlengkapan buat ulang tahun dia sebentar lagi kan.]
Syifa terdiam sejenak mendengar ucapan Dion. Rupanya pria itu sangat perhatian juga antusias kepada sang putri. Syifa begitu terharu dengan suaminya itu. Meski masih muda tapi Dion sangat peduli dan memperhatikan dia dan anaknya.
Dion: [Sayang?...]
Syifa: [Eh, iya sayang. Oke aku tunggu ya.,]
Dion: [Oke kalau begitu selamat bekerja sayang semangat, I Love You.]
Syifa: [Love you too sayang.]
Syifa begitu senang. Setiap hari diperlakukan begini rasanya tak ada harinya yang tak spesial. Tak sabar menunggu waktu untuk pulang.
...****************...
Syifa sangat semangat saat melihat mobil suaminya. Cepat-cepat dia menghampiri Dion.
Apalagi penampilan Dion yang kini sedang memakai hoodie berwarna light grey membuatnya semakin tampan dan mempesona. Tak pernah dia tak memuji ketampanan suaminya.
Dion yang menyadari kedatangan Syifa langsung keluar dari mobil dan bersiap menyambut sang istri tercinta.
Namun saat Syifa sedang menyebrang dari lawan arah tiba-tiba ada sebuah motor yang melaju cukup kencang.
"SYIFAAAAAA.... AAWAAASSSS...!!!!
BBBRRRAAKKKK......
...****************...
__ADS_1