Dosenku Istriku

Dosenku Istriku
Bab 114 belajar menghargai


__ADS_3

Pagi-pagi ini kediaman Dion sudah dihebohkan dengan kedatangan Nico yang diwarnai tangis haru. Semenjak Dion dinyatakan sembuh dan diperbolehkan pulang ke rumah Nico memang belum sempat menjenguknya.


Nico yang disibukkan dengan mengurusi pekerjaan di perusahaan ayahnya  membuat dirinya sulit mendapatkan waktu luang. Beruntung hari ini adalah akhir pekan jadi dia baru bisa datang menemui sahabatnya.


Saat melihat Dion setelah berbulan-bulan lamanya Nico langsung berhambur memeluk sahabatnya. Tak ada kata yang bisa dia ungkapkan selain rasa syukur yang luar biasa. Nico yang sejak awal merupakan saksi kejadian mengerikan itu bahkan sampai trauma.


"Nico thanks ya akhirnya main kesini. Gue kangen banget tahu. Sekarang lo udah jadi orang penting jadi sibuk banget." ujar Dion.


NIco bahkan tak menjawab Dion. Dia hanya sibuk menangis sambil memeluk Dion erat.


"Lo beneran Dion kan? lo jadi kurus banget. Tapi gak papa melihat lo hidup lagi gue udah seneng banget. Gue pikir kita gak akan bisa begini lagi. Hiks." akhirnya Nico baru mau berbicara.


"Lo pikir gue ko'it apa. Dari awal gue juga hidup cuman koma gak bisa apa-apa selain nafas dodol." Dion melepas pelukan Nico dan menatap sinis. Sahabatnya itu masih saja kalau bicara asal nyablak.


Sementara di belakang Nico tampak ada Diana yang turut datang.


"Oh ya, Diana apa kabar? gimana kabar hubungan kalian?" Dion menyambut Diana.


"Alhamdulillah baik kak. Kami sudah menikah." ucap Diana malu-malu.


"Wah, iya kah? sejak kapan? maaf ya aku tidak bisa datang." Dion merasa begitu senang saat mendengar sahabatnya akhirnya bisa melepas masa lajang. Namun ada penyesalan tersendiri ketika dia tak bisa menyaksikan langsung pernikahan itu.


"Baru satu bulan ini kok Bro, dan itupun dadakan dan gak sesuai rencana. Hanya akad saja. yang penting SAH, ya kan sayang." Nico mentoel lengan Diana membuat gadis itu semakin tersipu malu.


"Yang pasti gue orang yang paling bahagia mendengar kabar ini." timpal Dion.


"Dan gue juga paling bahagia tahu lo kembali sembuh Bro." Keduanya kini kembali berpelukan. Entah kenapa setelah lama tak bertemu keduanya menjadi saling melow.


"PAAPAAA.. NOOO PAPAAKUUU.." suara melengking tiba-tiba menggema di seisi ruangan.


Bella yang sedang berjalan beriringan dengan Syifa langsung melotot marah ke arah Nico.


"Wah, ini security cilik datang. Was-was aja." gumam Nico.


"Papaa.. papaku no peluk-peluk om." Dengan wajah kesalnya Bella berkacak pinggang sambil menatap sinis Nico.


Namun bukannya takut justru Nico tertawa terbahak-bahak.


"Yaampun Bella itu mainan apa kamu bawa? udah mirip sampah tau." Cibir Nico saat melihat boneka kucing yang diseret Bella.


Bagaimana tidak mirip sampah sementara boneka yang masih satu hari dibeli itu awalnya begitu lucu dan menggemaskan. Bella yang terlalu senang terus dia bawa kemana-mana. Bahkan saat mandi dia ikut mencelupkan boneka kucing tersebut ke dalam air. Membawanya ke halaman dan terkena debu hingga warnanya menghitam serta bulunya yang tampak menggimbal.


"Ini ucing om, meoong.." tegas Bella.


"Kucingnya kok sampai kayak gini sih." Nico mengangkat ujung telinga boneka kucing tersebut.


"Kemarin dia minta kucing, daripada rewel dan kasian juga kalau kucing asli jadi terpaksa diganti boneka deh." Ujar Dion.


Saat Nico meletakkan boneka kucing itu ke lantai tanpa diduga salah satu mata kucing tersebut copot dan menggelinding bebas di lantai.


"O-oww" Nico hanya bisa ternganga.

__ADS_1


Sementara Bella yang mulai menyadari mata kucingnya copot langsung berubah sendu. Dia berjongkok sambil mengelus kucing kesayangannya.


"Hiks.. hiks.. hiks.." terdengar isak tangis Bella yang begitu memilukan.


Biasanya Bella akan menangis meraung-raung pun berubah menjadi isak tangis yang pelan namun air matanya terus membanjiri wajah imutnya saat dia memeluk boneka kucing itu.


"Bella, sayang.. Om nggak sengaja." Nico jadi merasa bersalah.


Bella melempar tatapan kesal kepada Nico kemudian menatap Dion dengan sendu.


Dion pun berjongkok sambil mengulurkan tangannya. Tentu saja Bella langsung berhambur ke pelukan Dion.


"Sayang, nanti papa belikan lagi ya kucingnya. Itu om Nico tidak sengaja. Diterima ya maafnya." Dion mengusap lembut kepala putrinya mencoba menenangkan dana memberi pengertian.


"Om Ico akal.. hiks.." Jika sudah begini Bella memang benar-benar kesal. Dia bahkan terus menangis sesenggukan.


Syifa yang datang untuk memberikan susu kepada Bella pun ikut heran.


"Ada apa?" tanya Syifa setengah berbisik. Dion pun menunjuk boneka kucingnya yang salah satu matanya copot.


"Sayang, nanti diperbaiki ya, masih bisa kok. Sini sama mommy." Syifa mengulurkan tangannya untuk menggendong Bella.


Bocah itu langsung memeluk leher Syifa. Dia benar-benar ngambek sekarang.


"Yah, padahal aku masih mau main sama Bella." Diana tampak cemberut.


"Bella main di atas yuk, kasih lihat aunty Diana Mainan di kamar mau?" Syifa berusaha membujuk Bella. Untungnya Bella pun mau.


"Maaf sayang." ucap Nico memelas.


Diana memilih untuk diam dan berlalu meninggalkan suaminya.


"Yah, salah lagi deh gue." Nico menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Lain kali belajar ngomong yang baik. Lo boleh asal nyeplos ke gue tapi jangan ke Bella. Hatinya sangat sensitif dan penuh kelembutan." Dion pun menyayangkan sikap sahabatnya.


"Iya.. gue salah memang, sorry ya. Dan ini jadi pembelajaran buat gue. jadi orang tua memang gak mudah ya." sesal Nico.


"Ya, kali ini gue masih toleransi tapi lain kali lo jangan bikin bidadari kecil gue sedih." ujar Dion dan Nico pun mengangguk mengerti.


Sementara di dalam kamar Bella tampak masih murung dan terus menggelayut di gendongan Syifa. Rasanya sedikit begah dengan perut yang mulai buncit dan menggendong Bella yang semakin besar.


Ada rasa bersalah Diana karena kesedihan Bella disebabkan oleh suaminya.


"Bella sayang, mau gendong aunty nggak? Mommy nya biar nggak capek." bujuk Diana. Sementara Bella langsung menggeleng tanda tak mau.


"Kak Syifa, maafin kak Nico ya udah keterlaluan sama Bella." Ujar Diana penuh penyesalan.


"Nggak apa-apa kok Diana, Bella cuman ngambek aja nanti juga ilang sedihnya lama-lama." ujar Syifa.


Diana pun tampak berpikir. Namun tiba-tiba dia mengingat sesuatu. Kebetulan sekali kemarin Diana membeli skincare dan mendapatkan hadiah berupa gantungan kunci. Tak salah dia meletakkannya di dalam tas. Dengan cepat Diana menemukan gantungan kunci boneka kecil berbentuk teddy bear.

__ADS_1


"Bella sayang, oh Aunty kebetulan punya teddy bear ini. Ya meskipun kecil tapi semoga Bella mau ya." Diana menunjukkan gantungan kunci tersebut kepada Bella.


Beruntung Bella langsung merespon dan menerima gantungan tersebut.


"Buat Ella?" tanyanya.


Diana langsung mengangguk. Apalagi saat Bella tersenyum menunjukkan deret gigi putihnya.


"Bilang apa sayang kalau di kasih?" tanya Syifa.


"Maacih onty.."


"Sama-sama sayang, aunty boleh minta peluk nggak?" Tentu saja Bella langsung beranjak dan memeluk Diana.


"Ternyata memiliki anak itu susah-susah gampang ya kak. Kak Syifa dan Kak Dion hebat banget bisa sabar dan mengerti kemauan Bella. Aku takut jika nanti Kak Nico belum bisa peka dengan anaknya." Meskipun masih sangat muda Diana sebenarnya sudah memikirkan banyak hal perihal masa depannya termasuk memiliki seorang anak.


"Semua ada prosesnya Diana, dulu kakak juga tidak bersabar ini. Dan Mas Dion pun kadang suka kelepasan tapi sebisa mungkin kami belajar dari kesalahan. Seorang anak itu adalah rejeki dari Allah dan jangan pernah kamu jadikan beban. Aku percaya lambat laun Nico pasti bisa belajar lebih baik. Karena guru paling hebat adalah pengalaman." ujar Syifa menyemangati Diana.


"Oh ya, kamu jadi ambil jurusan apa? jadi ambil kedokteran?" tanya Syifa.


"Hehe.. nggak kak, sebenarnya aku takut sama darah apalagi luka-luka. Awalnya aku masih bimbang tapi Kak Nico memberi saran katanya sesuai kata hati. Akhirnya aku memilih tata busana. Kan aku suka bikin sketsa pakaian." ujar Diana.


"Dimantapkan saja minatnya yang mana. Karena semua yang dilakukan sepenuh hati itu akan berhasil baik." tutur Syifa.


"Iya kak, aku dulu hanya kepikiran pengen bantu mengobati Bapak yang sering sakit punggung. Jadi dokter keren mungkin tapi akunya nggak mikir lebih matang. Maklum masih labil."


"Ya nggak apa-apa. Yang penting lebih ditata lagi buat masa depan biar nggak nyesel nanti kalau salah jurusan." ujar Syifa.


"Kak Syifa masih cuti ya?" tanya Diana.


"Iya, sejak suami sakit ditambah aku lagi hamil rasanya nggak mampu buat ngajar. Sementara pikiran terus ke Mas Dion. Belum lagi harus mantau usahanya Mas Dion. Nggak mungkin kalau dibiarkan begitu saja." ujar Syifa.


Setelah mengobrol banyak hal dengan Diana kini Bella sudah ingin menemui Dion lagi. Mau tak mau Syifa harus mengantar Bella ke bawah.


"Biar aku yang gendong Bella kak." Diana langsung meraih Bella karena tak tega melihat Syifa yang kesusahan.


Sampai di bawah Bella langsung menghampiri Papanya dan memamerkan gantungan kunci pemberian Diana. Namun fokusnya langsung teralihkan pada boneka kucingnya yang tampak kedua matanya sudah lengkap serta lebih bersih.


"Meong.." Bella langsung meraih boneka kucingnya dan memeluknya.


"Meongnya sudah dibenerin sama om Nico ya, sudah tidak sakit lagi." ucap Dion.


Bella yang semula sebal dengan Nico pun kini menatapnya dengan berbinar. Dia bahkan langsung melempar senyum kepada Nico.


"Bella, maafin om ya tadi. Bella jangan marah sama om ya. Janji deh om gak akan bikin Bella sedih lagi." Nico berjongkok di depan gadis mungil itu.


Sementara Bella mengangguk kepadanya. "Om ico no akal lagi ya." ucapnya.


Nico langsung mengangguk dan memeluk Bella. Ah lega rasanya jika sudah akur begini.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2